Arkan Alesandro Knight adalah seorang King Mafia dari organisasi Black Eclipse yang memiliki reputasi mematikan, namun ia menyimpan satu rahasia konyol: ia menderita Mysophobia akut. Baginya, kuman lebih berbahaya daripada peluru. Hidupnya yang steril dan kaku berubah total ketika ia terjebak dalam sebuah perjodohan dengan gadis pilihan ayahnya, Evelyn Valentina Grant.
Evelyn tampil sebagai sosok "My Nerdy Wife"—gadis culun dengan kacamata tebal, daster bunga-bunga yang aneh, dan sifat ceroboh yang luar biasa. Namun, di balik penyamaran konyolnya, Evelyn sebenarnya adalah Queen EVG, seorang peretas kelas dunia dan pemimpin organisasi spionase yang sangat tangguh. Ia sengaja berakting bodoh untuk melindungi identitasnya sekaligus memata-matai Arkan.
penasaran dengan cerita mereka jangan lupa mampir yapp🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Pagi itu, kedamaian di kediaman Arkan Alesandro Knight hancur berkeping-keping. Bukan oleh ledakan bom atau serangan peretas, melainkan oleh suara derit ban mobil sport berwarna merah menyala yang mengerem mendadak di depan teras, diikuti suara musik pop yang memekakkan telinga.
Arkan, yang sedang menikmati kopi paginya sambil membaca laporan bursa saham di tablet yang sudah disterilkan, hampir saja menyemprotkan seluruh isi botol hand sanitizer-nya ke udara. Bahunya menegang. Ia mengenali suara klakson itu. Itu adalah suara klakson yang lebih ia takuti daripada sirine polisi.
"Oh, tidak," gumam Arkan, wajahnya memucat.
Pintu depan terbuka lebar tanpa diketuk. Seorang gadis muda dengan rambut pirang stroberi yang dikuncir kuda tinggi, mengenakan jaket kulit oversized dan celana pendek denim, melompat masuk ke dalam ruang tamu yang suci dan bersih itu. Ia menyeret sebuah koper besar yang rodanya tampak penuh lumpur sisa hujan semalam.
"SURPRISE!!! KAKAKKU YANG HIGIENIS, ADIKMU YANG PALING CANTIK SUDAH PULANG DARI PARIS!" teriak Alana Clarissa Knight, atau yang akrab dipanggil Lana.
Lana berlari menerjang Arkan yang masih mematung di kursi makan. "KAK ARKAN! AKU KANGEN BANGET!"
"LANA! STOP! RADIUS SATU METER!" teriak Arkan panik, ia melompat dari kursinya dan berlari ke balik meja makan, menjadikan meja kayu jati itu sebagai tameng. "Kau membawa kuman internasional! Kau baru saja dari bandara! Bandara adalah tempat pertukaran bakteri terbesar di dunia!"
Lana mencibir, ia berhenti tepat di depan meja. "Ih, Kakak masih saja aneh. Aku ini baru pulang bawa oleh-oleh, bukan membawa wabah pes." Lana menoleh ke arah tangga dan melihat sesosok gadis yang tampak bingung berdiri di sana.
Evelyn, yang baru saja turun dengan mengenakan daster longgar bermotif bunga matahari dan kacamata tebalnya, terdiam menatap kekacauan di ruang tamu. Ia memegang sebuah buku berjudul "Fisika Kuantum untuk Pemula" yang sebenarnya hanya sampulnya saja, isinya adalah panduan merakit bom asap mini.
"E-eh... ada tamu ya, Tuan Arkan?" tanya Evelyn dengan suara cemprengnya yang khas.
Mata Lana berbinar. Ia mengabaikan Arkan dan langsung menghampiri Evelyn. "Wah! Jadi ini Kak Evelyn? Kakak iparku yang katanya 'unik' itu?"
Evelyn mundur satu langkah, berpura-pura takut. "I-iya... saya Eve. Kamu... siapa ya? Apa kamu kurir paket yang tersesat?"
Lana tertawa terbahak-bahak, ia langsung merangkul bahu Evelyn tanpa permisi. Evelyn menegang. Gadis ini... energinya terlalu besar. Dan dia tidak takut kotor? batin Evelyn.
"Aku Lana! Adik kesayangan Kak Arkan yang paling normal di keluarga ini. Astaga, Kak Eve... kenapa bajumu seperti gorden rumah nenek?" Lana memegang kain daster Evelyn dengan wajah ngeri. "Paris akan menangis kalau melihat gaya berpakaianmu ini."
Arkan muncul dari balik meja sambil menyemprotkan disinfektan ke udara bekas tempat Lana berdiri tadi. "Lana, lepaskan dia! Kau bisa mengontaminasi sistem imunnya yang lemah! Evelyn itu... dia rapuh, seperti kaca yang mudah pecah."
