NovelToon NovelToon
Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Dokter / Identitas Tersembunyi
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
​Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
​Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
​Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
​"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Taruhan Nyawa

​"Letakkan senjatamu, Arnold. Atau istrimu akan menjadi kembang api tercantik di kota ini dalam hitungan detik."

​Suara Tuan Shen bergema melalui pengeras suara tua di dalam gudang Sektor C, memantul di antara dinding seng yang berkarat. Arnold Dexter berdiri tegak di tengah area terbuka yang remang-remang. Cahaya lampu merkuri di atasnya berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti malaikat maut yang sedang menunggu.

​Arnold tidak segera menjawab. Tangannya yang memegang senapan serbu mengencang, buku jarinya memutih. "Kamu tidak akan melakukannya, Shen. Jika kamu meledakkan gedung itu sekarang, formula Cobra-9 yang asli akan ikut musnah. Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa selain tumpukan abu."

​"Oh, jangan meremehkan keputusasaanku, Komandan," tawa Shen terdengar parau. "Aku sudah menunggu puluhan tahun untuk ini. Jika aku tidak bisa memilikinya, maka keluarga Jane juga tidak boleh memilikinya. Sekarang, jatuhkan senjatamu. Perlahan."

​Arnold menggeretakkan gigi. Ia melirik jam tangannya—tiga puluh detik menuju aktivasi peledak jika ia tidak melakukan sesuatu. Dengan gerakan sangat pelan, ia melepaskan kaitan senjatanya dan membiarkannya jatuh ke lantai semen dengan suara dentuman logam yang berat.

​"Bagus. Sekarang angkat tanganmu di atas kepala," perintah Shen lagi.

​Arnold menuruti perintah itu, namun matanya terus memindai setiap sudut gelap gudang. "Di mana dia? Kamu bilang ingin bicara seperti pria terhormat."

​Pintu besi di lantai dua berderit terbuka. Tuan Shen melangkah keluar ke balkon, didampingi oleh dua orang pria berseragam taktis yang membidikkan laser merah tepat ke arah jantung Arnold.

​"Kakekmu, Alexander Dexter, pasti akan sangat malu melihat cucunya berlutut seperti ini hanya demi seorang wanita," sindir Shen sambil menghisap cerutunya.

​"Kakekku mengajariku untuk melindungi apa yang berharga, bukan menjadi pengecut yang bersembunyi di balik remot peledak," balas Arnold dingin. "Di mana pemicunya?"

​"Ada di tanganku," Shen mengangkat sebuah alat kecil berwarna hitam. "Tapi sebelum aku mematikannya, ada sesuatu yang harus kamu lakukan. Airine sedang berada di laboratorium sekarang, bukan? Dia baru saja menemukan map cokelat di balik lemari. Aku ingin kamu menghubunginya. Katakan padanya untuk membuka brankas digital itu dengan sidik jarinya."

​Arnold terkejut. "Kamu tahu dia menemukan map itu?"

​"Aku yang meletakkannya di sana agar dia menemukannya saat suasana sedang... emosional," Shen tersenyum licik. "Hubungi dia sekarang. Aktifkan speaker-nya."

​Arnold meraih ponsel satelit di sakunya dengan gerakan kaku. Ia menekan nomor Airine. Panggilannya langsung diangkat pada dering pertama.

​"Nata? Arnold? Kamu di mana?!" Suara Airine terdengar panik, diiringi suara sirene darurat di latar belakang. "Gedung ini... mereka bilang ada kebocoran gas! Aku tidak bisa keluar, liftnya mati!"

​"Airine, dengarkan aku," suara Arnold melembut, kontras dengan situasi mematikan di sekelilingnya. "Tarik napas panjang. Kamu tidak sendirian. Timku sedang menuju ke sana."

​"Aku menemukan map itu, Arnold!" Airine terisak. "Kakek... Edward Jane... apa benar dia yang menciptakan racun ini? Kenapa semua orang menyebut nama itu?"

​Arnold melirik ke arah Shen yang sedang menunggu dengan sabar. "Airine, jangan pikirkan itu sekarang. Aku ingin kamu pergi ke brankas digital di sudut laboratorium. Letakkan tanganmu di sana. Lakukan saja, demi keselamatanku."

​"Apa? Untuk apa? Arnold, apa kamu sedang diancam?" Airine bertanya dengan nada curiga.

​"Lakukan saja, Airine! Kumohon!" bentak Arnold, matanya berkilat menatap Shen.

​Di seberang telepon, terdengar suara langkah kaki Airine yang berlari. Bunyi bip panjang menandakan pemindaian sidik jari berhasil.

​"Sudah... pintunya terbuka," ucap Airine lemah.

​"Kerja bagus," sela Tuan Shen, suaranya masuk ke dalam sambungan telepon. "Dokter Airine, Anda baru saja menyelamatkan nyawa suami Anda. Sekarang, ambil botol kecil berwarna ungu di dalam sana, dan letakkan di depan kamera pengawas."

