NovelToon NovelToon
Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uzumaki Amako

Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Aku masih berdiri di sana, jantungku belum sepenuhnya kembali normal setelah apa yang kulihat.

Adrian… berdiri.

Bukan hanya berdiri—dia benar-benar melangkah.

Meskipun hanya beberapa langkah. Meskipun masih kaku. Tapi itu nyata.

Dan sekarang, kami kembali di kamar. Sunyi. Hanya ada kami berdua dan rahasia besar yang baru saja terungkap.

Adrian duduk di tepi tempat tidur, napasnya sedikit berat. Wajahnya tetap tenang, tapi aku bisa melihat ada ketegangan halus di rahangnya.

“Kram sedikit,” katanya singkat.

Aku langsung bergerak refleks, seperti biasanya.

“Boleh aku…?” tanyaku pelan, menunjuk ke arah kakinya.

Ia tidak langsung menjawab. Menatapku sebentar, seolah menimbang sesuatu.

Lalu mengangguk kecil.

“Iya.”

Aku duduk di lantai, di depan kakinya, seperti yang sering kulakukan beberapa hari terakhir. Tanganku menyentuh kakinya dengan hati-hati, lalu mulai memijat perlahan.

Hangat.

Ototnya terasa lebih hidup dari sebelumnya.

Aku menelan ludah pelan.

Ini bukan perasaanku saja.

Ini benar-benar berubah.

“Lebih sakit dari biasanya?” tanyaku pelan.

“Sedikit,” jawabnya jujur.

Aku mengangguk, lalu menyesuaikan tekananku. Lebih pelan di awal, lalu perlahan lebih dalam, seperti yang dulu ibu ajarkan.

Tanganku bergerak perlahan, penuh fokus.

Sunyi.

Namun kali ini, sunyi itu terasa… berbeda.

Tidak canggung.

Tidak asing.

Lebih seperti… ruang yang aman untuk jujur.

“Aku benar-benar melihatnya tadi,” kataku akhirnya, suaraku hampir seperti bisikan. “Kamu berdiri.”

Tidak ada jawaban langsung.

Beberapa detik berlalu.

“Iya,” jawabnya akhirnya.

Satu kata.

Tapi cukup untuk membuat dadaku bergetar.

“Sejak kapan?” tanyaku pelan.

Ia menarik napas dalam.

“Beberapa minggu terakhir… mulai terasa ada respons.”

Aku terdiam.

Beberapa minggu.

Berarti… sebelum aku datang?

Atau… setelah?

“Dan sekarang lebih jelas,” lanjutnya pelan. “Sejak… akhir-akhir ini.”

Tanganku berhenti sejenak.

Akhir-akhir ini.

Itu berarti…

Sejak aku mulai memijatnya setiap hari.

Aku tidak berani menyimpulkan.

Tidak ingin terlihat terlalu berharap.

Tapi hatiku tetap… hangat.

Aku melanjutkan pijatan.

Lebih lembut sekarang.

“Kenapa kamu tidak bilang ke dokter?” tanyaku.

Ia tersenyum tipis.

“Karena belum stabil.”

Aku mengangguk pelan.

Masuk akal.

Kalau terlalu cepat diumumkan, ekspektasi akan tinggi. Dan kalau gagal…

Aku tahu rasanya.

Berharap terlalu tinggi… lalu jatuh.

“Aku juga belum mau orang lain tahu,” tambahnya.

Tanganku sedikit menegang.

“Termasuk… keluarga kamu?”

Ia langsung menjawab tanpa ragu.

“Terutama mereka.”

Aku menunduk sedikit.

Aku mengerti.

Kalau keluarga seperti milikku saja bisa seperti itu… apalagi dunia bisnis.

Kelemahan adalah celah.

Dan perubahan… bisa jadi ancaman.

“Aku tidak akan bilang ke siapa pun,” kataku pelan.

Ia diam.

Lalu berkata,

“Aku tahu.”

Tanganku berhenti lagi.

Aku menatap kakinya, lalu perlahan berkata,

“Boleh aku tanya sesuatu?”

“Iya.”

“Kenapa kamu percaya padaku?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Jujur.

Karena bahkan aku sendiri… kadang tidak percaya pada diriku.

Ia tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu.

Lalu—

“Karena kamu tidak pernah mencoba mengambil apa pun dariku.”

Aku terdiam.

Kalimat itu sederhana.

Tapi… berat.

“Aku tidak punya apa-apa untuk diambil,” kataku pelan.

Ia menggeleng kecil.

“Itu yang kamu pikir.”

Sunyi lagi.

Aku kembali memijat perlahan.

