NovelToon NovelToon
Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uzumaki Amako

Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

Aku tidak langsung keluar dari ruang kerja setelah itu.

Kakiku seperti tertahan di tempat, sementara pikiranku masih memutar kalimat terakhir Adrian berulang-ulang.

Aku tidak suka sesuatu yang jadi milikku… disentuh orang lain.

Dadaku kembali berdebar.

Aku tahu… maksudnya mungkin sederhana. Tentang perlindungan. Tentang posisi. Tentang tanggung jawab.

Tapi tetap saja—

Kalimat itu terasa terlalu dekat.

Terlalu personal.

“Ada lagi?” tanya Adrian tiba-tiba.

Aku tersentak kecil. “Eh… tidak.”

Ia menatapku beberapa detik, seolah menyadari ada sesuatu yang ingin kukatakan tapi kutahan.

Namun ia tidak memaksa.

“Kalau begitu, istirahat,” katanya.

Aku mengangguk cepat. “Iya.”

Aku berbalik dan keluar dari ruangan itu.

Begitu pintu tertutup di belakangku, aku menghela napas panjang.

Langkahku otomatis menuju kamar.

Namun kali ini, pikiranku tidak tenang seperti sebelumnya.

Bukan karena takut.

Tapi karena… sesuatu yang berbeda.

Aku masuk ke kamar, menutup pintu, lalu bersandar di belakangnya.

Tanganku naik ke dada.

Degupnya masih terasa jelas.

“Kenapa sih…” bisikku pelan.

Aku berjalan pelan ke arah tempat tidur, lalu duduk.

Pikiranku melayang ke malam ini.

Semuanya terasa… terlalu cepat berubah.

Dari perasaan kecil di pesta…

Menjadi seseorang yang berdiri di sampingnya.

Dari hanya “yang dikirim”…

Menjadi seseorang yang ia lindungi.

Aku menunduk, menatap tanganku sendiri.

“…Ini tidak boleh salah arah.”

Aku mengingatkan diriku sendiri.

Hubungan ini punya batas.

Dan aku tidak boleh melewatinya.

Sementara itu, di sisi lain rumah…

Adrian masih berada di ruang kerjanya.

Sendirian.

Ruangan itu sunyi, hanya lampu meja yang menyala redup.

Ia tidak langsung kembali ke pekerjaannya.

Laptop di depannya masih tertutup.

Tangannya diam di atas meja.

Pikirannya… tidak.

Tatapan matanya kosong sejenak.

Lalu perlahan berubah.

Mengingat sesuatu.

Malam ini.

Gerakan.

Suara.

Dan—

Alina.

Cara dia berdiri di sampingnya tanpa ragu.

Cara dia tidak mundur saat diserang kata-kata.

Cara dia duduk di pangkuannya… tanpa menolak.

Tangannya sedikit mengepal.

Ia menghembuskan napas pelan.

“…Merepotkan.”

Gumamnya pelan.

Namun nada suaranya tidak menunjukkan kesal.

Lebih seperti… sesuatu yang tidak ia mengerti.

Ia terbiasa mengendalikan situasi.

Mengendalikan orang.

Mengendalikan dirinya sendiri.

Tapi malam ini—

Ada sesuatu yang tidak ia kendalikan.

Reaksinya.

Perhatiannya.

Dan… keinginannya untuk melindungi.

Ia menutup mata sejenak.

Lalu membuka lagi.

Tatapannya kembali tajam.

Tenang.

Seperti biasa.

“Vanessa…”

Ia menyebut nama itu pelan.

Nada suaranya berubah.

Dingin.

Berbahaya.

Ia meraih ponselnya.

Mengetik sesuatu.

Pesan singkat.

Awasi pergerakan mereka. 

Hanya itu.

Ia tidak butuh banyak kata.

Beberapa detik kemudian, balasan masuk.

Siap, tuan

Ia meletakkan ponsel kembali.

Kursi rodanya bergerak sedikit mendekat ke jendela.

Ia menatap ke luar.

Langit malam gelap.

