Bab 12 : Niño adoptado II

"Jangan Ca...kamu dalam posisi di incar juga sekarang. Lebih baik ajak ketemu diluar. Baru dibawa kesini," saranku langsung dijawab Oca dengan anggukan.

"Beres bos. Akan aku atur untuk kedatangan mereka pagi ini juga. Yang jelas dalam posisi semua selamat, dan tak ada yang mengetahui posisi markas. Gitu kan??" balas Oca. Jempolku menjawab kecerdasan Oca dalam menyikapi permasalahan ini.

*****

Satu jam kemudian...

"Firsa... Tante..." aku menyambut kedua orang tersebut di markas. Terlihat wajah-wajah tegang dari keduanya. Aku masih harus menyembunyikan status Mama. Biarlah nanti Mama sendiri yang akan menjelaskan.

"Ada apa ini mas?" tanya Firsa dengan wajah khawatir.

"Ada perkembangan baru?" Mama Lily tak kalah khawatir.

"Mari kita duduk bersama membahas ini. Kalian berisitirahat lah sejenak. Perjalanan mental kita setelah ini akan sangat melelahkan," jawabku tenang.

Di sekeliling meja makan, kami berkumpul. Firsa bersebelahan dengan Mama Lily. Prima berhadapan dengan dua orang tersebut dan disampingnya ada Oca. Sedangkan aku sendiri duduk paling ujung menghadap lurus dari sisi samping mereka.

"Ok, baiklah. Mari kita runut perjalanan kasus ini dari awal. Dimulai dari awal mula pengawalanku atas Firsa. Dari foto yang ditunjukkan Prima terlihat bahwa beberapa kali ada sekelompok manusia berpakaian hitam yang sedang mengintai Firsa. Anehnya, tak ada satupun dari mereka yang datang menyerang Firsa." Ucapku.

"Namun setelah kemunculanku yang berkelahi dengan Prima, terlihat sebuah kecondongan dari mereka untuk menyerang. Serangan pertama saat aku di kosan. Pak Bimo mengatakan bahwa penyerangan itu adalah skenario kompetitor-nya yang tidak senang dengan kehadiranku yang melindungi Firsa. Sampai disini timbul pertanyaan, sejak kapan ditarik kesimpulan bahwa para penyerang itu adalah kompetitor?, bukankah sebelumnya Pak Bimo hanya menyebut tentang ancaman dari salah satu pihak. Mengapa kemudian ia menyimpulkan kompetitor?"

"Setiap kali aku diperjalanan, selalu ada saja orang yang menguntit. Lalu terjadi penyerangan kedua, kali ini ditujukan terhadap Firsa karena seolah tahu bahwa aku tidak sedang menjaganya," aku terus bertutur sambil berpikir.

"Penyerangnya bilang, disuruh bos Hadi!" ucap Firsa yang spontan membuat aku dan Mama Lily tersentak.

"Itu kan Papa, Nak" desau Mama Lily.

"Tapi ga mungkin Papa sepicik itu, Mama sangat mengenal Papa. Lagipula nama Hadi tidak hanya milik satu orang," lanjut Mama Lily.

"Papa? Nak?, kalian ngomongin apaan sih?" Firsa menjadi penasaran melihat gelagatku dan mama yang aneh.

"Mungkin sekarang waktunya aku cerita. Tapi aku minta, Firsa sayang, jangan berubah yah apapun isi ceritanya nanti!! pesan mama Lily sebelum memulai ceritanya.

"Apaan sih??!!. Emang Firsa ranger pink yang bisa berubah gitu?!. Iya iyaa Firsa ga akan gimana-gimana..buruan Ma ceritaa!!" cecar Firsa. Aku yang menyaksikannya menjadi ikut tegang.

"Begini...22 tahun yang lalu Mama dan suami Mama sedang naik pesawat dan pesawat itu jatuh. Semua korban tidak ditemukan kecuali Mama dan si kecil Firsa. Akhirnya Mama dan Firsa ditolong oleh Pak Bimo yang kemudian menikahi Mama. Belakangan ini ternyata Mama bertemu dengan suami Mama yang dulu. Tapi hanya sekilas saja karena Mama dan Pak Bimo waktu itu buru-buru. Pak Bimo yang menyimpan kartu nama pemberian suami Mama," tutur mama Lily.

"Saat itu Mama sudah memiliki anak laki-laki yang tidak ikut dalam pesawat. Mama juga dalam kondisi hamil saat kecelakaan pesawat. Kata Pak Bimo, Mama melahirkan bayi tersebut prematur dalam kondisi depresi berat dan bayi itu meninggal. Satu anak laki-laki Mama yang tersisa adalah Lucky ini. Dan Papa Lucky namanya adalah Hadi, Mansario Hadie!!" pungkas Mama Lily yang terlihat mulai tersedu mengingat kejadian pedih di masa lalunya.

