Flashback on
"Mama...titi inta estim (Kiki minta es krim)," pinta si kecil Lucky tatkala mereka sedang bermain di taman kabupaten.
"Acih Mama-Papa," Lucky kecil nampak berbinar matanya saat menerima es krim yang dia minta. Tergambar keriangan diwajah itu. Sambil satu tangannya memegang es krim, ia berlarian diatas rerumputan dengan tertawa renyah.
"Sudah 3 tahun umur Kiki ya Pa. Ga nyangka kalau anak kita sudah tumbuh begitu pesat. Padahal seperti baru kemarin kita melangsungkan akad nikah," ucap Lily sembari pandangannya terpatut erat kearah Lucky yang masih berlarian ceria.
"Yah dia lupa kalau sudah jadi bu ibu hahaha. Udah tua kamu Ma sekarang. Sudah mrocot bocah. Eh jangan-jangan kamu juga lupa kalau sedang hamil lagi!?" goda Rio demi melihat istrinya yang selalu menggemaskan.
"Yee..bukan lupa. Tapi seperti mimpi gitu kalau ternyata kita sudah mempunyai anak. Kalau tua sih kamu aja yang tua sana, aku sih masih muda dong. Imut gini dibilang tua. Oya, kalau masalah hamil sih ga bakalan bisa lupa dong Pa. Hanya saja untuk kehamilan yang kedua ini sedikit berbeda. Ga ada rasa mual dan keluhan lainnya. Perut juga ga buncit-buncit amat, padahal sudah jalan 5 bulan. Kayaknya dede jabang bayi emang pengertian deh. Dia mau Mama tetep keliatan imut cantik, ga gede-gede amat hamilnya.. hihihi.." yaelah Lily, ditanya satu kalimat tapi jawabnya puaanjang kayak kereta api. Mual-mual sih enggak, tapi ceriwis nya meningkat 10 kali lipat.
"Syukur deh Ma. Yang penting bagi Papa sih Mama sehat, Kiki sehat, dan calon dede gemes juga sehat. Menurut Papa sih hamilnya Mama kali ini justru kelihatan makin sekseh gitu. Makin ngegemesin buat di towel," Rio dengan sejuta perasaannya selalu berharap yang terbaik bagi keluarga kecilnya. Ia tak pernah menyangka bahwa perantauannya di ranah orang malah membawa kebahagiaan hakiki bagi perjalanan hidupnya. Jika boleh request, Rio ingin bahagia seperti itu selamanya. Hingga lanjut usia nanti. Hingga pedang maut yang memisahkan mereka.
"Apaan sekseh. Sekseh dari Hongkong..atau dari Baghdad?!. Dimana-mana namanya orang hamil ya ga ada yang seksi. Kalau mau seksi noh bintang pilem di tipi.." sangkal Lily.
"Suka-suka Papa dong ah. Seksi versi Papa mah berbeza hahaha... Auw auwwh," Rio tertawa namun disusul meringis kesakitan jarena cubitan mesra istrinya.
"Atuhh...Mamaa..hiks hikss," Lucky terpeleset dan jatuh. Tergopoh-gopoh Lily dan Rio menolong anak sulung mereka. Nampak lecet di lutut kanan Lucky.
"Atit Maa," tangis Lucky kecil kesakitan.
"Makanya, Kiki harus nurut sama Mama. Kan tadi Mama udah pesen suruh hati-hati hayoo.." nasehat Lily kepada anaknya.
Flashback off
Mama Lily nampak tersenyum sendiri dalam lamunannya. Ia terkenang masa-masa dimana kebersamaan adalah yang paling utama. Tak ada gundah, apalagi resah. Yang ada hanya kegembiraan yang melekat disetiap perjalanan kehidupan mereka.
Dari ruang tengah muncul Papa Rio yang mengamati Mama dengan seksama. Tanpa berucappun ia telah tahu apa yang sedang di lamunkan Lily.
"Doaku untuk tetap bersama selamanya ternyata dikabulkan Allah. Demi semesta dan seluruh isinya, aku memuji Kebesaran-Mu Yaa Allah," lirih ucap Papa Rio yang koni sudah berdiri disamping Mama. Melihatnya, Mama menjadi tersenyum penuh arti.
"Yaa Allah, pertemukanlah kami dengan anak kami yang kedua jika memang ia masih hidup. Semoga keutuhan rumah tangga kami semakin lengkap dengan kehadirannya, Aamiin.." lanjut Papa Rio dalam hening doanya.
"Aamiin.." sambut Mama Lily.
*****
Bersambung ke bab berikutnya..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments