Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Langkah Adella membawanya ke sebuah warung kopi kecil yang tersembit di gang buntu pasar. Di sana, ia mencuri sepotong kemeja seragam kurir berwarna biru yang tergantung di jemuran belakang, lalu mengenakannya di atas hoodie-nya. Dengan topi yang ditarik rendah dan masker kain, ia kini tampak seperti ribuan pengantar barang yang mondar-mandir di kota ini.
Tujuannya sekarang hanya satu: Gedung Menara Adwan. Pusat dari segala kekuasaan yang melindungi pria itu.
Adella tahu, kartu emas di saku celananya bukan sekadar kunci digital. Itu adalah simbol otoritas. Jika ia bisa masuk ke dalam server fisik di kantor pusat yayasan, ia bisa memutus aliran dana yang digunakan Pak Adwan untuk membayar orang-orang seperti Iptu Darma atau para penjaga di Cahaya Harapan.
Dua jam kemudian, Adella berdiri di depan kemegahan gedung kaca setinggi tiga puluh lantai itu. Jantungnya berdegup kencang saat ia melangkah masuk melalui pintu karyawan di bagian belakang. Ia menunduk saat melewati pemindai keamanan, lalu dengan tangan gemetar, ia menempelkan kartu emas itu ke sensor lift khusus petinggi.
Pip.
Lampu lift menyala biru. Pintu terbuka. Adella masuk, sendirian di dalam kotak besi yang berlapis cermin itu. Saat lift bergerak naik menuju lantai 28—ruang arsip dan data pusat—Adella menatap bayangannya sendiri. Ia tidak mengenali gadis yang ada di cermin itu. Wajahnya pucat, matanya tajam, dan ada garis kedewasaan yang dipaksakan oleh keadaan.
Pintu lift terbuka di lantai yang sunyi. Lantai ini hanya berisi deretan lemari besi dan server yang berdengung rendah. Namun, saat Adella hendak melangkah menuju komputer pusat, ia mendengar suara tawa yang sangat familiar dari balik salah satu sekat ruangan.
"Aku sudah bilang, Pak Adwan. Dia pasti akan datang ke sini. Dia terlalu pintar untuk tidak memanfaatkan kartu itu."
Adella membeku. Itu bukan suara Pak Adwan. Itu suara seorang gadis.
Adella mengintip dari balik celah rak. Di sana, duduk di kursi putar yang mewah, adalah Viona. Teman sebangku Adella di SMA Persada, satu-satunya orang yang selama ini menjadi tempat Adella "curhat" tentang keanehan Pak Adwan.
Viona sedang memutar-mutar ponselnya, mengenakan pakaian yang jauh lebih mahal daripada seragam sekolah biasanya. Di depannya, sebuah laptop menampilkan layar pelacak GPS—yang menunjukkan posisi pulpen hitam milik Pak Adwan sedang bergerak di pinggiran kota.
"Tapi kasihan kucing itu, Pak," lanjut Viona sambil tertawa kecil ke arah ponselnya yang sedang menyala dalam mode video call. "Dia harus membawa GPS itu sampai ke terminal."
Dunia Adella seolah berputar. Viona. Orang yang selalu mengingatkannya untuk berhati-hati pada Pak Adwan, orang yang selalu mendengarkan ketakutannya... ternyata adalah mata-mata yang ditanam tepat di sampingnya.
"Viona?" bisik Adella, kali ini ia tidak tahan untuk tidak memunculkan diri.
Viona menoleh. Tidak ada raut terkejut di wajahnya. Ia justru tersenyum lebar, senyum yang sama persis dengan senyum Pak Adwan.
"Hai, Adella. Kamu telat lima menit dari prediksiku," Viona berdiri, merapikan rambutnya yang berkilau. "Kamu pikir kenapa Pak Adwan bisa tahu segalanya tentangmu? Kenapa dia tahu jam berapa kamu tidur, apa ketakutan terbesarmu, dan bagaimana hubunganmu dengan orang tuamu? Aku adalah telinganya, Adella. Dan kamu adalah proyek besar kami."
"Kami?" Adella mengepalkan tangannya.
"Yayasan ini butuh wajah baru untuk generasi masa depan yang patuh," Viona berjalan mendekat, setiap langkahnya terdengar seperti ancaman. "Dan omong-omong, Adella... jangan repot-repot mencari bantuan dari ayahmu. Dia tidak diam karena takut pada Pak Adwan. Dia diam karena dia sudah menjualmu."