Semua yang duduk terkejut mendengarnya. Lebih terkejut lagi adalah Firsa yang seolah mendapatkan berita paling duka dalam hidupnya. Ia merasa menjadi gadis paling merugi saat ini. Dan seolah Lucky adalah pria paling beruntung saat ini.

"J..jadi aa..ku bukan anak Mama?" Dan.. dan Mas Lucky sudah tahu tentang semua ini, tapi kenapa diam saja?" kalut Firsa.

"Kamu tetap anak Mama, sayaaang. Berasal dari perut Mama atau bukan, bagi Mama sama saja. Karena Mama menyayangimu dari hati. Tidak terbatas kondisi!" jawab Mama Lily bijak.

"Mama menjelaskan padaku saat kemarin aku menghilang sejenak saat dirumahmu. Saat itu aku dan Mama keluar dan membicarakan statusku," ungkapku kepada Firsa. Aku jadi merasa tak enak hati karena membohonginya saat itu.

"Yaa ampuuun...hikks," Firsa menangis tanpa bisa berucap lagi. Pikirannya demikian kacau. Mama memeluknya, menenangkannya.

"Semua yang hidup di dunia ini hanya titipan sayaang. Tak ada yang abadi. Tapi Mama bahagia telah dititipi seorang gadis cantik dan baik hati seperti kamu, Nak. Apalah arti orangtua kandung jika kamu selama ini sudah merasakan kasih sayang layaknya orangtua kandung!!" hibur mama. Semua yang diucapkan Mama adalah benar. Firsa tentu akan bersyukur menerima segala kenikmatan selama ini.

"Iya Ma..maafkan Firsa. Aku sadar, jika tanpa Mama, mungkin Firsa akan mati bersama korban yang lain..atau mungkin selamat tapi jadi anak gelandangan, hikss.." ucap Firsa berusaha legowo meski isak tangisnya belum mereda.

"Maaf memotong pembicaraan. Semalam aku dapat data baru tentang pak Bimo. Dia sempat berhubungan dengan sebuah panti asuhan. Aku khawatir Pak Bimo ada kesengajaan untuk membuang Firsa. Maafkan aku jika lancang," suara Prima muncul ditengah suasana haru. Kini semua mata tertuju padanya. Perlahan benang merah mulai terjalin dan saling berkait.

"Yaa ampuun, Maa.." Firsa memeluk Mama Lily semakin erat. Hati dan pikirannya benar-benar telah semrawut dan ngelangut.

"Jangan terlalu prematur menyimpulkan. Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi. Mungkin saya Bimo mempunyai anak lain tanpa sepengetahuan Mama dan Firsa. Atau mungkin ada satu pegawai panti asuhan yang pacarnya Bimo, hehe. Who knows?!. Ini artinya, tenanglah. Namun tetap waspada!" woi dengarkan nih ketua regu BID berceramah, hahahh.

"Sudahh..kamu aman bersama Mama," Mama Lily menggosok sayang pundak Firsa untuk memberikan efek penenangan. Perlahan isak tangis Firsa berkurang.

"Ma...tapi aku..aahmm..masih boleh itu kan..anu itu, ehm Firsa..." suaraku ikut kacau.

"Hmm...kalian masih diperbolehkan agama untuk menikah kok..tenang. Mama siap untuk menjadi ibu sekaligus mertua Firsa hehe," ucap Mama Lily seakan tahu maksud dari perkataanku.

"Iish Mamaaa..apaan sih, maluuu..." rajuk Firsa. Semua pun tersenyum lega.

"Baiklah. Untuk itu, Mama dan Firsa harus mengungsi disini sebelum kasus ini tuntas. Bahaya mengancam di luar sana. Langkah selanjutnya akan kita bahas nanti lagi," kuambil keputusan sebagai pilihan terbaik.

"Aku boleh ikut tinggal disini mas??" tanya Oca merajuk manja.

"Hahahaha...cieeeeeh...!!"

*****

Kasih..

Sayang..

Rindu..

adalah rangkaian emosi.

Makna dari cinta,

Pengejawantahan atas suara hati,

Apa dan mengapa..

Misteri Ilahi yang selayaknya dicari,

Karena kau hidup tidak hanya hari ini.

Hasil adalah jawab,

Tak menjamin hati akan suka,

Karena hanya hati yang bisa membuat hati bahagia..

Aku, engkau, dan dia..

Makhluk kerdil sebagai Hamba-Nya,

Jalani apa yang digariskan-Nya.

*****

Masih berlanjut ke bab berikutnya..

Mohon supportnya pembaca agar Author tetap semangat menulis 💪

Terpopuler

Comments

FigurX (IG @mahisa_campaka)

FigurX (IG @mahisa_campaka)

Semangat untuk diriku sendiri 💪💪

yaelahh😓

2021-04-29

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!