Bab 11 : Niño adoptado

Inna sudah tertidur sambil memelukku. Perlahan kugeser tubuhnya. Ia sedikit terjaga, namun kembali pulas. Kulirik jam dinding, hmmm sudah mau subuh. Segera kuperiksa isi kantong celana, kunci, handphone, masih lengkap. Tapi sayangnya baterai handphone-ku habis tandas. Aku jadi bingung sendiri bagaimana menghubungi Prima. Kuintip sejenak posisi sekuriti dan jumlahnya melalui kaca jendela kamar. Ooh ada lebih dari 15 orang yang nampak oleh pandangan. Jika aku melawan mereka semua maka akan cukup memakan waktu. Namun jika aku tidak melewati mereka, maka aku tak akan bisa mengambil sepeda motorku di pelataran rumah Inna.

Akhirnya kuputuskan dengan menyelinap. Masalah motor, aku sudah tak pedulikan. Toh tabunganku jauh lebih dari cukup untuk membeli mobil sekalipun.

Aku teringat tombol bahaya yang disiapkan oleh Prima. Yap..meski handphone-ku mati, aku tetap bisa meminta bantuan Prima menggunakan alat ini. Cepat kupencet tombol yang ada di sisi tersembunyi dari gantungan kunci motorku. Kuperkirakan waktu tempuh Prima adalah 1 jam.

Perlahan aku membuka jendela kamar Inna yang berada di lantai 2. Aku menyelinap keluar jendela dan menutupnya kembali. Sejenak aku duduk di serambi lantai 2 sambil memikirkan skema untuk turun. Cukup lama aku berdiam di sisi gelap serambi tersebut sambil menunggu datangnya Prima.

"Pak...pakk...Lucky kaburrr!!" tiba-tiba kudengar suara Inna yang telah bangun.

Ba*gsat!!...belum juga aku keluar, sudah ketahuan. Cepat ku melompat di bibir teras lantai 2. Bertemu dengan pipa pembuangan langsung kumanfaatkan untuk meluncur turun. Tapi sial, begitu kakiku menjejak di teras lantai 1, sebagian penjaga sudah menungguku.

"Mau kemana kamu ??!" bentak seorang pria.

"Hehe..kebelet ngiseng om (pengen boker om)!!" jawabku cengengesan.

"Kurang ajar!!" Teriak si pria.

Bett!!

Satu tendangan si pria nyaris mengenai pelipisku jika aku tak mundur. Yahh alamat harus melayani semua pengawal nih. Hasyuu..tahi kuda!!.

Kulancarkan satu pukulan, ditangkis, menyusul pukulan ke dua, masuk tepat di perut si pria. Kutambah lagi dengan lututku menggempur area ************. Ia mengerang dan terjatuh.

Pria kedua dan ketiga langsung mendekat. Kuputar tumpuan kaki seolah berbalik badan, namun menyusul tendanganku ke arah samping belakang. Yes, tendanganku mengenai leher pria kedua. Ia mundur sambil meringis kesakitan.

Dari arah belakang kukirim satu pukulan sambil memutar badan kembali. Alhasil ayunan pukulan memiliki tenaga berlipat ganda. Brassss...hidung pria ketiga menerima pukulan super kerasku. Ia tumbang dengan darah mimisan yang tak terbendung.

"Rasakno koen (rasakan kamu)!!" bentakku kesal.

Oooh shitt!!, para pengawal seperti air bah yang berdatangan tiada henti. Sambil melawan pria-pria berikutnya aku terus berpikir mencari solusi agar dapat lolos dari kepungan mereka. Aku mampu melawan mereka, tapi aku juga punya batasan tenaga. Aku bukan Jecky Chan yang seperti tak punya rasa lelah saat bertarung melawan musuhnya.

Bletakk!!

Satu balok besar berhasil kuhindari dan membentur tembok rumah. Dengan gerakan mendorong kulesakkan siku tangan tepat di ulu hati si pembawa balok. Ia terdorong ke belakang dan meringis kesakitan.

