Cikal Bakal Tim Divisi Kasus Dingin
Ini GD setelah GD 1 sebelum GD 2 ( Shea n the gank ). Makanya aku kasih judul Ghost Detective Season 1.5.
Isinya awal tim gabut dibentuk. Masih the o.g tim ( bang Dean, mas Rayyan, mbak Nana, mbak Tikah dan pak Jarot ). Jangan cari mbak Lilis karena belum ada tapi ada awal mula mbak Susi ikutan. Ada mbak Nita juga, ada anomali lainnya ( belum musim Saja Boys versi tuyul ). Masih ada Hoshi dan Bima. Ini masih bersama L, Nyes dan Dendeng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curigation
Ruang Kerja Divisi Kasus Dingin Polda Metro Jaya Jakarta
AKP Dean Thomas melihat layar ponselnya dan tampak mengernyitkan dahinya. "Bu?"
"Ada apa, bang?" tanya Iptu Rayyan yang masih membaca laporan medical check up Anton. Dirinya sampai harus memakai aplikasi kesehatan buat memeriksa semuanya.
"Gue dipanggil 'Bu' sama dok Rahmat," jawab AKP Dean Thomas.
Iptu Rayyan mendongakkan wajahnya. "Bu? Tunggu ... Bang Dean nggak jadi tulang lunak ala bandeng presto kan?"
AKP Dean Thomas menatap sebal ke sahabatnya. "Reseh lu! Tunggu, jangan-jangan pas dokter Westin ke dia kali ya?"
"Bisa jadi bang. Kamuflase lah itu biar nggak dicurigai."
AKP Dean Thomas tampak berpikir. "Kok perasaan aku nggak enak ya, dik."
"Bang, perasaan kamu saban ada kasus selalu tidak enak. Santai aja," kekeh Iptu Rayyan.
"Wajar lah itu dik. Kadang insting aku tidak salah kan?"
Iptu Rayyan tersenyum. "Kalau kamu merasa galau, lihat foto-fotonya Alfie deh. Sudah bisa apa sekarang?"
"Bisa bikin aku dan Fika begadang!"
Iptu Rayyan terbahak.
***
Rumah Siti
"Kenapa bapak dan ibu merasa seperti itu?" tanya Kompol Jarot dengan nada lembut.
Iptu Atikah melirik ke rekannya yang berubah banyak pasca kena tembak oleh tersangka dulu. Kompol Jarot lebih kalem, lebih bijaksana dan tidak ada model gedubrakan macam dulu yang emosian. ( Baca Ghost Detective Season 1 ).
"Soalnya begini pak polisi, Siti itu hanya operasi usus buntu. Masa iya bisa sampai meninggal? Tetangga saya operasi yang sama tapi sampai sekarang tetap hidup! Saya dan bapaknya Siti ini sudah marah sama dokter yang bedah dia! Katanya memang kondisi Siti yang drop! Saya bilang tidak mungkin! Siti itu anaknya sehat walafiat! Dia suka olah raga, hasil check lab semua bagus ...."
"Tunggu bu Akbar," potong Iptu Atikah. "Bisa kami lihat hasil medisnya? Pasti ada kan?"
"Biar saya yang ambilkan Bu Polwan. Saya menyimpan semuanya," jawab Akbar yang kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Pak polisi ... Eh siapa nama bapak dan ibu?" tanya Bu Akbar bingung.
"Saya Jarot dan ini Atikah," jawab Kompol Jarot.
"Begini Pak Jarot dan Bu Atikah, saya memang bodoh. Tidak kuliah tapi lulus SMA. Saya tahu operasi usus buntu itu operasi kecil dan aman. Saya baca semua jurnal di google. Saya juga baca hasil check up Siti dan semua aman. Bahkan kolesterol, tensi, ginjal dan liver bagus! Harusnya kan aman ya?" tanya Bu Akbar dengan wajah sendu.
"Seharusnya Bu. Apa ibu ingat siapa dokter yang mengoperasi Siti?" tanya Kompol Jarot.
"Namanya Dokter ... Duh siapa itu? Macam hotel ... We ... We ...."
"Westin," jawab Akbar yang keluar dari kamar. "Ini bapak dan ibu. Hasil semua medical Siti." Akbar memberikan map itu ke Iptu Atikah.
"Apa Pak Jarot dan Bu Atikah mencurigai dokter Westin?" tanya Bu Akbar kepo.
Kedua perwira itu hanya tersenyum smirk. "Apa ibu juga curiga?"
"Sebab begini pak Jarot, saat Siti meninggal di rumah sakit, dokter Westin memberikan uang duka sebesar seratus juta. Saat itu saya bilang, saya mau Siti kembali ... Jadi uangnya saya tolak!" jawab Bu Akbar.
"Hanya seratus juta?" tanya Iptu Atikah.
"Iya Bu. Tapi beberapa hari kemudian, ada transferan masuk sebesar satu miliar ke rekening bapak. Kami tidak pakai Bu. Bapak akhirnya membuka rekening deposito untuk uang itu. Kami endapkan saja."
Kompol Jarot dan Iptu Atikah saling berpandangan. "Pak, Bu, apakah kami boleh minta ijin membongkar makam Siti?" tanya Kompol Jarot hati-hati.