Tenang.

Tapi ia tahu—

Di balik ketenangan itu, sesuatu sedang bergerak.

Dan kali ini…

Ia tidak akan membiarkannya terjadi begitu saja.

Keesokan paginya…

Aku terbangun lebih awal dari biasanya.

Sinar matahari masuk dari celah tirai, menyinari kamar yang masih terasa asing… tapi tidak lagi sepenuhnya dingin.

Aku duduk di tepi tempat tidur, menarik napas pelan.

Pikiranku masih sedikit berat.

Tapi tidak seperti dulu.

Sekarang… ada sesuatu yang membuatku bangun.

Bukan kewajiban.

Bukan ketakutan.

Tapi… pilihan.

Aku berdiri, merapikan tempat tidur seperti biasa, lalu berjalan ke kamar mandi.

Air dingin membasuh wajahku, membuatku lebih sadar.

Hari ini…

Aku harus lebih hati-hati.

Kata-kata Adrian semalam masih jelas.

Ini belum selesai.

Aku menatap diriku di cermin.

“…Aku tidak boleh lengah.”

Aku mengganti pakaian, lalu keluar dari kamar.

Langkahku otomatis menuju dapur.

Namun kali ini—

Aku tidak tersesat.

Aku mengingat jalannya.

Belok kiri.

Lurus.

Turun.

Dan benar—

Aku sampai.

Senyum kecil muncul di wajahku.

“Lumayan…”

Aku masuk ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan seperti biasa.

Namun kali ini, pikiranku tidak kosong.

Aku lebih sadar.

Lebih waspada.

Setiap suara.

Setiap langkah.

Setiap kemungkinan.

Beberapa menit kemudian—

“Kamu cepat belajar.”

Suara itu membuatku menoleh.

Adrian.

Sudah ada di sana.

Aku sedikit tersenyum. “Aku mengingat jalannya.”

Ia mengangguk kecil.

Tatapannya kemudian berpindah ke bahan masakan di meja.

“Kamu masak lagi.”

“Iya.”

Sunyi sejenak.

Lalu aku berkata pelan,

“Kalau kamu tidak keberatan.”

Ia menatapku.

Beberapa detik.

Lalu berkata—

“Aku sudah bilang. Lakukan sesukamu.”

Aku mengangguk kecil.

Namun kali ini, suasananya berbeda.

Tidak sekaku sebelumnya.

Aku mulai memasak, sementara ia mendekat ke meja.

Tanpa banyak bicara.

Namun kehadirannya… terasa.

Tidak menekan.

Tidak membuatku gugup seperti dulu.

Aneh.

Sangat aneh.

Beberapa saat kemudian, aku berkata—

“Kamu mau kopi atau teh?”

Ia sedikit terdiam.

Pertanyaan sederhana.

Tapi mungkin tidak biasa untuknya.

“…Kopi,” jawabnya.

Aku mengangguk.

“Iya.”

Aku membuat kopi untuknya.

Menaruhnya di meja.

Ia mengambilnya.

“Terima kasih.”

Aku terdiam.

Beberapa detik.

Lalu tersenyum kecil.

“Sama-sama.”

Kami kembali diam.

Namun kali ini…

Tidak ada jarak yang terasa terlalu jauh.

Di tempat lain…

Vanessa berdiri di depan jendela apartemennya.

Tangannya memegang gelas wine.

Matanya tajam menatap ke luar.

“Dia berubah.”

Suaranya pelan.

Dingin.

Di belakangnya, Celine duduk di sofa, terlihat kesal.

“Dia cuma berani sedikit,” katanya. “Itu bukan apa-apa.”

Vanessa tersenyum tipis.

“Tidak,” katanya pelan. “Itu awal.”

Celine mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

Vanessa menoleh.

Tatapannya… berbahaya.

“Orang seperti dia… kalau sudah mulai berubah… akan jadi masalah.”

Celine terdiam.

Vanessa melangkah mendekat.

“Kamu bilang dia lemah.”

“Iya,” jawab Celine cepat. “Dia memang begitu.”

