NovelToon NovelToon
Mencintai OM Mafia

Mencintai OM Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.

​Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.

​Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.

​"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tempaan Baja di Balik Gaun Sutra

Matahari baru saja memecah cakrawala pegunungan, menyirami halaman belakang mansion yang luas dengan cahaya keemasan yang dingin. Di sebuah lapangan terbuka yang tersembunyi oleh deretan pohon cemara raksasa, Rebecca berdiri tegak. Ia tidak lagi mengenakan gaun sutra atau perhiasan mahal. Pagi ini, tubuhnya dibalut oleh tactical gear hitam yang pas di badan, sepatu bot kulit yang kokoh, dan rambut yang diikat ekor kuda tinggi.

Di sampingnya berdiri Erica, satu-satunya wanita di tim keamanan elit Maximilian. Erica adalah perwujudan dari belati yang dingin; bertubuh atletis, dengan bekas luka tipis di tulang pipinya yang justru menambah aura mengintimidasi. Selama ini, Erica adalah bayangan di balik dinding, namun atas perintah Maximilian, ia kini menjadi mentor, cermin, dan sekaligus lawan tanding bagi Rebecca.

"Tuan Maximilian memberimu kalung safir itu sebagai tanda cinta, Rebecca," Erica bersuara, nadanya datar namun tajam saat ia memeriksa busur recurve karbon di tangan Rebecca. "Tapi di lapangan ini, safir itu tidak akan menghentikan peluru atau menahan laju pedang. Hanya otot dan instingmu yang bisa melakukannya."

Rebecca mengangguk, jemarinya yang mulai kapalan menarik tali busur. Ia membidik sasaran sejauh tujuh puluh meter.

"Fokus pada tarikan napasmu, bukan targetnya," instruksi Erica.

Wush! Anak panah melesat, tertancap tepat di lingkaran merah paling dalam. Rebecca tidak tersenyum. Ia segera mengambil anak panah berikutnya. Satu jam pertama dihabiskan dengan memanah hingga otot bahunya terasa panas terbakar. Baginya, panah adalah tentang kesabaran; sebuah serangan senyap yang mematikan sebelum musuh menyadari keberadaannya.

Latihan beralih ke area berkuda. Di istal, seekor kuda jantan hitam legam bernama Ares sudah menunggu. Kuda itu liar, sama seperti pemiliknya, Maximilian.

"Berkuda di medan pegunungan bukan tentang gaya, tapi tentang sinkronisasi," kata Erica sambil melompat ke atas kudanya sendiri. "Jika kau tidak bisa mengendalikan hewan ini, kau tidak akan bisa mengendalikan pelarianmu saat jalur darat tertutup."

Rebecca memacu Ares mendaki jalur setapak yang curam dan berbatu. Angin pegunungan menghantam wajahnya, menyapu sisa-sisa keraguan di hatinya. Di atas pelana, ia merasa berkuasa. Ia belajar bagaimana cara menembak dari atas kuda yang berlari kencang, sebuah skill kuno yang dipadukan dengan senjata api modern. Berkali-kali ia hampir terjatuh saat Ares melompati rintangan alam, namun setiap kali ia goyah, bayangan Maximilian yang bersimbah darah di pelabuhan kembali muncul, memberinya kekuatan untuk mencengkeram tali kendali lebih kuat.

Menjelang siang, matahari mulai menyengat, namun Erica tidak memberikan waktu istirahat. Mereka pindah ke ruang latihan tertutup yang berlantaikan matras hitam. Di tengah ruangan, dua bilah pedang latihan dari baja tumpul berkilau tertimpa lampu neon.

"Menembak itu mudah bagi pengecut, Rebecca. Kau bisa membunuh dari jarak satu kilometer tanpa menatap mata lawanmu," Erica mencabut pedangnya, memasang kuda-kuda rendah. "Tapi pedang? Pedang adalah tentang intimasi. Kau harus merasakan getaran tulang lawanmu saat logammu beradu dengan miliknya."

Serangan Erica datang seperti badai. Cepat, presisi, dan tanpa ampun. Rebecca terdesak, dentingan logam memenuhi ruangan. Ia jatuh berkali-kali, lengannya memar terkena hantaman bilah tumpul Erica.

"Bangun!" teriak Erica. "Musuhmu tidak akan menunggumu mengeluh sakit!"

Rebecca bangkit, menyeka darah kecil di sudut bibirnya. Ia berhenti mencoba menandingi kekuatan Erica dan mulai menggunakan kecepatannya. Saat Erica mengayunkan pedang secara vertikal, Rebecca berputar, membiarkan jubah latihannya berkibar, dan menempelkan bilahnya tepat di leher Erica dari belakang.

