NovelToon NovelToon
Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.

Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.

Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.

Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.

Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.

Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?

Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18 : Dia Kembali Muncul

Ruangan masih dipenuhi suasana lega.

Eliza masih memeluk Ferisu erat seolah takut ia akan menghilang jika dilepaskan terlalu cepat. Rambut peraknya yang panjang jatuh di bahu Ferisu, sedikit bergoyang setiap kali ia bergerak.

Ferisu hanya tersenyum kecil.

“Tenang… aku benar-benar sudah sadar.”

Namun—

Sesuatu terasa aneh.

Ferisu sedikit mengernyit.

Aura roh di sekitar Eliza… berubah. Halus. Namun jelas. Energi itu tidak lagi terasa ringan seperti biasanya. Ada sesuatu yang lebih berat, lebih dingin, seperti bayangan yang merayap perlahan di dalam ruangan.

Noa yang berdiri tak jauh dari ranjang adalah orang pertama yang menyadarinya.

“Tunggu…”

Ia menyipitkan mata.

“Energi itu…”

Licia juga menoleh.

“Aura roh Eliza berubah…”

Eliza sendiri terlihat bingung.

“Hah?”

Ia menatap tangannya sendiri.

“Kenapa… kekuatanku…”

Udara di dalam ruangan bergetar tipis.

Energi roh mulai keluar tanpa kendali.

“Apa yang terjadi?” gumam Erica.

Eliza mundur satu langkah.

“Aku… tidak tahu…”

Namun sebelum ia sempat berkata lebih jauh—sebuah suara terdengar. Pelan. Namun jelas.

Suara itu… Mirip dengan Eliza. Tapi nadanya lebih rendah. Lebih dingin. Lebih… berbahaya.

“Kau tidurlah dulu.”

Semua orang membeku.

Eliza memegang kepalanya.

“Agh—!”

Tubuhnya sedikit gemetar.

“Kau terlalu lama menguasai tubuh ini.”

Suara itu terdengar lagi.

“Kini… berikan kendalinya padaku.”

“Tidak—!”

Eliza menggigit bibirnya. Rasa nyeri menjalar di seluruh tubuhnya. Energi roh meledak keluar.

Angin di dalam ruangan berputar.

Lalu—

Perubahan itu terjadi. Rambut perak Eliza perlahan berubah warna. Kilauannya memudar. Menjadi hitam pekat seperti malam tanpa bintang. Matanya yang biru cerah tenggelam dalam warna gelap yang dalam. Gaun putih yang ia kenakan perlahan berubah menjadi hitam seperti bayangan yang hidup.

Aura yang keluar darinya kini jauh lebih berat. Lebih liar. Lebih… obsesif.

Noa langsung bersiap.

“Dia muncul lagi…”

Licia menegang.

Erica menatap dengan wajah tegang.

Dan gadis itu—perlahan mengangkat wajahnya.

Senyuman tipis muncul di bibirnya. Senyuman yang sama yang pernah mereka lihat sebelumnya.

Reliza.

Matanya langsung tertuju pada satu orang.

Ferisu.

Tatapan itu bukan sekadar melihat.

Itu seperti seseorang yang akhirnya menemukan sesuatu yang telah lama ia miliki.

“At last…” gumamnya pelan.

Noa melangkah maju.

“Kau—”

Namun sebelum ia sempat berkata lebih jauh—Reliza bergerak. Dengan santai. Seolah tidak ada orang lain di ruangan itu. Ia berjalan langsung ke arah ranjang. Langkahnya pelan. Anggun. Namun penuh kepastian.

Licia langsung menghadangnya.

“Tunggu—”

Reliza bahkan tidak melihatnya. Ia hanya mengangkat tangannya sedikit. Aura kegelapan yang halus menyapu udara. Tidak menyerang. Namun cukup untuk membuat Licia dan Noa mundur satu langkah tanpa sadar.

Bukan karena kekuatan—melainkan karena tekanan aneh yang membuat tubuh mereka refleks menjauh.

