NovelToon NovelToon
Zayn'S Obsession

Zayn'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ValerieKalea

Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retak yang Disengaja

Pagi datang dengan suasana yang berbeda bagi Aurora. Bukan karena kejadian semalam saja, tapi karena hari ini ia sengaja memilih jalan yang lain. Ia tidak menunggu Rayden. Tidak juga bersiap untuk percakapan yang sama. Hari ini, ia memilih Sheila.

Mobil Sheila berhenti di depan rumah tepat waktu. Aurora langsung masuk tanpa banyak basa-basi. Wajahnya terlihat lebih tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang belum selesai.

Sheila melirik sekilas, “Kenapa kamu? Kabur ya dari Rayden?”

Aurora menghela napas pelan, “Ya gimana, aku lagi nggak mau ditanya soal nikah lagi.”

Sheila mengangguk paham, “Berarti dia masih bahas itu?”

Aurora menatap ke depan, “Dia keliatan serius banget. Bulan depan katanya. Tanpa resepsi juga nggak apa-apa, yang penting sah.”

Sheila mengangkat alis, “Cepet banget.”

Aurora mengangguk kecil, “Aku belum siap, Sheil.”

Mobil melaju perlahan, membelah jalan pagi yang mulai ramai.

“Aku masih mau fokus kerja. Umurku juga belum tiga puluh. Nggak harus buru-buru kan?” lanjut Aurora pelan.

Sheila mengangguk tanpa ragu, “Banget. Nikah itu bukan lomba.”

Aurora tersenyum tipis, tapi tidak sepenuhnya lega, “Tapi aku sayang sama dia. Itu yang bikin aku bingung.”

Sheila meliriknya lagi, kali ini lebih serius, “Ya ngomong aja. Jujur gitu.”

Aurora menggeleng pelan, “Aku ada niatan mau gitu, tapi takut nyakitin dia.”

“Lebih sakit kalau kamu maksa diri sendiri” balas Sheila santai.

Aurora diam. Kata-kata itu masuk, tapi belum sepenuhnya ia terima.

Sheila tidak melanjutkan. Ia tahu, Aurora butuh waktu.

Beberapa detik hening, lalu Aurora tiba-tiba menoleh, “Ngomong-ngomong…”

Sheila langsung curiga, “Apa?”

Aurora menyipitkan mata, “Kemarin kamu sakit beneran atau cuma shock?”

Sheila langsung cengengesan, “Ya, sedikit dua-duanya.”

Aurora menahan tawa, “Lebih banyak kagetnya ya?”

Sheila mengangguk tanpa malu, “Aku masih kebayang pistolnya, Ra.”

Aurora menghela napas santai, “Aku yang diincer aja biasa aja.”

Sheila langsung menoleh cepat, “Ya itu kamu, bukan aku!”

Aurora tertawa kecil.

Sheila menyipitkan mata, lalu berkata pelan, “Lagipula kamu santai karena ada yang selalu jagain kamu.”

Aurora mengernyit, “Jagain aku? Maksud kamu?”

Sheila menyengir tipis, “Zayn.”

Aurora langsung memalingkan wajah, “Apaan sih. Nggak nyambung.”

Sheila hanya tersenyum tanpa membalas. Tapi tatapannya jelas mengatakan sesuatu.

Percakapan itu berhenti begitu mobil memasuki area kantor.

Mereka turun bersama. Langkah mereka kembali profesional. Seolah semua yang dibicarakan tadi tidak pernah ada.

Di dalam ruangan, Zayn sudah duduk di kursinya. Tangannya memegang ponsel.

“Cari sekretaris Arkana Group. Detail lengkap. Identitas, alamat, nomor” ucapnya singkat.

Di seberang, Evan hanya menjawab, “Siap.”

Telepon ditutup.

Tatapan Zayn kembali datar. Tapi pikirannya sudah jauh melangkah.

Waktu bergerak cepat hingga mendekati pukul sembilan.

Zayn keluar dari ruangannya, membawa satu map berisi proposal. Langkahnya langsung menuju meja Aurora.

“Siap berangkat” ucap Zayn.

Aurora langsung berdiri, membawa buku kecil dan bolpoin di tangannya.

Mereka berjalan tanpa banyak bicara.

Di dalam mobil, seperti biasa, hening. Hanya suara mesin dan jalan yang menemani.

Velora Resto menyambut mereka dengan suasana elegan. Pintu kaca besar, interior hangat, dan aroma kopi yang samar.

Arkana dan sekretarisnya sudah menunggu.

“Zayn” sapa Arkana.

Zayn mengangguk singkat.

“Ini Hasan, sekretaris saya” lanjut Arkana.

Aurora mengangguk sopan, “Aurora.”

Mereka duduk.

Pembicaraan dimulai dengan formal. Tentang potensi kerja sama, distribusi, dan pengembangan bisnis.

Aurora mencatat dengan teliti.

Beberapa poin penting ia tulis seperti jadwal meeting lanjutan di kantor Arkana Group, dokumen legal yang harus disiapkan, proyeksi keuntungan dua belah pihak, serta strategi pengembangan jangka panjang.

Semua berjalan lancar.

Sampai satu momen kecil terjadi.

Aurora mengambil minum, tangannya tanpa sengaja menyenggol bolpoinnya hingga jatuh.

Ia sedikit terkejut, lalu menunduk untuk mengambilnya.

Dan di saat yang sama, Zayn tanpa suara, menutup sudut meja dengan tangannya.

