Bukankah menikah adalah sebuah ladang ibadah ? Lalu kenapa ibadah yang seharusnya mendapatkan pahala justru bak di neraka ? Semua berawal dari kesalah pahaman yang tidak berdasar hingga berubah menjadi sebuah tragedi yang hampir menenggelamkan rumah tangga yang bahkan pondasinya saja masih sangat rapuh.
Mampukah mereka bertahan ataukah malah karam di hantam ombak besar?
Kisah kembar Azzam dan Azima , di mana seharusnya cinta itu sudah berlabuh di dermaga tapi harus terlunta dan terapung di tengah lautan luas menunggu datangnya pertolongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 : Dua akad satu hari
Sang surya di ufuk timur mulai mengintip, cahaya jingga perlahan terlihat menandai pagi akan menyingsing. Suara suara manusia kini terdengar jelas tak lagi samar . Itu berarti aktifitas pagi mereka sudah berjalan seperti biasa.
Hal yang sama juga terjadi di sebuah rumah yang paling mewah di kompleks Magnolia. Banyak keluarga berkumpul , tak terkecuali keluarga kecil dari negara yang berjarak jauh dari Indonesia, Inggris.
Arga dan Safa datang membawa dua buah hati mereka, Shaka dan Selia. Shaka begitu antusias menyambut pernikahan uncle dan aunty kesayangan nya.
Keluarga Australia juga tidak mau ketinggalan, semua hadir tanpa kecuali.
Di pernikahan ini, umi Naya dan Abi Yusuf hadir memberikan doa terbaik untuk Azzam dan Azima. Sayang, Fathan absen karena di sibukkan pekerjaan kantor. Ia cukup sulit meminta izin . Bos baru nya tidak seramah yang sebelum nya.
Opa Alden, mama Arini dan keluarga Hatcher lainnya pun turut hadir.
Di pernikahan cucu nya kali ini, Abi grandpa harus membagi diri, karena calon istri Azzam adalah cucunya juga.
Ya, Annasya adalah cucu Oma Aqila, dan Oma Aqila merupakan adik kandung Abi grandpa. Itulah sebab musabab sampai Abi grandpa ngotot menjodohkan Azzam dengan Annasya. Abi grandpa dan umi grandma sudah pasti tidak akan memberikan cucu cucu mereka pada orang yang salah. Semua sudah di telusuri sedemikian rupa. Dari segala sisi hingga akar akar nya.
Termasuk keluarga Moez. Ketertarikan Ayyazh sejak pertama kali melihat Azima sudah di sampaikan nyonya Maryam , istri tuan Ibrahim Moez. Dulu, mereka punya kesempatan untuk bertemu. Nyonya Maryam sudah mengatur dan membuat janji di sebuah restoran mewah sekitar rumah sakit Brawijaya. Tema pertemuan itu di ramu dengan seksama sebagai ucapan terima kasih keluarga Moez pada Azima yang sudah merawat tuan Ibrahim dengan baik. Namun, niat untuk mempertemukan Ayyazh dan Azima gagal karena Ayyazh harus segera kembali ke Dubai.
*
*
Hari pernikahan tiba.
Jam sembilan pagi, A sudah siap . Ia akan berangkat ke rumah lama Abi grandpa. Rencana akad di langsungkan jam sepuluh pagi. Meski nampak gagah dengan setelan jas putih, tapi masih saja tertangkap netra, raut keterpaksaan.
Begitu pula Azima, bukan hanya wajah saja, bahkan sekujur tubuhnya di payungi kesedihan . Namun, sesekali ia masih mengumbar senyum manis untuk siapa saja yang datang menyapa.
Mendekati hari pernikahan Azima, Abi Zayn selalu berusaha menghindari putrinya . Ia takut, cairan bening yang menumpuk di pelupuk mata akan tumpah hingga Azima semakin duka.
Sebenarnya, umi Tata sudah merasakan kesedihan itu jauh jauh hari. Ia terkadang melihat Abi Zayn duduk termenung , sendirian. Dan itu paling sering terjadi di sepertiga malam setelah qiyamullail selesai. Umi Tata sangat mengerti perasaan kehilangan itu. Karenanya, umi Tata membiarkan suaminya hanyut sementara dalam rasa gundah dan pilu nya.
Azzam tiba setengah jam lebih cepat dari waktu yang di tentukan. Ia di sambut Abi grandpa dengan senyum lebar .
Keduanya berbincang singkat sebelum akad di mulai. Namun , waktu setengah jam tersisa itu harus di tambah sekitar empat puluh lima menit kemudian.
Azzam kesal. Sisi diamnya memberontak , ia menunggu dalam keadaan gelisah. Untuk pelampiasan, Abi grandpa lah yang mendapatkan itu.
Bukan hanya Azzam, para tamu undangan pun saling tanya, mana wali nikah sang mempelai wanita?
Hingga pada akhirnya, seorang pria uzur dengan tongkat di tangan sembari berjalan bak kura kura melangkah masuk ke dalam rumah lama Abi Grandpa.
"Assalamualaikum, maafkan aku besan, aku terlambat." Ucap nya tersenyum renyah.
Abi grandpa pun turut tersenyum, ia menyambut kedatangan pria yang jarang sekali bertemu dengan nya.
