NovelToon NovelToon
Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uzumaki Amako

Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

Tepuk tangan masih terdengar pelan saat musik benar-benar berhenti.

Aku masih berada di pangkuan Adrian.

Terlalu dekat.

Terlalu nyata.

Dan entah kenapa… aku tidak langsung bergerak menjauh.

Bukan karena lupa.

Tapi karena… tidak ingin.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya aku tersadar. Wajahku langsung terasa panas. Aku buru-buru bangkit pelan dari pangkuannya, berdiri di sampingnya dengan jantung yang masih kacau.

“Aku… maaf,” kataku lirih.

Adrian menatap lurus ke depan. “Untuk apa?”

“Aku—tadi…”

“Kamu tidak melakukan kesalahan.”

Jawabannya singkat.

Tapi cukup untuk membuatku diam.

Di sekitar kami, suasana mulai kembali seperti semula, tapi tidak sepenuhnya. Tatapan orang-orang masih sesekali mengarah ke kami. Bukan lagi dengan meremehkan.

Tapi… berbeda.

Lebih berhati-hati.

Lebih menghargai.

Namun di sisi lain—

Vanessa.

Aku bisa merasakan tatapannya bahkan tanpa melihat.

Dan ketika aku menoleh—

Benar.

Dia sedang menatap kami.

Tidak tersenyum.

Tidak berbicara.

Matanya tajam… dan dingin.

Berbeda dari sebelumnya.

Di sampingnya, Celine terlihat tidak nyaman. Senyum tipisnya hilang, digantikan ekspresi yang sulit dibaca.

Nathaniel hanya diam, tapi rahangnya sedikit mengeras.

Untuk pertama kalinya—

Mereka tidak mengendalikan situasi.

Adrian menggerakkan kursi rodanya sedikit menjauh dari tengah lantai dansa.

“Ayo,” katanya pelan.

Aku langsung mengangguk. “Iya.”

Kami kembali ke sisi aula yang lebih sepi. Namun langkah kami terhenti saat seseorang menghampiri.

Seorang pria paruh baya dengan setelan mahal, wajahnya penuh wibawa.

“Tuan Adrian,” katanya sambil tersenyum lebar. “Sudah lama tidak bertemu.”

Adrian menatapnya sebentar. “Pak Surya.”

Aku berdiri di samping, mencoba tetap tenang.

Pria itu kemudian menatapku.

“Dan ini pasti istri Anda.”

Aku sedikit menunduk. “Iya, Pak.”

Ia tersenyum ramah. “Perkenalkan, saya Surya Halim. Saya sudah lama bekerja sama dengan Tuan Adrian.”

Aku mengangguk sopan.

“Penampilan kalian tadi…” lanjutnya, “cukup mengejutkan banyak orang.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku hanya tersenyum kecil.

Ia lalu menepuk bahu Adrian pelan.

“Kamu masih sama. Tidak suka diremehkan.”

Adrian tidak membalas, tapi tidak juga menyangkal.

Pak Surya tertawa kecil. “Bagus. Dunia bisnis memang tidak ramah pada yang terlihat lemah.”

Kalimat itu terdengar biasa.

Tapi maknanya dalam.

Setelah berbicara sebentar, pria itu pamit.

Kami kembali berdua.

Sunyi lagi.

Namun kali ini… tidak canggung.

Aku menatap Adrian pelan.

“Tadi… kamu tidak perlu melakukan itu,” kataku hati-hati.

Ia tidak langsung menjawab.

“Melakukan apa?” tanyanya.

“Berdiri.”

Ia diam beberapa detik.

Lalu berkata,

“Kadang… orang perlu diingatkan.”

Aku mengerutkan kening sedikit. “Diingatkan?”

“Bahwa aku masih bisa memilih.”

Jawaban itu sederhana.

Tapi membuatku terdiam.

Ia tidak berdiri karena terpaksa.

Ia berdiri… karena ia ingin.

Dan mungkin—

Karena mereka meremehkannya.

Atau…

Karena aku.

Aku tidak berani bertanya lebih jauh.

Namun sebelum aku sempat memikirkan itu—

“Alina.”

Suara itu membuat tubuhku langsung kaku.

Aku menoleh.

Ayah.

Bram Pratama.

Berdiri tidak jauh dari kami.

Di sampingnya—

Diana Pratama.

Ibu tiriku.

Dan sedikit di belakang—

Celine yang perlahan mendekat lagi.

Jantungku langsung berdegup cepat.

Semua perasaan yang tadi sempat tenang… kembali muncul.

Aku berdiri lebih tegak tanpa sadar.

“Ayah…” suaraku pelan.

Tatapannya tertuju padaku.

Lama.

Seolah menilai.

Seolah mencari sesuatu.

Lalu akhirnya ia berkata,

“Kamu… terlihat berbeda.”

Aku terdiam.

Tidak tahu harus menjawab apa.

Ibu tiriku tersenyum tipis. “Tentu saja. Sekarang dia sudah punya ‘tempat’.”

Kata itu… menusuk.

Tapi aku tidak menunduk.

Tidak seperti dulu.

“Aku baik-baik saja,” jawabku pelan.

Celine menyilangkan tangan, menatapku dari atas ke bawah.

“Lebih dari sekadar baik, sepertinya,” katanya.

Nada suaranya tidak lagi sepenuhnya meremehkan.

Ada sesuatu yang lain.

Tidak suka.

Ayah kemudian menoleh ke Adrian.

“Tuan Adrian.”

Adrian menatapnya datar. “Pak Bram.”

Mereka saling memandang.

Dingin.

Formal.

Tidak ada kehangatan.

“Kami tidak menyangka…” lanjut ayah, “Anda akan datang langsung ke acara ini.”

“Saya tidak suka diwakili.”

Jawaban Adrian singkat.

Namun cukup untuk membuat suasana berubah.

Karena semua orang tahu—

Saat pernikahanku dulu…

Dia tidak datang.

Ayah sedikit terdiam.

Seolah menyadari sesuatu.

Namun ia tidak membahasnya.

“Semoga kerja sama kita tetap berjalan baik,” katanya.

Adrian mengangguk kecil. “Selama tidak ada yang melanggar kesepakatan.”

Kalimat itu terdengar biasa.

Tapi terasa seperti peringatan.

Sunyi beberapa detik.

Lalu ibu tiriku berkata manis,

“Alina, kamu harus sering pulang ya.”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya… tanpa perasaan takut.

“Aku akan mempertimbangkannya,” jawabku pelan.

Celine langsung menoleh cepat ke arahku.

Mungkin tidak menyangka aku akan menjawab seperti itu.

Ayah juga terlihat sedikit terkejut.

Namun Adrian—

Tetap diam.

Tapi aku bisa merasakan—

Ia tidak menghentikanku.

Dan itu… cukup.

Beberapa saat kemudian, mereka pergi.

Aku menghela napas pelan.

Baru sadar aku menahan napas sejak tadi.

“Kamu tidak gemetar,” kata Adrian tiba-tiba.

Aku menoleh. “Apa?”

“Biasanya kamu seperti itu saat di depan mereka.”

Aku terdiam.

Lalu tersenyum kecil.

“…Aku belajar.”

Ia menatapku beberapa detik.

Lebih lama dari biasanya.

Lalu berkata pelan,

“Bagus.”

Satu kata.

Tapi entah kenapa… terasa seperti pujian besar.

Aku menunduk sedikit, menyembunyikan senyum kecilku.

Malam semakin larut.

Acara perlahan mendekati akhir.

Namun sesuatu di dalam diriku…

Sudah berubah.

Aku datang ke tempat ini dengan rasa takut.

Dengan bayangan masa lalu yang menekan.

Dengan orang-orang yang dulu selalu membuatku merasa kecil.

Tapi sekarang—

Aku masih di tempat yang sama.

Dengan orang-orang yang sama.

Namun aku…

Tidak lagi sama.

Dan di sampingku—

Ada seseorang yang mungkin tidak hangat.

Tidak manis.

Tidak romantis.

Tapi—

Tidak pernah membuatku merasa lebih kecil.

Adrian menggerakkan kursi rodanya perlahan.

“Kita pulang.”

Aku mengangguk.

“Iya.”

Kami berjalan—atau lebih tepatnya, bergerak—keluar dari aula itu bersama.

Lampu-lampu terang mulai menjauh.

Suara musik memudar.

Dan malam itu…

Untuk pertama kalinya sejak aku kembali bertemu masa laluku—

Aku tidak merasa kalah.

Aku hanya merasa…

Aku akhirnya berdiri di tempatku sendiri.

Mobil melaju meninggalkan gedung pesta.

Lampu-lampu kota memantul di jendela, bergerak seperti garis-garis cahaya yang tidak pernah benar-benar berhenti. Aku duduk di kursi belakang, di samping Adrian. Tidak ada percakapan sejak kami keluar tadi.

Tapi kali ini… diamnya berbeda.

Bukan canggung.

Bukan menekan.

Lebih seperti… penuh sesuatu yang belum terucap.

Aku meliriknya pelan.

Ia menatap lurus ke depan, ekspresinya kembali seperti biasa—tenang, sulit dibaca. Namun bayangan kejadian tadi masih jelas di kepalaku.

Cara dia berdiri.

Cara dia menarikku.

