Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Mulut yang Terkunci
Udara pagi di dalam Cafe Nuansa perlahan mulai menghangat, berbanding terbalik dengan suhu di luar sana yang masih dikuasai oleh sisa-sisa embun semalam. Aroma kopi Americano yang menguar dari dua cangkir di atas meja kayu itu menyatu dengan wangi roti panggang, menciptakan sebuah atmosfer yang seharusnya sangat menenangkan. Namun, bagi Alan Prawija, pagi ini terasa seperti wahana roller coaster yang tidak memiliki rem.
Setelah pengakuan canggungnya beberapa menit yang lalu—pengakuan yang secara tidak langsung menegaskan bahwa Bunga memiliki tempat yang "berbeda" dibanding teman-teman perempuannya yang lain—suasana di antara mereka dipenuhi oleh gelembung-gelembung ketegangan romantis yang membuat napas Alan terasa berat. Pemuda itu duduk kaku di kursinya, matanya terpaku pada kepulan asap tipis dari cangkir kopinya, tak berani menatap langsung ke arah wanita cantik yang duduk di seberangnya.
Di sisi lain, Bunga justru sedang menikmati setiap detik dari momen ini. Ia menopang dagunya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya perlahan mengaduk kopi yang sebenarnya sudah tercampur rata. Matanya yang jernih dan berbinar tak lepas menatap wajah Alan yang masih sedikit memerah. Bagi Bunga, melihat sosok Alan yang biasanya dingin, tegas, dan tak tersentuh kini berubah menjadi pemuda pemalu yang salah tingkah adalah sebuah pemandangan yang teramat sangat menggemaskan. Hatinya berbunga-bunga, seolah ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya.
Keheningan manis di antara mereka baru saja akan dipecahkan oleh Bunga yang berniat memulai obrolan baru, ketika tiba-tiba suara lonceng di atas pintu kaca kafe bergemerincing dengan nyaring.
Kring! Kring!
Suara itu disusul oleh derap langkah kaki dan suara obrolan dua orang pria yang saling bersahutan dengan nada suara yang kelewat santai dan berisik. Itu adalah Agus dan Wawan, dua karyawan shift pagi yang merupakan teman kerja sekaligus teman sepergaulan Alan di kafe tersebut. Keduanya baru saja datang, masih mengenakan jaket tebal yang melindungi mereka dari hawa dingin Kota Bandung.
"Wah, gila sih dingin banget pagi ini, Wan! Untung gue udah pake jaket rangkap dua, kalau nggak bisa beku nih tulang kering gue," gerutu Agus sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, mencoba mencari kehangatan. Ia berjalan mendahului Wawan masuk ke dalam kafe.
"Sama, Gus. Mana jalanan tadi agak macet lagi ada truk mogok di perempatan," timpal Wawan sambil melepas helm half-face-nya dan menaruhnya sembarangan di atas meja kasir yang masih kosong. "Eh, si bos mana? Kok tumben kafe udah terang benderang jam segini? Udah opening duluan kah?"
Wawan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Matanya menyapu meja bar yang bersih, lalu bergerak ke area tempat duduk pelanggan. Dan tepat di saat itulah, pandangan Wawan dan Agus secara bersamaan terkunci pada satu meja di pojok ruangan.
Langkah kaki Agus dan Wawan terhenti seketika. Mulut mereka sedikit terbuka melihat pemandangan langka di depan mata. Di sana, di meja pojok favorit para karyawan, duduklah Alan—rekan kerja mereka yang terkenal dengan gelar 'kanebo kering' karena sifatnya yang kaku pada perempuan—sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita cantik jelita bak bidadari turun dari kahyangan. Dan yang membuat mereka lebih terkejut, suasana di meja itu terlihat sangat intim, dengan posisi duduk yang saling berhadapan dan tatapan mata Bunga yang begitu memuja.