Tanganku bergerak lebih pelan sekarang, seolah takut merusak sesuatu yang sedang tumbuh.

“Aku akan terus memijat,” kataku lirih. “Kalau itu membantu.”

Ia menatapku.

“Kenapa?”

Aku sedikit tersenyum.

“Karena aku ingin.”

Jawaban sederhana.

Tapi jujur.

Ia terdiam cukup lama.

Lalu berkata pelan,

“Kamu tidak lelah?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Itu bukan kebohongan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku… melakukan sesuatu tidak terasa seperti kewajiban.

Aku tidak disuruh.

Tidak dipaksa.

Tidak dihakimi.

Aku hanya… memilih.

Dan itu membuat segalanya berbeda.

Adrian menyandarkan punggungnya sedikit, lebih rileks.

“Kalau ini berhasil…” katanya pelan.

Aku menoleh sedikit.

“Iya?”

Ia menatap ke arah jendela.

“Aku akan bisa berdiri lagi.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Aku merasakan sesuatu menghangat di dadaku.

Harapan.

Yang kali ini… bukan hanya milikku.

Aku tersenyum kecil.

“Kamu pasti bisa.”

Ia menoleh ke arahku.

Tatapannya… lebih lembut dari biasanya.

“Kamu yakin?”

Aku mengangguk.

“Iya.”

Bukan karena aku tahu pasti.

Tapi karena…

Aku ingin percaya.

Dan untuk pertama kalinya—

Ia tidak membantah.

Tidak meremehkan.

Tidak menolak.

Ia hanya diam… dan menerima.

Beberapa menit berlalu.

Pijatanku semakin pelan, sampai akhirnya berhenti.

“Apa sudah lebih baik?” tanyaku.

Ia menggerakkan sedikit kakinya.

Menghela napas.

“Iya. Lebih ringan.”

Aku tersenyum.

“Bagus.”

Aku hendak menarik tanganku.

Namun tiba-tiba—

Tanganku ditahan.

Aku terkejut.

Adrian menahan pergelangan tanganku.

Tidak kuat.

Tapi cukup untuk menghentikanku.

Aku menatapnya, sedikit bingung.

Ia juga terlihat sedikit… ragu.

Hal yang jarang kulihat darinya.

“Terima kasih,” katanya pelan.

Aku membeku sejenak.

Kata itu…

Datang darinya.

Aku tersenyum kecil.

“Tidak perlu.”

Ia menggeleng.

“Kali ini… perlu.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Jadi aku hanya mengangguk pelan.

Ia perlahan melepaskan tanganku.

Dan untuk beberapa detik…

Kami hanya saling menatap.

Tidak ada kata.

Tapi ada sesuatu yang berubah.

Sesuatu yang kecil.

Halus.

Namun nyata.

Bukan hubungan suami istri yang hangat.

Belum.

Tapi juga bukan dua orang asing.

Kami… mulai mengenal.

Sedikit demi sedikit.

Aku berdiri perlahan.

“Kalau begitu… aku keluar dulu.”

Ia mengangguk.

“Iya.”

Aku berjalan menuju pintu.

Namun sebelum keluar, aku berhenti sebentar.

Menoleh.

“Adrian.”

“Iya?”

Aku tersenyum kecil.

“Rahasia ini… aman denganku.”

Ia menatapku.

Lalu mengangguk pelan.

“Aku tahu.”

Aku keluar dari kamar.

Menutup pintu perlahan di belakangku.

Dan saat aku berjalan menyusuri lorong—

Langkahku terasa lebih ringan.

Karena untuk pertama kalinya…

Aku bukan hanya bertahan.

Aku… mulai punya alasan untuk tetap di sini.

Bukan karena terpaksa.

Tapi karena… aku ingin.

Dan di dalam kamar itu—

Seorang pria yang dulu menolak segalanya,

perlahan mulai membuka satu hal—

Harapan.

Malam itu, aku tidak langsung kembali ke kamar.

Langkah kakiku berjalan pelan menyusuri lorong panjang rumah itu. Lampu-lampu dinding menyala redup, menciptakan bayangan lembut di sepanjang jalan. Suasana tetap sunyi, tapi kali ini… tidak terasa menekan.

Tanganku masih terasa hangat.

Bekas sentuhan tadi.

Aku berhenti di depan jendela besar di ujung lorong. Dari sana, taman belakang terlihat jelas—lampu taman menyala, angin malam menggerakkan daun-daun perlahan.

Aku menyandarkan tangan di kaca.

Menghela napas panjang.

Semuanya terasa… berbeda.

Adrian yang dingin.

Adrian yang menjaga jarak.

