Bab 15 : Probado por hechos II

Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju titik koordinat yang sudah dikirimkan Papa Rio. Kulirik Firsa di belakang kemudi dengan setelan kaos hitam dan celana jeans-nya. Sungguh terlihat casual dan shiny. Simple tapi menarik. Berbeda dengan Oca yang saat itu berpakaian ala pegawai kantoran. Blazer cream membungkus kemeja putih lengan panjang, dipadu dengan celana bahan kain berwarna senada blazer. Oca jauh lebih terlihat dewasa dengan dandanan seperti itu. Perannya sebagai sekretaris pribadi Mama Lily sangat cocok sekali.

Aku dan Prima, tak ingin berdandan terlalu mencolok. Kaos lengan pendek, celana jeans, dan jaket hitam memberikan kesan bahwa kami adalah bodyguard tak bermutu hahaha. Tapi disitulah letak gaya kami agar terkesan 'biasa' di depan Papa Rio.

Kenapa dah?

Apaa??

Kurang jelas, jangan bisik-bisik dong pembaca!!

Ohh...seragam ninja putih?. Itu kan buat selpi sama gaya-gaya-an saja. Foto disamping klien, foto di mobil. Sudah itu saja, setelah itu dilepas lagi. Permintaan dokumentasi dari Oca yang merangkap seksi promosi. Hahaha... ga usah terlalu serius suhu.

Mobil tiba di alamat yang dituju. Hanya rumah biasa. Besar sih, tapi tak semewah rumah Pak Bimo. Saat Mama membunyikan bel di depan pagar, hanya seorang pembantu wanita yang membukakan. Tak ada sekuriti, tak ada pengawal. Ini sangat diluar dugaan.

Mama, Aku, Prima, dan juga Oca duduk disebuah ruang tamu tak terlalu luas. Hanya sekitar 3x5 meter persegi. Tak jauh lebih luas dari ruang tamu markas.

Sebentar datang Ibu pembantu yang tadi, membawa nampan minum dan beberapa cemilan. Sejenak Prima meminta ijin untuk ke depan dan memeriksa sekeliling rumah.

Dari bagian dalam rumah muncullah seorang Bapak yang umurnya masih sepantaran mama Lily, mungkin sedikit lebih tua beberapa tahun saja. Aku langsung menyimpulkan bahwa beliaulah Papa Rio. Kami semua bersalaman kemudian kembali duduk. Aku yang begitu terlingkupi rindu hampir saja bertindak gegabah dan memeluknya. Untung saja colekan Oca mampu menyadarkanku untuk menahan keinginan.

"Mama...aku terkejut sekali saat Mama menghubungi dan mengajak bertemu. Sebelumnya aku hampir putus asa untuk mengajak ketemu Mama karena selalu ditolak oleh Pak Bimo," kalimat pertama dari Papa Rio sudah cukup membuatku terhenyak. Kontras sekali, dan aneh.

"Lho kapan, Pa? kok Mas Bim tidak pernah cerita!!" Mama mengernyitkan kening.

"Hampir setiap pekan aku menghubungi handphone Pak Bimo setelah pertemuan kita di bandara. Bahkan Pak Bimo sempat mendatangi kantor stockist-ku dan marah-marah ga jelas. Lagi merintis ngegrosir alkes kecil-kecilan aku Ma!"

begitu mudah dan lancar setiap kata yang diucapkan Papa Rio. Aku mulai bimbang.

"Info pengamatan, setiap sudut rumah hingga belakang tak ada satupun penjaga," terdengar suara Prima di wareless earphone yang kami gunakan.

"Info kamera 1 dan 2, Pak Bimo sedang berada di halaman bersama anak buahnya, gestur tubuhnya seperti sedang marah-marah," Firsa ikut berbicara dari dalam mobil.

"Istrinya Papa yang waktu itu mana kok ga kelihatan?" tanya Mama menyelidik, sesuai arahanku sebelumnya.

"Sudah ku talak dia Ma, ga patuh dan mata duitan!!" sedikit ada penekanan pada kalimat itu. Reaksi non verbal menunjukkan bahwa Papa Rio mulai emosi setelah membahas istrinya, ehh mantan istrinya.

