NovelToon NovelToon
Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.

Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.

Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.

Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.

Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.

Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?

Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2 : Bibit Kebencian Belum Sirna

Di ruang pertemuan utama istana dipenuhi suara langkah kaki.

Ferisu duduk di singgasana yang dulu menjadi milik raja Zenobia. Wajahnya tetap tenang, namun matanya mengamati setiap detail. Di hadapannya, para bangsawan Zenobia berdiri berjejer, mengenakan pakaian formal dengan warna-warna gelap. Tak satu pun dari mereka berani duduk tanpa izin.

Keheningan menggantung berat di udara.

Mereka berdiri seperti ini bukan karena hormat, pikir Ferisu.

Melainkan karena takut.

“Mulailah,” ucapnya singkat.

Seorang bangsawan berusia paruh baya melangkah maju. Rambutnya mulai memutih, namun sorot matanya tajam—terlalu tajam untuk seseorang yang mengaku patuh.

“Kami, para bangsawan wilayah barat Zenobia,” katanya, menundukkan kepala sekilas, “datang untuk menyatakan kesetiaan kami kepada Kerajaan Asterism… dan kepada Yang Mulia Ferisu.”

Kata kesetiaan diucapkan dengan hati-hati, seolah bisa meledak jika salah tekanan.

“Sebagai bukti itikad baik,” lanjutnya, “kami bersedia menyerahkan pengelolaan militer daerah kepada Asterism.”

Ferisu tak langsung menjawab.

Menyerahkan pedang, tapi tidak niat, batinnya.

“Dan?” tanyanya datar.

Beberapa bangsawan saling bertukar pandang. Seorang pria lain akhirnya membuka suara.

“Kami memohon agar hak-hak lama bangsawan Zenobia tetap dihormati. Pajak wilayah, pengadilan lokal, dan… otonomi internal.”

Ferisu menyandarkan punggungnya. Tatapannya menyapu ruangan, membuat beberapa bangsawan tanpa sadar menahan napas.

“Otonomi,” ulangnya pelan.

Suara itu tidak keras. Justru karena itulah terasa mengancam.

“Kalian meminta kebebasan,” lanjut Ferisu, “setelah kerajaan kalian kalah perang.”

Satu tarikan napas.

Beberapa wajah menegang.

“Yang Mulia,” seorang bangsawan muda menyela, nadanya sedikit meninggi. “Rakyat kami sudah cukup menderita. Jika Asterism ingin menjadi pemerintahan yang berbeda, bukankah seharusnya mendengar suara kami?”

Ruangan menjadi semakin sunyi.

Ferisu menatap pemuda itu. Lama. Terlalu lama.

Ada yang berani bicara, pikirnya.

Atau ada yang sedang menguji batas?

“Aku mendengar suara kalian,” jawab Ferisu akhirnya. “Itulah alasan kalian masih berdiri di ruangan ini.”

Ia berdiri.

Membuat beberapa bangsawan tersentak.

“Tapi jangan salah paham,” lanjutnya. “Perang telah berakhir. Kerajaan Zenobia juga.”

Beberapa bangsawan menunduk lebih dalam. Yang lain mengepalkan tangan di balik jubah mereka.

“Asterism tidak akan memerintah dengan cara lama,” kata Ferisu tegas. “Namun aku juga tidak akan membiarkan wilayah ini menjadi sarang perlawanan berkedok otonomi.”

Ia melangkah satu langkah ke depan.

“Kesetiaan kalian akan diukur,” lanjutnya. “Bukan dari kata-kata… melainkan dari tindakan.”

Seorang bangsawan menelan ludah. “Dan jika kami menolak?”

Ferisu menatapnya lurus.

“Maka aku akan menganggapnya sebagai sisa-sisa perang yang belum padam.”

Tak ada ancaman eksplisit. Namun semua orang di ruangan itu mengerti artinya. Keheningan kembali menyelimuti ruang pertemuan.

Ini bukan negosiasi, batin Ferisu.

Ini peringatan.

Akhirnya, satu per satu bangsawan itu menundukkan kepala lebih dalam—kali ini, bukan sekadar formalitas.

“Kami… akan patuh,” ucap seseorang lirih.

