I : Haloo Lucky!!
L : Ada apa lagi mbak Inna??
I : Apa maksudmu kabur dari rumahku?
L : Ga penting banget.
I : Ya ga bisa gitu dong. Apalagi kamu sudah lukai para pengawalku?
L : Mereka yang menyerang!
I : Alasaan!!
L : Terserah.
I : Aku minta kamu kembali kesini!!
L : Ga.
I : Luckyyy!!
L : Cari aja pengawal yang lain.
I : Kamu kan sudah janji untuk tidak bantu Bimo lagi!!
L : Iya benar. Aku ga bantu Bimo lagi. Aku hanya ingin lindungi keluargaku.
I : Brengsekk!!. Lihatlah, kamu akan menyesal!!
Tutt..tutt
*****
Inna, dia datang terlalu kebetulan. Aku rasa dia ada kaitannya dengan kasus ini. Baiklah...akan kita buktikan, siapa yang akan menyesal!!
Mama, Firsa, Oca, Prima, dan aku kembali duduk bersama di meja makan menikmati makan siang hasil karya chef Oca. Kulihat Mama dan Firsa kurang bersemangat, selera makan mereka seperti hilang.
"Fir, dimakan dong...jangan sedih terus. Kasihan Mama, kasihan Lucky. Mereka tentu sangat khawatir melihat kondisimu yang seperti ini!" ucap Prima memberi semangat.
"Kamu ga tau rasanya jadi anak yang tak pernah bertemu orangtuanya!. Meski ada Mama Lily yang selalu sayang ke aku, tapi namanya anak pasti ingin bertemu bertemu orangtuanya yang asli. Atau setidaknya mendengar kabar mereka saja aku sudah cukup senang!!" Firsa menyalak. Emosinya belum stabil. Perhatian yang diberikan Prima justru membuatnya semakin terpukul.
"Gampang banget kamu bilang 'jangan sedih'. Tau apa kamu soal anak yatim piatuuu haa??!" lanjut Firsa memojokkan Prima.
"Hahaha...daripada ngomong ngelantur, mending kamu diam Fir!!. Cukup kamu tahu saja ya..aku dari bayi hidup di panti asuhan. Sampai sekarang aku sebatang kara. Lebih pedih mana dibanding hidupmu yang masih ada kasih sayang Mama Lily dan bergelimang harta??" jawab Prima dengan suara bergetar. Matanya berkaca-kaca. Firsa melongo dan tak bisa berkata-kata.
Sejenak kemudian Prima berlalu meninggalkan meja makan diikuti oleh Oca yang berusaha menenangkan.
"Firsa...sabar ya nak. Mama paham jika kamu masih tertekan. Jalani saja, biar waktu yang akan mengiringi langkahmu sayaang," bisik Mama lembut.
"Maafin Firsa, Mamaaa...Mas Lucky...Firsa tak pernah mensyukuri nikmat yang ada..." Firsa menangis menyesali perbuatannya yang telah melukai perasaan Prima.
"Kamu nanti minta maaf ke Prima ya sayang," bujuk Mama dengan diiringi senyum keibuan.
"Iya mama. Pasti!!" balas Firsa.
*****
malam harinya...
"Mas Prima...aku minta maaf banget, tadi aku kasar ke kamu," Firsa meminta maaf dengan disaksikan kami yang sedang duduk bersama di ruang tamu.
"Gapapa Fir...memang nasibku untuk selalu di injak-injak, dihina, dikucilkan. Kenyataannya aku kan gelandangan. Ga punya keluarga, ga punya status sosial yang jelas. Aku terima saja apa adanya." pedih sekali jawaban Prima. Siapapun yang mendengarnya pasti akan iba.
"Pliss mas...jangan ngomong gitu. Aku ga pernah hina kamu kok. Tadi cuma emosi saja," pohon Firsa, berharap Prima memaafkan.
"Iya mas...kami semua peduli kok sama mas Prima. Kita berlima adalah keluarga. Bukan begitu Bu Lily??" Oca melengkapi.
"Oca benar Nak Prima...kalian semua anak-anakku. Kita adalah keluarga. Masa bodo dari mana kalian berasal. Kita diciptakan memang untuk bersatu. Apapun kisah cinta Lucky dan Firsa, atau Prima dan Oca, Mama tak peduli. Kita tetap keluarga. Jika kalian berpisah sebagai kekasih, kembalilah sebagai saudara," petuah bijak sang Ibu suri sejenak meluluh lantakkan tembok-tembok tinggi kerajaan egosentris. Kini saatnya jiwa yang berbicara.
"Maaf Bu...saya salah!!" ucap Prima menyesal.