Kulihat dua pengawal membuka gerbang dan beranjak membantu teman-temannya. Aku menjadi punya ide. Perlahan kugeser posisi pertarungan agar segaris dengan gerbang. Tujuanku adalah memancing respon cepat Prima begitu ia melihatku.

Banyak seranganku yang berhasil mengenai para penjaga. Namun tenagaku terbatas. Meski aku belum terluka, bertarung terus menerus seperti ini akan semakin menguras energiku.

"Woy stopp!!" teriakku lantang.

"Apa yang kalian inginkan dari aku??" tanyaku. Sengaja aku mengulur waktu agar tidak terus menerus bertarung.

"Membawa kamu kembali ke Bu Inna, bodohh!!" jawab salah satu pria dengan geram.

"Untuk apa?" tanyaku lagi.

"Bukan urusanmu!!" jawab pria yang lain.

"Wait..sebentar bro semua. Kalian dibayar berapa sih per orang?. Kalau aku sanggup bayar kalian lebih tinggi, kalian mau ikut aku??" tanyaku lagi melakukan persuasi.

Semua terdiam. Aku yakin mereka mulai berpikir. Selain karakter yang mungkin mengakar, dorongan keuangan adalah alasan terbesar bagi bawahan untuk patuh kepada atasannya. Aku tersenyum dan mengulang beberapa kali kalimat yang seolah menjadi tawaran menggiurkan bagi mereka.

Bukk!!

Seorang pria tiba-tiba tersungkur karena menerima tendangan keras di perutnya. Aku menoleh kepada si pengirim tendangan.

"Great!!. Let's play the game broo.." aku berteriak kearah Prima yang baru saja mengirim tendangan.

Dengan cepat kami menggilas beberap pria yng berada di barisan terdepan.

"Broo..cabut!!" bisik Prima.

Kami memberi perlawanan sambil terus melangkah mendekati gerbang. Tepat pada jeda pertarungan, Prima menarikku. Aku segera berlari mengikuti Prima ke arah sebuah mobil.

"Gass Ca!!" teriak Prima kepada pengemudi mobil saat kami baru saja melompat masuk. Para pengawal berlarian mengejar, namun aksi nekad si pengemudi yang seolah hendak menyongsong dan menyapu mereka, membuat mereka bergerak random untuk menyelamatkan diri.

"Fiuuhh...hampir saja. Kamu ngapain sih sob, kok bisa masuk ke situ??" tanya Prima saat mobil sudah berjalan cukup jauh.

"Itu rumah calon klien yang kemaren aku cerita. Dan ternyata aku dijebak!!. Ceritanya panjang. Nanti aja di markas aku cerita semua," jawabku kelelahan.

"Eiiit...ini mbak siapa?, pacarmu bro?" tanyaku saat melihat seorang wanita imut di belakang kemudi.

"Haloo mas, kenalkan. Aku Oca temannya Firsa," ucap si imut menyapaku. Aku terkejut pastinya. Bagaimana bisa ada temannya Firsa yang ikut. Lalu apa hubungannya dengan Prima?. Dan berarti Firsa sudah tahu posisi Agen 02 BID dong?!.

"Halo, aku Lucky. Kok bisa sama Prima mbak?" aku masih heran dan bingung.

"Ceritanya juga panjang. Nanti di markas kita saling curcol ya bebs!!" potong Prima dengan tatapan mata dikedip-kedipkan dan mulut yang dimonyongkan seolah hendak menciumku. Kujawab dengan colokan jari dimatanya. Prima menangis. Haha..

*****

Aku selesai mandi selang 1 jam setelah kami tiba di markas. Kulihat Prima baru saja datang bersama Oca dengan membawa bungkusan plastik.

"Dari mana?" tanyaku sambil menikmati moccacino di atas meja ruang tengah. Entah milik siapa.

"Dari pasar, belanja mas. Sama beli pakaian dalam, upss.."

Oca memejamkan mata sejenak dan tersipu.