Ferisu mengangguk tipis.

“Bagus,” katanya. “Kalian boleh pergi.”

Saat pintu ruang pertemuan tertutup, Ferisu kembali duduk. Tubuhnya terasa berat.

Kebencian rakyat, ketakutan bangsawan, pikirnya.

Keduanya sama berbahayanya.

Di luar ruangan, ia tahu—ketegangan ini baru saja dimulai.

...****************...

...----------------...

...****************...

Malam turun perlahan di atas bekas ibu kota Zenobia.

Di sebuah aula besar yang terletak jauh dari pusat istana, lilin-lilin menyala redup. Bayangan pilar-pilar tinggi memanjang di lantai marmer, menciptakan suasana yang berat dan tertutup.

Seorang pria berdiri di depan jendela besar, memandang ke arah kota yang tengah dibangun ulang.

Rambutnya hitam dengan sedikit uban di pelipis. Jubah bangsawan berwarna gelap melekat rapi di tubuhnya, dihiasi lambang wilayah timur Zenobia—wilayah luas, kaya, dan strategis.

Dia adalah Duke Albrecht von Rethania.

Salah satu bangsawan tertua dan tersohor di Zenobia.

Tangannya mengepal.

“Kesetaraan ras…” gumamnya dengan nada penuh jijik. “Omong kosong.”

Di belakangnya, beberapa pria berdiri dengan kepala menunduk—mantan perwira Zenobia, bangsawan kecil, dan mereka yang kehilangan segalanya setelah perang.

“Sejak awal,” lanjut Albrecht, berbalik dengan sorot mata tajam, “Zenobia berdiri di atas supremasi manusia. Itu yang membuat kita kuat. Itu yang membuat kita ditakuti.”

Ia melangkah maju satu langkah.

“Elf, beastman, mereka seharusnya tahu tempatnya,” katanya dingin. “Sebagai alat. Sebagai budak.”

Salah satu pria ragu-ragu membuka suara. “Tapi Duke… kita kalah. Militer Zenobia telah hancur. Asterism—”

“Hancur karena kelemahan,” potong Albrecht keras. “Karena raja bodoh yang percaya besi dan darah saja cukup.”

Ia tertawa pendek, tanpa humor.

“Dan sekarang?” lanjutnya. “Sekarang kita diperintah oleh seorang raja yang membiarkan elf berdiri sejajar dengan manusia. Yang membiarkan ras rendahan duduk di kursi yang sama dengan bangsawan.”

Ia teringat sosok Ferisu di singgasana. Tenang. Dingin. Tidak arogan—dan justru itu yang membuatnya berbahaya.

“Dia tidak memahami Zenobia,” kata Albrecht pelan, namun penuh kebencian. “Dan aku tidak akan membiarkan wilayahku diubah menjadi eksperimen kesetaraan mereka.”

Keheningan menyelimuti ruangan.

“Apa rencana Anda, Duke?” tanya seseorang akhirnya.

Albrecht tersenyum tipis.

Senyum seorang bangsawan yang terbiasa mengatur perang dari balik meja.

“Asterism pikir aku patuh,” katanya. “Biarkan mereka berpikir begitu.”

Ia menoleh ke arah peta besar yang terbentang di meja. Beberapa titik ditandai dengan tinta merah—gudang lama, benteng yang ‘dikosongkan’, jalur suplai.

“Wilayahku masih utuh,” lanjutnya. “Pasukan mungkin kalah, tapi loyalitas belum mati.”

Ia mengetukkan jarinya ke peta.

“Kita tidak akan menyerang secara langsung,” ujarnya. “Kita akan membuat rakyat ragu. Membuat konflik ras kembali menyala. Dan ketika Asterism sibuk memadamkan api kecil…”

Matanya menyipit.

“Kita akan menyalakan kebakaran besar.”

Di kejauhan, lonceng malam berdentang.

Pada saat yang sama, di istana, Ferisu berdiri di balkon sendirian. Angin malam menerpa wajahnya, membawa aroma kota yang belum sepenuhnya sembuh.

Ada sesuatu yang bergerak, batinnya tiba-tiba.

Sesuatu yang belum mau mati.

Ia tidak tahu siapa.

