Sebaiknya Jangan Dibaca!
Bacaan Novel ini pindah ke Novel satu lagi, silahkan cari judul Janda ketemu Duda GET MARRIED.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.20 To the Point.
Macau.
Kasya segera membungkus tubuhnya dengan handuk yang diberikan lelaki di depannya, yang tak lain adalah si pria 'pemaki'. Kasya menatap dengan tajam kepada Axel.
"Keluar!." Kasya membentaknya.
Axel menuruti perkataan Kasya, dia mengerti jika Kasya sedang merasa malu dan juga canggung.
"Aku akan menjelaskan semuanya, jadi aku akan menunggumu di ruang tamu." Setelah mengatakannya Axel pun melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar mandi.
Wajah Kasya sudah memerah dan dia pun segera bangkit berdiri, lalu dia memakai jubah mandinya dan keluar menuju kamar tidur.
Kasya dengan cepat mengambil pakaiannya dari dalam koper dan segera memakainya, dia pun sengaja memakai pakaian yang serba tertutup.
"Kenapa dia ada di kamar hotelku? Lagian kenapa kami selalu bertemu sih? Huh!." Gerutunya sambil memakai baju.
Setelah selesai Kasya segera keluar dari kamar tidur, dia berjalan mendekati Axel dengan tatapannya yang menakutkan.
Saat Axel melihat tatapan mata Kasya, dia yang adalah seorang Bos dunia hitam-putih malah merasa merinding. Baru kali ini dia merasakan ketidaknyamanan di hatinya,sampai duduk pun dia tak bisa diam karena sangatlah gugup.
"Kalau semua bawahan ku tau, aku takut oleh seorang wanita. Mau ditaruh dimana wajahku, si*l!." Gerutu Axel dalam hatinya.
Kasya langsung duduk berhadapan dengan Axel dan masih dengan tatapannya yang tajam menusuk.
"Oke,apa yang ingin kamu jelaskan?!." Kasya sedikit meninggikan suaranya.
Ketika Kasya berbicara, tatapan Axel malah mengarah ke arah bibirnya yang ranum. Seketika ingatannya kembali saat dia memberikan pernafasan buatan untuk Kasya.
Setelah 21 tahun dia menjadi pertapa, akhirnya dia bisa merasakan sedikit daging. Bahkan daging yang sangat segar, Axel pun menelan salirvanya.
"Anu....apakah ada air?." Tenggorokannya kembali kehausan lagi jika dia dekat-dekat dengan Kasya, sama seperti ketika dia berada di Rumah sakit.
"Ada banyak, tuh di kamar mandi!." Kasya menjawabnya ketus.
"Hish! Judes amat, tapi itu yang aku suka dari kamu." Axel memulai gombalannya, tapi dia sendiri juga terkejut ternyata dia bisa juga ngegombal.
"Are you crazy?! Otakmu ada yang salah? Hey, kita bahkan belum kenal!." Kasya menatapnya seolah-olah Axel memang gila.
"Wow, kamu selain adalah wanita berduri yang mempesona, ternyata wanita yang luar biasa pintar. Ya, aku memang gila. Aku sudah tergila-gila padamu, wanita berduri-ku." Jawab Axel sambil tersenyum mengeluarkan semua pesonanya.
"Apa?!."
"Jadi kamu si penguntit itu, yang setiap hari kirim bunga dan juga kartu itu. Huh! Ya ampun, aku yakin saat kamu sekolah, kamu gak pernah dapet titel ya. Jadi sekarang kamu ngeborong semuanya! Aku sebutin titel kamu satu-satu ya, si tukang pemaki, si penguntit, si @@$#@#@....." Kata makian Kasya untuk Axel masih sama, dan juga tetap sama Axel hanya tersenyum mendengarnya.
"Dasar laki-laki gila, aku maki-maki malah tersenyum. Sudah cepetan ngomong yang tadi tertunda dan juga jelaskan arti dari bunga-bunga itu!." Kasya akhirnya merasa capek sendiri.
Axel kemudian menjelaskan dari saat dia salah masuk kamar, yang memang itu adalah rencana dari asistennya tanpa dia tau, sampai dia yang hanya membantu Kasya saat tenggelam di bathtub.
"Ekhem, jadi gitu." Kasya merasa tak enak sudah memaki penolongnya, coba kalau dia tidak datang ke kamarnya.
"Baiklah...aku minta maaf dan juga terima kasih. Lalu arti bunga-bunga itu?." Kasya mengelus-ngelus hidungnya karena gugup, itu adalah kebiasaannya yang tidak bisa dihilangkan jika dia sedang merasa gugup.
Axel yang sudah menonton video-video Kasya pun tau, jika sekarang Kasya sedang merasa gugup. Dia pun tersenyum dan segera mengambil kesempatan.
"Apa kamu tidak pernah menerima bunga atau kartu cinta?." Axel bertanya karena memang sedikit penasaran tentang masa muda Kasya.
"Aku gak mau jawab, jadi langsung saja." Kasya berkata sambil matanya melirik ke arah lain.
"Kata kamu kita bahkan belum berkenalan, namaku Axel. Aku sudah tau namamu, Kasya Indira. Kasya, namamu sangat enak untuk diucapkan dan juga secantik wajahmu." Gombal Axel kembali, kalau Dion mendengarnya dia tidak akan percaya kalau Bos nya sedang menggombali wanita
Blush, wajah Kasya memerah malu.
"Ya ampun Kasya, apa kamu juga ikutan gila. Masa hanya cuma kata-kata gombalan seperti itu, kamu merasa malu! Aish." Gerutunya.