Evelyn hanya bisa tersenyum kaku. Rapuh? Tuan Arkan, aku bisa mematahkan leher lima orang sambil menutup mata, tapi terima kasih atas kepedulianmu pada imajinasi rapuh itu.
Satu jam kemudian, suasana di meja makan menjadi sangat tidak biasa. Lana duduk dengan santai sambil mengangkat kaki ke kursi, memakan keripik singkong yang bumbunya berjatuhan ke lantai. Arkan duduk di ujung meja, tampak seperti orang yang sedang menghadapi sakaratul maut setiap kali melihat remah keripik Lana menyentuh ubin.
"Jadi, Kak Eve, Kak Arkan memperlakukanmu dengan baik tidak?" tanya Lana sambil mengunyah dengan keras. "Dia tidak menyemprotmu dengan alkohol sebelum tidur, kan?"
Evelyn melirik Arkan yang sedang sibuk mengelap gagang sendoknya dengan tisu antiseptik. "Tuan Arkan sangat baik, Lana. Dia... sangat peduli pada kesehatan Eve. Kemarin saja Eve disuruh mandi pakai sabun antiseptik tiga kali sehari."
Lana mendengus. "Dia itu gila kuman. Tapi tenang saja, Kak. Selama aku di sini, aku akan membawamu keluar dari penjara steril ini. Malam ini, kita akan pergi ke *Night Market* di pusat kota! Ada festival makanan pinggir jalan!"
Srak!
Sendok Arkan terjatuh ke piring. "Tidak boleh! Ke pasar malam? Kau ingin membunuh istrimu? Di sana ada debu, asap kendaraan, dan orang-orang yang berkeringat saling bersenggolan! Itu adalah neraka bagi pori-pori manusia!"
Lana menjulurkan lidahnya pada Arkan. "Kak Arkan yang membosankan! Kak Eve butuh udara segar, bukan udara dari air purifier terus-menerus. Ayo Kak Eve, kita pergi ya? Nanti aku dandanin Kakak biar tidak culun-culun amat."
Evelyn melihat kesempatan. Pasar malam adalah tempat yang bagus untuk melakukan transaksi informasi dengan Edward secara rahasia. Kerumunan adalah tempat persembunyian terbaik bagi seorang mafia.
"Boleh ya, Tuan Arkan? Eve kepingin makan gulali yang warnanya merah muda menyala itu," ucap Evelyn dengan mata berbinar-binar penuh harapan palsu.
Arkan menatap mata Evelyn di balik kacamata tebal itu. Ia melihat keinginan yang besar, dan entah kenapa, ia tidak sanggup menolak. Tapi membayangkan istrinya yang "polos" berada di tengah pasar malam yang kotor membuatnya mual.
"Baik," ucap Arkan akhirnya. "Tapi dengan satu syarat."
"Apa?" tanya Lana dan Evelyn serentak.
"Aku ikut. Dan kita akan membawa satu mobil khusus berisi peralatan sterilisasi darurat."
Malam harinya, Pasar Malam sangat riuh. Lampu-lampu neon warna-warni menghiasi setiap sudut. Bau sate bakar, arum manis, dan gorengan bercampur di udara.
Arkan berjalan di belakang Lana dan Evelyn dengan penampilan yang sangat mencolok: ia memakai trench coat panjang berwarna krem, masker medis dua lapis, sarung tangan hitam, dan kacamata hitam di malam hari. Tangannya tidak pernah lepas dari botol semprotan yang ia simpan di saku. Setiap ada orang yang berpapasan terlalu dekat, Arkan akan bergeser secara akrobatik seolah-olah sedang menghindari peluru.
"Kak Arkan, berhentilah bertingkah seperti agen rahasia yang sedang melacak virus mematikan!" keluh Lana.
Evelyn, yang kini didandani Lana dengan jaket denim kebesaran dan topi bucket (untuk menutupi sebagian wajahnya), diam-diam mengamati sekitar. Ia melihat sosok pria dengan jaket hoodie abu-abu di dekat penjual martabak. Itu Edward.
"Lana, Tuan Arkan... Eve mau beli air minum di sana sebentar ya," pamit Evelyn.
"Aku temani!" sahut Arkan cepat.
"Enggak usah, Tuan! Itu dekat sekali, Tuan di sini saja jaga Lana, lihat itu... Lana mau beli cilok yang abangnya tidak pakai sarung tangan!" Evelyn menunjuk ke arah gerobak cilok di seberang.
Arkan langsung menoleh dan berteriak horor, "LANA! JANGAN SENTUH CILOK ITU! ITU ADALAH BOLA-BOLA BAKTERI!"