Belum tahu dari mana.

Namun satu hal pasti—perang mungkin telah usai, tetapi Zenobia belum menyerah.

...****************...

...----------------...

...****************...

Pagi berikutnya, istana diselimuti suasana yang lebih tenang.

Sinar matahari menembus jendela tinggi ruang kerja Ferisu, memantul di atas meja kayu besar yang dipenuhi laporan dan peta wilayah. Ferisu duduk sendirian, secangkir teh yang hampir tak tersentuh berada di sampingnya.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

“Masuk.”

Seorang pelayan melangkah masuk sambil membawa sebuah surat bersegel lambang Kerajaan Asterism. Ia menunduk hormat sebelum meletakkannya di meja.

“Surat dari ibu kota Asterism, Yang Mulia. Dari Menteri Pertanian, Phino.”

Ferisu mengangguk, lalu membuka surat itu begitu pintu tertutup.

Begitu matanya menyapu baris pertama, alisnya terangkat tipis.

...Yang Mulia Ferisu, raja yang (katanya) paling sibuk sedunia, jika surat ini sampai dalam keadaan utuh, berarti burung pengantar kita belum dimakan elang lagi. Puji tanah subur....

Ferisu menghela napas pendek.

Hanya dia yang bisa menulis surat resmi seperti ini…

Isi surat itu melaporkan bahwa kondisi Kerajaan Asterism berada dalam keadaan baik—meski disampaikan dengan gaya yang sama sekali tidak formal. Phino menulis tentang musim tanam yang berjalan lancar, panen gandum yang meningkat, serta percobaan rotasi tanaman yang akhirnya berhasil setelah “tiga kali gagal dan satu kali hampir dibakar petani sendiri”.

Ia juga menyebutkan pembangunan lumbung besar dan gudang distribusi yang telah selesai, lengkap dengan catatan kecil bahwa atapnya cukup kuat “bahkan kalau raja tiba-tiba ingin naik ke sana”.

Ferisu membaca sampai akhir.

...Singkatnya: rakyat kenyang, ladang hijau, dan tikus mulai pindah karena kalah saing....

...Jadi Yang Mulia bisa fokus menaklukkan hati Zenobia, biar urusan perut kami yang urus....

Ferisu menurunkan surat itu perlahan.

Sudut bibirnya terangkat—senyum kecil yang jarang muncul belakangan ini.

Di balik semua lelucon itu, laporannya jelas. Data rapi. Solusinya tepat.

Phino memang seperti itu. Mulutnya ringan, kepalanya berat oleh perhitungan. Ia mungkin terdengar seperti badut istana, tapi tanpa dirinya, Asterism tak akan pernah mampu menopang pangan untuk semua orang—apalagi perdamaian.

“Terima kasih, Phino,” gumam Ferisu pelan.

Ia melipat surat itu dan menyimpannya dengan hati-hati. Kabar itu memberinya ketenangan—bahwa setidaknya, satu bagian dari kerajaan berjalan dengan benar.

Ferisu berdiri, menatap peta Zenobia yang terbentang di meja.

Sekarang tugasnya memastikan Zenobia tidak menolaknya. Karena ia tahu, kesetaraan tidak akan tumbuh di tanah yang masih dipenuhi kebencian.

1
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
elf idiot 🙄....bknny pikirkn dlo...tpi sibuk cari kambing hitam....gk ada bedany seperti negara zenobia
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
Scorpio bs evolusi? hmm...gw gk Tau apapun ttg evolusi scorpio
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
ah! jd kekuatan kna segel...tpi reliza sebut serangga... pasti dewa dewi ya? yare2 🙄
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kli ini kalajengki ya? bner2 deh...
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
hmph 🙄....elf jg sama ternyata
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya: iya Thor
total 2 replies
Frando Wijaya
elf td....blg manusia pembawa mslh...tpi kenyataan elf jg sama aja
Frando Wijaya
ekhem! next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
awal Dr konflik? gw punya firasat yg sgt buruk
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
Luthfi Afifzaidan
up
Luthfi Afifzaidan
lg
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
boneka Bru? atau robot Bru??
Frando Wijaya
mata 1 raksasa itu apa sih???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!