Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lebih dekat
Rumah itu berubah kacau.
Kakek Damar benar-benar bertindak seperti pengawas rumah tangga.
“Zavian! Ambilkan sarapan!"
“Zavian! Buatkan susu hangat!”
"Zavi... Jangan lupa buahnya."
“Zavian! Jangan pasang wajah galak!”
Clarinda duduk di sofa sambil menikmati buah potong.
Dalam hati ia mulai menyesal.
Ini terlalu berlebihan.
Apalagi sekarang Kakek Damar memaksa Zavian duduk di sampingnya.
“Suami istri jangan jauh-jauh.”
Clarinda langsung kaku saat bahunya bersentuhan dengan lengan Zavian.
Pria itu berbisik pelan tanpa menoleh.
“Puas kamu?”
Clarinda balas berbisik.
“Lumayan."
“Kita lihat nanti.”
“Kau mengancamku Pak Tua. Iiiihh... Ngeri," wajah Clarinda dibuat seolah takut.
Zavian melirik tajam.
Clarinda langsung pura-pura batuk. "Kakek, sudah ya... Pak tua, em maksudku... Suamiku harus berangkat kerja. Nanti terlambat."
"Nggak usah masuk! Istri lagi sakit kok di tinggal!" Omel Kakek Damar. "Lagi pula Daddy dan Mommy mu hari ini datang. Kau tak kangen dengan mereka?"
Zavian menghembuskan nafasnya pasrah. Buang-buang tenaga saja berdebat dengan Kakek tua.
"Duduk lebih dekat. Ayo foto!" Kakek Damar sudah siap dengan ponsel mahalnya.
“Hah?” sahut mereka bersamaan.
“Lihat dinding rumah ini, tidak ada foto kalian sama sekali!"
"Aku mau ke toilet, Kek," alasan Clarinda menghindar.
Sebelum sempat kabur, Kakek Damar sudah memotret.
“Lebih dekat!”
Clarinda dan Zavian sama-sama memasang wajah tersiksa.
“Kok seperti foto kriminal?” omel Kakek Damar.
“Senyum!”
Zavian menarik paksa sudut bibirnya.
Clarinda malah terlihat seperti orang sembelit.
“Ya ampun… kalian ini!”
Tiba-tiba Kakek Damar berkata serius.
“Pelukan.”
“Hah?!” pekik Clarinda.
“Pelukan biar romantis. Suami istri kok nggak mesra sama sekali," omel lelaki sepuh itu.
Wajah Clarinda merah padam. 'Nggak mau!!!'
Sementara Zavian mulai menikmati penderitaan gadis itu.
“Cepat,” ujar pria itu santai. “Kalau kamu tak menuruti kemauan Kakek, dia bakal betah disini sampai tangannya kering."
Clarinda mendelik.
Dengan canggung Clarinda mendekat sedikit.
Baru sedikit.
Sangat sedikit.
Namun Zavian tiba-tiba menarik pinggangnya.
BUGH!
Clarinda langsung jatuh di da da pria itu.
“MAMAAA!”
Gadis itu menegang, tubuh mereka saling nempel seperti ini. Zavian semakin mengeratkan tangannya. "Pak Tua cabul!" Pekik Clarinda namun berbisik.
Kakek Damar terlihat sangat senang.
“Nah! Bagus begitu!”
Clarinda gemetaran malu sementara Zavian menahan tawa.
“Kakek...sudah ya... Aku mau istirahat..." Clarinda memelas.
"Sedikit lagi ya," tawar Kakek Damar yang terus memotret sambil terharu. Ia teringat masa muda nya dulu.
Bik Imah datang bersama Jodi asisten Kakek Damar.
"Sudah siap Tuan besar," lapor Bik Imah.
"Zav, bawa istrimu ke kamar. Dia butuh banyak istirahat," ucap Kakek Damar.