Erica membeku, lalu sebuah senyum tipis—hampir menyerupai rasa hormat—muncul di wajahnya. "Bagus. Kau mulai berpikir seperti predator."

Setelah latihan fisik yang menguras tenaga, mereka menuju kolam renang indoor yang terletak di lantai bawah tanah yang dingin. Airnya berwarna biru tua, tampak tenang namun dalam.

"Berenang dengan pakaian lengkap dan beban," perintah Erica singkat.

Rebecca melompat ke dalam air dengan rompi taktis yang berat. Dinginnya air seolah menusuk tulang rusuknya. Ia harus berenang bolak-balik, menahan napas di bawah air selama mungkin, dan belajar bagaimana cara melumpuhkan lawan di dalam air. Ini bukan tentang olahraga; ini adalah latihan untuk skenario terburuk jika pelariannya harus melewati jalur laut. Di dalam air yang sunyi, Rebecca belajar untuk tenang dalam kepanikan. Ia belajar bahwa paru-parunya bisa menahan lebih banyak daripada yang ia bayangkan, sama seperti jiwanya yang ternyata lebih kuat dari yang ia kira.

Latihan terakhir hari itu adalah yang paling krusial: menembak. Mereka menuju shooting range di ruang kedap suara. Erica meletakkan berbagai jenis senjata di atas meja; dari pistol sub-mesin hingga senapan runduk.

"Tanganmu jangan gemetar," Erica berdiri di belakangnya, memperbaiki posisi siku Rebecca. "Ingat wajah Teo. Ingat wajah pria yang kau bunuh di teater. Mereka bukan manusia saat mereka mengancam Maximilian. Mereka hanyalah target."

DOR! DOR! DOR!

Rebecca mengosongkan magasin pistolnya ke arah sasaran bergerak. Setiap tembakan adalah pelepasan emosi—rasa takutnya, kemarahannya, dan pengabdiannya yang buta. Ia belajar melakukan reloading dalam hitungan detik, bahkan dengan mata tertutup. Ia belajar mengenal suara setiap jenis senjata, membedakan mana yang milik kawan dan mana yang milik lawan.

Saat sore hari tiba, Rebecca berdiri di balkon yang menghadap ke arah lembah, tubuhnya terasa remuk. Ototnya berdenyut, memarnya mulai membiru, dan rambutnya masih basah oleh air kolam. Erica berdiri di sampingnya, menyerahkan sebotol air mineral.

"Kau punya bakat, Rebecca," ucap Erica pelan, untuk pertama kalinya nadanya tidak lagi seperti instruktur militer. "Kebanyakan wanita di posisi ini akan memilih untuk terus bersembunyi di balik jas suaminya. Tapi kau? Kau memilih untuk menjadi pedang itu sendiri."

"Aku harus, Erica," jawab Rebecca, menatap kalung safir yang kini ia selipkan di balik kaos latihannya. "Karena aku tidak ingin melihat dia terluka lagi hanya karena aku tidak bisa menarik pelatuk."

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat namun elegan terdengar dari belakang. Maximilian muncul, masih dengan tongkat mahoninya namun jalannya sudah jauh lebih stabil. Ia menatap Rebecca dari ujung kepala hingga ujung kaki—melihat memar di lengannya, keringat di dahinya, dan sorot mata yang kini setajam elang.

Maximilian mendekat, jemarinya yang besar menyentuh rahang Rebecca, mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya. "Kau terlihat ... berbahaya pagi ini, Tesoro."

"Itu tujuanku, Om," sahut Rebecca tanpa ragu.

Maximilian menatap Erica, memberikan isyarat agar anggota wanitanya itu meninggalkan mereka berdua. Setelah Erica pergi, Max menarik Rebecca ke dalam pelukannya. Ia tidak peduli dengan keringat atau bau mesiu yang melekat pada tubuh Rebecca. Baginya, ini adalah aroma kemenangan.

"Vargo melaporkan kemajuanmu," bisik Maximilian di telinganya. "Besok, kita tidak akan latihan lagi di sini. Besok, kau akan ikut denganku ke pelabuhan. Kita akan menunjukkan pada dunia siapa yang sebenarnya memegang kendali atas armada Moretti."

Rebecca membalas pelukan Max dengan kekuatan yang baru ia temukan. Ia menyadari bahwa latihan hari ini telah mengubahnya secara permanen. Ia bukan lagi sekadar Rebecca yang butuh dilindungi. Ia adalah mitra, pejuang, dan separuh dari jiwa Maximilian yang kini siap untuk menghancurkan siapa pun yang berani berdiri di jalan mereka.