Reliza akhirnya berdiri tepat di depan Ferisu. Matanya yang gelap menatapnya lama. Sangat lama.

Lalu—

Ia tersenyum lebar.

“Ah… jadi itu kau ya.” Ferisu menatapnya tenang. Tatapan matanya sedikit menyipit. “Jadi benar.”

Ia menghela napas pendek. “Energi itu berasal darimu.”

Reliza menundukkan kepala sedikit, seolah senang. “Tentu saja.”

Ia mendekat sedikit lagi. “Tadi malam kau hampir mati, tahu?”

Nada suaranya terdengar lembut. Namun ada sesuatu yang tidak stabil di dalamnya.

Ferisu menatapnya tanpa berkedip. “Kenapa kau bisa muncul lagi?”

Nada suaranya tenang. Namun jelas penuh kewaspadaan. “Bukankah kau sudah menghilang setelah pertarungan kita di akademi?”

Ruangan menjadi hening.

Pertarungan itu—semua orang di ruangan ini mengingatnya.

Saat akademi hampir hancur. Saat gadis misterius itu menyerang tanpa alasan jelas. Saat Ferisu memanggil Hydra untuk menghentikannya. Dan setelah kekalahannya—Sosok itu berubah. Menjadi Eliza.

Noa mengerutkan kening. “Jadi… benar…” Ia memandang Reliza. “Kau orang yang sama dengan gadis itu.”

Erica juga menatap tajam. “Kau yang menyerang akademi waktu itu.”

Reliza melirik mereka sekilas. Tatapannya datar. Tidak peduli. Seolah mereka hanyalah gangguan kecil.

Fokusnya kembali pada Ferisu. Ia mendekat sedikit lagi. Sangat dekat. Hampir terlalu dekat.

“Aku tidak pernah benar-benar menghilang,” bisiknya pelan.

“Tubuh ini hanya… tertidur sebentar.”

Ia mengangkat tangannya. Jarinya hampir menyentuh pipi Ferisu. Matanya berkilat aneh.

“Dan selama itu… aku terus menunggu.”

Senyumnya melebar sedikit.

“Menunggu kesempatan untuk mengambil sesuatu yang memang milikku.”

Noa langsung melangkah maju.

“Tunggu—”

Namun Reliza berbicara lebih dulu. Dengan suara yang pelan. Namun penuh kepastian.

“Aku akan memiliki Ferisu.”

Kalimat itu membuat ruangan langsung tegang.

Licia menatap tajam.

Erica memerah karena marah.

Noa menyipitkan mata.

Namun Reliza tidak peduli. Ia hanya menatap Ferisu. Tatapan obsesif yang tidak disembunyikan sedikit pun.

“Bahkan jika aku harus merebutnya dari kalian semua.”

Angin di luar jendela berhembus pelan. Tirai bergerak perlahan. Dan untuk pertama kalinya sejak bangun—Ferisu menyadari satu hal.

Masalah di istana… Baru saja menjadi jauh lebih rumit.

Ketegangan di dalam ruangan terasa semakin tebal.

Reliza masih berdiri sangat dekat dengan ranjang, seolah ruangan itu hanya berisi dirinya dan Ferisu saja. Tatapan gelapnya tidak bergeser sedikit pun dari wajah pria itu.

Licia, Noa, dan Erica berdiri di sisi lain ruangan dengan kewaspadaan penuh.

Tak ada yang berani bergerak ceroboh.

Aura yang keluar dari Reliza terlalu tidak stabil.

Ferisu sendiri tetap duduk di ranjang. Tangannya bertumpu ringan di kasur, napasnya masih belum sepenuhnya stabil setelah dua hari tidak sadar.

Namun ekspresinya tetap tenang. Ia menatap Reliza beberapa saat. Lalu akhirnya berbicara.

“Tunggu.”

Suaranya cukup untuk memotong ketegangan di ruangan. Semua orang menoleh ke arahnya.