​"Siapa itu?! Arnold, siapa pria ini?!" teriak Airine.

​"Lakukan saja, Airine! Jangan membantah!" Arnold memotong pembicaraan, mencoba memberi isyarat kode melalui nada suaranya.

​Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah belakang gudang Sektor C. Arnold tidak membuang waktu. Saat perhatian Shen teralih ke arah ledakan, Arnold melakukan gerakan berguling yang sangat cepat ke balik kontainer besi.

​"Tembak dia! Bunuh dia sekarang!" teriak Shen histeris.

​Rentetan tembakan menghujani kontainer tempat Arnold bersembunyi. Arnold meraih pisau lipat taktis di kakinya dan melemparkannya ke arah kabel lampu utama gudang.

​PRANK!

​Gudang itu seketika menjadi gelap gulita.

​"Airine, lari dari sana sekarang! Jangan ambil apa pun! Lari ke arah tangga darurat barat, timku sudah menunggumu!" teriak Arnold ke ponselnya sebelum melempar alat itu untuk mengalihkan suara.

​"Arnold! Aku tidak akan pergi tanpa penjelasan!" teriak Airine dari ponsel yang tergeletak di lantai semen.

​"Pergi, Airine! Itu perintah!"

​Di dalam kegelapan gudang, Arnold bergerak seperti hantu. Ia tidak butuh cahaya; ia sudah menghafal setiap jengkal lokasi ini melalui peta satelit semalam. Ia mendengar langkah kaki anak buah Shen yang panik.

​KREK.

​Satu orang tumbang dengan leher patah tanpa sempat berteriak. Arnold kini merayap menuju tangga balkon tempat Shen berada. Ia bisa mendengar napas berat Shen yang ketakutan.

​"Kamu pikir kegelapan bisa menyelamatkanmu, Dexter?!" Shen menembak membabi buta ke arah bawah.

​Arnold sudah berada tepat di belakangnya. Ia mencengkeram pergelangan tangan Shen yang memegang remot peledak.

​"Kegelapan adalah rumahku, Shen. Kamu hanya tamu yang tidak diundang," bisik Arnold dingin.

​Ia memutar tangan Shen hingga terdengar suara tulang retak. Remot itu terjatuh, namun Shen berhasil menendang kaki Arnold dan mencoba melompat ke arah bawah. Arnold menangkap kerah jaket Shen, menggantungnya di pinggir balkon.

​"Matikan bom di rumah sakit itu, atau aku akan melepaskanmu sekarang juga ke lantai semen di bawah sana," ancam Arnold.

​"Sudah terlambat... sistemnya otomatis..." Shen menyeringai dengan mulut berdarah. "Jika aku mati, istrimu ikut mati bersama sejarah kakeknya!"

​Arnold menatap jam tangannya. Sepuluh detik tersisa.

...****************...

1
Abinaya Albab
beneran ini perang terakhir? duhhhh capek gk sih mereka baru mau bernafas lega ada lagi
Abinaya Albab: blm lagi bikin bakso urat ya Thor 😂🤭
total 2 replies
Abinaya Albab
baru ini aku baca novel yg tegangnya tak beesudahan... lanjut
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
kakek jahat ga
aditya rian
sekalian updatenya banyak dong soalnya jadi penasaran banget
aditya rian
keren arnold
aditya rian
jangan marah dong... di awal jug udh bilang
hidagede1
ke inget nya sama jendral andika🤭
Ariska Kamisa: eehh??? 🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
yah... thor.. ayo sih update nya yang banyak sekalian... aku ga sabaran
aditya rian: Airine mulai jeniusnya nih
total 2 replies
umie chaby_ba
ampe airine bingung manggilnya dua nama padahal satu orang 🤭🤭🫣
umie chaby_ba
waduh... judulnya aja bikin takutt... apakah... airine tidak terima dibohongi?
umie chaby_ba
hayoloh . ga bisa ngelak lagi nol
umie chaby_ba
Arnold udah demen banget nih
umie chaby_ba
bisa aja anjayy
umie chaby_ba
hayoloh....
umie chaby_ba
udah nge spill Mulu padahal Nata de Coco... tak mungkin Abang bakso seberani itu.. mikir dong airine...
Ariska Kamisa: aaa.. kaka niu bisa aja ceplosannya jadi mata de coco🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
tuan Shen musuh sapa sih lu🫣
umie chaby_ba
udah komandan... cucu jenderal pula....👍
umie chaby_ba
secara komandan cuyyy....
umie chaby_ba
Arnold Dexter 😍
umie chaby_ba
tuan Shen ini.. jangan jangan orang terdekat 🫣
Ariska Kamisa: lanjut ikutin terus yaa biar tahu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!