NovelToon NovelToon
Diam-diam Membalaskan Dendam

Diam-diam Membalaskan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: nita kinanti

Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.

Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.

Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.

Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.

Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Satu Jam

"Dia lagi!!!" gumamnya diiringi dengusan yang hampir tak terlihat.

Mau apa??? Menarik perhatian Alvaro??? batinnya. Sejak pertama melihat gadis itu Suci langsung tidak suka. Tentu saja karena gadis itu jauh lebih cantik, jauh lebih kaya darinya dan juga caranya menatap Alvaro yang dia anggap gatal.

Dari sekian banyak gadis gatal di kecamatan Suka Jaya, baru kali ini ada gadis yang berhasil membuat Suci merasa tersaingi.

"Keluhannya apa?" tanya Alvaro. Zivanna tidak menjawab karena dirinya saat ini memang tidak memiliki keluhan apapun.

"Zi... Jawab! Jangan kaya anak kecil kalau diajak ke dokter diem aja."

Zivanna memasang wajahnya sejudes mungkin agar tidak menjadi bulan-bulanan ketika sudah di rumah nanti. Zivanna tidak mau mamanya salah paham dan menjodohkan mereka, sama seperti neneknya kemarin.

"Mau jawab apa, Ma? Aku nggak demam, ini juga sudah nggak lemas. Mau mengeluh apa?" Zivanna balik bertanya.

Anita menggelengkan kepalanya. Anak itu memang paling susah kalau berurusan dengan dokter.

"Tadi subuh panas lagi, dok." Akhirnya Anita yang bicara. "Kemarin dibawa kemari lalu diinfus. Setelah itu sehat. Pulang ke rumah malamnya panas lagi."

"Obatnya sudah diminum?"

Zivanna mengangguk. "Sudah," jawabnya malas terkesan acuh. "Kalau waktunya panas ya panas, minum obat pun nggak ngaruh."

Anita harus menahan kesabarannya melihat tingkah Zivanna.

"Apa mimpi buruk lagi?" Alvaro kembali bertanya. Zivanna membulatkan matanya mendengar pertanyaan dokter itu seakan bertanya bagaimana dia bisa tahu.

Pasti nenek yang cerita soal mimpi itu. Hihhh ... nenek ini!

Zivanna mengangguk pelan lalu dengan kepala menunduk dan sedikit ragu-ragu dia bertanya, "Memangnya ada hubungannya?"

"Di periksa dulu, ya?" Alvaro tidak menjawab pertanyaan Zivanna. Dia justru mengarahkan Zivanna ke samping mejanya, "Silahkan berbaring di tempat tidur."

"Diperiksa sambil duduk saja nggak bisa, ya?" Zivanna keberatan. Dia risih membayangkan dirinya berbaring lalu dokter itu menempelkan stetoskop di dadanya, menekan-nekan beberapa bagian.

Padahal kalau dipikir-pikir, kemarin dokter itu juga melakukan hal yang sama tetapi Zivanna tidak keberatan karena kemarin dirinya setengah sadar.

"Ya sudah kalau maunya begitu."

Alvaro berdiri lalu menghampiri Zivanna yang tetap dalam posisi duduk. Dia menempelkan stetoskopnya di dada Zivanna lalu diam mendengarkan selama beberapa saat, setelah itu kembali duduk di kursinya. "Demam dan lemasnya datang setelah mengalami mimpi buruk?" tanyanya lagi. Zivanna kembali mengangguk.

"Saya rujuk ke psikolog, ya?"

"Saya tidak gila! Saya hanya sering mimpi buruk. Itu saja!" Zivanna berkata dengan nada sedikit ketus.

"Zi... Yang sopan!!!" tegur Anita. "Maaf ya, Dok!" Anita merasa tidak enak.

Alvaro mengangguk. Dia hendak menjelaskan, tetapi melihat ekspresi pasiennya itu sepertinya penjelasan apapun tidak akan masuk di kepalanya. Dia memahami betul cucu Bu bu Minah ini moodnya berantakan karena mimpi buruk dan serentetan akibat dari mimpi buruk itu, diantaranya jam tidur yang berantakan, nafsu makan berkurang atau mungkin hilang dan yang lainnya.

Mungkin nanti ketika gadis itu sudah lebih tenang dia akan menjelaskannya secara perlahan.

"Ya sudah kalau tidak mau ke psikolog. Ini saya resepkan obat yang baru." Alvaro bicara dengan lebih berhati-hati. "Nanti kalau sewaktu-waktu demam segera minum obat yang saya resepkan ini. Kalau sudah minum obat tetapi tidak membaik, langsung dibawa ke puskesmas saja. Kebetulan malam ini saya bertugas. Tetapi harapannya semoga tidak demam lagi."

Anita mengangguk-angguk mengerti, sementara Zivanna tidak bereaksi. Gadis itu membuang muka, enggan bersitatap dengan dokter yang mungkin menganggapnya memiliki gangguan jiwa itu. Tetapi sialnya, Zivanna malah mendapati perawat dengan tahi lalat di dekat hidung menatapnya dengan tatapan tidak suka.

Zivanna tidak tinggal diam. Dia menatap balik perawat yang sudah beberapa kali muncul di mimpinya itu dengan tatapan yang lebih tidak bersahabat.

"Ada yang mau ditanyakan lagi?"

Anita menoleh melihat Zivanna tetapi malah menemukan anaknya itu menatap seorang perawat dengan tatapan mematikan. Bahkan mata bulatnya sampai terlihat menyeramkan.