"Busett, itu anak orang abis kamu apain bro? Sampe butuh pakaian dalam!!" candaku.

"Jangkrikk..itu moccachino punyaku des!!, bikin sendiri sana!" bukannya menjawab candaanku, Prima malah uring-uringan membela moccachino-nya yang ku sikat.

"Iyaa iya sorii... aduh laper nih," balasku.

"Ini kita beli nasi uduk mas, yuk makan bareng. Ini juga ada sayur dan belanjaan lainnya. Nanti siang biar aku masakin," ucap Oca ceria.

"Baik banget sih mau masakin..makasih istrikuu," Prima cengar-cengir dan langsung dicubit gemas oleh Oca.

"Enak aja!!, lamar dulu, trus nikah, baru nyebut istri!" Oca cemberut sambil ngedumel sendiri.

"Aaduhh sakit tau. Emang kamu mau dilamar?" balas Prima iseng.

"Gaaa!!" Oca berlalu ke dapur dengan bersungut. Tapi tetap saja masih kelihatan lucu wajah imut nya. Sebentar kemudian ia sudah kembali dengan membawa 3 buah piring dan sendok.

Sambil makan, kuceritakan perihal kejadian bersama Inna. Meski bagian es degan ranjang jelas aku skip. Aku hanya menceritakan bahwa Inna melarangku membantu Pak Bimo dan diminta hanya fokus menjaga dia. Posisiku disitu malah disekap agar tidak melarikan diri.

"Aneh itu bro. Pengawal nya saja tadi sebanyak itu, untuk apa dia cuma perlu seorang Lucky saja yang mengawal?. Lalu kenapa sampai menyebut nama Pak Bimo?, Kenapa tidak menyebut kasus lain gitu aja?. Ini sangat janggal!!" ucap Prima menanggapi.

"Makanya itu, setelah ini harus kita bahas bersama!" jawabku lugas.

"Ehm..maaf, aku akan keluar jika kalian tidak berkenan aku mendengarkan pembicaraan rahasia ini," potong Oca merasa tak enak. Prima tampak tak suka dengan ucapan Oca. Tatapan mata Prima seperti memerintahkan kepada Oca agar tidak terlalu banyak bicara dan duduk manis saja disana.

"Hahaha...setelah kamu mengemudikan mobil untuk menolong aku, kemudian masih berpikir bahwa kau orang luar?, come Oca, jangan ragukan kepercayaanku.." jawabku mematahkan ucapan Oca.

"Hehe..kali aja," Oca menjulurkan lidah.

Kemudian Prima ganti bercerita tentang perkelahian melawan orang-orang yang hendak menculik Firsa dan Oca. Aku langsung emosi saat mendengar Firsa kembali terancam. Entah kenapa dengan aku ini. Saat semalam bersama dengan Inna, aku lupa Firsa. Tapi giliran sekarang Firsa diganggu, aku marah. Aku ga habis pikir dengan perasaanku sendiri.

"Bro...Firsa dan Mama-nya harus segera kita amankan di markas sebelum terlambat. Pak Bimo sementara harus dijauhkan dari mereka, terlepas nantinya Pak Bimo terbukti bersalah atau tidak. Sekaligus kita ajak mereka berdiskusi mengenai ini semua," cepat kupikirkan tindakan awal untuk melindungi Firsa dan Mama. Sudah sangat riskan bagi keselamatan dua bidadariku jika minim pengamanan.

"Aku saja mas yang jemput mereka," usul Oca, namun aku kurang sependapat.

"Jangan Ca...kamu dalam posisi di incar juga sekarang. Lebih baik ajak ketemu diluar. Baru dibawa kesini," saranku langsung dijawab Oca dengan anggukan.

"Beres bos. Akan aku atur untuk kedatangan mereka pagi ini juga. Yang jelas dalam posisi semua selamat, dan tak ada yang mengetahui posisi markas. Gitu kan??" balas Oca. Jempolku menjawab kecerdasan Oca dalam menyikapi permasalahan ini.

*****

Ke bab berikutnya gess..

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!