Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.
Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.
Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan!!
Pukul 08:30 pagi, Nadia terbangun dalam keadaan pakaian yang sudah mengering karena suhu tubuhnya tinggi. Perlahan dia mengedipkan mata yang terasa berat.
"Haus." tenggorokannya kering.
Dengan sedikit tenaga yang tersisa, Nadia pun beringsut menuju kulkas, mengambil air lalu minum sebotol air hingga habis.
Setelah minum, Nadia sempat merasa pusing lagi, tapi masih bisa diatasinya. "Jam berapa sekarang..."
Nadia mencoba berdiri dengan berpegangan pada pintu kulkas. Setelah berdiri, dia bawa kakinya melangkah menuju ruang tengah untuk mengambil ponselnya di dalam tas yang tergeletak begitu saja.
Setelah mendapatkan ponselnya, Nadia langsung mengirim pesan pada Jeni.
Nadia: Beb, gue gak enak badan. Gue gak bisa masuk hari ini.
Setelah menulis pesan singkat itu, Nadia merebahkan tubuhnya di sofa. Matanya kembali terpejam.
Sementara itu, Jeni terdiam sejenak setelah membaca pesan yang dikirim Nadia. Jari-jemarinya tidak bergerak sama sekali. Dia tidak berniat membalas pesan itu.
"Gue gak bisa. Sebelum semuanya jelas, gue gak mau peduli sama Nadia!" lirihnya sambil mengatup rapat giginya.
Telpon masuk dari Kevin. Jeni sempat ragu untuk menjawab, tapi kemudian dia tetap menekan tombol hijau.
(Morning, sayang. Kamu lagi apa?)
"...."
(Halo, sayang)
"Hmm."
(Baru bangun ya.)
"Hmm."
(Ya udah, mandi dulu sana. Kamu ada kuliah pagi kan?)
"Hmm."
(Kamu pasti masih ngantuk banget ya. Maaf ya sayang, aku ganggu tidur kamu. Tapi, aku cuma mau bilang, aku pulang besok subuh.)
Jeni tidak menjawab, dia tidak tau harus merespon seperti apa. Saat ini dia sedang dikuasai emosinya.
(Sayang, kamu mau tidur bentar lagi ya? Ya udah, tidur lima menit aja. Aku juga udah mau kerja lagi. Love you sayangku.)
Jeni masih tidak menjawab, Kevin mengira Jeni sudah kembali tidur, jadi dia pun langsung mengakhiri pembicaraan singkat mereka pagi ini.
Begitu panggilan selesai, Jeni membanting ponselnya ke atas kasur. Tanpa peduli apapun ia melangkah menuju kamar mandi.
"Akh... Agr... Aku benci, aku benci dikhianati. Aku gak suka orang orang yang gak jujur!" Jeritnya di depan cermin kamar mandinya.
Kenangan masa lalu, saat Jeni yang begitu tulus menganggap seseorang sebagai sahabatnya tapi diam-diam malah merebut gebetan Jeni waktu itu.
Kevin memang cinta pertama Jeni, tapi setelah lulus SMP Jeni berusaha untuk move on. Jeni menyukai seorang kakak kelas yang juga punya rasa tertarik padanya.
Jeni menceritakan apapun tentang cowok itu pada sahabatnya. Lalu, sahabatnya mengatakan akan membantu Jeni dekat dengan cowok itu. Tapi, ternyata, sahabatnya itu malah memanfaatkan kesempatan itu untuk merebut hati si cowok.
Sejak hari itu, Jeni memilih menyendiri sampai akhirnya bertemu Nadia di gerbang kampus setahun yang lalu. Sebelumnya pun Jeni sangat mempercayai Nadia, tapi kejadian di depan mall membuatnya overthinking, bahkan sampai membuat skenario sendiri di kepalanya.
Tadi malam, Jeni sampai membayangkan bahwa Nadia diam-diam merayu Kevin sejak kali pertama Jeni mengenalkan Nadia pada Kevin di kafe hari itu.
"Pengkhianat!" jeritnya lagi, ketika gambaran yang dia pikirkan tentang Nadia dan Kevin kembali memenuhi kepalanya.
...>~<...
