NovelToon NovelToon
Surat Cinta Untuk Dinara

Surat Cinta Untuk Dinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Cinta setelah menikah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.

Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.

Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Drama Kunci yang Hilang

Pagi di Surabaya Timur selalu dimulai dengan ritme yang memburu. Suara klakson dari kejauhan dan deru kendaraan di jalan raya seolah menjadi musik latar yang memaksa siapa pun untuk segera bergerak. Di dalam apartemen, Dinara sudah tampil rapi dengan blus berwarna salem dan rok kain hitam. Tas ranselnya sudah penuh dengan literatur Hukum Perdata yang tebalnya sanggup membuat pening siapa pun yang melihatnya.

"Mas, lihat kunci motor Dinara nggak?" tanya Dinara dengan nada suara yang mulai naik satu oktav. Ia membongkar tumpukan buku di atas meja makan, lalu beralih merogoh saku jaket yang digantung di balik pintu.

Dimas, yang sedang duduk tenang di sofa sambil menyesap kopi hitamnya, hanya mengangkat bahu. Matanya tetap tertuju pada layar laptop, jemarinya lincah menari di atas tuts. "Lho, bukannya biasanya kamu taruh di mangkuk dekat televisi, Dek?"

"Nggak ada, Mas! Sudah aku cari sampai ke bawah sofa. Duh, ini sudah jam setengah tujuh lewat. Kalau nggak berangkat sekarang, aku bakal kena macet total di Wonokromo," keluh Dinara. Wajahnya mulai memerah karena panik. Ia berlutut, mencoba melongok ke kolong meja, berharap benda kecil dengan gantungan kunci boneka beruang itu ada di sana.

Dimas melirik istrinya dari sudut mata. Ada senyum tipis yang ia sembunyikan di balik cangkir kopinya. Ia sebenarnya sangat menikmati pemandangan Dinara yang sedang sibuk dan panik—bukan karena ia jahat, tapi karena dalam kondisi seperti itu, Dinara terlihat sangat menggemaskan dengan dahi yang berkerut.

"Mungkin terselip di dalam tas kuliahmu itu, Sayang. Coba cek lagi yang telaten," ujar Dimas dengan suara yang sengaja dibuat sedatar mungkin.

"Sudah, Mas! Tiga kali aku bongkar!" Dinara berdiri, nafasnya memburu. Ia melirik jam dinding yang terus berdetak tanpa ampun. "Astagfirullah, kok bisa hilang sih? Mas, bantu cari dong, jangan ngetik terus."

Dimas menutup laptopnya perlahan. Ia berdiri, meregangkan otot-otot bahunya yang terasa kaku. "Ya sudah, kalau memang nggak ketemu, ya berarti takdirnya hari ini kamu nggak usah naik motor."

"Terus aku ke kampus naik apa? Ojek online jam segini harganya selangit, belum tentu ada driver yang mau ambil rute macet," sahut Dinara hampir menangis.

Dimas berjalan menuju dapur, mengambil sebuah kotak bekal berwarna biru yang sudah ia siapkan sejak subuh. Ia menyodorkannya kepada Dinara. "Nih, bawa bekal dulu. Urusan kunci itu urusan nanti. Mending sekarang kamu ikut 'Supir VVIP' ini. Mobil sudah panas, AC-nya sudah dingin, dan yang paling penting, supirnya ganteng dan nggak pakai tarif."

Dinara menatap kotak bekal itu, lalu menatap suaminya dengan penuh selidik. "Mas jangan-jangan..."

"Jangan-jangan apa? Mas ini niatnya baik, mau nolongin istri biar nggak kepanasan kena debu Surabaya. Wes ta, ayo ndang mangkat (Sudah, ayo cepat berangkat), daripada kamu telat beneran terus dihukum dosenmu suruh baca UUD 45 di depan kelas," potong Dimas sambil meraih kunci mobil dan jaketnya.

Karena tidak punya pilihan lain dan waktu yang semakin mepet, Dinara akhirnya menyerah. Ia mengikuti langkah tegap Dimas menuju area parkir. Di dalam mobil, Dinara masih saja menggerutu, jemarinya sibuk mengaduk isi tasnya untuk yang keempat kali.

"Aneh banget, Mas. Padahal seingatku kemarin habis pulang dari perpustakaan, kuncinya langsung aku taruh di sana," gumam Dinara.

Dimas mulai menjalankan mobilnya keluar dari area apartemen. Jalanan Surabaya pagi itu sudah menyerupai lautan kendaraan. Di lampu merah perempatan Manyar, kemacetan mulai mengular.

"Dek, daripada pusing mikirin kunci, mending buka itu bekalnya. Mas tadi masakin sesuatu yang spesial buat penyemangat kuliah," ujar Dimas sambil menatap lurus ke depan, fokus pada kendaraan di depannya yang merayap.

