Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.
Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.
Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Penulis yang Kehilangan Kata
Malam di Surabaya tidak pernah benar-benar sunyi. Dari balik jendela apartemen lantai tujuh, suara klakson yang sesekali menyalak di kejauhan dan dengung pendingin ruangan menjadi musik latar yang statis. Di sudut ruang kerja kecil yang merangkap ruang tengah itu, lampu meja berpendar kekuningan, menyinari sosok Dimas yang tampak sedang bertarung dengan pikirannya sendiri.
Sudah dua jam ia menatap layar laptop yang masih putih bersih. Kursor berkedip-kedip seolah mengejeknya, berdetak seirama dengan detak jantungnya yang mulai gelisah. Sebagai penulis, Dimas terbiasa memuntahkan ribuan kata dalam semalam, namun kali ini ia merasa seperti sumur yang mengering. Writer’s block datang tanpa permendik, mencekik imajinasinya tepat saat tenggat waktu penerbit tinggal menghitung hari.
"Walah, kok buntu tenan rek," gumam Dimas pelan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, memijat pangkal hidungnya yang terasa pegal. Kopi di sampingnya sudah mendingin, meninggalkan ampas yang mengendap di dasar cangkir, persis seperti pikirannya.
Dinara, yang sejak tadi duduk di sofa sembari menekuni buku Hukum Acara Pidana, menyadari kegelisahan suaminya. Ia menutup bukunya pelan, lalu berdiri dan melangkah mendekat. Ia melihat tumpukan kertas draf yang diremas-remas berserakan di bawah meja—pemandangan yang jarang terjadi pada seorang Dimas yang biasanya santai.
"Mas... istirahat dhisik. Kalau dipaksa terus, nanti kepalanya berasap," suara Dinara memecah kesunyian, lembut namun penuh perhatian.
Dimas menoleh, wajahnya tampak kuyu. "Ini lho, Dek. Tokoh utamaku ini mau Mas bikin romantis, tapi kok malah jatuhnya jadi kayak orang jualan obat di pasar. Kata-katanya kaku banget, nggak luwes."
Dinara tersenyum kecil. Ia berdiri di belakang kursi Dimas, lalu perlahan meletakkan kedua tangannya di bahu tegap suaminya. Ia mulai memberikan pijatan ringan, mencoba mengurai ketegangan otot-otot Dimas yang mengeras seperti batu kali.
"Coba tarik napas dulu. Mungkin Mas kurang rileks," ujar Dinara. Jemarinya yang ramping bergerak telaten, menekan titik-titik pegal di leher dan pundak Dimas.
Dimas memejamkan mata, menikmati sensasi hangat dari sentuhan istrinya. "Wah, kalau pijatannya begini terus, Mas bisa-bisa nggak jadi nulis, tapi malah mau tidur saja, Sayang. Enak banget."
"Gimana? Sudah agak mendingan?"
"Sudah, sudah jauh lebih enak. Ternyata istriku selain calon hakim, punya bakat terpendam jadi terapis pijat ya," canda Dimas, mulai kembali ke mode aslinya yang jahil.
Namun, bukan Dimas namanya jika membiarkan suasana romantis bertahan terlalu lama tanpa bumbu kejahilan. Saat Dinara masih fokus memijat, mata Dimas menangkap sebuah bolpen gel hitam yang tergeletak terbuka di atas meja. Sebuah ide jahil melintas di kepalanya lebih cepat daripada ide novelnya.
"Dek, sebentar... itu di pipimu ada apa?" tanya Dimas dengan nada yang sangat serius, membuat Dinara seketika berhenti memijat.
"Hah? Apa, Mas? Ada debu ya?" Dinara mencondongkan wajahnya, mencoba melihat pantulan dirinya di layar laptop yang gelap.
Dengan gerakan kilat yang tak terduga, Dimas meraih bolpen itu dan—sret!—ia menarik garis pendek di pipi kanan Dinara.
"Mas Dimas!" pekik Dinara. Ia segera mundur, menutupi pipinya dengan telapak tangan. "Dibuat apa pipiku? Mas ini lho, orang lagi bantu malah dijahilin!"
Dimas tertawa terpingkal-pingkal sampai kursinya berderit. "Lho, itu tadi tanda tangan Mas, Sayang. Biar semua orang tahu kalau pipi ini sudah ada hak ciptanya. Lagian kamu serius banget, Mas jadi pengen gambar kumis sekalian biar kayak kucing liar di bawah apartemen."