"Lalu tentang arti bunga-bunga itu, aku adalah orang yang to the point. Jadi, jujur saja aku sangat menyukaimu." Axel berkata dengan wajahnya yang paling serius.
Kali ini wajah Kasya semakin memerah, padahal banyak lelaki yang menyatakan rasa sukanya, tapi entah kenapa sekarang jantungnya berdebar.
"Ekhem....hem...itu....aku." Kasya kebingungan.
"Kasya, bolehkan aku memanggil hanya dengan namamu?." Tanyanya.
Kasya menganggukkan kepalanya.
"Kasya, aku sudah tau semua masa lalumu. Masa laluku hampir sama seperti kamu, pernah gagal dalam pernikahan karena pengkhianatan. Jadi aku paham dan paling mengerti rasa sakit dan juga penderitaan mu." Axel menatap Kasya dengan tatapan yang paling lembut.
"Kasya, aku sudah berada dalam usia dimana bukan untuk bermain-main lagi. Apalagi dengan semua masa laluku, aku tidak akan pernah menyakiti seorang wanita." Axel mengatakannya dengan penuh ketegasan.
"Jadi, beri aku kesempatan untuk bisa mengambil hatimu dan juga agar kamu mengenaliku lebih jauh. Jadi, bolehkah aku mendekatimu?." Tanya Axel penuh harap.
Kasya menatap Axel dengan penuh pertimbangan,sebenarnya luka hatinya memang sudah sembuh sejak lama. Bahkan 'kebahagian' akan kesendiriannya selama ini, sekarang terasa olehnya ada suatu kekosongan dalam hatinya.
Dan jujur saja, saat menerima bunga dan kartu ucapan itu hatinya tergerak. Apalagi sekarang dia juga mendengar kehidupan Axel yang sama dengannya.
Bukankah jika pernah merasakan rasa sakit karena pengkhianatan, lelaki ini akan lebih menghargai wanita? Pikirnya.
"Hem, baiklah....aku akan mencoba membuka diri atas pendekatan mu. Dan untuk ucapan terima kasih karena sudah menolongku, ayo kita makan siang besok." Kasya berbicara dengan tulus.
Seketika mata Axel berbinar karena senang, dia pun tersenyum sangat lebar.
"Kamu dengar itu Dion! Baiklah...meskipun kamu mengerjaiku lagi, tapi karena rencanya berhasil maka aku akan memaafkanmu." Axel berkata sangat senang dalam hatinya.
"Baiklah,besok jam 11 siang. Aku akan menjemputmu, kita makan di Restoran di hotel ini. Bagaimana?." Axel memberi saran.
"Boleh,ok kalau begitu. Sampai jumpa besok." Kasya pun berdiri untuk mengakhiri pembicaraan mereka berdua.
"Oke." Axel pun ikut berdiri, dia juga mengerti Kasya ingin dia pergi dari kamarnya. Axel pun melangkahkan kakinya menuju keluar kamar dan saat membuka pintunya ternyata pintunya sekarang tak terkunci.
Setelah membuka pintu, Axel berjalan keluar pintu. Dia membalikkan badannya menghadap Kasya, karena dia tiba-tiba mengingat sesuatu.
"Kasya, kamu belum bilang kenapa kamu bisa tenggelam di bathtub?." Terdengar kecemasan dari suaranya.
"Oh, aku tidak apa-apa hanya sakit kepala. Sudah dua hari ini begini, tapi sekarang aku akan segera minum obat." Kasya menjawabnya.
"Kamu bilang tidak apa-apa, tapi hampir tenggelam. Tidak bisa, aku harus memanggil Dokter memeriksa mu." Ucapnya.
Kasya ingin mengatakan sesuatu tapi Axel keburu berbicara pada seseorang.
"Dion kemari! Aku tau kamu ada di dekat sini." Panggilnya.
Tentu saja Dion memang ada disana, dan juga bukan hanya ada dia, tapi juga Rama.
Mereka berdua keluar dari persembunyiannya dengan cengengesan.
"Bos memanggilku? Hehe...." Dion masih saja cengengesan.
Axel hanya menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan asistennya itu. Tapi bagaimanapun juga, dia akui jika Dion hanya ingin dirinya lebih berani kepada Kasya.
"Jemput Dokter pribadiku, dan bilang padanya keadaanku kritis. Cepat!."
"Siap Bos." Setelahnya Dion pun pergi.
Tinggal Rama yang masih berdiri tegak seperti murid sekolah yang kepergok melakukan kesalahan, dia menatap memohon kepada Axel untuk menolongnya dari amukan Presdirnya.
Axel pun mengerti, karena ini salahnya juga. Tapi sepertinya sekarang bukan bagiannya, dia juga takut kalau Kasya belum apa-apa sudah ilfeel padanya karena ikut campur.
"Rama! Kamu juga ikut rencana ini?." Tatapan tak percaya Kasya tertuju pada Rama.
"Itu Bu Bos, tuan muda Byan yang menyuruhku. Aku kan hanya seseorang yang tak berdosa, yang hanya ikut dijerat." Suara Rama terdengar memelas.
"Apa! Byan juga, jadi...jadi...kalian semua yang.....ya ampun." Kasya menepuk jidatnya sendiri, benar-benar tak mempercayainya.
Axel tak bisa menahan tawanya, sedangkan Rama tak berani tertawa dan hanya bisa menelan tawanya ketika Kasya masih melotot padanya.
^Bersambung^
bner" mama yg bisa melindungi sang anak
emily, raka, dion, Black rose gmn dengan mereka..
#seminggu baca, kembalikan mantan istriku dan cinta jangan kau lepas
#cerita yang bagus..
🥰🥰🥰