"Zi, ada yang mau kamu tanyakan?" Anita menyenggol lengan putrinya.

Zivanna tersadar lalu memilih menatap dokter di depannya daripada perawat sombong itu. "Tidak ada," jawabnya.

Alvaro menyerahkan resep yang sudah dia tulis lalu berkata, "Silahkan ke administrasi setelah itu mengambil obat di bagian farmasi." Anita mengangguk lalu segera menyeret Zivanna pergi dari sana.

"Dok, memangnya nanti malam dokter bertugas?" Suci bertanya setelah hanya ada mereka berdua di dalam ruangan. Suci hafal betul jadwal dokter itu. Seingatnya, malam ini Alvaro tidak pernah mengambil tugas jaga malam karena saat ini dia juga menempuh program pendidikan dokter spesialis.

"Dokter Dian memintaku menggantikannya. Katanya dia ada acara," jawab Alvaro tanpa sedikitpun menaruh curiga.

"Oh... Begitu rupanya." Suci terlihat datar tetapi pikirannya sudah jauh membayangkan yang tidak-tidak. Bagaimana kalau gadis gatal itu tiba-tiba demam lalu kembali datangi puskesmas?

Malam harinya....

Piket malam dimulai pukul sembilan dan berakhir pukul tujuh pagi. Sesuai janjinya kepada Dokter Dian, malam ini Alvaro bersedia menggantikannya karena sahabatnya itu sedang ada urusan mendesak.

Alvaro sedikit terkejut mendapati Suci sudah berada di nurse station ketika dirinya masuk ke ruangan tersebut. "Loh, kamu jaga malam juga?" tanyanya.

"Iya, Dok. Seharusnya besok saya jaga pagi, tetapi saya tukar karena besok pagi saya harus mengantar ibu saya kontrol." Suci tersenyum malu-malu. Mengantar kontrol itu hanya alasannya. Ibunya bisa berangkat sendiri atau kalau tidak, bisa diantar Cahyo.

"Oh... " Alvaro tidak bertanya lagi. Dia mengambil jas putihnya lalu mulai membaca rekam medik pasien yang sedang menjalani rawat inap sebelum mengunjunginya satu persatu.

Pukul dua dini hari...

Puskesmas sangat sepi. Alvaro yang pekerjaannya sudah selesai kini berada di ruangannya, membaca buku pendidikan spesialis anak, studi yang sedang dia tempuh saat ini.

Suasana yang sangat hening membuat Alvaro bisa mendengar suara pintu mobil yang ditutup dengan tergesa dan suara sedikit gaduh di luar. Tanpa berpikir lama, Alvaro langsung tahu apa yang terjadi.

Baru saja Alvaro berdiri, seorang perawat datang. "Dok, ada pasien. Sudah masuk ke IGD," katanya.

Alvaro mengangguk lalu bergegas menuju ruangan yang disebutkan.

"Dok, ini demam tinggi, badannya juga menggigil." Anita yang terlihat khawatir langsung melaporkan kondisi Zivanna pada Alvaro yang baru saja datang.

Dengan sekali lihat saja Alvaro sudah tahu siapa pasiennya. "Sudah diberi obat yang saya kasih tadi pagi?"

"Sudah."

"Jam berapa tadi diberikan?"

"Sekitar jam dua belas." Alvaro melihat jam tangannya. Berarti sudah dua jam sejak obat diberikan tetapi tidak ada reaksi apa-apa sementara Termo Gun menunjukkan angka empat puluh derajat.

Alvaro meminta perawat yang mendampinginya untuk mengambil infus dan segera memasangkannya ke tangan pasien.

Perawat itu bertindak cepat. Dalam hitungan menit infus sudah terpasang lalu Alvaro menyuntikkan cairan obat ke dalam kantong infus tersebut.

"Kita tunggu satu jam, kalau tidak ada perkembangan kita rujuk ke rumah sakit pusat," kata Alvaro setelah selesai mengambil tindakan yang diperlukan.

1
Ma Em
Suci mau balas pada Bu Minah karena sdh pecat Bu Ida coba saja kalau berani , pasti Zivana langsung bertindak dan akan membalaskan dendam Ayu pada Bu Ida dan Suci .
Ma Em
Ayo Zivana balaskan dendam Ayu pada Suci juga pada Ida karena perbuatan mereka hdp Ayu jadi menderita .
Ma Em
Ayo Alvaro cari bukti yg kuat agar orang2 yg sdh jahat pada Ayu akan dapat hukuman yg setimpal ,terutama Bu Ida dan Suci hrs di beri pelajaran itu agar dia sadar dan sekalian masukan ke penjara .
Ds Phone
itu lah sebab nya
Ma Em
Semangat ga Alvaro segera membuka semua tabir yg Zivana hadapi dan Zivana bisa sehat kembali tdk diteror dgn mimpi mimpinya .
Ds Phone
dia jahat dengan ayu
Ds Phone
rasa mata tu dia punya
Ds Phone
cucu sorang memang susah hati
Ds Phone
dia ingat dia ayu
Ds Phone
cari kesepatan
Ds Phone
memang jahat perumpuan tu
Ds Phone
mimpi teruk lagi lah tu
Ds Phone
orang jahat dah cemburu
Ds Phone
dia melihat semus nya
Ds Phone
dia lihat apa perbuatan jahat meraka
Ds Phone
maaf sebab dah buat jahat
Ds Phone
muking dia kena rogol
Ds Phone
semua nya ada kaitan
Ds Phone
ada saja yang dengki
Ds Phone
ada apa dengan dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!