NovelToon NovelToon
Batas Jarak Dan Baktimu

Batas Jarak Dan Baktimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
​Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Kabut Pagi

​Pagi di Kaliurang seharusnya membawa kesegaran, namun bagi Nina, udara yang masuk ke paru-parunya terasa seberat timbal. Sinar matahari yang menerobos celah gorden vila tampak seperti interogasi yang menyilaukan. Nina masih meringkuk di balik selimut, memeluk erat selendang ungu pemberian Arya semalam. Aroma sutra baru dan samar wangi maskulin yang tertinggal di sana adalah bukti nyata bahwa kejadian semalam bukanlah mimpi buruk—atau mimpi indah yang salah.

​Ketukan di pintu kamar memecah kesunyian. Belum sempat Nina menjawab, Sari sudah melangkah masuk dengan wajah yang jauh dari kata ceria. Di tangannya, sebuah ponsel terus bergetar.

​"Nin, kamu harus angkat ini. Atau setidaknya, beri penjelasan padaku kenapa Julian meneleponku sepuluh kali sejak jam lima pagi tadi?" Sari duduk di tepi tempat tidur, menyodorkan ponselnya sendiri yang menampilkan nama Julian di layarnya.

​Nina terduduk lunglai. Rambutnya berantakan, dan matanya sembab. Ia meraih ponselnya sendiri yang ternyata sudah mati kehabisan daya. "Ponselku mati, Sar. Aku... aku lupa mengisinya semalam."

​"Bukan cuma ponselmu yang mati, Nin. Sepertinya logikamu juga," sindir Sari tajam, namun ada nada khawatir di suaranya. "Telepon dia sekarang. Dia hampir gila di Amsterdam. Dia pikir kamu diculik atau kecelakaan di jalanan Jogja."

​Dengan tangan gemetar, Nina mengisi daya ponselnya sebentar, lalu menghubungi Julian melalui panggilan video. Begitu sambungan terhubung, wajah Julian muncul di layar. Pria itu tampak berada di kantornya, namun raut wajahnya sangat kusut. Lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia tidak tidur sepanjang malam di zona waktu Eropa.

​"Nina! Oh my God, thank yo for stay alive!" seru Julian, suaranya terdengar sangat lega sekaligus penuh beban. "Kenapa tidak ada kabar sama sekali? Aku hampir menelepon KBRI, Nina. Aku sangat takut sesuatu terjadi padamu di sana."

​Nina menelan ludah. Rasa bersalah menghantam dadanya begitu keras hingga ia sulit bernapas. "Julian... maafkan aku. Aku sangat kelelahan setelah acara Maya semalam. Aku langsung tertidur dan ponselku mati. Aku benar-benar minta maaf sudah membuatmu khawatir."

​Lidah Nina terasa kelu saat mengucapkan kebohongan itu. Ia melihat Julian mengusap wajahnya, mencoba tersenyum meskipun sisa kecemasan masih ada.

​"Oke, oke. Yang penting kamu baik-baik saja. Aku tahu pernikahan Maya pasti sangat melelahkan. Istirahatlah lagi, darling. Kita bicara nanti malam saat kamu sudah lebih segar, ya?"

​"Iya, Julian. Terima kasih sudah mengerti. Aku mencintaimu," ucap Nina lirih.

​Setelah menutup telepon, Nina meletakkan ponselnya di atas nakas. Kalimat "Aku mencintaimu" yang baru saja ia ucapkan terasa seperti duri di tenggorokannya. Ia tahu, ia baru saja memberikan harapan palsu pada pria yang telah menyelamatkan hidupnya di Belanda.

​*

​Sari tidak beranjak dari tempat duduknya. Ia melipat tangan di dada, matanya tertuju pada selendang ungu yang menyembul dari balik selimut Nina. Nina tahu ia tidak bisa bersembunyi lagi.

​"Jadi," Sari memulai dengan nada rendah yang menuntut penjelasan. "Mau sampai kapan kamu membohongi Julian? Dan mau sampai kapan kamu membiarkan Arya menarikmu kembali ke lubang yang sama?"

​Nina menunduk. "Apa maksudmu, Sar?"