Sifat jahil dan iseng yang sudah menjadi mendarah daging di dalam diri Agus dan Wawan langsung bergejolak tak tertahankan. Tanpa membuang waktu sedetik pun, keduanya saling berpandangan, memberikan senyum penuh arti, lalu berjalan mendekati meja Alan dengan langkah yang sengaja dibuat lambat dan berirama.
Agus menyenggol lengan Wawan dengan sikunya, lalu dengan suara baritonnya yang sengaja dikeraskan agar menggema ke seluruh ruangan, ia melemparkan godaan pertamanya.
"Gila, gila, gila!" seru Agus sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan dramatis. Matanya membelalak tak percaya menatap Alan dan Bunga secara bergantian. "Baru masuk aja udah liat si Alan pacaran, Wan! Pemandangan langka abad ini nih! Pantesan aja kafe udah bersih rapi jali jam segini, ternyata oh ternyata, ada motivasi terselubung!"
Wawan yang tidak mau kalah langsung menimpali dengan nada yang jauh lebih jahil, menyandarkan tubuhnya ke pilar kayu di dekat meja mereka sambil bersedekap dada.
"Iya nih, Gus! Bener-bener gak nyangka gue," sahut Wawan dengan tawa yang tertahan, matanya menyipit menggoda Alan. "Bikin iri aja nih si Alan. Kita berdua datang kedinginan nembus kabut, eh dia di sini udah asyik-asyikan sarapan berdua, anget-angetan sambil pandang-pandangan. Lu pakai pelet dari daerah mana sih, Lan? Hebat bener dapet bidadari pagi-pagi!"
Mendengar rentetan godaan dan ledekan yang keluar dari mulut kedua teman kerjanya itu, mood defensif Alan langsung bangkit secara otomatis. Sebagai seorang pria yang selalu menjaga image dan tidak terbiasa digoda soal hubungan asmara, refleks pertahanan dirinya langsung mengambil alih tanpa sempat melewati proses penyaringan di otak logisnya.
Alan mendongakkan kepalanya dengan cepat. Matanya menatap tajam ke arah Agus dan Wawan. Alisnya menukik kesal. Rasa gugup yang tadi menyelimutinya saat berhadapan dengan Bunga kini tergantikan oleh rasa jengkel akibat privasinya diganggu oleh dua manusia bermulut ember ini.
Tanpa berpikir panjang, bibir Alan langsung bergerak melontarkan kalimat balasan yang ketus, persis seperti cara ia membalas ledekan Ardi atau Randi.
"Berisik lu pada!" semprot Alan dengan nada tinggi yang menggelegar, tangannya bahkan sampai mengebrak meja dengan pelan. "Kaya yang gak pernah liat orang pacaran aja!"
Hening.
Seketika itu juga, waktu di dalam kafe tersebut seolah berhenti berdetak. Angin pagi yang berhembus melalui celah ventilasi terasa membeku. Suara mesin pendingin ruangan mendadak terdengar begitu nyaring di telinga.
Agus dan Wawan langsung terdiam, mematung di tempat mereka berdiri. Mata keduanya melebar sempurna, saling berpandangan satu sama lain dengan ekspresi terkejut yang luar biasa, sebelum akhirnya sebuah senyum jahil yang jauh lebih lebar dari sebelumnya mengembang di wajah mereka.
Di kursi seberangnya, Bunga mengerjapkan matanya dua kali. Tangannya yang sedang mengaduk kopi berhenti di udara.
Sementara itu, di dalam kepala Alan... sebuah ledakan nuklir baru saja terjadi.
Kata-katanya sendiri—kaya yang gak pernah liat orang pacaran aja!—bergema berulang-ulang di dalam kepalanya, memantul-mantul di dinding tengkoraknya bagaikan kaset rusak yang diputar dengan volume maksimal.
Pacaran?
Satu detik berlalu. Alan terdiam mematung.
Dua detik berlalu. Alan merasa aliran darah di sekujur tubuhnya tiba-tiba berhenti.
Tiga detik berlalu. Rasa terkejut, panik, dan kaget yang teramat sangat menyatu menghantam kesadarannya tanpa ampun.