"Maaf Pak, boleh saya tahu nama istrinya?" potongku memberanikan diri, jujur jantungku sedang berdegup kencang. Ingin saja segera memeluk Papaku. Tapi belum waktunya.

"Kamu siapa?" balas Papa Rio memicingkan mata.

"Dia pengawalku, jawab aja gapapa," tangkap Mama memberi bantuan penjelasan sebelum mulutku ini slonong boy dan membuyarkan semua rencana. Bayangkan bro, sist.. ketemu ayah yang sejak kecil tak pernah kulihat. Apa ga super berat gitu untuk menahan kerinduan?!.

"Inna...Sujinnah!!"

"Woww... menarik. kalian dengar itu team?" teriak Prima bersemangat.

"Jadi begini Pa..ehmm sebentar, boleh kan aku panggil dengan sebutan Papa?" tanya Mama Lily memastikan, sebelum melanjutkan pembicaraan.

"Pak Bimo keluar bersama beberapa mobil Van. Aku hitung sekitar 25an orang yang ikut. Wajahnya serius!!" info terupdate dari Firsa di kursi pantau.

"Secara status, Mama ini masih istri Papa lho hahaha..." jawab Papa Rio terbahak. Menurut pandanganku, Papa Rio ini adalah jenis orang yang kharismatik. Mirip bapak presiden nomer 5 itu lho. Gagah, ganteng, berwibawa, dan kalem.

"Hahaha..aku kurang yakin, Pa. Baiklah aku mulai cerita. Jadi begini, ada beberapa kejadian akhir-akhir ini yang mengusik kami. Yang pertama adalah ancaman penculikan dan pemerkosaan anakku yang bernama Firsa jika kami tetap melanjutkan penerimaan barang alkes. Itu menunjukkan bahwa ada kompetitor yang tidak suka dengan langkah kami. Terakhir saat hendak menculik Firsa, mereka sempat mengaku bahwa mereka orang suruhan Papa Rio. Kedua, pengawalku ini sempat di keroyok oleh orang tak dikenal, dan Mas Bimo mengatakan jika itu adalah orang suruhan kompetitor yang artinya adalah orang suruhan Papa Rio, karena hanya kalian berdua pemegang distribusi alkes untuk kota ini." ucap mama Lily menjelaskan.

"Dan satu lagi Pak. Saya sempat diperangkap dan disekap oleh istri bapak, bu Inna!!" lanjutku menggebu.

"Ooh ternyata sudah sejauh itu mereka. Mengenai pemerkosaan dan pengeroyokan, bukan aku membela diri, tapi perlu kamu tahu bahwa baru kali ini aku tahu jika kamu punya anak bernama Friska itu tadi."

"Firsa Pa!!" bibir Mama manyun. Sudah pasti Papa dibuat gemas karenanya. Kemanyuman Mama adalah keimutan bagi Papa.

"Iya iya Firza. Trus mas pengawal ini, aku juga baru tahu kalau kamu punya pengawal Ma. Dan bahkan aku tak punya pengawal atau pegawai pria satupun kecuali driver dan kuli pengangkutan barang!!" sanggah Papa Rio, heran.

"Maksudnya, Pa?" selidik mama memastikan.

"Maafkan jika aku salah sangka. Tapi kemungkinan besar memang Pak Bimo berniat menghancurkan citraku di hadapan Mama. Dan begitu tahu jika Inna kuceraikan, Pak Bimo semakin ketar-ketir khawatir kita balikan lagi Ma. Dan kurasa Inna sekarang berkomplot dengan Bimo karena sama-sama benci ke aku!" Papa Rio terlihat sangat emosi. Napasnya mulai memburu.

"Maaf Pak menyela, Bapak ada jalan lain untuk keluar rumah tanpa melalui gerbang?" tanyaku lagi, sedikit memaksa. Diteras nampak Prima mondar-mandir tak tenang.

"Ada, lewat pintu belakang, tembus ke perkampungan di belakang rumah ini," Papa Rio semakin heran, namun tetap dijawab saja pertanyaanku.

"Team standby. Agen 03 segera geser ke sekitar titik yang disebutkan Pak Rio. Agen 02 geser ke depan, gantikan agen 03 memantau situasi. Agen 04 dalam keadaan genting tolong amankan Bu Lily dan Pak Rio ke mobil. Kita akan segera mendapatkan tamu agung disini!" aku yang ngomong sendiri seperti monyet bego, spontan dipelototi Papa Rio tanpa henti.