​"Jangan pura-pura bodoh, Nin. Aku bangun semalam karena haus. Aku berdiri di balkon kamarku, tepat di sebelah balkonmu. Dan aku melihat semuanya," Sari menekankan kata 'semuanya'. "Aku melihatmu turun. Aku melihat selendang itu. Aku melihat pelukan itu, dan... aku melihat ciuman itu."

​Nina merasa dunianya runtuh. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya terguncang oleh isak tangis yang tertahan. "Aku tidak tahu harus bagaimana, Sar. Semalam... semuanya terasa begitu nyata. Aku merasa seperti diriku yang dulu lagi. Aku merasa aman."

​"Aman?" Sari tertawa pahit. "Aman dalam pelukan suami orang? Aman dalam janji manis seorang pria yang sudah pernah meninggalkanmu demi perintah maminya? Nin, sadarlah!"

​"Dia bilang dia akan mengurus perceraiannya, Sar! Dia bilang dia tidak pernah menyentuh Maura! Dia depresi, dia hancur..."

​"Semua laki-laki akan bilang begitu saat mereka ingin kembali pada masa lalunya, Nin!" potong Sari dengan tegas. Sari berdiri dan berjalan mendekati jendela, menatap ke arah taman tempat kejadian semalam berlangsung. "Mungkin benar dia belum menyentuh Maura. Mungkin benar dia depresi. Tapi itu masalah dia, bukan masalahmu. Kamu punya Julian, Nin. Pria yang membantumu bangun saat kamu hampir mati karena patah hati. Pria yang menghargaimu tanpa mempedulikan kamu anak siapa."

​Nina mendongak, matanya merah. "Tapi aku tidak bisa membohongi hatiku, Sar. Ternyata rasanya masih ada. Masih sangat dalam."

​Sari berbalik, menatap Nina dengan tatapan yang kini melembut. Ia duduk kembali di samping Nina dan menggenggam tangan sahabatnya itu.

​"Nin, dengerin aku. Kamu bukan lagi gadis kecil di asrama bintara yang bisa disetir oleh keadaan. Kamu adalah penari internasional. Kamu punya martabat. Apa yang kamu lakukan semalam... itu egois."

​Nina tertegun. "Egois?"

​"Iya. Kamu egois karena membiarkan perasaan sesaatmu menghancurkan komitmenmu pada Julian. Dan Arya juga egois. Dia egois karena dia ingin memilikimu kembali sementara dia belum menyelesaikan urusannya di Jakarta. Kalian berdua sedang bermain api, dan yang akan terbakar bukan cuma kalian, tapi Julian yang tidak tahu apa-apa, dan Maura yang bagaimanapun adalah istri sahnya."

​Sari menarik napas panjang. "Pikirkan Maura, Nin. Sebagai sesama perempuan. Dia mungkin memang mendapatkan Arya karena perjodohan, tapi dia tetap manusia yang punya perasaan. Dia sudah menyerahkan hidupnya untuk menikahi Arya. Dan sekarang, suaminya justru berjanji akan menceraikannya demi kamu? Tidakkah kamu merasa itu kejam?"

​Nina terdiam. Bayangan wajah Maura yang cantik namun tampak kaku di pelaminan dulu terlintas di benaknya. Ia teringat bagaimana Maura merawat Ibu Lastri saat sakit jantung.

​"Jangan sampai kebahagiaan yang kamu bangun di atas air mata orang lain itu menjadi kutukan buatmu nanti, Nin," lanjut Sari dengan suara yang sangat tenang namun menghujam. "Cinta itu tidak seharusnya menghancurkan. Kalau kamu tetap nekat melanjutkan ini, kamu akan kehilangan Julian yang tulus, dan kamu akan dicap sebagai perusak rumah tangga orang. Apa itu yang kamu inginkan setelah semua prestasi yang kamu capai di Belanda?"

​Nina menangis sejadi-jadinya. Kata-kata Sari adalah cermin yang sangat jujur yang dipaksakan ke depan wajahnya. Ia menyadari betapa pengecutnya ia semalam. Ia membiarkan nostalgia dan kerinduan membutakan akal sehatnya.

​"Lalu aku harus bagaimana, Sar? Aku sudah terlanjur membalas ciumannya. Aku sudah terlanjur memberi dia harapan," isak Nina.

​"Kembalilah ke Jakarta besok. Temui Arya untuk yang terakhir kalinya sebelum kita terbang kembali ke Amsterdam. Katakan padanya bahwa kamu tidak bisa menunggunya. Katakan padanya untuk menyelesaikan urusannya dengan istrinya bukan karena kamu, tapi karena memang itu yang benar untuk dilakukan. Jangan beri dia alasan untuk menceraikan Maura hanya karena ada 'cadangan' yaitu kamu. Biarkan dia memilih sebagai laki-laki yang bertanggung jawab, bukan sebagai pengecut yang butuh pelarian."

​*

​Setelah Sari keluar dari kamarnya, Nina duduk sendirian di tengah kesunyian. Ia menatap selendang ungu itu. Kain itu begitu indah, namun kini terasa seperti beban yang menyesakkan.

​Ia mengambil ponselnya, melihat foto-fotonya bersama Julian di Amsterdam. Julian yang selalu menemaninya latihan hingga larut, Julian yang mengajarinya bahasa Belanda, Julian yang membelanya saat ada kurator yang meremehkan budaya Indonesia.

​Lalu ia teringat Arya. Arya yang sedang dalam perjalanan kembali ke Jakarta untuk menghadapi "perang" di rumahnya sendiri.

​Nina menyadari bahwa ia berada di posisi yang sangat berbahaya. Jika ia mengikuti hatinya, ia akan menjadi wanita yang ia benci sendiri: seorang pengkhianat dan perusak. Namun jika ia mengikuti logikanya, ia harus membunuh sebagian dari nyawanya sekali lagi.

​Maafkan aku, Julian... maafkan aku, Ibu, batin Nina.

​Pagi itu, Nina tidak keluar kamar untuk sarapan bersama Maya dan Liam. Ia menghabiskan waktunya untuk menulis sebuah surat singkat di buku catatannya, yang rencananya akan ia sampaikan pada Arya. Ia menyadari satu hal; cinta sejati tidak seharusnya merusak martabat diri sendiri maupun orang lain. Ia harus kuat. Demi ibunya, demi Julian, dan demi kehormatannya sebagai seorang wanita.

​Di Jakarta, Arya sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Menteng. Pikirannya penuh dengan rencana perceraian dan masa depan bersama Nina. Ia tidak tahu, bahwa di Jogja, Nina sedang belajar untuk melepaskannya kembali—kali ini untuk selamanya

Nina berdiri di depan cermin, mengusap bibirnya yang masih terasa hangat oleh ciuman semalam, lalu dengan tegas ia melipat selendang ungu itu dan memasukkannya ke dalam koper yang paling bawah. Ia siap untuk kembali ke kenyataan, meski kenyataan itu berarti ia harus kehilangan detak jantung yang baru saja ia temukan kembali.

1
kartini aritonang
semangat thor...lanjuuut.
kartini aritonang
saya suka karya ini , sayang sekali peminatnya sangat sedikit, Banyak karya karya bagus di nt yang sepi pembaca, semoga othor tidak lelah untuk berkarya, mungkin bukan sekarang, tetapi nanti akan banyak yang membaca karyamu thor. semangat 💪
Boa: kak😍Terima kasih banyak sudah menyukai karya sy. Terima kasih juga utk setiap like nya. sy termasuk penulis pemula disini. bisa cek karya sy yg lain juga ya kak, siapa tau suka ☺🙏
total 1 replies
falea sezi
heleh muter mbuh lah males
Indryana Imaniar
woou kereeen
falea sezi
moga Arya g plin plan lagi klo. emak loe pura2 sakit. lagi. mending nina balik ke Belanda gak balik.
falea sezi
cerai lah oon bgt jd cowok. plin. plan makan itu penyesalan salah sendiri manut ma emak mu yg kayak. lampir itu
falea sezi
kapok. jd cowok. kok. lemah ibumu. cm akting
falea sezi
ma emak nya aja kalah laki plin. plan pengecut makan itu karir
Erlina Candra
kereen karyanya Thor..semakin penasaran
Boa: Terima kasih banyak kak, semoga suka ya 🙏☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!