Clarinda langsung menganggukkan kepala cepat-cepat seperti burung pelatuk. “Iya Kek! Betul sekali! Aku memang harus banyak istirahat.” Wajahnya penuh harapan. Akhirnya drama di ruang keluarga ini selesai juga.
Namun baru selangkah Clarinda hendak kabur…
“Kau ini suami macam apa sih, Zav?!” bentak Kakek Damar tiba-tiba.
Zavian yang tadi bersandar santai di sofa langsung menoleh malas. “Apa lagi sekarang, Kek?”
“Gendong istrimu!”
“…”
Clarinda membelalakkan mata.
“Dia kan belum sehat sepenuhnya.”
Clarinda buru-buru menggerakkan kedua tangannya panik. “Ti-tidak Kek! Aku bisa jalan sendiri kok. Sudah sembuh! Lihat!” Gadis itu bahkan menghentak-hentakkan kaki seperti sedang senam pagi.
Nyengir lebar pula.
Sayangnya…
“ZAVIAN!!!”
Suara Kakek Damar menggelegar membuat lampu kristal ruangan itu rasanya ikut bergetar.
Zavian memejamkan mata sebentar. Urat di dahinya berkedut.
Lalu perlahan ia berdiri.
Tatapan pria itu beralih ke Clarinda yang langsung mundur satu langkah.
“Hehe… aku bisa jalan pelan aja...”
Belum selesai.
SET!
“Aaaa!”
Tubuh Clarinda mendadak melayang.
Zavian benar-benar mengangkatnya ala bridal style. Refleks kedua tangan Clarinda langsung melingkar di leher pria itu karena takut jatuh.
Wajah mereka begitu dekat.
Dekat sekali.
Clarinda bahkan bisa melihat bulu mata Zavian yang lentik dan aroma parfumnya maskulin semalam yang masih menempel di tubuhnya.
Gawat!
Jantung Clarinda langsung jungkir balik seperti mesin cuci mode turbo.
Sedangkan Zavian menatapnya dengan senyum tipis penuh kemenangan.
“Nikmati dramamu sendiri, bocah nakal,” bisiknya pelan.
Clarinda langsung melotot.
"Harusnya tadi kau salto sampai kesleo, jadi tak sia-sia aku menggendonmu."
"Turunkan!"
"Kalau juragan besar itu tidak disini sudah kulempar kau bocah!"
“Pak Tua shinting!" Enak aja main lempar-lempar anak orang. Calrinda menghentak-hentakkan kakinya agar diturunkan.
"Ku kasih lem mulutmu itu."
"Ku gigit kau Pak Tua!
"Kau cocok sekali jadi babi hutan!" Sindir Zavian.
“Kau cocok jadi gorila!" balas Clarinda tak kalah pedas.
“Sudah fasih menghina berarti sudah sehat.”
"Apa yang kau rencanakan?" Clarinda waspada.
"Membungkusmu di karung, kulempar ke jurang penuh ular cobra," jawab Zavian asal. Lalu ia menyeringai. "Saat orang-orang sudah tidur."
Clarinda manyun dan menatap pria tampan itu ngeri.
Mereka bicara dengan bisikan halus serta ekspresi Mereka yang terlihat lucu di mata Kakek Damar. Lelaki tua itu merasa senang melihat mereka.
“Nah begitu dong! Pasangan muda memang harus mesra.”
“MESRA APANYA?!” teriak keduanya bersamaan.
Namun Kakek Damar justru semakin senang.
Zavian akhirnya melangkah menuju kamar sambil tetap menggendong Clarinda.
Setiap langkah pria itu membuat Clarinda makin sadar…
Dekat.
Terlalu dekat.
Da danya bersandar tepat di da da bidang Zavian.
Lengan pria itu menopang tubuhnya kuat sekali.
'Oh GOD...
Kenapa pria menyebalkan ini harus seganteng itu?'
Clarinda buru-buru menggeleng kecil.
Tidak boleh. Pokok nya tidak boleh salting.
