Namanya Arumi, seorang gadis yang tinggal di desa Dukuh Asem.
Arumi adalah seorang gadis yang baik hati dan suka membantu orang tuanya.
Namun, ketenangan itu perlahan menghilang, saat bayi-bayi di desanya mulai meninggal satu-persatu dengan darah yang mengering.
Arumi juga mulai sering melihat penampakan aneh, bahkan sampai hampir disakiti oleh sesosok kuntilanak merah.
Kuntilanak itu selalu mengatakan, kalau ibunya Arumi telah membuat hidupnya hancur.
Arumi dan adiknya, yang bernama Bella, mulai merasa curiga dengan kedua orang tuanya.
Apalagi, mereka sering tampak terlihat aneh.
Arumi juga merasakan keanehan dengan dirinya, sebab dirinya sering melihat penampakan aneh.
Sebenarnya, apakah yang terjadi? Dan mampukah Arumi mengungkap semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Aksara 04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Gua yang berada di belakang istana Nyai Sekar Arum memiliki hawa yang sejuk, cocok sekali untuk bermeditasi.
"Arumi, duduklah di batu itu," tunjuk Nyai Sekar Arum pada sebuah batu besar.
Batu tersebut berada tepat ditengah gua, dan ukurannya sangat pas untuk seseorang bisa duduk.
Arumi menurut, gadis itu duduk di sana.
"Duduklah dengan posisi bersila. Pejamkan matamu, fokuskan pikiranmu. Jangan memikirkan apapun, buat hati dan pikiranmu setenang mungkin. Nanti, akan banyak makhluk yang mengganggu kamu. Tapi, kalau kamu kuat dengan segala gangguannya, maka kamu akan berhasil menguatkan batin," ucap Nyai Sekar Arum menjelaskan dengan panjang lebar.
"Emang gangguannya kayak gimana, Nyai?" tanya Arumi penasaran.
"Macam-macam. Dari mulai suara mengerikan, penampakan, dan juga ancaman," jawab Nyai Sekar Arum.
Wanita itu tidak menjelaskan lebih rinci, dan mungkin itu hanya gangguan kecil saja, dan gangguan besarnya sendiri entah apa.
"Baiklah, Arumi, semoga berhasil, aku pergi dulu," pamit Nyai Sekar Arum.
"Iya, Nyi, nuhun," jawab Arumi.
Nyai Sekar Arum melangkah pergi, meninggalkan Arumi sendirian di gua itu.
Arumi memperbaiki posisi duduknya, gadis itu memejamkan mata rapat-rapat.
Perlahan, Arumi mulai rileks.
Tak lagi ia dengar suara apapun, bahkan suara cuitan burung pun tak ada.
Dalam hening yang mengungkungnya, Arumi merasa kecil.
Apa jadinya jika kita hidup seorang diri?
Pastilah akan sangat membosankan.
Oleh karenanya, manusia adalah makhluk sosial.
Begitu pun bangsa halus, mereka juga butuh teman.
Dan Arumi juga membayangkan orang yang memiliki ilmu gaib harus bersemedi di gunung tertentu, pastilah sangat lama.
Namun, mereka tetap sabar menjalani semuanya sampai usai.
"Aaaargh!"
Teriakan sesosok makhluk terdengar begitu menggelegar, menggetarkan seisi gua.
Meski matanya tertutup, namun Arumi tetap bisa melihat semuanya.
Rupanya, ada sesosok makhluk yang memiliki wujud sangat tinggi dan kurus.
Bahkan, Arumi sampai tak dapat melihat wajahnya saking terlalu tinggi.
Namun, makhluk ini bukanlah genderwo, walaupun ia juga memiliki bulu di tubuhnya.
Orang-orang biasa menyebutnya begu ganjang, makhluk yang dipercaya oleh orang Sumatra.
Makhluk ini bisa memanjang, dan wujudnya akan semakin tinggi jika dipandang terlalu lama.
Alam gaib tidak ada sistem pulau seperti alam manusia.
Karenanya, tak peduli wilayah manapun itu, semua jin bisa tinggal di mana saja.
Terkecuali jika jin itu ke alam manusia, maka barulah ia bisa menetap di pulau tertentu yang diinginkan.
"Wahai manusia, kenapa kau bermeditasi di gua ini? Daripada kamu bekerja keras, lebih baik jadi pengikutku saja," ucap makhluk itu, suaranya amat besar.
Di situlah Arumi diuji.
Sebab, selain kemunculan makhluk tersebut, gadis itu juga merasakan sakit pada bagian jantungnya.
"Nggak, aku nggak mau jadi pengikut jin seperti kamu," jawab Arumi.
"Kenapa? Aku bisa memberikan kamu kekayaan, dan aku juga bisa memberitahu kamu soal misteri orang tuamu itu," ucap begu ganjang.
"Aku tidak membutuhkan bantuanmu, biarlah aku mencari tahu sendiri," jawab Arumi dengan tegas.
"Wahaaaaaa, beraninya kau menolak jadi pengikutku!" teriak begu ganjang.
Ia diliputi oleh amarah yang mendalam.
Daggh.
Begu ganjang menghentakan kakinya dengan kuat, membuat gua itu bergetar hebat.
Seketika itu, ribuan makhluk mengerikan datang entah dari mana.