Gerakan kecil, cepat, dan nyaris tidak terlihat.

Aurora yang sudah bangkit dan melihat itu. Ia terdiam sesaat.

Ada sesuatu yang aneh. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Namun ia langsung mengalihkan pikirannya, “Cuma reflek, gak lebih” batinnya.

Ia kembali duduk dan melanjutkan mencatat.

Pertemuan berakhir dengan lancar. Mereka keluar bersama. Dan kembali ke kantor masing-masing.

Di dalam mobil, Aurora tidak banyak bicara. Tapi pikirannya tidak diam. Ia masih mengingat tentang gerakan kecil itu, tentang cara Zayn selalu muncul, dan tentang kata-kata Sheila.

“Mungkin…” batin Aurora.

Ia menggeleng pelan, “Nggak mungkin” batinnya.

Sesampainya di kantor, mereka kembali ke rutinitas. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Sore datang.

Aurora pulang bersama Sheila seperti janji mereka.

Sementara itu, di dalam ruangan Zayn, telepon kembali terangkat.

“Namanya Hasan Pradipta. Alamatnya di Jalan Melati Indah Blok C No. 8” ucap Evan.

Zayn tersenyum tipis, “Bagus.”

“Nomornya saya kirim” lanjut Evan.

“Cepat” balas Zayn.

Beberapa menit kemudian, Zayn sudah dalam perjalanan.

Mobilnya berhenti di depan sebuah rumah.

Dan kebetulan, Hasan baru saja keluar dari garasi.

Ia terlihat kaget melihat kedatangan Zayn, “Pak Zayn?”

Zayn turun dari mobil, “Saya butuh bantuan.”

Hasan terlihat ragu, tapi tetap mendekat.

Zayn langsung menjelaskan maksudnya tentang rencana menukar berkas.

Hasan langsung menggeleng, “Maaf, Pak. Saya nggak bisa.”

Zayn tidak marah, “Kamu butuh berapa. Katakan saja.”

Hasan diam sebentar, sebelum akhirnya menjawab pelan, “Tiga puluh juta.”

Hening menyelimuti mereka beberapa saat.

Hasan menelan ludah.

Beberapa detik kemudian, Zayn mengangguk pelan, “Baik.”

Berkas berpindah tangan. Kesepakatan terjadi.

Zayn berjalan kembali ke arah mobilnya. Sebelum ia masuk ke mobilnya ia menoleh ke Hasan, “Hubungi saya setelah tugasmu selesai. Dan ingat harus bersih.”

Hasan hanya menjawabnya dengan anggukan.

Sedangkan Zayn masuk ke mobilnya dan kembali ke rumahnya.

Malam kembali berjalan. Dan semuanya bergerak menuju satu arah.

Pagi berikutnya.

Aurora keluar rumah, dan mendapati Zayn sudah menunggu, bukan Sheila.

Aurora mengernyit, “Pak?”

“Saya antar” jawab Zayn.

Aurora ragu, “Saya udah janji sama Sheila.”

“Kalau nunggu, kamu telat. Hari ini meeting.”

Aurora terdiam. Dan akhirnya mengangguk.

Perjalanan kembali hening.

Setibanya di kantor, semuanya berjalan cepat.

Lima belas menit kemudian, telepon Zayn berbunyi.

“Sudah saya tukar. Berkasnya di meja saya” suara Hasan.

Zayn menjawab singkat, “Buang.”

Telepon ditutup, uang berpindah, dan rencana berjalan sesuai harapan Zayn.

Jam mendekati delapan.

Zayn keluar, “Siap-siap.”

Aurora mengangguk, membawa berkas yang dibutuhkan.

Beberapa staf ikut seperti tim legal, satu manajer operasional, dan Aurora yang sebagai sekretaris mencatat serta mendokumentasikan rapat.

Mereka akhirnya tiba di gedung perusahaan Arkana Group.

Gedung tinggi dengan kaca mengkilap, logo besar terpampang di depan.

Hasan mengantarkan mereka ke lift yang akan membawa mereka ke lantai tiga, tempat ruang rapat berada.

Pintu lift terbuka setelah berada di lantai tiga. Mereka keluar dari lift dan mengikuti langkah Hasan ke ruang rapat.

Ruang rapat itu luas, modern, dan sunyi.

Pertemuan dimulai.

Rayden berdiri di depan, mempresentasikan. Grafik ditampilkan.

Namun berkas di meja Arkana berbeda, “Cukup” potong Arkana tiba-tiba.

Semua terdiam.

Rayden bingung, “Kenapa, Pak?”

Arkana menggebrak meja, “Ini apa?”

Suasana langsung tegang.

“Data kamu nggak sinkron. Ini kerja yang nggak becus!”

Rayden terdiam.

Aurora menegang.

Zayn mengambil berkas, pura-pura mengecek.

“Sepertinya memang tidak sesuai” ucap Zayn dingin.

Arkana menghela napas kesal.

Zayn melanjutkan, “Kami tidak bisa bekerja sama dengan tim yang tidak konsisten.”

Arkana terlihat panik.

Zayn menatapnya, “Saya bisa bantu cari orang yang lebih kompeten.”

“Syaratnya, dia keluar” lanjut Zayn.

Semua mata langsung ke Rayden.

Dan akhirnya Arkana mengangguk. Dan keputusan dibuat.

Rayden pergi tanpa menoleh.

Aurora ingin mengejar. Tapi kakinya tertahan.

Rapat belum selesai. Dan Zayn diam-diam, tersenyum tipis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!