Hari belum terlalu larut. Sekitar setengah jam yang lalu kulihat jam di layar handphone-ku menunjukkan pukul 22.00. Mama dan Firsa sudah tertidur memeluk segala kecamuk pikiran demi esok hari yang nampaknya akan cukup melelahkan untuk dilalui. Esok hari Mama berencana menghubungi Papa Rio dan sekaligus mengajak bertemu hari itu juga. Entah apakah berhasil, tapi yang jelas mereka berusaha mempersiapkan fisik sebaik mungkin dengan istirahat yang cukup.
Begitu juga denganku. Aku punya cara tersendiri dalam mempersiapkan fisikku. Aku lebih senang menyebutnya latihan dan pemanasan. Di halaman belakang markas kutempa fisik dengan berlatih beladiri. Berbagai kombinasi pukulan, tendangan, bantingan, dan sebagainya ku asah sedemikian rupa untuk membangun kepercayaan diri lebih tinggi sekaligus meregangkan otot-otot dan persendian yang ada.
Prima malam ini bersama Oca sedang bergerak dalam mode senyap. Mengendap dan memasang beberapa kamera dan alat pelacak di sekitaran rumah Pak Bimo.
Sambil menunggu mereka datang maka ku isi waktu dengan berlatih fisik seperti yang tengah kulakukan sekarang. Keringat bercucuran membasahi singlet yang kukenakan.
Merasa lelah, sejenak aku duduk di sebuah gazebo sederhana yang malah lebih mirip poskamping. Kunyalakan sebatang rokok menemani kesendirianku sambil terus berpikir tentang berbagai rencana.
Haaaa!!
Teriakku tertahan saat tiba-tiba kurasakan sesuatu yang lembut menempel dipundakku. Aku menoleh dan terkejut.
...Penampakan Firsanti (Firsa)...
"Firsaa!!..ngagetin ajah. Kok ga jadi tidur sih?" mataku melotot ke arah Firsa yang sudah berada di belakang punggungku tanpa kusadari.
"Gerah mas, banyak nyamuk juga. Akhirnya kebangun deh," Firsa mengucek matanya menghilangkan rasa kantuk.
"Ohh..yaudah duduk sini aja biar segeran. Udara di sini enak, semriwing," tukasku memberi tempat Firsa untuk duduk. Kami berdampingan menengadahkan wajah menikmati bintang gemintang yang berserakan di angkasa.
"Ribuan bintang, atau bahkan beribu-ribu juta bintang tak pernah berhenti mengerlingkan sinarnya setiap malam. Meski kita kadang mengacuhkannya. Dan kamu, aku, Prima, serta yang lainnya laksana bintang-bintang itu. Harusnya tiap saat selalu memberikan yang terbaik bagi orang-orang disekelilingnya, tanpa berharap untuk dianggap. Dengan begitu kita akan terlupa dengan azas keakuan. Ego kita terpelihara rapi dalam bilik-bilik senyap yang tak pernah berusaha mengemuka. Mengabdikan diri sebagai butiran pelengkap semesta. Mengesampingkan makna hak pada batas pagar pemahaman. Aku selama ini belajar untuk tak menuntut dimana orangtuaku, harta nenekku, kelayakan nasibku, apapun itu. Aku hanya berusaha melangkah agar menjadi manfaat bagi semua, atau minimal bagi orang-orang yang aku sayangi." Entah darimana aku mendapatkan bahasa sepuitis itu. Semuanya mengalir begitu saja dari bibirku.
"Kian hari berjalan aku semakin banyak belajar dari kamu, dari Mama, dari mas Prima, dari Oca tentang bagaimana menjalani hidup dengan lebih berarti. Ratap dan sepi adalah dua sejoli yang selalu mengintimidasi kejiwaan, kemudian menyeretnya pada sosok ego dengan hanya mengenal aku dan mencampakkan empati, persis seperti yang Mas bilang barusan. Sekarang aku paham, Mas. Bukan aku terlahir untuk mendapatkan apa, tapi aku terlahir untuk memberikan apa," Firsa sepertinya juga sedang keranjingan jiwa puitis. Terdengar dari ucapannya yang berusaha mengimbangi.
"Syukurlah Fir...meski masa laluku perih, dan masa kinimu juga pedih, namun kebersamaan kita adalah obat antara satu dengan yang lain. Melengkapi dari yang terlukai," lanjutku.
"Terima kasih mas. Terima kasih semua yang telah kamu dan Mama berikan. Plisss jangan tinggalin aku ya mas. Aku tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain kalian!" suara Firsa mengalun lembut bersama hembusan sang bayu yang sepoi menggoyangkan indah gerai rambut panjangnya.
Kupeluk bahu Firsa yang duduk disampingku. Pelan ia mulai menyandarkan kepala. Dapat kucium aroma shampoo nan wangi dari rambut Firsa.
"Tegarkan langkahmu, hadapi rintangan, jalan cerita masih terbentang. Aku ada bersamamu." Bisikku tak kalah lembut.
"Iih maaas..gelii," Firsa sedikit mendesah sambil memegang tengkuknya. Mungkin bisikan ku di telinganya membuat ia merinding.
"Dasar mesum, orang serius malah mendesah," ledek ku.
"Hiiih..namanya juga respon badan. Mana aku tauuu!!" Firsa menoleh dan mencubit gemas pipiku.
Cupp
Tak kusia-siakan momen, lembut kukecup bibir indahnya. Firsa hanya diam meresapi.