Vanessa tersenyum.

“Dulu.”

Satu kata itu cukup membuat suasana berubah.

“Sekarang?” tanya Celine.

Vanessa menatap lurus ke depan.

“Sekarang dia punya sesuatu.”

“Apa?”

Vanessa tersenyum tipis.

“Pelindung.”

Sunyi.

Celine menggenggam tangannya.

“Kalau begitu… kita hancurkan pelindungnya.”

Vanessa tidak langsung menjawab.

Namun senyumnya semakin dalam.

“Tidak,” katanya pelan.

“Kita buat dia… kehilangan semuanya sekaligus.”

Matanya berkilat.

“Baru setelah itu… kita lihat seberapa kuat dia bertahan.”

Dan tanpa kusadari…

Permainan itu—

Baru saja dimulai.

Sore itu, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.

Aku baru saja selesai merapikan dapur setelah membantu menyiapkan makan siang. Bibi Ratna sudah kembali ke bagiannya, sementara para pelayan lain sibuk di tempat masing-masing.

Aku berjalan pelan menyusuri lorong.

Tujuanku sebenarnya sederhana—aku hanya ingin mengambil buku yang tertinggal di ruang keluarga kecil dekat ruang kerja Adrian.

Langkahku ringan.

Pikiranku… tidak terlalu berat hari ini.

Namun saat aku melewati lorong menuju ruang kerja—

Aku mendengar sesuatu.

Suara.

Sangat pelan.

Seperti… sesuatu yang bergeser.

Aku berhenti.

Mengernyit sedikit.

“Suara apa ya…” gumamku pelan.

Pintu ruang kerja Adrian sedikit terbuka.

Tidak sepenuhnya tertutup seperti biasanya.

Aku tidak berniat menguping.

Tapi entah kenapa… langkahku mendekat.

Pelan.

Hati-hati.

Dan saat aku sampai di dekat pintu—

Aku melihatnya.

Adrian.

Dia… berdiri.

Bukan hanya berdiri.

Dia benar-benar… berdiri tanpa kursi roda.

Tangannya menahan meja di depannya.

Tubuhnya tegap… meskipun terlihat menahan sesuatu.

Dan—

Dia melangkah.

Satu langkah kecil.

Nyata.

Bukan sekadar berdiri beberapa detik seperti di pesta.

Ini berbeda.

Lebih stabil.

Lebih… hidup.

Mataku langsung melebar.

Jantungku seperti berhenti sesaat.

“…Adrian?”

Suaraku keluar tanpa sadar.

Pelan.

Namun cukup untuk membuatnya berhenti.

Ia menoleh cepat.

Tatapan kami bertemu.

Waktu seperti diam.

Beberapa detik.

Sunyi.

Lalu—

Keseimbangannya sedikit goyah.

“Adrian!” aku langsung masuk tanpa berpikir.

Aku mendekat cepat, tanganku refleks menopang lengannya.

Tubuhnya terasa berat.

Tapi hangat.

Nyata.

Ia menghela napas pelan, mencoba menstabilkan diri.

“Aku tidak apa-apa,” katanya rendah.

Namun aku tetap memegang lengannya.

Takut.

Kalau dia jatuh.

“Kamu… kamu jalan…” suaraku bergetar.

Aku masih tidak percaya.

Mataku bahkan mulai berkaca-kaca.

Ia menatapku beberapa detik.

Seolah mencoba membaca reaksiku.

“…Sedikit,” jawabnya akhirnya.

“Tapi itu… itu bukan sedikit…” kataku cepat. “Itu besar.”

Tanganku masih menahan lengannya.

Aku bahkan belum sadar kalau aku terlalu dekat.

Ia memperhatikan itu.

Namun tidak menyingkir.

“Sejak kapan?” tanyaku pelan.

Ia tidak langsung menjawab.

“…Beberapa waktu,” katanya singkat.

Aku menggeleng pelan.

“Kenapa kamu tidak bilang?”

“Belum stabil.”

Jawaban itu sederhana.