"Terpesona?" Suara Zavian membuat Clarinda gugup. Gadis itu berusaha mati-matian menghalau kegugupannya. Zavian tahu Calrinda memperhatikannya dengan malu-malu.
"Iiiihhh... Kagak!"
"Berat!" gumam Zavian tiba-tiba.
Mata Clarinda membulat.
"Kelihatannya kerempeng tapi berat juga."
"APA?!!!" Clarinda merasa terhina.
"Kebanyakan dosa!"
“Pak Tua!!!!!!”
Pria itu tertawa kecil. Clarinda langsung mencubit lengan Zavian pelan.
Baru sampai depan kamar Clarinda...
“BERHENTI!”
Suara Kakek Damar lagi.
Mereka kompak menoleh kaget.
Kakek tua itu berdiri sambil bertolak pinggang seperti jenderal perang.
“Bawa istrimu ke kamarmu, Zavi!”
“Hah?”
“Kamar Clarinda mau Kakek pakai.”
“APA?!” teriak mereka bersamaan lagi.
*
Clarinda melongo sejak menginjakkan kaki di lantai dua. Dan pertama kali masuk ke kamar suaminya.
Terlalu mewah.
“Ini… kamar atau hotel bintang tujuh?” gumam gadis itu.
Kamar Zavian benar-benar luas.
Hampir separuh lantai dua.
Interiornya dominan hitam, abu-abu, dan coklat gelap. Elegan. Modern. Super rapi.
Sofa kulit besar menghadap jendela kaca tinggi. Ada rak buku panjang, mini bar kecil, televisi super besar, bahkan ruang kerja pribadi yang dipisahkan partisi kaca.
Lihat tempat tidurnya…
Ya ampun.
Kasur king size itu bahkan cukup untuk tidur se-RT.
Tentu kamarnya tak ada apa-apanya bila dibanding dengan Zavian. Pantas saja Zavian bilang lebih nyaman tinggal di kamarnya sendiri.
Clarinda masih sibuk memandangi sekitar.
“Curang! Kenapa kamarmu lebih besar Pak Tua!"
“Kenapa?”
“Kamarmu lebih nyaman dari ruang kepala sekolah.”
Sebanrnya ini adalah kamar mereka berdua. Mereka suami istri harusnya tidur bersama. Harapan Kakek Damar begitu. Tapi mengingat Clarinda masih sekolah jadi untuk sementara mereka tidur terpisah.
Bagaimanapun Zavian lelaki dewasa. Singa bisa menerkam betinanya kapan saja jika birahinya datang.
Tapi sekarang lelaki sepuh itu berubah pikiran. Jika tak satu kamar, pasangan beda usia itu takkan pernah akur. Kalaupun nanti terjadi kecelakaan biarkan. Mereka pasangan yang sah. Lagipula Clarinda sebantar lagi akan lulus.
Zavian mendecih kecil lalu membuka jasnya.
Clarinda diam-diam melirik.
Kemeja hitam pria itu sedikit terbuka.
Aduh.
Kenapa tiba-tiba panas?
Clarinda menggelengkan kepalanya cepat.
“Kenapa bengong?” ujar Zavian. "Jujur saja kau terpesona padaku."
“I-iya!” Clarinda cepat-cepat menyangkal. "Nggak!" Lidahnya tadi kesleo. Clarinda cepat-cepat mengalihkan wajah.
Lalu…
Hening.
Mereka saling melirik.
Clarinda langsung salah tingkah.
Sama-sama sadar.
Selama ada Kakek Damar mereka tidur sekamar.
Berdua.
Oh ya jangan lupa orang tua Zavian juga akan datang.
“Aku mau mandi." Zavian menuju ke pintu kamuflase.
'Oh itu kamar mandinya,' batin Clarinda menghafal setiap sudut ruangan. Biar tidak nyasar, pikirnya.
"Kalau badanmu masih hangat nggak usah mandi. Tidur sana!" Ujar Zavian sebelum masuk ke pintu itu.
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"