Tepat pukul 4 sore, semua CCTV yang ia minta sudah terpasang semua. Inilah bahayanya seorang wanita tinggal sendiri didalam rumah. Jessy sudah lelah menghubungi pria itu, panggilannya tak diangkat satu pun. Kini hanya ada lampiran biodata Justin yang baru ia cetak dari file di ponselnya.
"Justin Alfranz." Jessy sudah mencari nama itu diberbagai sosial media, tak ada satupun yang memakai foto pria itu.
"Apa mungkin ini biodata palsu?" Gumam Jessy. Ia pun sudah memeriksa diinternet. Pria itu mengatakan bahwa dirinya seorang penulis, namun tak ada satupun novel yang dibuat olehnya.
Satu-satunya cara terbaik adalah mendatangi rumah pria itu! Jessy bergegas meraih tas kecilnya dan berjalan cepat menuju mobilnya.
Selama diperjalanan ia berfikir keras bagaimana kata-kata yang pas untuk meminta pertanggung jawaban pria itu. Jessy memejamkan matanya gemas, ia bodoh atau idiot? Untuk apa ia bersusah-susah memikirkan kata-kata yang pas, Jessy seharusnya langsung menampar wajah itu dan memaksa pria itu bertanggung jawab. Jessy tak bisa membayangkan bagaimana nanti jika ia hamil? Tanpa seorang suami?.
Pikiran-pikiran anehnya terhenti saat ia akan memasuki kawasan elite. Membaca kembali alamat Justin dan memang benar sesuai dengan maps. Sedikit ragu Jessy memberanikan diri untuk masuk kedalam kawasan itu, mobilnya dihentikan oleh seorang security.
"Maaf nona, boleh memperlihatkan identitas?" Jessy yang terlihat bingung hanya mengangguk seperti orang bodoh, ia mengeluarkan identitasnya.
Pria itu membaca sekilas kartu identitas Jessy dan mengembalikannya.
"Ada kepentingan apa dan ingin menemui siapa nona?" Tanya security itu sopan. Ternyata susah sekali memasuki kawasan ini, apa mungkin karena mobilnya tidak mewah seperti yang baru masuk tanpa dicegah itu?.
"Aku Jessy, seorang psikiater, pasien ku meminta ku untuk datang kerumahnya. Ini biodatanya." Jessy memberikan biodata Justin. Security itu sedikit mengerutkan keningnya membuat Jessy sedikit was-was.
"Mungkin yang anda maksud Mr. Franz?" Jessy mengangguk pelan, ia tak tau. Namun ajaib nya ia langsung dibolehkan masuk kedalam.
Jessy memperhatikan beberapa rumah besar yang berjajar rapi dengan halaman yang sangat luas, bahkan beberapa rumah ada yang menunjukan kolam renang miliknya dihalaman rumah. Lebih mengagumkan nya lagi saat Jessy tau setiap rumah memiliki security pribadi masing-masing, Jessy menutup mulutnya saat melihat seorang aktor yang tengah naik daun berdiri diatas balkon. Ini benar-benar kawasan orang-orang kelas atas. Para aktor dan pengusaha sukses.
Jessy menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah yang begitu megah, rumah yang terlihat angkuh saat Jessy mendapati beberapa mobil dengan harga selangit berjajar sombong dihalaman itu.
Seseorang mengetuk jendela mobilnya, membuat Jessy tersadar dari lamunannya.
"Ada yang bisa aku bantu nona?"
"Ah.. aku Jessy, psikiater Mr.Franz, apakah ada?" Tanya Jessy. Ia tak menyebutkan nama Justin saat mengingat security didepan tadi saja terlihat bingung.
"Psikiater? Mr.Franz akan kembali ke California minggu depan nona. Apakah sudah membuat janji?"
"Kapan dia pergi? Apakah tadi pagi?" Tanya Jessy cepat. Benar-benar pria sialan, ia kabur begitu saja.
"Mr.Franz sudah seminggu pergi nona. Beliau banyak urusan bisnis keluar kota."
"Apa? Bukannya ia seorang penulis? Semalam aku bertemu dengannya." Pria itu mengerutkan keningnya.
"Mungkin anda salah orang nona. Namun hanya ada satu nama Mr.Franz dikawasan ini. Dan sudah puluhan tahun Mr.Franz adalah seorang pengusaha, tidak pernah menjadi penulis."
"Puluhan tahun?" Tanya Jessy bingung.
"Ya, hingga usianya ke 58 tahun ini ia tak pernah menjadi penulis." Hampir saja Jessy terbatuk, mengapa tua sekali. Jessy mengepalkan tangannya, ia sepertinya sudah benar-benar ditipu oleh Justin. Pria itu tidak mungkin tinggal dikawasan seperti ini, bahkan diinternet pun ia tak menemukan nama pria itu.
"Maaf. Sepertinya aku salah orang. Terimakasih." Jessy tersenyum tipis dan melajukan mobilnya kembali, ia menggenggam stirnya dengan kencang. Sekarang bagaimana nasibnya?.
Pikirannya melayang pada saat masa kuliahnya. Perbincangan bersama teman-temannya kini berputar kembali.
'Serius? Kau belum pernah melakukan itu?' Jessy dengan santainya mengangkat bahu.
'Aku akan melakukan itu bersama suamiku nanti. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan melakukan itu hanya dengan satu pria.' kedua temannya bertepuk tangan dengan wajah kagum.
'Kau luar biasa, aku menjadi iri.' sudah tak aneh pergaulan sebebas itu disana. Dan Jessy berhasil memegang ucapannya hingga ia lulus kuliah dan berkarir.
Rasa benci Jessy kepada Justin bertambah besar. Bagaimana jadinya jika ia benar-benar memegang janjinya, ia tidak akan menikah seumur hidupnya? Menunggu Justin menghampirinya dan menikahinya?. Oh ayolah Jessy! Kau hidup dizaman apa? Bangkitlah dan ingkari janji mu sendiri, tidak akan ada yang perduli!.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Chakira Silaban ❤️❤️❤️
👍👍👍
2023-01-20
0
Reiva Momi
seruuu
2022-10-21
0
LilysQT
Keren
2022-05-19
0