Otak Alan akhirnya menyadari apa yang baru saja diucapkan oleh mulutnya sendiri. Ia baru saja mendeklarasikan, mengklaim secara gamblang dan lantang di hadapan teman-temannya, bahwa ia dan Bunga sedang pacaran. Padahal, jangankan pacaran, menyatakan cinta saja ia belum pernah! Bahkan, memegang tangan Bunga saja ia belum berani. Dan sekarang, mulut sialannya ini dengan lancang melabeli hubungan mereka sebagai sepasang kekasih!
Napas Alan seolah tercekat di tenggorokan. Ia merutuki perkataannya sendiri dengan keputusasaan yang mendalam. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan di pelipisnya.
'Aduh! Sialan nih mulut gue!' jerit Alan dalam batinnya dengan histeris. Tangannya yang berada di bawah meja mengepal kuat, meremas kain celananya sendiri. 'Goblok! Goblok banget lu, Lan! Kenapa lu bisa keceplosan ngomong gitu sih?! Niatnya mau nyemprot si Agus sama Wawan biar diem, kenapa malah bawa-bawa kata pacaran?!'
Mata Alan mulai bergerak liar. Ia tidak berani menatap Bunga. Kepanikan total telah mengambil alih seluruh fungsi saraf motoriknya.
'Ini gimana alasannya ke si Bunga?!' batin Alan terus meronta, merangkai ribuan skenario kiamat di kepalanya. 'Aduh, mati gue. Mati berdiri gue sekarang. Bunga pasti ilfeel. Dia pasti mikir gue cowok halu yang kepedean tingkat dewa! Dia pasti mikir gue cowok brengsek yang asal ngeklaim anak orang sembarangan! Aduh, Tuhan... gue harus ngomong apa nih sekarang?! Tolong telan bumi aja gue sekarang, tolong!'
Sementara Alan sedang bertarung dengan kepanikannya sendiri, reaksi yang seratus delapan puluh derajat berbeda justru dialami oleh wanita yang duduk di hadapannya.
Bunga, yang sedari tadi terdiam mematung, perlahan mulai mencerna kalimat yang diucapkan oleh pemuda di depannya itu.
...kaya yang gak pernah liat orang pacaran aja!
Kalimat itu terngiang di telinga Bunga. Bukan dengan nada yang kasar atau menakutkan, melainkan terdengar seperti sebuah melodi indah yang langsung menembus ke relung hatinya yang terdalam. Mata Bunga tak lepas menatap wajah Alan yang kini terlihat sangat pias dan salah tingkah.
Perlahan, sebuah senyuman tipis, sangat tipis namun memancarkan kebahagiaan yang luar biasa, mulai melengkung di sudut bibir Bunga. Ia sama sekali tidak merasa tersinggung, marah, ataupun ilfeel seperti yang ditakutkan oleh Alan. Sebaliknya, hatinya justru berdesir hebat. Darahnya berdesir hangat mengalir ke seluruh tubuhnya, menciptakan rona merah alami di kedua pipinya.
'Pacaran?' batin Bunga berbisik lembut, mengulang kata keramat itu dengan penuh kehangatan.
Ia menatap mata Alan yang sedang panik, mencoba mencari kejujuran di balik kepanikan itu.
'Apa... apa bener kamu ngerasa gitu, Lan?' lanjut Bunga dalam batinnya, rasa harap yang membumbung tinggi menyelimuti dadanya. 'Apa kata-kata yang baru aja keluar dari mulut kamu itu murni refleks dari alam bawah sadar kamu? Apa sebenernya... kamu juga punya perasaan yang sama kaya aku ke kamu, Lan? Apa kamu juga menginginkan hubungan ini lebih dari sekadar teman sarapan pagi?'
Bunga tidak bisa menahan rasa senangnya. Ia tahu Alan keceplosan. Ia tahu Alan tidak bermaksud mengatakannya se-frontal itu di depan teman-temannya. Namun, fakta bahwa kata "pacaran" adalah hal pertama yang terlintas di otak Alan untuk mempertahankan diri mereka, sudah menjadi bukti yang lebih dari cukup bagi Bunga. Itu adalah bukti bahwa jauh di lubuk hati pemuda kaku itu, ada sebuah tempat yang sudah ia siapkan khusus untuk Bunga.