"Aku siap, Om," ucap Rebecca tegas.

Malam itu, di bawah cahaya bulan pegunungan yang perak, Rebecca Moretti tidak lagi bermimpi buruk tentang masa lalunya. Ia hanya memikirkan satu hal: bagaimana cara membuat musuh-musuhnya membayar setiap tetes darah yang pernah tumpah.

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐭𝐡𝐨𝐫😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐲𝐠 𝐝𝐢𝐤𝐨𝐫𝐛𝐚𝐧𝐤𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐮𝐧𝐭𝐤 𝐩𝐞𝐧𝐜𝐚𝐩𝐚𝐢𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚🥺🥺😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐬𝐠𝐭 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐢𝐧𝐢...


𝐚𝐪 𝐣𝐝 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧-𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐚𝐪 𝐛𝐬 𝐣𝐝 𝐤𝐲𝐤 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚, 𝐚𝐪 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐧𝐮𝐡 𝟏 𝐩𝐞𝐫𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐤𝐨𝐫𝐮𝐩𝐭𝐨𝐫 𝐈𝐧𝐝𝐨𝐧𝐞𝐬𝐢𝐚🤪🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐠𝐨𝐨𝐝 𝐣𝐨𝐛 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐚𝐦𝐢𝐦𝐡😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐱 𝐬𝐨𝐦𝐛𝐨𝐧𝐠 𝐬𝐢𝐡 𝐤𝐦𝐮, 𝐭𝐝𝐤 𝐏𝐞𝐫𝐜𝐲 𝐟𝐞𝐞𝐥𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐚𝐱𝐱𝐱😭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐚𝐩𝐚𝐤𝐡 𝐦𝐚𝐱 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐧𝐠𝐤𝐫𝐮𝐭?
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐢𝐲𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐠𝐰𝐞𝐧𝐝𝐞𝐧𝐠 𝐠𝐰𝐞𝐞𝐧𝐝𝐞𝐧𝐠 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 🤣🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐢𝐧𝐠 𝐤𝐦𝐮 𝐧𝐠𝐞𝐥𝐨𝐧𝐢𝐧 𝐦𝐚𝐱 𝐝𝐞𝐜𝐡.....


𝐠𝐞𝐦𝐞𝐬 𝐚𝐪 𝐤𝐨𝐤 𝐦𝐬𝐭𝐢 𝐧𝐲𝐚𝐫𝐢 𝐦𝐮𝐬𝐮𝐡 🥺🥺🥺
EsKobok: ngelonin gak tuh🤭🤣
total 1 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙢𝙪𝙨𝙪𝙝 𝙙𝙞𝙢𝙣 𝙢𝙣 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐠𝐞𝐫𝐢 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐲𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐮𝐚𝐬𝐚 𝐢𝐭𝐮 😭😭🥺🥺
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙨𝙥𝙚𝙘𝙝𝙡𝙚𝙨𝙨 🥺🥺🥺
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙝𝙖𝙩𝙞2 𝙍𝙚𝙗𝙚𝙘𝙘𝙖😭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖𝙢𝙪 𝙠𝙚𝙧𝙚𝙣 𝙩𝙝𝙤𝙧
𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙡𝙝 1 𝙖𝙪𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙮𝙜 𝙘𝙚𝙧𝙙𝙖𝙨

𝙞𝙨𝙩𝙞𝙡𝙖𝙝2 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙣𝙞𝙨 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙛𝙞𝙖 𝙮𝙜 𝙩𝙖𝙙𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙦 𝙜𝙠 𝙣𝙜𝙧𝙩𝙞 𝙨𝙠𝙧𝙣𝙜 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙖𝙪

𝙨𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙧𝙮𝙖 𝙤𝙩𝙝𝙤𝙧 🦾🦾🦾🦾😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝙨𝙖𝙢𝙖2 𝙠𝙖𝙠 𝙤𝙩𝙝𝙤𝙧😘😘
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙖𝙮𝙤 𝙗𝙖𝙡𝙖𝙨 𝙖𝙣𝙙𝙧𝙚𝙬 𝙨𝙚𝙟𝙖𝙩𝙪𝙝2𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙘𝙘𝙖
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙗𝙖𝙗 76 𝙠𝙤𝙠 𝙙𝙞 𝙝𝙖𝙥𝙪𝙨 𝙠𝙣𝙥 𝙩𝙝𝙤𝙧 🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝙝𝙚𝙝𝙝𝙚𝙝𝙚𝙚 𝙗𝙠𝙣 𝙩𝙝𝙤𝙧 𝙣𝙢 𝙦𝙪 𝙙𝙚𝙬𝙞 𝙠𝙤𝙠
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!