Update setiap hari
"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."
Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.
Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.
Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: JEMBATAN MENUJU SELAMANYA
Sinar matahari pagi di lereng Gunung Lawu tidak pernah terasa menyengat; ia jatuh di kulit seperti usapan lembut tangan seorang ibu. Larasati menghirup udara dalam-dalam, membiarkan oksigen murni mengisi paru-parunya yang selama ini hanya terbiasa dengan udara saringan pendingin ruangan kantor. Tidak ada blazer emas, tidak ada kalung berlian, dan tidak ada ribuan pasang mata yang menghakimi.
Di depannya, jembatan beton yang beberapa minggu lalu masih berupa rangka besi kini telah berdiri kokoh, melintasi sungai berbatu yang airnya bernyanyi tiada henti.
"Kamu melamun lagi, Laras?" suara Baskara terdengar dari arah belakang.
Larasati menoleh. Baskara berdiri di sana dengan kaos oblong putih yang sudah agak dekil terkena noda semen dan celana kargo pendek. Di tangannya, ia memegang sebuah kuas cat dan sekaleng cat warna putih. Wajahnya yang tampan terlihat jauh lebih rileks, seolah-olah beban sebagai "Mantan Direktur Utama" telah benar-benar luntur di bawah guyuran air terjun desa.
"Aku hanya sedang berpikir, Baskara," ucap Larasati sambil berjalan mendekatinya, membiarkan kakinya yang telanjang merasakan tekstur rumput yang masih berembun. "Betapa lucunya hidup ini. Dulu aku menghabiskan miliaran rupiah untuk menyewa pengacara dan detektif hanya untuk mencari kesalahan keluarga Pratama. Sekarang, aku berada di sini, di tengah hutan, merasa sangat kaya hanya karena melihat jembatan kecil ini selesai."
Baskara meletakkan kaleng catnya, lalu menarik Larasati ke dalam pelukannya. "Itu karena kekayaan sejati tidak dihitung dari apa yang kita ambil, Laras. Tapi dari apa yang kita tinggalkan untuk orang lain. Jembatan ini akan dipakai oleh anak-anak desa untuk sekolah. Mereka tidak perlu lagi menyeberangi sungai yang meluap saat hujan. Itulah warisan yang sebenarnya."
Larasati menyandarkan kepalanya di dada Baskara. "Kadang aku takut, Baskara. Takut kalau Jakarta akan memanggil kita kembali dan mengubah kita menjadi dingin lagi."
Baskara mengecup puncak kepala Larasati. "Jakarta boleh memanggil kita, tapi hati kita tetap di sini. Kita akan membawa 'Ngargoyoso' di dalam dada kita ke mana pun kita pergi. Itulah gunanya kita kembali ke sini sebelum benar-benar memulai yayasan itu."
Siang harinya, seluruh warga desa berkumpul di ujung jembatan. Tidak ada pita sutra merah atau gunting emas. Baskara hanya menyiapkan sebuah prasasti batu sederhana yang ia pahat sendiri semalam. Di atas batu itu tertulis: “Jembatan Harapan — Dibangun dengan Cinta dan Kejujuran.”
Kepala Desa, seorang bapak tua berkumis tebal yang ramah, menjabat tangan Baskara dengan erat. "Terima kasih, Pak Baskara, Bu Laras. Desa kami tidak akan pernah melupakan jasa kalian. Jembatan ini bukan hanya menyatukan dua dusun, tapi juga menyatukan harapan kami semua."
Larasati diminta untuk memberikan sambutan singkat. Ia berdiri di depan warga desa yang wajahnya berseri-seri. Ia tidak butuh naskah pidato dari tim humas perusahaan.
"Bapak dan Ibu sekalian," suara Larasati terdengar lembut namun mantap. "Saya yang seharusnya berterima kasih. Di tempat ini, saya menemukan kembali diri saya yang hilang. Jembatan ini adalah simbol bahwa tidak ada jurang yang terlalu dalam untuk diseberangi jika kita punya niat yang tulus. Semoga jembatan ini membawa berkah bagi anak-anak kita semua."
Acara peresmian itu ditutup dengan makan bersama di atas daun pisang—kembul bujana. Larasati duduk bersila di samping ibu-ibu desa, menikmati nasi liwet dengan sambal korek dan gereh layur. Ia tertawa lepas saat seorang ibu menceritakan betapa lucunya Baskara saat pertama kali mencoba mencangkul tanah yang keras.