Di kursi seberang, Alan merasa oksigen di sekitarnya menipis. Ia tahu ia tidak bisa diam saja. Ia harus meluruskan ini sebelum kesalahpahaman ini menghancurkan hubungan baik yang baru saja mulai terbangun di antara mereka. Ia harus meminta maaf.
Dengan gerakan perlahan yang luar biasa kaku—persis seperti robot yang berkarat dan kehabisan daya baterai—Alan memutar lehernya, melihat ke arah Bunga. Wajahnya memerah padam hingga ke ujung telinga. Mulutnya bahkan masih sedikit terbuka, kehilangan kata-kata.
Mata Alan bertemu dengan mata Bunga. Alih-alih menemukan raut wajah marah atau jijik, Alan justru disuguhi oleh tatapan mata Bunga yang sangat teduh, lembut, dan dihiasi oleh senyum tipis yang mematikan akal sehatnya.
"Eh..." Alan membuka suara, suaranya terdengar pecah dan serak. Ia berdeham kecil, mencoba mengembalikan pita suaranya yang mendadak mogok kerja. "Eh.., itu..."
Agus dan Wawan yang menyadari bahwa situasi sedang berubah menjadi sangat canggung dan intens, memilih untuk mundur teratur. Mereka menutup mulut rapat-rapat, berjalan mengendap-endap menuju ruang loker di belakang untuk berganti pakaian, meninggalkan Alan yang sedang sekarat dalam kegugupannya sendiri.
"Itu... anuu..." Alan menelan ludahnya kasar. Jantungnya berdetak dengan kecepatan yang tidak normal, seolah sedang melakukan maraton di dalam dadanya. "Maaf, Nga... itu tadi... itu aku..."
Alan menarik napas dalam-dalam, mengutuk dirinya sendiri karena terdengar sangat bodoh dan gagap.
"Itu aku asal jeplak aja, Nga," ucap Alan akhirnya, meskipun kalimatnya diucapkan dengan tempo yang sangat cepat dan terbata-bata. Ia menundukkan kepalanya, tak sanggup menahan pesona dari senyum Bunga yang justru semakin merekah. "Aku... aku cuman kebawa emosi gara-gara di-cengin sama si Agus. Aku murni cuma bercanda aja, Nga. Sumpah. Jangan dimasukin ke hati, ya? Maafin aku gara-gara mulutku yang gak disekolahin ini."
Setelah mengucapkan pembelaan yang panjang lebar dan berantakan itu, Alan memejamkan matanya erat-erat, bersiap menerima penolakan, kemarahan, atau setidaknya tamparan dari buku menu di atas meja.
Namun, hukuman yang ditunggu-tunggu oleh Alan tidak pernah datang. Sebagai gantinya, sebuah suara yang sangat merdu, selembut kain sutra dan sebening embun pagi, mengalun membelah keheningan yang tersisa di meja itu.
Bunga memiringkan kepalanya sedikit, menopang dagunya semakin nyaman. Senyum tipisnya kini melebar menjadi sebuah senyuman manis yang sangat tulus, menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi. Tatapan matanya lurus mengunci sepasang mata Alan yang baru saja terbuka.
"Iya, Lan. Gak apa-apa kok," jawab Bunga dengan nada suara yang sangat tenang dan menenangkan, sama sekali tidak ada nada kemarahan di dalamnya.
Alan menghela napas lega. Batu besar yang sejak tadi menghimpit rongga dadanya seolah terangkat sedikit. Syukurlah Bunga mengerti. Syukurlah wanita ini memaklumi kebodohannya.
Namun, kelegaan Alan hanya berumur satu detik. Karena setelah itu, Bunga mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, memperpendek jarak di antara mereka, lalu melanjutkan kalimatnya dengan intonasi yang lebih pelan, lebih dalam, dan seribu kali lipat lebih mematikan.