Dinara menghela napas, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang karena panik. Ia membuka tutup kotak bekal biru itu. Harum nasi goreng mentega langsung menyeruak. Namun, di tengah gundukan nasi dan telur mata sapi itu, ada sesuatu yang berkilau.

Mata Dinara membelalak. Di sana, tergeletak dengan manis, kunci motornya yang tadinya ia cari sampai setengah gila. Kunci itu dibungkus plastik klip kecil agar tidak kotor terkena minyak nasi goreng.

"Mas Dimas!" pekik Dinara. Ia menoleh ke arah suaminya dengan tatapan yang sanggup melubangi tembok. "Jadi Mas yang nyembunyiin?!"

Dimas tertawa lepas, tawa khasnya yang renyah dan terdengar sangat puas. "Hahaha! Lho, itu namanya teknik surprise marketing, Sayang. Biar kamu selalu ingat kalau mau pergi itu harus pamit dan minta antar suami."

"Mas, ini nggak lucu! Aku hampir jantungan nyarinya!" Dinara mencubit lengan kiri Dimas dengan gemas.

"Aduh! Sakit, Dek! Iki lagi nyetir lho, nanti kalau oleng gimana?" keluh Dimas sambil tetap tertawa. "Lagian, Mas itu kasihan lihat kamu. Surabaya lagi panas-panasnya, debunya lagi jahat. Daripada kamu telat kena macet di Ahmad Yani naik motor, mending santai di sini sama Mas. Bisa sambil sarapan, bisa sambil dengerin radio. Nyaman kan?"

Dinara bersedekap, mencoba untuk tetap marah, namun aroma nasi goreng buatan suaminya dan kesejukan AC mobil perlahan meluruhkan kekesalannya. "Tapi kan nggak perlu pakai acara drama hilang kunci, Mas. Bilang saja kalau mau antar."

"Kalau Mas bilang mau antar, pasti kamu jawabnya: 'Nggak usah Mas, kasihan Mas capek ngetik, Dinara naik motor saja'. Mas sudah hafal jalan pikiranmu yang terlalu mandiri itu," Dimas melirik istrinya, lalu tangannya meraih kepala Dinara, mengacak jilbabnya pelan. "Sesekali manjalah sama suami sendiri. Nggak dosa kok."

Pipi Dinara merona merah. Ia mulai menyuap nasi goreng itu. "Enak nggak?" tanya Dimas.

"Enak. Tapi tetep, Mas itu nggateli banget," gumam Dinara dengan mulut penuh nasi.

"Lho, nggateli gini kan yang bikin kamu kangen kalau Mas lagi pergi ke Blitar," sahut Dimas penuh percaya diri. "Oiya, nanti pulangnya Mas jemput lagi. Jangan coba-coba pesan ojek, karena kunci motormu bakal Mas sita sampai kita sampai rumah."

"Terserah Mas saja lah," jawab Dinara pasrah, namun ada senyum kecil yang terukir di sudut bibirnya.

Di tengah kemacetan Surabaya yang membosankan bagi kebanyakan orang, di dalam mobil itu justru tercipta ruang kecil yang penuh kehangatan. Dinara menyadari bahwa kejahilan Dimas adalah cara pria itu untuk menunjukkan kasih sayang yang protektif. Dimas tidak ingin istrinya kepanasan, tidak ingin istrinya kelelahan, dan mungkin, Dimas hanya ingin memiliki waktu lebih lama untuk berdua sebelum kesibukan dunia memisahkan mereka sepanjang hari.

Saat mobil akhirnya sampai di depan gerbang kampus, Dimas menghentikan kendaraannya.

"Sudah sampai, Tuan Putri. Jangan lupa kuncinya disimpan, jangan ditaruh di dalam nasi lagi nanti dimakan semut," goda Dimas saat Dinara hendak turun.

Dinara menjulurkan lidahnya. "Mas jangan lupa jemput ya! Awas kalau telat."

"Siap! Sebelum kamu keluar kelas, Mas sudah nunggu di sini sambil bawa es cokelat," Dimas melambaikan tangan.

Dinara turun dari mobil dengan langkah yang jauh lebih ringan daripada saat ia bangun tadi. Drama kunci yang hilang itu ternyata berakhir dengan perut yang kenyang dan hati yang merasa sangat disayangi. Sementara itu, Dimas memutar balik mobilnya dengan perasaan menang. Baginya, melihat Dinara berangkat kuliah dengan senyuman—meskipun diawali dengan omelan—adalah inspirasi terbaik untuk melanjutkan bab novelnya hari ini.

"Dasar bocah," gumam Dimas sambil tersenyum sendiri, mengingat wajah cemberut Dinara yang cantik. Ia memacu mobilnya menuju Lini Masa Cafe, siap menaklukkan hari di Surabaya yang selalu gerah, namun selalu terasa sejuk sejak ada Dinara di sisinya.

1
Wardah Saiful
bagus ceritanya,semangat thor
kaka_21: siap kakak! (kaka)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!