Ferisu menatap Reliza lurus.

“Kalau begitu…” katanya pelan.

“Di mana Eliza?”

Pertanyaan itu membuat ruangan mendadak hening. Licia langsung menoleh ke arah Reliza. Noa juga menyipitkan mata. Erica mengerutkan kening.

Pertanyaan itu penting. Karena jika Reliza muncul… lalu di mana Eliza?

Reliza berkedip sekali.

Lalu—Ia tertawa kecil. Tawa yang ringan, namun terdengar sedikit aneh.

“Ah…”

Ia menutup mulutnya dengan jari. “Kau langsung menanyakan itu?”

Nada suaranya terdengar seperti seseorang yang sedikit cemburu. “Padahal aku yang ada di depanmu sekarang.”

Ferisu tidak terpancing. Tatapannya tetap tajam.

“Jawab pertanyaanku.”

Reliza mendengus pelan. Lalu ia memutar tubuhnya sedikit. Dengan santai ia duduk di tepi ranjang.

Gerakan itu membuat Erica langsung bereaksi.

“Hei—!”

Namun Reliza bahkan tidak menoleh. Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit.

“Tenang saja,” katanya datar.

“Aku tidak akan merusaknya.”

Ia menunjuk Ferisu dengan dagunya. Ucapan itu membuat Erica semakin kesal. Namun sebelum perdebatan dimulai lagi—Reliza akhirnya menjawab.

“Eliza ada di sini.”

Ia mengetuk dadanya sendiri dengan pelan. Semua orang terdiam.

Ferisu sedikit menyipitkan mata. “Maksudmu?”

Reliza menghela napas kecil, seolah menjelaskan sesuatu yang sangat sederhana.

“Tubuh ini milik kami berdua.”

Ia mengangkat tangannya. Jarinya menyentuh pelipisnya sendiri.

“Atau lebih tepatnya…”

Matanya yang gelap menatap Ferisu lagi.

“Kami memiliki dua jiwa.”

Ia tersenyum tipis.

“Namun hanya satu tubuh.”

Ruangan kembali hening.

Noa adalah orang pertama yang memproses kalimat itu.

“Dua… jiwa?”

Reliza mengangguk santai.

“Ya.”

Licia terlihat bingung.

“Jadi maksudmu…”

“Eliza dan aku adalah dua orang yang berbeda,” potong Reliza.

Nada suaranya santai, seolah membicarakan cuaca.

“Hanya saja sejak awal kami terjebak di tubuh yang sama.”

Erica mengerutkan kening.

“Lalu kenapa selama ini hanya Eliza yang muncul?”

Reliza memutar matanya sedikit.

“Karena dia terlalu keras kepala.”

Ia bersandar sedikit di ranjang.

“Setelah pertarungan di akademi, dia menekan kesadaranku.”

Ia menoleh ke arah jendela.

Sinar matahari sore masuk melalui celah tirai, memantulkan kilau halus di rambut hitamnya.

“Selama ini aku hanya bisa melihat.”

Nada suaranya tiba-tiba lebih pelan.

“Melihat kalian semua.”

Tatapannya kembali pada Ferisu.

“Melihat dia tertawa bersamamu.”

Ada sesuatu yang aneh di dalam tatapan itu. Sesuatu yang hampir seperti… kecemburuan.

Noa memperhatikan perubahan itu dengan hati-hati.

“Lalu kenapa sekarang kau bisa muncul lagi?”

Reliza mengangkat bahu ringan.

“Karena dia melemah.”

Ia menunjuk ke arah Ferisu.

“Dan karena dia.”

Ferisu sedikit mengernyit.

“Aku?”

Reliza mengangguk.

“Kau hampir mati kemarin.”

Nada suaranya terdengar ringan. Namun kalimatnya membuat Licia menegang.

“Energi rohmu berantakan. Jiwa lamamu hampir merobek tubuh barumu.”