"...gak apa-apa bener juga, Lan," pungkas Bunga, membiarkan kalimat itu menggantung di udara dengan segala implikasi romantisnya.
JDER!
Jika tadi Alan merasa seperti terkena ledakan nuklir, kali ini ia merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Ribuan voltase listrik kasat mata menjalar dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
Alan terdiam kaku. Tubuhnya membeku seketika. Matanya membelalak tak percaya menatap Bunga. Otaknya langsung mengalami blue screen of death.
Gak apa-apa bener juga?
Apa maksudnya itu? Apakah Bunga tidak keberatan jika mereka benar-benar pacaran? Apakah ini sebuah lampu hijau? Apakah ini sebuah pernyataan tidak langsung bahwa Bunga juga menginginkan hal yang sama?!
Pertanyaan-pertanyaan itu berhamburan bagai kembang api di dalam kepala Alan. Mulutnya terbuka dan tertutup seperti ikan mas yang dikeluarkan dari air. Ia ingin membalas ucapan Bunga. Ia ingin bertanya apa maksud dari kalimat itu. Ia ingin memastikan bahwa telinganya tidak sedang berhalusinasi. Namun, pita suaranya benar-benar lumpuh. Kegugupan, kebahagiaan, dan rasa tidak percaya bercampur aduk menjadi satu, membuat lidahnya kelu tak bertulang.
Alan menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian dan sisa-sisa kepingan harga dirinya yang berceceran. Ia menatap lekat mata Bunga, membulatkan tekadnya.
"Nga... maksud kamu..." Alan memulai, suaranya bergetar hebat namun terdengar jauh lebih serius dari sebelumnya. "Maksud kamu... kamu beneran..."
Sebelum Alan sempat menyelesaikan kalimatnya yang sangat penting dan krusial itu, sebelum ia sempat mendapatkan jawaban yang akan mengubah hidupnya, sebuah interupsi menyebalkan kembali menghancurkan momen emas tersebut.
Lonceng pintu kafe kembali berbunyi dengan nyaring.
Kring! Kring! Kring!
Kali ini, pintu kaca itu didorong terbuka oleh dua orang wanita dengan tawa yang riuh rendah. Mereka adalah Dewi dan Mira, dua barista perempuan yang juga tergabung dalam shift pagi hari ini. Keduanya melangkah masuk sambil sibuk merapikan riasan wajah dan tatanan rambut mereka.
"Ih, sumpah ya, tadi anginnya kenceng banget tau gak sih! Softlens gue sampai mau copot rasanya!" celoteh Dewi dengan suaranya yang melengking khas, sama sekali tidak menyadari atmosfer tegang di sekitarnya.
"Bener banget, Dew! Rambut gue yang udah di-catok badai ini langsung lepek lagi tau gak," timpal Mira sambil mengibas-ngibaskan rambutnya.
Namun, obrolan mereka terhenti mendadak ketika langkah mereka membawa mereka melewati area meja depan. Seperti halnya Agus dan Wawan sebelumnya, insting radar gosip Dewi dan Mira langsung menangkap anomali yang terjadi di sudut kafe.
Mata Dewi membesar. Ia langsung memukul bahu Mira dengan heboh sambil menunjuk ke arah meja pojok tempat Alan dan Bunga berada.
"Eum... eum...!" deham Dewi dengan keras dan sengaja dilebih-lebihkan, melangkah mendekati meja mereka dengan senyum mengembang yang luar biasa menyebalkan. "Cie, cie, cieee! Wah, wah, wah, ada pemandangan apa nih pagi-pagi buta begini? Kayak di Drakor aja deh suasananya!"
Dewi menyikut lengan Mira, meminta dukungan. "Liat tuh, Mir! Pagi-pagi embun belum pada turun semua, eh kita udah disuguhin liat orang lagi pacaran sambil sarapan berdua aja nih! Serasa dunia milik berdua ya, yang lain cuma numpang ngontrak di pojokan!"