" Waalaikumsalam, akhirnya kamu datang juga , Malik." Abi grandpa menghampiri dan memeluk pria uzur bernama Malik.
Tuan Malik duduk, tepat di depan A. Dengan kacamata tebal yang ia kenakan, tuan Malik memindai wajah A. " Kamu tampan sekali, nak." Puji nya.
A tersenyum kikuk. Meski kesal karena datang terlambat, tapi A tidak bisa pungkiri jika laki laki di depan nya itu sangat lah ramah dan sopan.
" Apa kita mulai saja?"
Abi grandpa mengangguk , di susul A .
Tuan Malik dan A berjabat tangan. Ijab terucap .
Panjang lebar ijab yang di ucapkan tuan Malik, banyak yang terperangah dengan sederet aset yang jadi mas kawin Azzam untuk Annasya.
" Saya terima nikah dan kawinnya Annasya Shaqueena Malik binti Zabir Malik dengan mas kawin tersebut , di bayar tunai."
" Bagaimana , sah?"
" Sah.."
Terucap hamdalah dari semua orang yang hadir di ruangan besar itu. Oma Aqila berurai air mata . Cucu yang sudah dia anggap anak bungsu, kini tak lagi sendiri, baru saja ada pria mapan yang menikahi nya. Dan pria itu bukanlah orang lain , jadi bertambah bahagia lah ia melepas Annasya.
Harapan melalui doa di panjatkan Oma Aqila untuk kebahagiaan A dan Annasya.
(Kiran..kamu melihat dari atas sana , kan? Anakmu sudah menemukan tambatan hatinya. Sekarang, sudah waktunya kamu beristirahat dengan tenang.)
Akad selesai, Annasya muncul dari balik pintu di apit oleh dua wanita yang merupakan kerabat. Ia mendekati A, lalu duduk di samping saudara sahabat nya yang kini sudah berstatus suami.
" Cium tangan suami mu, nak ." Perintah tuan Malik.
Annasya sedikit mengatur posisi duduk menyamping agar lebih muda meraih tangan A. Begitupun A.
Annasya tertunduk, tidak berani menatap wajah A. Lain hal nya dengan A. Ini pertama kali nya ia duduk berdekatan dengan Annasya . Ia memperhatikan setiap gestur wanita yang sudah menjadi istri nya itu.
Jujur selama ini, sejak mereka di jodohkan , A tidak pernah benar benar memperhatikan dengan baik wajah Annasya.
Dan ternyata. ( Apa yang ku lakukan selama ini sampai tidak pernah sekali pun meliriknya?) A membatin . Ia tak pernah menyangka kalau sahabat adiknya bisa secantik itu.
Annasya memiliki wajah perpaduan Indo Pakistan. Hidung kecil dan mancung, alis tebal dan bibir yang bervolume sedang. Ke semua itu membuat A menelan ludah dengan kasar. Jantung A berdebar untuk yang pertama kalinya.
Annasya melepas sarung tangan renda brokat berwarna broken white. Tangan putih terbingkai inai dan henna terlihat gemetar saat ia mengulur dan ingin menjabat tangan A. Annasya bahkan beberapa kali menarik tangan nya, berusaha untuk tidak gugup di depan A.
A tersenyum samar. Ekspresi Annasya yang menggigit bibir bawah nya di sertai tangan yang gemetar terlihat begitu lucu di mata A.
Abi grandpa tertawa di susul tuan Malik, apalagi setelah Annasya menatap ke arah mereka seperti meminta bantuan , ' tolong jabat tangan ini untukku.' Kira kira begitulah raut itu berbicara.
" Tidak apa apa, dia sekarang mahram mu. Jangan kan tangan, dari ujung rambut hingga kaki mu, ia wajib menyentuhnya." Lugas tuan Malik.
Wajah Annasya bersemu merah.
Di tengah rasa gugup yang semakin menjadi jadi, ia mengumpulkan segenap kekuatan , dan itu hanya untuk menyentuh tangan seorang pria.
Jemari A sudah menunggu , hingga pada akhirnya Annasya berhasil melakukan hal yang bagi sebagian orang itu lumrah, tapi tidak dengan Annasya.
A merasakan tangan Annasya dingin bak es batu. Namun, ia tetap menggenggam erat tangan yang kedepannya mungkin akan menjadi obat bagi nya.
Masih menggenggam tangan itu erat, A refleks mencium pucuk kepala Annasya.
Mungkinkah memang harus seperti itu, atau ada sebuah dorongan kuat dalam dirinya yang meminta nya melakukan hal romantis itu.
Annasya terkejut. Apalagi, A mengusap kepala nya dengan lembut sebelum pria itu melabuhkan kecupan nya.
Tak jauh dari adegan asmara itu, ada Vano yang tersenyum jahil menatap sang bos.
(Katanya tidak suka. Buktinya, belum di suruh, sudah main nyosor aja. Cih..aku jadi malu melihat nya.)
...****************...
habisnya setiap bab ko ya dikir amat, mana nunggu up sehari berasa lama banget, eh giliran udah up baru baca dh abis🙈🙈
wah parah Malah di samain sma batu, g sekalian zi sama dindingnya 🤣