Nadia terbangun saat alarm terus bersuara sangat keras dari ponselnya. Saat bangun, Nadia langsung memeriksa suhu tubuhnya yang ternyata sudah mulai menurun. Rasa pusing pun sudah berkurang. Dia bahkan sudah tidak merasa kedinginan lagi.
Perlahan tangannya meraih ponsel untuk mematikan alarm. "Sudah sore ternyata. Aku harus kerja."
Dengan langkah lemas, Nadia pergi ke dapur. Mencari makanan di dalam kulkas. Untungnya ada sepotong roti tawar. Nadia menyantap roti itu dengan olesan kental manis coklat. Setelah menghabiskan roti dan merasa sudah bertenaga, dia pun langsung bergegas bersiap untuk berangkat ke kafe.
Sebelum berangkat, Nadia sempat menelpon Yuri, tapi tidak ada jawaban karena Yuri seharian berada di ruang laboratorium dan ponselnya dalam mode silent.
Nadia juga sempat menelpon Jeni, tapi sengaja diabaikan oleh Jeni yang baru saja keluar dari ruang kelas.
"Ada apa ya? Kok Jeni seperti menghindar dari aku. Apa aku tanpa sadar melakukan kesalahan?" lirihnya sebelum melaju membawa motor metiknya berpacu di jalanan yang ramai dalam kondisi yang kurang sehat.
Baru limat menit berjalan, ponselnya berdering. Segera Nadia menepi, dia berharap Jeni yang menelpon. Tapi matanya langsung berubah sendu saat mengetahui siapa yang menelponnya.
"Iya buk."
(Kamu jangan coba-coba lari dari tanggung jawab, Nadia! Kirim uangnya sekarang juga!)
"Buk, aku masih di jalan. Aku bahkan belum ngecek apakah gajiku udah masuk atau...."
(Alasan! Dengar Nadia, aku gak mau dengar alasan apapun. Kirim uangnya sekarang juga ke rekening Nina. Dia butuh uang sekarang juga!)
Helaan napas berat dan panjang terdengar, suara keras Astrid membuatnya kembali merasa pusing dan bahkan merasa mual.
(Awas kamu Nadia! Jangan coba-coba lari dari tanggung jawab. Anak sialan! Suamiku gak akan mati kalau kamu gak ada di dunia ini, sialan!)
Astrid terus memaki dengan suara kerasnya. Nadia semakin merasa sesak dan mual. "Iya buk. Aku kirim uangnya sekarang." ucapnya pelan terbata-bata.
Suhu tubuh yang kembali tinggi membuat Nadia tidak bisa menahan untuk tidak menangis. Air matanya berlomba keluar dengan deras begitu saja.
"Ayah, aku capek... Aku lelah..." lirihnya getir.
Dengan tangan gemetar Nadia mengetik untuk mentransfer uang ke rekening Nina. Uang yang dia transfer terpaksa dia ambil dari uang tabungan yang telah dia kumpulkan selama berbulan bulan.
Setelah mengirim uang, Nadia berusaha menenangkan emosinya. Air mata yang membanjir di wajahnya dia sapu dengan sisa tisu yang di temukan di dalam tas.
"Tuhan... ini benar benar melelahkan..."
Dengan tubuh yang masih gemetar dan kepala yang juga masih pusing, Nadia tetap memaksakan diri mengendarai motornya untuk menuju kafe.
Namun, baru beberapa menit Nadia kembali mengendarai motornya dengan pandangan yang kabur akibat air mata yang belum berhenti menetes, Nadia tidak bisa melihat dengan jelas tepat di depannya ada mobil yang sedang parkir di pinggir jalan.
BRAK!
Nadia menabrak bagian belang mobil itu. Tubuhnya terpental ke pinggir jalan raya, kepalanya membentur tiang listrik, sementara bagian kepala motornya masuk ke bawah mobil.
Lima motor di belakangnya ikut dalam kecelakaan itu. Tabrakan itu menjadi tabrakan beruntun.
Untungnya, korban-korban itu tidak terluka parah. Mereka hanya kaget hingga menekan rem mendadak dan ikut jatuh beruntun.
Orang orang mulai mendekat untuk membantu pengendara motor lainnya dan juga Nadia.
"Mbak, mbak..."
"Panggil ambulan!"
Nadia masih mendengar suara suara itu. "Ayah...." lirihnya sebelum akhirnya dia kehilangan kesadarannya.
Bersambung...