Tapi aku tahu… itu bukan satu-satunya alasan.

Aku menatapnya lebih dalam.

Lalu tanpa sadar berkata—

“Karena kamu tidak ingin berharap?”

Ia diam.

Tatapannya berubah sedikit.

Aku menelan pelan.

“Kalau berharap… terus gagal… itu lebih menyakitkan,” lanjutku lirih.

Sunyi.

Ia tidak menyangkal.

Itu sudah cukup menjadi jawaban.

Aku menggenggam lengannya sedikit lebih erat.

“Adrian… ini bukan kebetulan.”

Ia mengangkat alis tipis.

“Maksudmu?”

Aku ragu sejenak.

Lalu berkata pelan—

“Pijatan.”

Ia terdiam.

“Sejak aku memijat kakimu… kamu mulai merespon, kan?”

Ia tidak langsung menjawab.

Namun kali ini—

Ia tidak menolak.

Aku menarik napas pelan.

“Dulu… aku sering memijat ibu,” kataku. “Katanya, aliran darah jadi lebih lancar.”

Aku menatapnya lagi.

“Kalau ini membantu… aku mau terus lakukan.”

Sunyi beberapa detik.

Tatapan Adrian… berbeda.

Lebih dalam.

Lebih lama.

Seolah menimbang sesuatu.

“Kamu tidak harus melakukan itu,” katanya pelan.

Aku menggeleng.

“Aku mau.”

Jawaban itu keluar tanpa ragu.

Karena itu memang keinginanku.

Bukan kewajiban.

Bukan paksaan.

Ia masih menatapku.

Lalu berkata—

“…Kenapa?”

Pertanyaan itu lagi.

Selalu itu.

Aku terdiam sejenak.

Lalu menjawab jujur—

“Karena aku ingin kamu sembuh.”

Sunyi.

“Tapi lebih dari itu…” aku menunduk sedikit, “karena aku ingin kamu tidak merasa sendirian dalam hal ini.”

Tanganku masih di lengannya.

Aku bisa merasakan ototnya menegang sedikit.

Seolah kata-kataku… sampai.

Beberapa detik berlalu.

Lalu perlahan—

Ia duduk kembali ke kursi rodanya.

Aku membantu tanpa diminta.

Gerakanku refleks.

Seolah itu sudah jadi kebiasaan.

Setelah duduk, ia tidak langsung menjauh.

Ia menatap ke depan.

Diam.

Lalu berkata pelan—

“Kalau ini diketahui orang lain…”

Aku mengangguk.

“Akan jadi kelemahan.”

Ia menoleh ke arahku.

Tatapannya tajam.

“Dan mereka akan memanfaatkannya.”

Aku mengerti.

Vanessa.

Nathaniel.

Bahkan…

Celine.

Aku menarik napas pelan.

“Kalau begitu… kita rahasiakan.”

Ia menatapku beberapa detik.

“…Kita?”

Aku mengangguk.

“Iya. Kita.”

Sunyi.

Namun kali ini—

Ada sesuatu yang berbeda.

Bukan hanya kesepakatan.

Tapi… kepercayaan.

Ia mengangguk kecil.

“Jangan sampai ada yang tahu.”

“Iya.”

Aku menjawab dengan pasti.

Lalu aku tersenyum kecil.

“Tapi… aku boleh senang, kan?”

Ia mengangkat alis tipis.

“Senang?”

“Kamu jalan,” kataku pelan. “Itu kabar baik.”

Ia terdiam.

Lalu… sangat tipis—

Sudut bibirnya terangkat.

Hampir tidak terlihat.

Namun nyata.

Dan itu—

Sudah lebih dari cukup.

Sore itu berubah.

Bukan hanya karena langkah kecil yang ia ambil.

Tapi karena sesuatu yang lebih besar—

Kami sekarang punya rahasia.

Bersama.

Dan tanpa kusadari—

Jarak di antara kami…

Semakin mengecil.

1
Siti Jubaedah
trima kasih karyanya semoga lebih semangat membacanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!