Esok paginya kami kembali berkumpul setelah sarapan pagi. Terpaksa Firsa dan Oca mengambil cuti kuliah karena sudah terlalu sering ketinggalan perkuliahan.
"Emang Mama mau balikan sama Papa?" tanya Papa Rio sambil mesam-mesem pkus menjulurkan lidah. Sampai disini aku jadi rada menyesal ketemu Papa. Mending lihat Tarzan Srimulat di tivi.
"Jika Papa masih seperti yang dulu," tatapan Mama Lily menerawang.
"Hahaha..harusnya tanpa syarat dong Ma. Surat nikah kita aja masih lengkap, masih utuh dirumah Ibu Lastri. Harusnya status masih suami istri dong ini. Ya tinggal diperbarui lagi saja ijab qobul-nya biar mantep," Papa Rio tertawa senang. Aku ikut tersenyum memandang kerukunan mereka.
"Justru yang tidak sah itu status suami bagi Bimo. Mana ada poliandri??!. Enak saja." imbuh Papa Rio.
"Iya pa, aku manut." jawab Mama lagi.
"Duhh senangnya aku. Ketemu anak, ketemu istri. Eh Nak Friska, buruan minta dilamar sama Lucky dong biar makin lengkap kebahagiaan kita," Papa jingkrak-jingkrak geje.
"Firsaaaa!!!" teriak semua serempak.
"Iyaa iyaaa Firzaa!!. Ga usah sedih ya Nak Firza, aku seperti Mama Lily. Akan sayang ke kamu seperti anak sendiri," ucap Papa bijaksana. Firsa tersenyum sopan. Sampai disini aku auto lope lope sama Papa dan berusaha melupakan niat tulus untuk nonton Tarzan Srimulat di tivi.
"Injih (iya), Pak" senyum Firsa masih terkembang. Namun jauh di lubuk hatinya tersimpan sejuta kesedihan. Sebuah kerinduan pada suasana layaknya pagi itu, untuknya, bersama keluarga.
"Setelah Papa dan Mama selesai menjual semua yang ada disini, ayo kita ke rumah Nenek. Kita perbarui akad disana. Friska kamu ikut juga ya biar bisa dikenalkan sama calon Nenek kamu!!" ajak Papa Rio.
"Ga pak, saya ga mau!!" jawab Firsa tegas.
"Lho kenapa??"
"Karena saya Firsa, bukan Friska!! hehe,"
Gubraakk kesekian kalinya!!!
*****
"Aduh Ma, ada yang lupa!!" teriak Papa Rio mengagetkan semua.
"Apaa??, Emak lagi??!" Mama melotot sadis.
"Nopo ndoro kok manggil saya??" teriak Emak Lela yang sedang memasak di dapur markas.
"Ohh engga kok. Ini lho Papa mau menanyakan tentang kandungan Mama pas waktu kecelakaan itu!!" ucap Papa menyelidik.
"Aku sempat melahirkan dalam kondisi depresi berat. Dan kata Bimo, bayi itu meninggal!!" Mama kembali menangis, tak tega rasanya melihat Mama kembali sedih seperti itu. Bukan hal yang mudah untuk mengingat dan mengenang luka lama yang 20 tahun lebih telah terkubur.
"Aku sedih Pa kalau inget nasib kandunganku kala itu. Siapa sih Ibu yang rela kehilangan jabang bayi yang sudah di kandung 9 bulan lamanya?. Tapi bagaimana lagi, kata Bimo begitu. Mau tidak mau aku harus percaya pada ucapan Bimo karena hanya dia saksi satu-satunya yang Mama kenal," lanjut Mama terisak.
"Aku kurang percaya Ma!!. Setelah tahu kelicikan Bimo seperti itu, ada kemungkinan lain sepertinya. Kita harus menyelidiki," sanggahku dengan suara sedikit meninggi.
"Aku sependapat dengan Lucky Ma!!. Dalam pelacakan data beberapa hari kemarin aku mendapatkan data bahwa Bimo sempat ada komunikasi dengan panti asuhan. Aku curiga, maaf, jika bayi itu mbak Firsa. Karena Mama dalam depresi, bisa jadi Bimo memutar balikkan fakta dan bilang jika mbak Fir adalah balita satu tahun yang ikut ditemukan dalam kecelakaan. Ada indikasi memang dari awal Bimo berniat menghapuskan jejak masa lalu Mama. Makanya munculnya Papa Rio membuat dia gusar!!" Prima ikut menanggapi.
"Wahh yo ojo ngono (jangan begitu) bro. Sayangku, cintaku, mosok adek kandungku rek!!. Sekalian aja bikin novel di Noveltoon, judulnya Kupacari adik kandungku sendiri." Sambutku manyun. Semua malah terbahak.
*****
Bersambung.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments