NovelToon NovelToon
Milik Sang Kapten

Milik Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Menyembunyikan Identitas / Romansa
Popularitas:70.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Dulu ia bersembunyi di balik masker karena dihina, kini ia berdiri di puncak dunia karena luka."

​Karline Dharmawijaya memulai segalanya sebagai gadis SMA yang pemalu dan selalu menyembunyikan wajah di balik masker. Ia menjadi sasaran empuk keangkuhan Dean, cowok populer yang menghinanya sebagai "kasta terendah" sebelum akhirnya terobsesi saat melihat kecantikan asli Karline.
​Namun, cinta masa SMA itu hanyalah racun yang berujung pengkhianatan pahit.
​Kini, Karline bukan lagi gadis lemah itu. Ia melarikan diri ke Paris, bertransformasi menjadi calon chef profesional yang dingin dan tak tersentuh. Di Le Cordon Bleu, ia harus bertarung melawan sabotase rekan kampus dan ujian mematikan dari koki legendaris untuk membersihkan nama besar ayahnya. Di saat ia hampir mencapai mimpinya, Dean kembali muncul dengan sejuta penyesalan di tengah hidupnya yang mulai hancur.

​Akankah Karline kembali pada luka lamanya, atau terus melangkah menuju masa depan yang jauh lebih bersinar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Permintaan Maaf di Balik Kabut Kebencian

Pagi itu, udara di SMA Garuda Kencana terasa sedikit lembap sisa hujan semalam. Karline baru saja turun dari mobilnya di depan gerbang sekolah. Tanpa atribut penyamaran yang lama, ia kini menjadi pusat perhatian setiap pagi. Rambutnya dikuncir kuda tinggi, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih, memberikan kesan segar sekaligus tegas.

​Namun, baru saja ia melangkah beberapa meter dari gerbang, sebuah tangan besar dan kokoh tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya. Karline tersentak. Ia hampir saja melayangkan tasnya untuk memukul sebelum menyadari siapa pelakunya.

​"Ikut gue sebentar," ucap Dean dengan suara rendah namun penuh penekanan.

​"Lepasin! Apa-apaan sih!" Karline memberontak, namun Dean tidak peduli dengan tatapan penasaran para siswa yang berlalu lalang. Ia menarik Karline dengan langkah lebar menuju taman sekolah yang terletak di area belakang gedung perpustakaan tempat yang cukup sepi di pagi hari seperti ini.

​Sesampainya di sana, di bawah naungan pohon beringin tua yang rimbun, Dean melepaskan genggamannya. Karline segera mundur beberapa langkah, mengusap pergelangan tangannya yang memerah dengan tatapan yang sangat tidak suka.

​"Mau main hakim sendiri lagi? Atau mau nambah koleksi SP 1 kamu?" tanya Karline ketus.

​Dean terdiam sejenak. Ia melepaskan napas panjang, mencoba mengatur detak jantungnya yang tidak beraturan. Wajahnya yang biasa angkuh kini tampak lelah, ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, seolah ia tidak tidur nyenyak setelah pertemuan tak terduga di mansionnya kemarin.

​"Karline, dengerin gue dulu," suara Dean kali ini terdengar berbeda. Tidak ada nada ejekan, tidak ada kesombongan. "Soal kejadian di belakang sekolah tempo hari... soal kata-kata gue yang... yang keterlaluan itu. Gue bener-bener minta maaf."

​Dean melangkah maju sedikit, mencoba mencari kontak mata dengan Karline. "Gue tahu ucapan gue nggak bisa ditarik lagi. Gue tahu gue udah menghina harga diri lo dengan cara yang paling rendah. Tapi jujur, itu cuma karena gue emosi, gue egois karena jabatan gue hampir dicopot. Gue nggak bermaksud beneran mikir kayak gitu tentang lo."

​Karline diam mendengarkan. Ia menatap Dean dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan ekspresi yang sulit diartikan. Setelah Dean menyelesaikan penjelasan panjang lebarnya yang terdengar sangat emosional, Karline justru tersenyum hambar. Senyum yang lebih menyakitkan daripada sebuah tamparan.

​"Sudah selesai bicaranya, Kak?" tanya Karline tenang.

​"Karl, gue serius..."

​"Aku tahu kamu serius," potong Karline dengan nada yang menusuk. "Kamu serius karena sekarang posisimu terancam. Kamu serius minta maaf karena satu sekolah hampir membencimu, karena teman-teman sekelasku mengancam akan menurunkanmu dari jabatan kapten voli, dan karena kamu baru tahu siapa keluargaku, kan?"

​Karline melangkah mendekat, menatap lurus ke dalam mata cokelat tua milik Dean yang tampak goyah. "Permintaan maafmu itu bukan karena kamu merasa bersalah padaku. Kamu hanya sedang melakukan manajemen kerusakan. Kamu takut citramu sebagai 'Pangeran Sekolah' hancur total karena ulahmu sendiri. Kamu hanya memanfaatkan momen ini supaya orang-orang berhenti memusuhimu."

​"Nggak, Karl! Lo salah paham! Ini bukan soal itu!" bantah Dean dengan nada putus asa.

​"Pria sepertimu tidak cocok untuk dimaafkan, Deandra," ucap Karline, kali ini tanpa menggunakan embel-embel 'Kak'. "Kamu pikir dengan kata 'maaf', luka yang kamu buat di hatiku bisa hilang? Kamu sudah melabeli aku dengan sebutan yang paling menjijikkan bagi seorang perempuan. Dan sekarang kamu berharap aku percaya kamu tulus?"

​Karline tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat dingin di tengah sunyinya taman. "Bagi aku, kamu tetaplah pria bajingan yang sombong. Kamu hanya peduli pada dirimu sendiri. Jangan pernah berharap aku akan percaya pada setiap kata yang keluar dari mulut manismu itu."

​Dean tertegun. Ia merasa setiap kata yang diucapkan Karline seperti belati yang menusuk dadanya satu per satu. Ia ingin berteriak bahwa ia benar-benar menyesal, bahwa bayangan wajah menangis Karline terus menghantuinya setiap malam, tapi ia sadar bahwa di mata Karline, ia sudah menjadi sosok monster yang tidak memiliki nilai kepercayaan sedikit pun.

​"Jangan pernah bawa-bawa namaku dalam usaha memperbaiki reputasimu," lanjut Karline sambil menyampirkan tasnya lebih erat. "Urus saja hidupmu yang membosankan itu, Kapten."

​Dengan sentakan kasar, Karline memutar tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan Dean sendirian di taman itu. Dean tidak mencoba mengejarnya kali ini. Ia hanya berdiri mematung, mengepalkan tangannya dengan sangat erat hingga kuku-kukunya memutih dan buku jarinya bergetar.

​Ia menatap punggung Karline yang semakin menjauh dengan rasa sesak yang tak tertahankan. Sepertinya, Karline sudah memandang benci teramat dalam padanya, sebuah kebencian yang sudah mendarah daging hingga tak ada lagi ruang untuk setitik pun kepercayaan. Dean sadar, meskipun ia memberikan seluruh dunianya sekarang, Karline mungkin tidak akan pernah percaya lagi padanya.

​Di kejauhan, bel sekolah berbunyi, menandakan jam pelajaran dimulai. Namun bagi Dean, dunia seolah berhenti di bawah pohon beringin itu, menyisakan dirinya yang tenggelam dalam penyesalan yang terlambat.

1
Wifasha
hhmm..smkin rumit ntar kmna arh ny
brawijaya Viloid
jadi tertarik sm david 🤭
Anonim
makin seru ni
Anonim
mantap bgt ceritanya g bisa ditebak! 😍
Rita Rita
maka nya De jadi orang itu punya batasan, percaya diri itu penting tapi jangan ego dan gede rasa di gedein. kan nyungsep juga akhirnya diri mu De,,, karline juga butuh perhatian,,
Anonim
kelanjutannya gimana 🥲
Anonim
jadinya sama" melupakan diri 🥲
Anonim
lanjut 😎
Qaisaa Nazarudin
Kompliknya terlalu Rumit dan Bertele-tele..
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani: Halo kak, salam kenal. Aku penulis novel baru di NT berjudul "Chef Do". Kalau tertarik boleh mampir ya kak, kasih saran utk penulis novel nuansa Korsel baru seperti aku 👩🏻‍🍳makasih kak🙏
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Alaahhh yang ada hujung2 nya pasti kamu akan LULUH lagi dengan DRAMA PENYESALAN DAN KATA MAAF..KAMU KAN EMANG OGEB BIN BODOH DARI DULU..
Qaisaa Nazarudin
Nah itu aku SETUJU..
Qaisaa Nazarudin
BUKAN CINTA DARI DULU ITU CUMAN RASA KEKAGUMAN SESAAT DAN OBSESI DOANG YA..INGAT CINTA DAN OBSESI ITU BEDA TIPIS..
Qaisaa Nazarudin
Dari awal juga aku gak suka Karline bisa CEPAT Luluh setelah perlakuan Dean,Rio dan Raka dulu ke Karline saat SMA,Karline aja yg Bego kebangetan,Rasain tuh..
Qaisaa Nazarudin
Nah kan,untung aja aku baca ya loncat2 ,Sesuai dugaan ku Karline bukan bukanlah cewek idola ku, peran MC Cewek nya yg gak sesuai harapan..
Qaisaa Nazarudin
Dasar Karline aja yang Ogeb,Sudah dihina2 jadi simpanan om om oleh Dean,dituduh macam2 oleh Dean, Rio dan Raka, Tapi hanya dengan kata MAAF dan PENYESALAN langsung aja Luluh,Ku pikir Alur nya akan putar arah dari novel2 yg lain yg udah pernah ku baca,Eh ternyata sama aja.. Setelah baca sinopsis ku fikir gak segitunya cacian dan hinaan dari Peran utama cowoknya makanya aku langsung tertarik untuk bacanya.. Tapi setelah baca aku langsung kecewa karena PERAN Cewek nya yg awal2 Tangguh dan bisa melawan dari segala arah,tiba2 langsung MELEMPEM dan seakan2 gak bisa apa2 kalau gak ada Dean.Kecewa deh gak sesuai Ekspektasi..🙏🙏
Ra H Fadillah: Terima kasih atas kritik dan masukannya, Kak 🙏
Ikuti terus ceritanya ya, karena perjalanan Karline masih panjang dan belum semuanya terungkap 😊
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Ckk di gombalin dikit aja udah luluh 🙄🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Apaan nih si nenek??
Qaisaa Nazarudin
Satu kata SKAKMATT buat si PECUNDANG..🫵🫵🫵👎👎👎👎
Qaisaa Nazarudin
Aelah gesit BANGET dari kemaren gak ada habis2 nya minta maaf,Karena apa?? Karena Karline itu CANTIK,PINTER, Coba kalau identintas nya belum kebuka,apa Dean akan segesit itu utk minta maaf?? 🙄🙄😏😏
Qaisaa Nazarudin
Jangan bilang ntar Ortu nya Dean punya pikiran buat JODOHIN mereka,Maka disitu Dean MENANG tanpa BERJUANG .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!