Viona melemparkan sebuah dokumen ke atas meja. Adella membacanya dengan cepat. Itu adalah surat perjanjian utang piutang atas nama ayahnya—dengan jumlah miliaran Rupiah—yang dijamin oleh "masa depan" Adella di bawah naungan Yayasan Adwan.
"Ayahmu butuh modal untuk bisnisnya yang gagal, dan Pak Adwan butuh subjek yang sempurna," bisik Viona tepat di telinga Adella. "Kalian adalah kesepakatan bisnis yang sempurna."
Adella merasakan kehancuran yang lebih dalam daripada saat ia berada di gudang bawah tanah. Pengkhianatan ini berasal dari setiap sisi hidupnya. Namun, di tengah keputusasaan itu, sisi pandainya memberikan sebuah kilatan ide.
Ia tidak lagi memiliki siapa pun untuk dipercaya. Dan itu artinya, ia tidak punya lagi beban untuk bermain bersih.
"Kalau begitu," Adella menarik kartu emasnya keluar, menunjukkan QR kode yang ada di pojok bawah. "Kalian melakukan kesalahan besar dengan membiarkan aku membawa kartu ini ke dalam gedung ini."
"Maksudmu?" Viona mengernyit.
"Kartu ini bukan cuma kunci pintu, Viona. Ini adalah kunci dekripsi untuk seluruh sistem keuangan yang sedang kamu jaga," Adella dengan cepat menempelkan kartu itu ke terminal server di sampingnya. "Jika aku tidak bisa menyelamatkan diriku, aku akan memastikan tidak ada lagi 'modal' yang tersisa untuk bisnis ayahku, atau untuk ambisi Pak Adwan."
Alarm di seluruh gedung Menara Adwan mulai meraung. Adella telah memicu protokol penghapusan data massal yang ia siapkan di pasar tadi.
"Selamat datang di kehancuranmu, Viona," ujar Adella sambil berlari menuju tangga darurat, meninggalkan Viona yang panik di depan layar komputer yang mulai berubah menjadi biru.
Perang ini kini bukan lagi soal rahasia kecil di sekolah. Ini adalah keruntuhan sebuah dinasti.
Suara sepatu Adella menghantam anak tangga beton dengan ritme yang memburu, bergema di sepanjang lorong tangga darurat yang sunyi dan dingin. Di balik dinding, ia bisa mendengar kepanikan yang mulai merayap; lift-lift berhenti beroperasi, dan sistem pencahayaan darurat mulai berkedip merah, menandakan bahwa virus penghapus data yang ia suntikkan telah melumpuhkan sistem saraf pusat Menara Adwan.
Adella tidak hanya menghapus angka-angka di rekening bank; ia sedang membakar sejarah kelam yang disembunyikan keluarga itu selama puluhan tahun.
Setiap lantai yang ia lewati terasa seperti babak baru dalam pelariannya. Di lantai 20, ia mendengar langkah-langkah berat tim keamanan yang mulai bergerak naik. Tanpa ragu, Adella masuk kembali ke koridor lantai 19, menyelinap di antara kubikel kantor yang gelap. Ia tahu, keluar melalui lobi utama adalah bunuh diri. Pak Adwan pasti sudah berdiri di sana, menunggunya dengan ketenangan yang mematikan.
Ia berhenti sejenak di depan jendela kaca besar yang menghadap ke arah kota. Jauh di bawah, ia bisa melihat sedan hitam Pak Adwan terparkir tepat di depan gerbang utama. Pria itu berdiri di samping mobilnya, mendongak menatap menara yang lampunya padam satu per satu dari atas ke bawah, seolah-olah sedang menyaksikan lilin yang ditiup oleh tangan tak terlihat.
Adella meraba saku hoodie-nya, menggenggam kartu emas yang kini sudah tak berguna. Ia menyadari bahwa Pak Adwan tidak sedang marah. Pria itu sedang mengamati—menunggu untuk melihat bagaimana "mahakaryanya" akan keluar dari labirin kaca yang sedang runtuh ini. Perang ini telah naik ke skala yang tak terbayangkan; bukan lagi soal bertahan hidup, tapi soal siapa yang akan tersisa saat debu kehancuran ini mengendap. Adella mengambil napas dalam, matanya tertuju pada jalur pembuangan sampah di ujung lorong—satu-satunya jalan keluar yang tidak masuk dalam algoritma perhitungan Pak Adwan.