Cara dia berkata… “istriku.”

Jantungku berdegup lagi tanpa izin.

Aku cepat-cepat mengalihkan pandangan ke jendela.

“…Kamu diam saja dari tadi.”

Suara Adrian memecah pikiranku.

Aku sedikit tersentak. “Eh… iya.”

“Kenapa?”

Pertanyaannya sederhana.

Tapi aku tidak langsung bisa menjawab.

Aku menunduk sedikit, memainkan ujung gaunku.

“Aku cuma… mikir,” kataku pelan.

“Mikir apa?”

Aku ragu sejenak.

Lalu akhirnya berkata jujur,

“Tadi… kamu berdiri.”

Sunyi beberapa detik.

Mobil terus melaju.

“Itu bukan pertama kalinya,” jawabnya akhirnya.

Aku menoleh cepat. “Bukan?”

Ia menggeleng kecil. “Aku masih punya kekuatan di bagian tertentu. Tapi tidak stabil.”

Aku diam, mencerna.

“Jadi… kamu bisa… sembuh?” tanyaku hati-hati.

Ia tidak langsung menjawab.

Tatapannya sedikit berubah—lebih dalam, tapi juga lebih jauh.

“Dokter bilang… kemungkinan itu ada,” katanya pelan. “Tapi kecil.”

Dadaku terasa sedikit sesak.

Kecil.

Namun tetap ada.

Aku menggenggam tanganku pelan.

“Tapi tadi… kamu berdiri cukup lama,” kataku.

“Hanya beberapa detik.”

“Bagi orang lain mungkin,” balasku pelan, “tapi untukmu… itu besar.”

Ia menoleh padaku.

Tatapan kami bertemu.

Beberapa detik.

Sunyi.

Lalu ia bertanya,

“Kenapa kamu peduli?”

Pertanyaan itu… jujur.

Langsung.

Aku sedikit terkejut.

“Karena…” aku berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. “Karena itu hal baik.”

Ia masih menatapku.

Seolah menunggu sesuatu yang lebih.

Aku menelan pelan.

“…Dan karena kamu berusaha.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Tanpa rencana.

Tanpa disaring.

Ia tidak langsung menjawab.

Namun aku bisa melihat—

Tatapannya berubah sedikit.

Lebih lembut.

Sangat tipis.

Hampir tidak terlihat.

Namun cukup untuk kusadari.

Mobil akhirnya berhenti di depan rumah.

Pintu dibuka oleh pelayan.

Kami turun.

Udara malam terasa lebih dingin dibanding sebelumnya.

Aku berjalan di samping Adrian saat kami masuk ke dalam rumah.

Seperti biasa—

Sunyi.

Namun sekarang… tidak terasa kosong.

Setelah sampai di dalam, aku berhenti sejenak.

“Aku ke kamar dulu,” kataku pelan.

Adrian mengangguk.

Namun sebelum aku benar-benar pergi—

“Alina.”

Aku menoleh.

“Iya?”

Ia diam sejenak.

Seolah menimbang sesuatu.

Lalu berkata,

“Tadi… kamu tidak terlihat seperti orang yang sama.”

Aku mengerutkan kening sedikit. “Maksudnya?”

“Kamu tidak takut.”

Aku tersenyum kecil.

“…Aku takut.”

Ia menatapku.

“Tapi aku tidak mau kelihatan lemah lagi.”

Sunyi.

Beberapa detik.

Lalu ia berkata pelan,

“Bagus.”

Satu kata lagi.

Tapi entah kenapa… selalu terasa berarti saat keluar dari mulutnya.

Aku mengangguk kecil, lalu berbalik dan berjalan menuju kamar.

Begitu pintu kamar tertutup—

Aku langsung bersandar di belakangnya.

Jantungku… kembali kacau.

Tanganku naik ke dada.

“Kenapa sih…” gumamku pelan.

Aku berjalan pelan ke arah tempat tidur, lalu duduk.

Pikiranku kembali ke kejadian tadi.

Semuanya.

Dari awal sampai akhir.

Tatapan orang-orang.

Kata-kata Celine.

Ekspresi Vanessa.

Dan…

Adrian.

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.

“…Aku duduk di pangkuannya.”

Kalimat itu keluar pelan.

Dan wajahku langsung panas lagi.

“Kenapa aku nggak langsung turun sih…”

Aku berguling pelan di atas tempat tidur, menatap langit-langit.

Tapi semakin aku mencoba melupakan—

Semakin jelas yang kuingat.

Cara tangannya menahan pinggangku.

Cara suaranya dekat di telingaku.

Cara dia bilang…

“Diam.”

Aku menutup mata rapat.

“…Ini bahaya.”

Aku berbisik pelan.

Bukan karena dia menakutkan.

Tapi karena—

Perasaanku.

Ini tidak seharusnya terjadi.

Pernikahan ini bukan karena cinta.

Kami sudah sepakat.

Tidak ada hubungan seperti itu.

Aku tidak boleh berharap.

Aku tidak boleh salah paham.

Aku tidak boleh—

Tok.

Tok.

Aku langsung duduk tegak.

“Iya?”

Pintu terbuka sedikit.

Seorang pelayan masuk.

“Nyonya, Tuan meminta Anda ke ruang kerjanya.”

Aku terdiam.

Sekarang?

“Sekarang?” tanyaku memastikan.

“Iya, Nyonya.”

Jantungku kembali berdegup.

“Ada apa ya…” gumamku pelan.

Aku berdiri, merapikan bajuku sedikit, lalu keluar dari kamar.

Langkahku menuju ruang kerja terasa… berbeda dari biasanya.

Lebih cepat.

Lebih tidak tenang.

Begitu sampai, aku mengetuk pintu.

“Masuk.”

Aku membuka pintu.

Adrian sudah ada di sana.

Seperti biasa—di belakang meja.

Tapi kali ini, tidak ada laptop.

Tidak ada dokumen.

Hanya dia.

Menungguku.

“Ada apa?” tanyaku pelan sambil mendekat.

Ia menatapku beberapa detik.

Lalu berkata—

“Kita bicara sebentar.”

Aku duduk di kursi di depannya.

Suasana langsung terasa serius.

Namun juga… pribadi.

“Ada masalah?” tanyaku hati-hati.

Ia menggeleng.

“Tidak.”

Lalu ia berhenti sejenak.

Seolah memilih kata.

“Wanita itu.”

Aku langsung tahu.

Vanessa.

“Aku sudah tahu dia akan melakukan sesuatu,” lanjutnya.

Aku sedikit terkejut. “Kamu tahu?”

“Iya.”

“Lalu kenapa kamu tetap datang?”

Ia menatapku lurus.

“Karena aku tidak suka menghindar.”

Jawaban itu… sangat dia.

Aku mengangguk pelan.

“Dan…” ia melanjutkan, “aku ingin melihat bagaimana kamu menghadapi mereka.”

Aku terdiam.

“Kamu lulus.”

Aku berkedip pelan.

“…Apa?”

“Kamu tidak seperti yang mereka pikirkan.”

Dadaku terasa hangat.

Namun aku menahan diri.

“Aku cuma… tidak mau diperlakukan seperti dulu lagi,” kataku pelan.

Ia mengangguk kecil.

“Bagus.”

Sunyi beberapa detik.

Lalu ia berkata lagi—

“Tapi ini belum selesai.”

Aku mengerutkan kening.

“Maksudnya?”

“Vanessa tidak akan berhenti.”

Jantungku sedikit menegang.

“Dan sekarang…” lanjutnya, “dia tidak sendiri.”

Aku langsung mengerti.

Celine.

Aku menggenggam tanganku pelan.

“Jadi… apa yang harus kita lakukan?” tanyaku.

Ia tidak langsung menjawab.

Namun kali ini—

Tatapannya berbeda.

Lebih fokus.

Lebih tajam.

“Kita tidak melakukan apa-apa dulu.”

Aku bingung. “Tidak?”

“Kita biarkan mereka bergerak.”

Sunyi.

“Aku ingin tahu… seberapa jauh mereka akan pergi.”

Aku menelan pelan.

Rencana.

Ini bukan lagi sekadar masalah keluarga.

Ini… sesuatu yang lebih besar.

Dan tanpa kusadari—

Aku sudah ada di dalamnya.

Adrian menyandarkan tubuhnya sedikit.

“Mulai sekarang… kamu harus lebih hati-hati.”

Aku mengangguk.

“Iya.”

Lalu ia berkata pelan—

“Dan jangan pergi sendirian.”

Aku sedikit terkejut.

“…Kamu khawatir?”

Ia tidak menjawab langsung.

Namun kalimat berikutnya cukup jelas—

“Aku tidak suka sesuatu yang jadi milikku… disentuh orang lain.”

Jantungku langsung berdegup keras.

Aku membeku beberapa detik.

Kata-katanya…

Terlalu dekat.

Terlalu… berbahaya.

Aku menunduk cepat.

“Iya…” jawabku pelan.

Dan untuk kedua kalinya malam itu—

Aku menyadari sesuatu.

Bukan hanya hidupku yang berubah.

Tapi juga—

Hubunganku dengannya.

Perlahan.

Tanpa sadar.

Mulai melewati batas yang dulu kami buat sendiri.

1
Siti Jubaedah
trima kasih karyanya semoga lebih semangat membacanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!