Reliza menatapnya dengan serius.

“Jika aku tidak ikut campur… kau mungkin sudah benar-benar mati.”

Ferisu terdiam. Ia mengingat sensasi samar di alam bawah sadarnya. Energi kegelapan. Energi roh yang mengalir. Potongan kekuatan yang kembali.

Matanya sedikit menyipit. “Jadi energi itu…”

Reliza tersenyum lebar. “Ya.”

Ia menunjuk dirinya sendiri dengan jari. “Itu dariku.”

Licia langsung menegang.

Noa juga terlihat terkejut.

Erica berkedip beberapa kali.

“Kau yang mengirimkannya?” tanya Ferisu.

Reliza mengangguk puas.

“Sedikit energi roh.”

“Sedikit energi kegelapan.”

Ia mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat.

“Serta sesuatu yang lain.”

Ferisu memandangnya.

“Sesuatu yang lain?”

Reliza tersenyum nakal.

“Yang itu kau sudah rasakan kemarin.”

Licia langsung memerah.

Noa menutup wajahnya dengan tangan.

Erica langsung menunjuknya.

“Jangan bilang—!”

Reliza tersenyum puas.

“Ciuman.”

Suasana ruangan langsung kacau.

“KAU—!” Erica hampir meledak.

Licia memegang dahinya.

Noa menghela napas panjang.

Sementara itu Reliza hanya tertawa kecil.

Ia menoleh kembali ke Ferisu.

Matanya bersinar aneh.

“Aku sudah lama menunggumu bangun.”

Ia berbisik pelan.

“Sangat lama.”

Namun di saat yang sama—Ferisu menyadari satu hal.

Jika benar dua jiwa berada dalam satu tubuh…

Maka—

“Eliza masih di dalam sana?” tanyanya lagi.

Reliza terdiam sebentar. Untuk pertama kalinya, senyumnya sedikit berubah. Lebih tenang.

“Ya.”

Jawabannya pendek.

“Dia masih ada.”

Ia menyentuh dadanya lagi.

“Dia hanya… tidur sekarang.”

Licia menghela napas lega.

Noa juga sedikit menurunkan kewaspadaannya.

Namun Reliza kemudian menambahkan satu kalimat lagi—Dengan nada yang jauh lebih lembut.

“Tapi jangan khawatir.”

Matanya kembali menatap Ferisu.

Dalam.

Obsesif.

“Aku tidak akan menyerahkan tubuh ini padanya begitu saja.”

Senyum gelap muncul di bibirnya.

“Tidak setelah aku akhirnya bisa berdiri di depanmu lagi.”

Angin di luar jendela berhembus pelan.

Dan di dalam ruangan itu—untuk pertama kalinya semua orang menyadari sesuatu.

Masalah mereka bukan hanya Duke Albrecht.

Bukan hanya retakan dimensi.

Namun juga—

Gadis berambut hitam yang kini duduk di tepi ranjang Ferisu.

Gadis yang mencintainya… dengan cara yang mungkin terlalu berbahaya.

1
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
elf idiot 🙄....bknny pikirkn dlo...tpi sibuk cari kambing hitam....gk ada bedany seperti negara zenobia
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
Scorpio bs evolusi? hmm...gw gk Tau apapun ttg evolusi scorpio
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
ah! jd kekuatan kna segel...tpi reliza sebut serangga... pasti dewa dewi ya? yare2 🙄
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kli ini kalajengki ya? bner2 deh...
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
hmph 🙄....elf jg sama ternyata
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya: iya Thor
total 2 replies
Frando Wijaya
elf td....blg manusia pembawa mslh...tpi kenyataan elf jg sama aja
Frando Wijaya
ekhem! next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
awal Dr konflik? gw punya firasat yg sgt buruk
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
Luthfi Afifzaidan
up
Luthfi Afifzaidan
lg
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
boneka Bru? atau robot Bru??
Frando Wijaya
mata 1 raksasa itu apa sih???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!