"Dicopy!!" ucap Firsa, Oca, dan Prima hampir bersamaan.

"Ada apa ini??!!" Papa Rio mulai panik.

"Tenang Pak, hanya saja Pak Bimo tak akan menyangka jika ada anaknya Bu Lily yang turun tangan!! Hehe," jawabku sok misterius.

"Ada beberapa mobil mendekat!" teriak Prima melalui wireless.

"Haha..welcome... Oya agen 03, perhatikan sekeliling, pastikan tank yang kamu kemudikan tidak dikuntit siapapun!!" entah mengapa justru aku semakin gembira dan bersemangat saat mendengar teriakan Prima.

Brakk!!!

Tiga buah mobil menerobos masuk dengan menabrak paksa gerbang rumah Papa Rio.

"Team...pasang topeng!!" teriakku sambil berlari ke arah pelataran menyambut tamu agung. Terlihat Oca mulai berdiri siaga mengamati situasi.

Sekian banyak orang dari dalam mobil berhamburan ke arah ruang tamu. Tapi Lucky Sikat tak akan tinggal diam. Seperti terbang ku ayunkan beberapa tendangan yang langsung menjatuhkan tiga orang sekaligus.

Gelombang kedua, orang-orang dengan beringas mulai merangsek. 8 orang mengepungku, 8 lagi mengepung Prima yang baru saja datang membantu.

Dengan gerakan melompat memanfaatkan sisi paha orang-orang tersebut aku seperti terbang melewati kepala mereka. Memperluas jarak pertarungan, segera kusambut 3 orang yang segera mendekat. Serempak mereka menyerang. Satu tendangan mengarah ke perutku, pria yang lain mengepalkan tinju dan mengincar kepalaku. Pria ke tiga berusaha menerjang bagian dada. Aku berdiri menyamping dari posisi serang mereka dan segera memasang gerakan, joget dangdut.

"Yookk tarikkk maaang!!" teriakku.

Tubuhku meliuk laksana goyang dangdut ala ular kepanasan. Pantatku menukik kebelakang dan menghindarkan dengan mudah tendangan ke perut. Satu goyangan lagi mendorong pantat ke arah depan membuat dadaku mundur cepat dan lolos dari tendangan ke dada. Goyang kepala geleng-geleng ala triping mampu menghindari pukulan di kepala. Sungguh sensasional jurus menghindar yang telah kuciptakan. Ini adalah orisinil masterpeace karya Lucky Sikat, jurus Goyang Dombret namanya.

"Cendoll dawet segerrr..." senyumanku mengiringi tubuh bergoyang dan mencibir mereka.

Aku melangkah dengan terus bergoyang nikmat. Kuputar goyangan dengan melempar kuat dua bilah lenganku. Tepat sekali!!, satu pria terhempas setelah mendapatkan samplukan keras tanganku di telinga kanannya. Satu lagi pria menggelepar menerima hentakan kuat tanganku yang merojok rahangnya.

Aku bergoyang mundur sambil mengungkit punggung kaki yang telak bersarang di rahang pria ketiga.

Bravo goyang dombret !! Melibas 3 orang sekaligus. Aseeekk..dihobaaah.

Masih ada 5 pria lagi yang datang mendekat. Di sisi lain kulihat Pak Bimo dan 6 orang melesat masuk menuju ruang tamu. Aku tak mampu menghalaunya karena masih disibukkan dengan 5 orang yang masih tersisa. Begitu juga Prima yang terlihat masih sibuk dengan pertarungan.

"agen 04, siagaaa!!" teriakku melalui wireless phone.

Aku berjongkok saat kelima pria menerjang berbarengan.

Slepp

Slepp

Sleppp..

Tiga pisau kecilku tahu-tahu sudah menancap di masing-masing paha 3 pria. Mereka terguling dan meraung kesakitan.

2 pria tersisa mengejarku. 3x salto ke belakang mampu memperlebar lagi jarakku dengan mereka..

Bett

Bet...

Dua lemparan ranjau kaki mengoyak pipi kedua pria terakhir. Uhh, sakit banget itu om.

*****

Bersambung.

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!