Mira yang jiwanya sama-sama dipenuhi oleh hasrat untuk menggoda orang langsung merespons dengan penuh semangat. Ia menangkup kedua pipinya dengan tangan, pura-pura terpesona melihat interaksi Alan dan Bunga.
"Iya nih, Dew! Sumpah, bikin gue iri aja deh liatnya," rengek Mira dengan nada manja yang dibuat-buat, sengaja memanaskan telinga Alan. "Gue aja sarapan pagi ini cuma makan angin sama janji manis mantan, eh si Alan malah sarapan ditemenin cewek secantik ini. Mesra banget lagi tatap-tatapannya. Gila ya, diam-diam menghanyutkan banget si Alan Prawija ini. Udah jadian kapan nih lu berdua? PJ dong, PJ! Pajak jadian harus turun pagi ini juga berupa sarapan gratis buat kita-kita!"
Rentetan serangan godaan dari Dewi dan Mira ini jauh lebih parah dan lebih frontal daripada apa yang dilakukan Agus dan Wawan sebelumnya. Tawa jahil dan kikikan kedua wanita itu bergema di seluruh ruangan, membuat Bunga menundukkan wajahnya sedikit karena malu, meskipun senyum bahagia tak pernah lepas dari bibirnya.
Namun bagi Alan, ini adalah bencana gelombang kedua. Perasaannya yang tadi sudah melambung tinggi ke angkasa karena ucapan manis Bunga, kini harus dipaksa kembali mendarat darurat ke bumi karena rasa jengkel yang memuncak. Momen langka di mana ia hampir mengungkapkan perasaannya hancur berkeping-keping diganggu oleh dua barista cerewet ini.
Rasa malu yang luar biasa kembali menyerang Alan. Wajahnya yang tadi baru saja mulai mereda merahnya, kini kembali merona padam. Ia merasa seperti ditelanjangi di depan umum.
Sama seperti kejadian beberapa menit yang lalu, pertahanan diri Alan kembali aktif. Ia memutar tubuhnya menghadap Dewi dan Mira. Ia menarik napas panjang, alisnya menukik tajam, dan mulutnya terbuka lebar siap untuk membalas ledekan mereka dengan kalimat ketus andalannya.
"Lu pada bisa diem gak sih?! Berisik amat dari tadi datang-datang!" bentak Alan, mencoba menutupi kegugupannya dengan kemarahan buatan. "Apa lu pada emang dasar norak, gak pernah liat orang pac..."
HAP!
Di sepersekian detik terakhir, tepat sebelum huruf 'a', 'r', 'a', dan 'n' meluncur bebas dari bibirnya untuk kedua kalinya hari ini... gigi Alan langsung mengigit lidahnya sendiri dengan sangat kuat.
Mulutnya terkatup rapat dengan bunyi klik yang cukup keras. Rahangnya mengeras seketika. Matanya membelalak lebar, menatap kosong ke arah Dewi dan Mira yang kini menaikkan alis mereka, bingung melihat Alan yang tiba-tiba berhenti bicara di tengah kalimat.
Alan menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Jantungnya kembali berpacu gila-gilaan.
'Astaga naga...' batin Alan menjerit frustrasi, memaki dirinya sendiri dengan segala kosakata kasar yang ada di kamus kepalanya. 'Hampir aja! Hampir aja gue kelepasan lagi ngomong kata itu! Sialan, nih mulut kenapa sih gak bisa gue kontrol sama sekali pagi ini?! Apa gara-gara deket Bunga otak gue jadi ikutan error sampai mulut gue main nyerocos aja tanpa disaring?!'
Alan memalingkan wajahnya dengan cepat, mengalihkan pandangannya ke luar jendela kaca kafe, tak berani menatap siapa pun, apalagi menatap Bunga. Ia pura-pura sibuk merapikan celemek hitamnya, berusaha keras untuk bernapas dengan normal dan menurunkan detak jantungnya yang sudah tidak karuan. Kepanikan di wajahnya terlihat sangat jelas dan transparan.