"Situu yang mesum, nyosor aja tahu-tahu!!" ledek Firsa membalas.
Tak kupedulikan, kini kulumat bibir mungilnya. Ia menjawab dengan ******* serupa. Sekian menit kami sibuk dengan permainan bibir dan lidah. Matanya mulai sayu terdorong lonjakan hasrat.
Brumm..
Ceklaang!!
Terdengar deru mobil mendekat, diikuti pagar yang dibuka. Tentu saja itu Prima dan Oca, karena hanya Prima yang membawa kunci pembuka gembok pagar, kami belum sempat menggandakannya.
"Fiuuhh...capeknya broo!!" Prima yang melihat kami dari arah garasi langsung menuju ke belakang tanpa melewati bangunan utama. Ia menelentangkan tubuh di gazebo sambil menggerakkan tangan, menggeliat.
"Gimana tadi disana?" tanyaku penasaran.
"Aman terkendali. Oca terpaksa mengalihkan perhatian penjaga dengan menggodanya agar aku bisa leluasa masuk. Namun begitu aku selesai dan keluar terlihat dua orang penjaga itu tengah berkelahi sengit dengan Oca. Beuuh.. Oca top banget dah. Udah kayak bola karet aja dia melenting kesana kemari menghabisi dua penjaga itu!!" puji Prima dengan memandang wajah ayu si imut yang sekarang tengah bersandar di tiang penyangga gazebo.
"Yaa terpaksa mas. Mereka raba-raba dada-ku. Wah ga bisa dimaafkan. Aku bikin patah sekalian tangan-tangan kurang ajar itu!!" ucap Oca bercerita dengan berapi-api.
"Wew sadezz!!"
aku melongo menanggapi kegaharan si imut.
"Ati-ati lu bro, jangan godain Oca!!...salah-salah bisa patah tongkat baseball-mu itu, hahaha.." godaku pada Prima.
"Kamu juga Mas, awas kalau nyakitin Firsa!!"
"Waduww...runyam,"
"Hahaha..ga kok mas becanda. Paling cuma aku rajang tipis aja tongkat baseball kalian kalau macem-macem,"
"Iish horor!!"
*****
"Ok Pa, dua jam lagi aku akan datang ke sana. Tolong share lokasinya," Mama Lily baru saja mengakhiri teleponnya dengan Papa Rio. Mereka bersepakat untuk bertemu di rumah Papa Rio dua jam lagi.
"Kalian berdua resmi sebagai agen BID mulai hari ini. Firsa sebagai agen 03, dan Oca sebagai agen 04." Ucapku sambil mengulurkan seragam baru ber-design ninja warna putih bersih.
Kami ber-empat kecuali Mama segera mengenakan seragam ala ninja berwarna putih tersebut. Tak lupa kloningan topeng yang biasa kukenakan. Tapi hanya aku dan Prima yang tetap menggunakan warna perak. Dua cewek imut memaksa untuk dibuatkan topeng warna pink. Alhasil berdirilah dua gadis ninja didepanku dengan mengenakan topeng pink mereka. Ahaha..ga gagah sama sekali, ninja kok pakai topeng pink. Aya aya wae.
"Woy matanya!!" bentak Oca saat memergoki aku dan Prima yang ngiler menatap tubuh dewi-dewi ninja yang terbungkus bahan ketat.
"Iyaak iyakkk...ampunn!!" aku dan Prima terkaing-kaing menerima jeweran dari Mama Lily. Ahhh.. 3 wanita kok galak semua sih, ampun dah.
...Penampakan Ninja Putih Sexy...
...😄😜✌️...
Harusnya ninja sepaket dengan katana-nya. Namun karena kami ninja kawe, maka yang kupunya hanya mandau dan badik. Mandau kuberikan kepada Prima, dan dua buah badik ukuran tanggung kuberikan masing-masing untuk Firsa dan Oca. Tak lupa mereka kubagikan ranjau kaki sebagai ganti dari suriken yang lagi-lagi tak ada stoknya.
Prima sejenak masuk kekamarnya dan kembali dengan membawa sebuah trisula bergagang pendek yang diberikan kepadaku. Kuterima alat itu dengan senang hati.
"Mbak Firsa, tugas kamu nanti adalah menggantikan posisiku sebagai pemantau dan pengintai layar kontrol. Led tersedia di dalam mobil dan terkoneksi dengan semua kamera yang sudah aku pasang di masing-masing pin di tubuh kita. Kamera juga sudah terpasang di sekeliling kediaman Pak Bimo. Satu lagi alat komunikasi, mbak yang mengatur arus komunikasi antara kita berlima. Ringkasnya, panel control ada di tangan mbak Firsa dan kami mengandalkannya. Untuk keamanan, semalam kaca mobil Oca sudah aku lapisi film gelap, juga peredam tembakan di hampir seluruh body mobil!" Prima kuakui memiliki kemampuan yang tidak dapat dianggap remeh. Segala penjelasannya kepada Firsa sangat profesional dan sistematis.
Sebelum berangkat, terakhir ku selipkan belasan pisau kecil disaku-saku sepatu. Berlima kami melangkah menuju mobil. Firsa duduk sebagai driver.
*****
Bersambung.
**Pliss Supportnya gess, dan jangan lupa mampir ke Novel author yang terbaru
"KISAH KASIH GORENGAN**".
Makasihh
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
Andropist
sudah dilike semua ya
2021-04-30
2