"Pak Baskara itu orangnya gigih, Mbak Laras," ucap ibu itu sambil menyuapkan nasi. "Pernah sekali dia kehujanan di tengah sungai karena tidak mau meninggalkan pondasi yang belum kering. Katanya, kalau pondasinya tidak kuat, jembatannya tidak akan bertahan lama. Persis seperti mencari istri, katanya."
Larasati melirik ke arah Baskara yang sedang dikelilingi oleh bapak-bapak desa. Pria itu tampak tertawa renyah, sesekali mengusap keringat di dahinya. Larasati menyadari satu hal: Baskara memang ahli dalam membangun fondasi. Ia tidak hanya membangun fondasi jembatan, tapi ia telah membangun kembali fondasi kepercayaan di dalam hati Larasati yang dulunya hancur berkeping-keping.
Sore harinya, saat warga sudah pulang ke rumah masing-masing, Larasati dan Baskara berjalan menuju curug (air terjun) kecil yang letaknya agak tersembunyi di balik bukit teh. Airnya jatuh dengan gemericik yang menenangkan, menciptakan pelangi kecil di atas kolam alami yang jernih.
Baskara melepas sepatunya dan masuk ke dalam air yang sedingin es. "Ayo, Laras! Sini! Airnya segar sekali!"
Larasati ragu sejenak, menatap gaun katun tipisnya. "Tapi aku tidak bawa baju ganti, Baskara!"
"Lupakan soal baju ganti! Lupakan soal protokol! Di sini hanya ada kita dan alam," tantang Baskara sambil memercikkan air ke arah Larasati.
Larasati tertawa, ia pun melepas sandalnya dan ikut masuk ke dalam air. Dinginnya air seketika merambat ke seluruh tubuhnya, memberikan sensasi kejutan yang menyenangkan. Mereka bermain air seperti anak kecil, saling mengejar dan tertawa hingga napas mereka terengah-engah.
Di bawah guyuran air terjun yang lembut, Baskara menghentikan permainannya. Ia menatap Larasati dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang sanggup menembus semua topeng yang pernah Larasati kenakan.
"Larasati," panggilnya pelan.
"Ya?"
Baskara merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah benda kecil. Bukan kotak perhiasan mewah dari toko berlian di Jakarta, melainkan sebuah cincin yang terbuat dari jalinan akar pohon pinus yang sudah dikeringkan dan dihaluskan secara artistik.
"Dulu, pernikahan kita dimulai dengan siasat. Kita bertukar cincin di depan penghulu hanya sebagai sandiwara untuk memuaskan ambisi ayahku dan melindungimu. Tapi malam ini, di bawah saksi alam ini, aku ingin bertanya padamu..." Baskara berlutut di dalam air yang setinggi lutut. "Larasati Hardianto, maukah kamu menjadi istriku yang sesungguhnya? Bukan istri kedua, bukan istri sandiwara, tapi satu-satunya wanita yang akan menua bersamaku?"
Larasati menutup mulutnya dengan tangan, air mata haru mulai mengalir di pipinya, bercampur dengan tetesan air terjun. Ia melihat cincin akar itu—cincin yang jauh lebih berharga daripada berlian manapun karena ia tahu Baskara membuatnya dengan tangannya sendiri selama mereka di desa.
"Iya, Baskara... aku mau," bisik Larasati.
Baskara menyematkan cincin akar itu ke jari manis Larasati. Pas sekali. Ia kemudian berdiri dan mencium Larasati dengan penuh gairah, sebuah ciuman yang menandai berakhirnya sebuah penderitaan dan dimulainya sebuah kehidupan yang baru.
Malam harinya, mereka duduk di teras rumah kayu mereka, menatap hamparan bintang yang terlihat sangat jelas karena tidak ada polusi cahaya. Suasana sangat sunyi, hanya terdengar suara jangkrik dan burung hantu di kejauhan.
"Baskara," ucap Larasati sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Ya, Sayang?"
"Besok kita kembali ke Jakarta, kan?"
"Iya. Aditama sudah mengirim pesan kalau jadwal pertemuan dengan dewan pendidikan sudah siap lusa pagi."
Larasati menghela napas panjang. "Kali ini aku tidak takut lagi. Aku tahu, sesibuk apa pun Jakarta nanti, aku selalu punya jembatan untuk pulang ke pelukanmu."
Baskara mengeratkan rangkulannya. "Dan aku akan selalu menjadi jembatan itu untukmu, Laras. Aku akan memastikan kakimu tidak akan pernah menyentuh lumpur lagi."