Di sisi lain, Dewi dan Mira yang merasa tidak mendapat balasan yang memuaskan dari Alan akhirnya memilih untuk menyerah.
"Yee, ditanya malah diem. Salting mah salting aja kali, Lan," cibir Dewi sambil tertawa kecil, melambaikan tangannya ke arah Bunga. "Udah ah, kita ke belakang dulu ya, Bunga. Maaf ganggu waktu pacarannya. Dilanjut aja drakor pagi-nya, ntar kalau ada apa-apa teriak aja, hahaha!"
Mira ikut tertawa lalu keduanya berjalan cepat menuju ruang ganti, meninggalkan Alan yang masih membeku dalam kebodohannya sendiri, dan Bunga yang duduk dengan tenang.
Suasana kembali hening. Hanya ada suara dengungan lembut dari mesin pendingin ruangan.
Bunga mengangkat pandangannya. Ia menatap profil samping wajah Alan yang masih memalingkan muka ke arah jendela. Pemuda itu terlihat begitu kaku, tegang, dan salah tingkah. Ujung telinganya memerah dengan sangat kontras. Napasnya terlihat sedikit memburu.
Melihat reaksi Alan yang menahan kata-katanya di detik-detik terakhir tadi, alih-alih merasa kecewa karena Alan tidak meneruskan kalimatnya, Bunga justru merasakan kehangatan yang semakin meluap di dalam dadanya. Ia tidak butuh Alan menyelesaikan kalimat itu. Ia sudah tahu apa yang akan diucapkan oleh pemuda itu. Dan fakta bahwa Alan berusaha keras menahannya karena gugup, membuat nilai pria itu di mata Bunga semakin meroket naik.
Sebuah senyuman yang teramat sangat manis, penuh dengan kasih sayang dan toleransi yang tinggi, terlukis di wajah cantik Bunga. Ia menggelengkan kepalanya pelan, sebuah gerakan kecil yang menyiratkan betapa gemasnya ia pada sosok di hadapannya ini.
'Kenapa... kenapa gak dilanjutin kata-katanya tadi, Lan?' batin Bunga berbisik, matanya memancarkan cahaya kebahagiaan yang tak mampu disembunyikan.
Ia meraih cangkir kopinya kembali, menyesap Americano hangat itu yang entah mengapa kini terasa jauh lebih manis daripada biasanya.
'Padahal, kalaupun kamu beneran ngelanjutin kalimat itu dan bilang kita pacaran lagi di depan mereka... aku gak akan marah sama sekali kok, Lan,' lanjut batin Bunga, menyuarakan isi hatinya yang terdalam. 'Aku malah seneng banget. Seneng karena kamu secara nggak sadar udah mengakui kedekatan kita. Seneng karena ternyata, di bawah sikap dingin dan cuek kamu, kamu bisa segugup dan sesalah tingkah ini gara-gara aku.'
Bunga meletakkan cangkirnya dengan pelan, lalu menopang dagunya lagi, menatap wajah Alan lekat-lekat, menunggu hingga pemuda itu berani menoleh kembali kepadanya.
'Apalagi... dengan semua kecanggungan kamu pagi ini. Cara kamu gelagapan, cara kamu nahan omongan, cara telinga kamu jadi merah gitu...' batin Bunga berteriak gemas, mengakhiri monolog internalnya dengan penuh cinta. 'Semua itu bener-bener bikin aku gemes banget sama kamu, Lan. Dan yang pasti... bikin aku makin yakin kalau perasaan aku ke kamu ini, nggak bertepuk sebelah tangan.'
Pagi itu, diiringi sinar matahari yang mulai meninggi menyinari Kota Bandung, dua hati di dalam Cafe Nuansa tersebut diam-diam telah mengikat sebuah janji tanpa kata. Sebuah hubungan baru telah mekar, berawal dari secangkir kopi, sebuah kecemburuan buta, dan kalimat yang terlanjur lepas dari mulut yang tak terkunci. Dan Alan, meskipun masih diselimuti kepanikan luar biasa, tahu bahwa mulai hari ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.