Dinara mendengus sebal, bibirnya mengerucut. Ia meraih tisu basah di atas meja dan menggosok pipinya dengan gemas. "Mas ini beneran ya, nggak bisa diajak serius dikit. Dinara mau bantu malah dikerjain. Wis ah, aku mau tidur saja!"
Melihat Dinara yang berpura-pura merajuk dan hendak beranjak pergi, Dimas segera menangkap pergelangan tangan istrinya. Tawanya mereda, digantikan oleh tatapan yang lebih teduh.
"Eh, eh... mau kemana? Jangan marah toh, Sayang. Mas cuma bercanda biar nggak stres," Dimas menarik lembut tangan Dinara hingga gadis itu kembali berdiri di sampingnya. "Sini sebentar. Mas butuh asisten ide. Temani Mas di sini ya?"
Dinara masih memasang wajah cemberut, namun ia tidak menolak saat Dimas membimbingnya untuk duduk di lantai beralaskan karpet bulu, tepat di samping kursinya. Namun, Dimas punya rencana lain. Ia menarik Dinara agar menyandarkan kepala di pangkuannya.
"Sudah, kamu tidur di sini saja. Mas mau ngetik sambil dijagain calon hakim. Siapa tahu auranya menular, jadi tulisan Mas punya kekuatan hukum yang mengikat pembaca," bisik Dimas lembut.
Dinara akhirnya luluh. Ia memposisikan kepalanya di paha Dimas, menatap layar laptop dari sudut pandang bawah. Posisi ini sangat nyaman, apalagi tangan kiri Dimas mulai bergerak mengelus puncak kepalanya dengan gerakan ritmis yang menenangkan.
Suara ketikan keyboard kembali terdengar, namun kali ini nadanya lebih beraturan, seolah ide-ide yang tadi tersumbat mulai mengalir deras seiring dengan kehadiran Dinara di dekatnya. Dimas mulai mengetik paragraf demi paragraf. Sesekali ia berhenti sejenak, menunduk untuk menatap wajah istrinya yang mulai memejamkan mata.
Melihat Dinara yang tampak tenang dalam tidurnya, Dimas tidak bisa menahan diri. Ia membungkuk sedikit, lalu mengecup pipi kiri Dinara yang tadi bersih dari coretan bolpen. Kecupan yang lama dan penuh rasa syukur.
"Makasih ya, Dek. Sudah mau sabar sama Mas yang aneh ini," bisik Dimas sangat pelan, nyaris tak terdengar.
Tangan Dimas terus bergerak, dari mengelus jilbab hingga menyentuh pipi Dinara yang halus dengan punggung jarinya. Ia teringat kembali masa-masa di Blitar, saat mereka masih seperti dua orang asing yang dipaksa berbagi atap. Kini, di Surabaya, di apartemen kecil ini, ia merasa telah menemukan dunianya yang paling utuh.
Dinara, dalam setengah tidurnya, merasakan kehangatan itu. Ia tidak benar-benar terlelap, ia bisa merasakan setiap kecupan singkat dan usapan lembut suaminya di pipi dan dahinya. Rasanya damai. Kejahilan Dimas tadi seolah menguap, digantikan oleh kepastian bahwa ia dicintai dengan cara yang sangat tulus.
Malam semakin larut. Ketikan Dimas melambat, namun ia berhasil menyelesaikan satu bab krusial dalam novelnya. Ia tidak ingin beranjak. Ia membiarkan laptopnya menyala, sementara matanya terus tertuju pada sosok di pangkuannya. Baginya, tidak ada draf novel yang lebih indah daripada melihat Dinara tertidur tenang di bawah penjagaannya.
Sebelum mematikan lampu meja, Dimas sekali lagi mencium dahi istrinya, cukup lama. Sebuah doa tanpa kata ia panjatkan, meminta agar momen seperti ini tidak pernah berakhir. Surabaya di luar sana mungkin tetap bising dan keras, namun di dalam ruangan ini, hanya ada kehangatan yang tak mampu dilukiskan oleh ribuan kata dalam novel manapun.
"Sakinah itu ternyata bukan soal nggak ada masalah, tapi soal siapa yang ada di samping kita pas kita lagi buntu," gumam Dimas pelan.
Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, memejamkan mata sejenak sambil tetap mengelus tangan Dinara yang melingkar di pahanya. Di bawah pendar cahaya bulan yang menembus celah gorden, dua jiwa itu tertidur dalam harmoni, menanti pagi Surabaya yang akan kembali menantang mereka dengan kemacetan dan tugas kuliah, namun mereka tahu, mereka akan selalu punya jalan untuk pulang ke satu sama lain.