Kedua orang tua Siti itu tampak terkejut dan mereka saling berpegangan tangan.
"Ke ... kenapa harus dibongkar?" tanya Akbar tidak nyaman.
"Untuk mencari tahu kebenarannya." Kompol Jarot menatap kedua orang tua Siti itu.
Akbar dan istrinya saling berpandangan.
***
RS Bhayangkara
"Jadi kamu bekerja di panti jompo?" tanya dokter Westin saat mereka hendak visite pasien ke dokter Rahmat.
"Benar dok," jawab dokter Rahmat berusaha memasang wajah polos.
"Dimana?"
"Harmony Life. Saya sebenarnya kerja disana karena menggantikan dokter disana yang baru saja menjalani operasi ring jantung." Dokter Rahmat menatap dokter Westin bingung. "Apa ada yang salah?"
"Kamu butuh uang disana?"
"Iya dok. Memang istri saya bekerja tapi saya tidak mau memberikan beban pada Fifi."
"Tapi kan kalian sudah menikah jadi wajar kalau Fifi bantu kamu," ucap dokter Westin.
"Tapi tidak seperti itu konsepnya dok. Fifi tidak keberatan tapi aku wajib mencari pendapatan. Tanggung jawab aku sebagai kepala keluarga," jawab dokter Rahmat.
"Kamu terlalu idealis," cebik dokter Westin.
"Mungkin tapi ... itu memang prinsip saya." Dokter Rahmat tersenyum sopan. Entah mengapa, ada hawa dingin menerpa tengkuknya saat melihat dokter Westin hanya mengangguk.
***
Malam turun perlahan di Panti Jompo Harmoni Life. Lampu-lampu lorong menyala redup, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding bewarna krem itu.
Seorang pria berdiri di depan gerbang, mengenakan jaket gelap dan topi yang menutupi sebagian wajahnya. Dari luar, tempat itu tampak tenang, terlalu tenang. Dia menarik napas pelan, lalu melangkah masuk seolah hanya seorang pengunjung biasa.
Di dalam, suara televisi dari ruang bersama terdengar samar. Beberapa lansia duduk diam, menatap layar tanpa benar-benar memperhatikan. Seorang perawat lewat sambil tersenyum ramah.
“Selamat malam, Pak. Mau menjenguk siapa?” tanyanya.
Pria itu membalas dengan senyum tipis.
“Hanya … melihat-lihat. Tempat ini terlihat nyaman.”
Perawat itu mengangguk, tidak curiga sedikit pun. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Pria itu berjalan menyusuri lorong. Langkahnya pelan, terukur. Matanya bergerak dari satu kamar ke kamar lain, memperhatikan setiap detail, nama di pintu, suara napas dari dalam, bahkan bunyi detak jam dinding.
Ia berhenti di satu kamar. Di dalam, seorang kakek terbaring dengan selimut tipis, matanya setengah terbuka. Nafasnya berat. Di meja kecil samping ranjang, ada foto keluarga yang mulai pudar.
Pria itu masuk tanpa suara. Dia berdiri di samping ranjang, menatap wajah rapuh itu cukup lama. Tidak ada emosi yang jelas, hanya pengamatan dingin, seperti seseorang yang sedang menilai sesuatu.
“Sepi, ya…” gumamnya pelan.
Kakek itu mengerjapkan mata, mencoba fokus.
“Siapa …?”
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia justru melirik ke catatan medis di ujung ranjang, membaca sekilas. Lalu kembali menatap si kakek.
“Tidak ada yang datang menjenguk?” tanyanya dengan suara datar.
Kakek itu menggeleng lemah. "Tidak ada ... Anak-anak seperti membuang aku ...."
Pria itu menghela napas pelan, lalu melangkah mundur. “Tempat ini… penuh dengan orang-orang yang dilupakan.”
Dia keluar dari kamar, melanjutkan langkahnya ke lorong berikutnya. Satu per satu kamar dia lewati. Di dalamnya, ada yang tertidur, ada yang menatap kosong ke langit-langit, ada juga yang berbicara sendiri seolah sedang berbincang dengan masa lalu.
Di setiap pintu, pria itu berhenti sejenak. Melihat. Mencatat. Memilih.
Di ujung lorong, ia berhenti lagi. Kali ini lebih lama. Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya, bukan senyum hangat, melainkan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Dari kejauhan, suara perawat kembali terdengar, memanggil nama pasien dengan lembut. Pria itu menunduk sedikit, lalu berbisik pada dirinya sendiri. “Tempat yang sempurna… tak ada yang benar-benar memperhatikan.”
Lampu di lorong berkedip sesaat dan malam di Harmoni Life terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya.
***
Yuhuuuu up pagi yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
hlang smua???kjam bgt tu orng,ga tkut hkum krma apa y????kl klurganya yg jd krban,dia msih mau mlkukan kjhtn ky gt lg????😠😠😠
dokter Westin dan dokter Arlo haeus berhadapan sama dokter jagal 1 dan dokter jagal 2 ini kayaknya biar diambil organnya sebagai penebus kelakuannya
pntsn mbilnya smp ringsek,yg nmpel ada 10.....tp bgus sih,biar tu pnjht nrima akibtnya....abs ni siap2 bbo d sel pula.....