Saat Arkan sibuk menceramahi Lana tentang bahaya saus sambal curah, Evelyn bergerak cepat masuk ke kerumunan. Dalam sekejap, gaya jalannya yang ceroboh berubah menjadi tegak dan efisien. Ia menghampiri Edward.
"Laporan," bisik Evelyn sambil pura-pura mengantre minum.
"Queen, faksi Sebastian sudah berada di pasar ini. Mereka tahu Arkan akan datang. Mereka berencana menyabotase generator listrik pasar ini untuk menciptakan kerusuhan dan menculik Arkan saat dia terkena serangan panik," lapor Edward cepat.
Mata Evelyn berkilat tajam. "Jam berapa?"
"Lima menit lagi."
"Siapkan tim di area parkir belakang. Aku yang akan menangani generatornya. Pastikan Arkan tidak melihatku."
Evelyn kembali ke arah Arkan tepat saat Arkan berhasil merampas cilok dari tangan Lana dan membuangnya ke tempat sampah dengan dramatis.
"Eve! Kau lama sekali! Ayo kita pulang, tempat ini terlalu berbahaya bagi kesehatan mental dan fisik!" ajak Arkan yang sudah mulai berkeringat dingin karena orang semakin ramai.
Tiba-tiba... JEG!
Seluruh lampu di pasar malam padam total. Kegelapan menyergap. Suara teriakan panik mulai terdengar dari kerumunan.
Arkan membeku. Napasnya mulai pendek. Trauma kerumunannya bangkit. Di kegelapan, ia merasa ribuan tangan tak terlihat sedang berusaha menyentuhnya. Ia merasa kotor, sesak, dan tercekik.
"Lana... Evelyn..." suara Arkan bergetar.
Lana ikut panik. "Kak Arkan?! Kakak di mana?!"
Di tengah kegelapan itu, Evelyn tidak panik. Ia melihat dua orang pria berpakaian hitam merayap mendekati Arkan dari arah belakang. Mereka memegang sapu tangan yang sudah dibasahi obat bius.
Evelyn tersenyum miring. Ia melepaskan kacamata tebalnya dan menyelipkannya ke saku.
"Lana, jaga Tuan Arkan. Jangan lepaskan tangannya," ucap Evelyn dengan suara yang sangat tenang dan dalam—suara Queen Mafia.
Sebelum Lana sempat bertanya, Evelyn sudah menghilang ke dalam kegelapan. Dengan gerakan seperti hantu, ia muncul di belakang kedua pria berbaju hitam tadi.
Bugh! Plak!
Dua pukulan presisi di tengkuk membuat mereka tumbang tanpa suara. Evelyn kemudian berlari menuju kotak generator pusat. Di sana, ia menemukan seorang pria sedang mencoba memotong kabel utama.
Evelyn melakukan tendangan memutar yang mengenai rahang pria itu hingga ia terpental menabrak trafo. Dengan cepat, Evelyn menyambungkan kembali sekring yang dilepas.
Lampu kembali menyala dalam waktu kurang dari tiga puluh detik.
Saat lampu menyala, Arkan masih terduduk lemas di tanah, memejamkan mata sambil memeluk botol disinfektannya dengan erat. Lana sedang berdiri di depannya, tampak bingung.
Evelyn muncul dari balik kerumunan sambil berlari kecil, kembali mengenakan kacamata tebalnya dan memasang wajah ketakutan. "Hwaaaa! Tuan Arkan! Tadi gelap sekali! Eve hampir menabrak gerobak martabak!"
Arkan membuka matanya. Ia melihat Evelyn yang tampak berantakan, bajunya terkena noda cokelat (yang sebenarnya adalah darah musuh yang disamarkannya sebagai selai martabak).
Arkan berdiri dengan sisa kekuatannya, ia tidak peduli lagi dengan kuman. Ia langsung menarik tangan Evelyn—melanggar radius satu meter—dan menariknya pergi dari pasar itu.
"Kita pulang. Sekarang," ucap Arkan tegas.
Di dalam mobil, Lana diam saja, ia menatap kakaknya dan kakak iparnya bergantian. Lana melihat sesuatu yang aneh. Ia melihat tangan Evelyn yang terluka sedikit di bagian buku jari—luka yang hanya didapatkan jika seseorang baru saja memberikan pukulan keras.
Lana tersenyum penuh arti di sudut bibirnya. Kak iparku ini... sepertinya jauh lebih menarik daripada gorden rumah nenek, batin Lana.
Sementara itu, Arkan terus memegang tangan Evelyn erat-erat sepanjang jalan, seolah-olah jika ia melepaskannya, kegelapan akan kembali menelan mereka. Ia tidak sadar, bahwa kuman yang paling berbahaya di hidupnya justru sedang duduk manis di sampingnya sambil pura-pura takut pada hantu listrik.