Adrian yang berkata tidak ingin menjalani hubungan seperti pasangan…

Tadi—

Menahanku.

Mengucapkan terima kasih.

Dan… mempercayaiku.

Aku tersenyum kecil tanpa sadar.

“Ini aneh…” gumamku pelan.

Aku tidak tahu kapan tepatnya perasaan ini mulai berubah.

Awalnya hanya ingin bertahan.

Lalu… mulai merasa nyaman.

Dan sekarang…

Aku mulai peduli.

Langkah kaki kecil terdengar dari belakang.

Aku menoleh.

“Bibi Ratna?”

Wanita itu mendekat dengan senyum lembut.

“Nyonya belum tidur?” tanyanya pelan.

Aku menggeleng. “Belum.”

Ia menatapku beberapa detik, lalu berkata,

“Sepertinya hari ini… hari yang baik.”

Aku sedikit terkejut. “Kelihatan ya?”

Ia tersenyum.

“Sudah lama saya tidak melihat Tuan setenang tadi.”

Aku terdiam sejenak.

“Dia… memang seperti itu sejak dulu?”

Bibi Ratna mengangguk pelan.

“Sejak kecelakaan itu, Tuan banyak berubah.”

Aku menunduk sedikit.

“Apa… dia selalu seperti ini dengan semua orang?”

“Tidak,” jawabnya cepat. “Dengan Anda… berbeda.”

Aku mengangkat kepala.

“Berbeda?”

Ia mengangguk.

“Tuan tidak pernah membiarkan orang terlalu dekat.”

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

“Tapi tadi… saya lihat sendiri,” lanjutnya, “Tuan tidak menolak saat Anda menyentuhnya.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Karena aku sendiri… juga baru menyadarinya.

“Apa menurut Bibi…” aku ragu sejenak, “dia benar-benar bisa sembuh?”

Bibi Ratna tersenyum lembut.

“Saya tidak tahu soal medis,” katanya. “Tapi saya tahu satu hal.”

Aku menatapnya.

“Sejak Anda datang… Tuan berubah.”

Aku terdiam.

Kalimat itu… terlalu besar.

Aku tidak tahu apakah aku pantas untuk itu.

Namun sebelum aku sempat berkata apa-apa, Bibi Ratna melanjutkan,

“Dan perubahan kecil… bisa membawa hal besar.”

Ia menepuk pelan tanganku.

“Jangan berhenti, Nyonya.”

Aku mengangguk pelan.

“Iya…”

Beberapa saat kemudian, aku kembali ke kamar.

Kamar yang dulu terasa asing…

Sekarang mulai terasa sedikit… milikku.

Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap foto ibu di meja samping.

“Ibu…” bisikku pelan.

Senyum kecil muncul di wajahku.

“Aku mungkin belum bahagia…”

“Tapi… aku tidak sesedih dulu.”

Aku menyentuh bingkai foto itu pelan.

“Dan kali ini… aku tidak sendirian sepenuhnya.”

Aku berbaring perlahan.

Menarik selimut.

Lampu dimatikan.

Gelap menyelimuti ruangan.

Namun berbeda dengan malam sebelumnya—

Pikiranku tidak sesesak itu.

Di sisi lain.

Di dalam kamar Adrian.

Ia masih duduk di tempat yang sama.

Sunyi.

Namun pikirannya tidak.

Tangannya perlahan menyentuh kakinya sendiri.

Seolah memastikan sesuatu.

Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya.

Sedikit.

Sangat sedikit.

Tapi ada.

Ia menutup mata sejenak.

Menghela napas dalam.

“Ini bukan kebetulan…” gumamnya pelan.

Bayangan wajah Alina muncul di pikirannya.

Cara dia memijat.

Cara dia bicara.

Cara dia tidak pernah memaksa.

Dan cara dia… tetap tinggal tanpa meminta apa pun.

Adrian membuka mata.

Tatapannya berubah.

Lebih dalam.

Lebih fokus.

“Kalau ini benar karena dia…”

Kalimat itu terhenti.

Namun pikirannya melanjutkan.

Maka… aku tidak boleh kehilangannya.

Ia langsung terdiam setelah menyadari pikirannya sendiri.

Alisnya sedikit mengernyit.

“…Apa yang aku pikirkan.”

Ia menggeleng kecil.

Namun tidak menyangkalnya.

Untuk pertama kalinya sejak lama—

Ia tidak merasa sendiri dalam perjuangannya.

Dan itu… membuatnya sedikit takut.

Sekaligus—

Sedikit berharap.

1
Siti Jubaedah
trima kasih karyanya semoga lebih semangat membacanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!