Mereka semua mengerubungi Arumi, dan itu sangat ramai.
Ada makhluk yang tidak memiliki kaki, lidah, bahkan ada yang hanya berupa makhluk berkepala buntung.
Arumi meneguhkan hati, gadis itu membaca doa di dalam hatinya, melawan makhluk-makhluk itu yang seolah hendak menelannya.
"Ya Allah, lindungi aku," batin Arumi sambil terus membaca doa.
"Matiiii, kau harus mati," ucap para makhluk itu, suara mereka bergema ke penjuru gua.
Namun, Arumi tak bergeming.
Gadis itu tetap duduk dengan tegap.
Kling.
Sesosok makhluk terbang ke arah Arumi, dan melayang tepat di depan wajah gadis itu.
Arumi hampir saja terjengkang, beruntung gadis itu masih berusaha menyeimbangkan dirinya.
Bagaimana tidak terkejut, hantu itu berwujud kepala saja, dengan kulit kepala yang terbuka di beberapa bagian, menampakan tulang kepala yang terlihat jelas.
Dan kepala itu juga dipenuhi dengan darah yang sangat banyak.
"Ke...kenapa kau ke sini?" tanya Arumi dengan sedikit terbata.
"Untuk membuatmu gagal," jawab si hantu kepala.
"Ya Allah, berilah hamba kekuatan dan keberanian," batin Arumi.
Arumi berusaha semakin fokus dalam meditasinya, menghiraukan para hantu itu.
"Hahaha!"
Hihihiiiiii!"
Buahaahahaaaaa!"
Suara makhluk-makhluk itu terdengar, seolah berasal langsung dari kepala Arumi.
Arumi terus tenggelam dalam meditasinya, dan entah sudah berapa jam gadis itu bermeditasi.
Yang jelas, ketika sudah tenggelam dalam meditasi, maka waktu akan jadi tidak terasa.
Sudah tak ada makhluk halus yang mengganggunya, semua kembali normal.
Namun, entah mengapa Arumi merasakan rasa sakit yang mendera jantungnya itu masih belum kunjung menghilang.
Justru, rasa sakit itu malah semakin menjadi-jadi.
Akan tetapi, Arumi tak menyerah.
Tekatnya kuat, ingin menghentikan kuntilanak merah itu, agar tidak menculik bayi di desanya.
Dalam meditasi itu, Arumi terus berdzikir, meski rasa sakit terus menekan area jantungnya, dan Arumi tidak tahu rasa sakit itu datangnya dari mana.
***Satu jam berlalu, Nyai Sekar Arum kembali memasuki gua itu.
Ia melihat Arumi yang duduk sangat tenang, tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya.
Nyai Sekar Arum cukup kagum dengan anak yang ia jaga itu.
Pasalnya, Arumi mampu melewati setiap ujian dalam meditasinya.
Dan kini, gadis itu sudah berhasil.
Nyai Sekar Arum duduk di sebelah Arumi, mengalirkan tenaga dalamnya pada gadis itu.
Seketika, hawa hangat Arumi rasakan, kala tenaga dalam sang khodam mengalir memasuki tubuhnya.
"Bangunlah, Neng Arumi, meditasimu sudah selesai," ucap Nyai Sekar Arum.
Perlahan, Arumi membuka matanya karena mendengar suara Nyai Sekar Arum.
Netra hitam itu berkedip-kedip, menyesuaikan dengan cahaya di dalam gua itu.
Arumi meregangkan otot, merasa pegal akibat duduk terlalu lama.
Namun, dari hasil meditasi itu, Arumi merasa hati dan pikirannya menjadi lebih plong, dan kemampuannya pun makin meningkat.
"Berhasil kan, Nyai?" tanya Arumi.
"Iya berhasil, kamu sudah mampu melihat hantu yang mengerikan," jawab Nyai Sekar Arum.
"Terus, aku masih harus tirakat gitu, Nyai?" Arumi bertanya, karena gadis itu sudah sangat menginginkan makanan.
"Ya masih, Neng," jawab Nyai Sekar Arum singkat, tak lupa senyuman tersungging di bibirnya.
Rasanya, Arumi sangat kesal melihat Nyai Sekar Arum yang malah tersenyum.
"Ih, kok gitu sih, Nyai? Energi aku kan terkuras banyak, udah gitu tadi pas meditasi sakit banget, aku hampir tumbang rasanya," protes Arumi.
"Tenang aja, Neng. Nanti sepulang dari sini, di alam manusia udah malam. Jadi, kamu akan langsung bisa makan," jawab Nyai Sekar Arum.
Sudut bibir Arumi melengkung ke atas kala mendengar jawaban Nyai Sekar Arum.
"Waaah, emang aku udah meditasi berapa jam sih, Nyai?" Arumi tampak heran, karena Nyai Sekar Arum mengatakan bahhwa waktu di alam manusia telah beranjak malam.
"Sebenarnya baru 2 jam, sih. Tapi, perbedaan waktunya jauh, Neng. Ibaratnya, sebulan kamu di alam ini, bisa saja bertahun-tahun kamu hilang di alam manusia," jawab Nyai Sekar Arum.
Arumi mengangguk mengerti, rupanya perbedaan waktunya teramat signifikan.