Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDK. 22
Di dalam kamar yang super megah dan nyaman itu, Alya bersandar lemah pada kepala ranjang. Perkataan Max tentang pernikahan kontrak masih terngiang jelas di kepalanya, seolah terus diputar tanpa henti.
Padahal sejak awal ia sudah tahu. Sudah sadar sepenuhnya bahwa pernikahan ini tidak dilandasi cinta.
Namun entah mengapa, ada rasa nyeri yang perlahan menyesakkan dadanya. Rasa asing yang bahkan tak mampu ia jelaskan pada dirinya sendiri.
Alya menggeleng pelan, berusaha menyadarkan diri.
Tidak ada yang perlu disesali. Bukankah semua ini demi masa depannya juga?
Dengan napas panjang, gadis itu bangkit dari kasur lalu berjalan menuju balkon kamar.
Begitu pintu balkon terbuka, udara malam yang sejuk langsung menerpa wajahnya. Alya memejamkan mata sejenak, menikmati sensasi dingin yang menenangkan pikirannya.
Hamparan kota dengan lautan lampu yang berkilauan membentang luas di depan mata. Angin malam memainkan helaian rambut panjangnya, juga piyama tipis yang dikenakannya.
Max benar-benar tahu cara memilih tempat tinggal yang sempurna.
Tanpa sengaja, pandangannya tertuju pada balkon di sisi lain yang tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.
Dari sana, Alya bisa melihat sosok Max.
Pria itu berdiri membelakanginya dengan tubuh tegap dan satu tangan berada di telinga, tampaknya sedang berbicara melalui telepon.
Entah kenapa, hanya dengan melihat punggung pria itu saja sudah cukup membuat Alya terpaku beberapa detik.
“Punggung sesempurna itu kayaknya enak banget buat bersandar...” gumamnya pelan, lalu terkekeh kecil menertawakan dirinya sendiri. “Tapi sayang, gue nggak bakal bisa ngerasain.”
Merasa udara malam semakin dingin, Alya akhirnya memutuskan kembali masuk ke kamar untuk beristirahat setelah hari panjang yang melelahkan.
Sementara itu, di balkon sebelah, Max sebenarnya sadar sedari tadi bahwa dirinya diperhatikan.
Ia bahkan sempat mendengar gumaman kecil istrinya itu.
Namun pria tersebut memilih mengabaikannya dan kembali fokus pada panggilan teleponnya.
“Aku ingin semuanya siap dalam dua hari ke depan,” ucap Max dingin. “Sudah cukup waktu bermain-mainnya, Jayden.”
Tut.
Panggilan itu terputus sepihak.
Max menatap gemerlap kota malam sambil menghembuskan asap cerutu dari sela bibirnya. Tatapannya tajam, penuh perhitungan.
Semuanya sudah siap.
Kini ia hanya tinggal menunggu bom waktu itu meledak pada waktunya.
Pagi menjelang.
Matahari mulai naik tinggi, menyinari sudut-sudut kota dengan cahaya hangatnya.
Sementara itu, Alya masih terlelap nyaman di bawah selimut empuk hingga suara ketukan pintu membangunkannya.
TOK!
TOK!
“Nyonya, ini Bi Ina... Nyonya sudah bangun belum?” terdengar suara wanita paruh baya dari balik pintu.
Alya membuka mata perlahan.
Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar yang terasa asing.
Lalu kesadarannya kembali sepenuhnya.
Sekarang dirinya sudah menjadi seorang istri.
“Astaga...” Alya langsung bangun duduk dengan rambut berantakan. “Bisa-bisanya gue bangun kesiangan. Arggh! Ini semua gara-gara kamar senyaman ini.”
Dengan langkah terburu-buru, ia segera membuka pintu.
Ceklek!
“Maaf, Bi. Alya kesiangan,” ucapnya merasa tidak enak.
Bi Ina tersenyum hangat, wajahnya tampak begitu ramah.
“Tidak apa-apa, Nyonya. Tuan Max sedang menunggu di bawah. Ini sudah waktunya sarapan.”
Setelah mengatakan itu, Bi Ina pun pamit pergi.
Alya langsung menepuk jidatnya pelan.
“Mati gue... jangan-jangan dia udah nunggu lama.”
Tanpa membuang waktu lagi, gadis itu segera berlari ke kamar mandi dan memutuskan mandi kilat seadanya karena takut membuat Max semakin kesal akibat harus menunggunya terlalu lama.
Beberapa menit kemudian, Alya akhirnya turun ke lantai bawah dengan langkah tergesa.
Namun begitu memasuki ruang makan, langkahnya langsung melambat.
Max sudah duduk di sana.
Pria itu tampak rapi dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung sampai siku. Rahangnya tegas, ekspresinya datar seperti biasa, sementara di tangannya terbuka sebuah tablet berisi laporan pekerjaan.
Bahkan di pagi hari pun aura dinginnya tetap terasa kuat.
Alya menelan ludah gugup.
“Maaf... gue—eh, maksudku aku kesiangan,” ucapnya pelan sambil menarik kursi.
Max mengalihkan pandangan dari tabletnya, menatap Alya sekilas.
“Hm.”
Cuma itu.
Tidak marah. Tidak juga banyak bicara.
Anehnya, respons singkat itu justru membuat Alya makin canggung.
Bi Ina segera datang membawakan sarapan. Aroma makanan hangat langsung memenuhi ruangan.
Alya diam-diam melirik Max yang mulai meminum kopi hitamnya dengan tenang.
Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu terjadi, Alya menyadari satu hal.
Hidup bersama Max ternyata jauh lebih menegangkan daripada yang ia bayangkan.
"Ambillah untuk kebutuhan mu, beli apapun yang kau suka. jangan melihat harga, nikmati saja hidup mu selama menjadi istriku. "
Uhuk!
Uhuk!