"Mamaa!!" koreksi Mama Lily.
"Iya..Ma..mama," ucap Prima mengulangi kata-katanya.
"Kalian semua...Lucky, Firsa, Prima, Oca...panggil aku, Mama!!. Selamanya." Ulang Mama Lily untuk semua.
"Iya, Mamaaa," Serempak mereka berucap.
Baiklah anak-anak, pelajaran Taman Kanak-kanak malam ini dinyatakan : selesai.
Lahh..?!
*****
"Kesimpulan atas kasus ini, masih abu-abu antara Papa Rio dan Pak Bimo dalangnya. Meski Mama berkeyakinan bahwa Papa Rio tak akan sekeji itu, tapi bukti nyata belum ada. Kita perlu profesional menyikapi ini!" suaraku mengalir mengisi ruang tamu markas. Semua sedang menyimak.
"Untuk membuktikan itu semua, aku ada ide," lanjutku.
"Gimana bro, penasaran kita," tanggap Prima.
"Bro, tugasmu, tolong carikan nomer handphone Papa Rio. Entah dari data perusahaannya, atau menyadap, atau apalah kamu yang lebih paham caranya!" satu instruksi kuberikan kepada Prima. Ia mengangguk cepat.
"Aku akan segera hunting setelah rapat kita ini," terdengar suara Prima menanggapi. Jempolku menjawab mantan musuhku tersebut.
"Langkah selanjutnya, aku mohon Mama bersedia menelepon Papa untuk membuat janji bertemu. Usahakan bertemu di rumahnya. Mengapa dirumahnya?, alasan pertama adalah mengamati kekuatan pasukan Papa Rio jika memang beliau pelakunya. Memang sih sedikit riskan karena kita akan berada di tengah markasnya yang tentu full pengawalan, tapi aku yakin bisa mengatasinya setelah melihat kemampuan Prima bertarung kemarin. Alasan kedua adalah ingin melihat respon istrinya Papa Rio. Jujur aku curiga si Inna yang menyekapku kemarin adalah istri Papa Rio." panjang lebar ku utarakan skema yang sudah kususun dikepalaku.
"Aku ikut bertarung mas!!. Aku juara karate di kampus," potong Oca cepat.
"Lho kemaren pas mau diculik kenapa ga kamu lawan sendiri??" tanyaku menyangsikan kemampuan Oca.
"Belum waktunya. Aku masih mengulur waktu menunggu tindakan nyata dari para pelaku. Namun ternyata mas Prim sudah muncul duluan," ucap Oca membela diri.
"Ok, aku anggap kamu bisa ya. Langkah selanjutnya, adalah tugas Oca untuk mengawal Mama Lily dan membawa pergi dari lokasi jika terjadi keadaan darurat dan genting. Aku harap Firsa sudah siaga dengan mobil di suatu tempat yang aman untuk menjemput Mama!" lanjutku.
"Akan aku siapkan juga alat komunikasi wireless untuk masing-masing dari kita agar mudah berkomunikasi satu sama lain. Ditambah kamera pengintai di masing-masing tubuh kita yang terkoneksi dengan layar di dalam mobil agar Firsa dapat memantau perkembangan situasi," Prima menambahkan. Aku sangat senang melihat kiprahnya yang sangat membantu.
"Dengan cara ini semoga dapat ditemukan fakta tentang kasus yang kita hadapi. Kita akan melihat respon Papa Rio agar dapat menarik kesimpulan. Jika perkiraanku tepat, maka harusnya Pak Bimo sekarang bingung mencari Mama. Dan jika memang terbukti bahwa Pak Bimo pelakunya, maka saat pertemuan itu dia akan datang. Kita lihat nanti, sebenarnya siapa diantara mereka yang berdiri di pihak kita!!" pungkasku mengakhiri pemaparan strategi.
"Setelah ini, sambil Prima mencari data kontak Papa Rio, aku dan Prima akan menyiapkan semua peralatan yang diperlukan. Termasuk alat beladiri untuk pertahanan kita," imbuhku. Semua menatapku dengan tegang. Tak kupungkiri, akupun demikian juga. Namun logikaku tetap berjalan mengimbangi perasaan yang terus berkecamuk. Ini bukan sekedar kasus klienku. Ini masa depan keluargaku!!.
*****
Menuju bab berikutnya..
**Just info, yuk mampir di Novel saya yang baru.
"KISAH KASIH GORENGAN**".
Mohon supportnya gess. Yaa ramaikan disini dan juga disana gitu hehe ✌️ mumpung bulan puasa yekaan.. dapet peluang bonus pahala kalau nyenengin author 😄
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments