Bab 3 : Amenaza de peligro

****************

WARNING ⚠️ 21++, hati-hati bab ini mengandung unsur dewasa. Skip/lewati saja bagi yang belum cukup umur.

****************

A-- Hallo selamat pagi tuan Bimo

B-- Siapa?

A-- Tuan Bimo tak perlu tahu siapa saya, hehe

A-- Yang anda perlu tahu justru nasib putri anda!

B-- Maksudmu apa?

A-- Batalkan penerimaan barang, atau putri anda akan diperkosa sampai mati!!!

B-- Jangan mengancamku!!

A-- Buat anak kok coba-coba, hahaha..

B-- Bedebah. Jangan ganggu anakku!!!

A-- Turuti permintaanku!! Simple kan??

B-- Kamu ingin uang berapa??

A-- Ohh tidak tuan, ini bukan penculikan, jadi saya bukan maling miskin yang butuh tebusan uang. Batalkan penerimaan barang, anak anda akan selamat dari pemerkosaan!! It's easy.

B-- Kamu bisa saya laporkan polisi!!

A--Buat anak kok coba-coba, hahaha. Jangan coba-coba lapor polisi. Atau istrimu ingin diperkosa juga??

B-- Cukupp!!

A-- Baiklah. Bye tuan Bimo. Pikirkan ucapanku tadi. Ambil langkah sesuai perintahku. Ojo sembrono (jangan gegabah), apalagi coba-coba cara konyol lainnya.

B--Heii tunggu!!

Tutt..tutt

 

《POV WRITER》

"Mama...ada yang mengancamku!"

ucap Bimo tegang.

"Siapa Pa?. Apa maunya?!"

Istri Bimo tak kalah tegang.

"Ada yang tidak suka pada pengiriman Alkes untuk kita. Dia minta kita membatalkan, atau Firsa akan diperkosa!!"

suara Bimo bergetar. Baru kali ini ia menghadapi permasalahan sepelik ini.

"Apaa!!"

"Yaa ampun Pa!!, gimana ini??"

yang namanya wanita, mendengar berita semacam itu tentu jauh lebih panik daripada Bimo.

"Itulah Ma, aku tak berani ambil resiko. Bisa-bisa anak kita yang jadi korban!"

Bimo masih saja bingung tentang langkah apa yang akan dia ambil.

"Betul Pa, Firsa lebih penting!!"

Bu Bimo tentu saja tak rela jika anaknya dalam ancaman besar.

"Tapi Pa, kita bukan pengusaha besar. Yang turun dari kapal hanya muat satu mobil box. Apa ga salah jika mereka mengancam kita??"

Bu Bimo mencoba berpikir rasional.

"Aku juga sempat berpikir begitu. Tapi kita satu-satunya distributor untuk toko-toko pengecer di kota ini. Bisa jadi ada yang ingin mengambil alih pasar kita!"

Bimo mencoba menanggapi pikiran istrinya.

"Jika pasar kita diambil, habislah kita, Pa. Untuk ekspansi ke kota lain tentu cost juga akan meningkat. Bisa jadi langkah kita ke kota lain turut dihalangi. Hancur sudah bisnis yang kita bangun bertahun-tahun!!"

Bu Bimo terus berpikir, membantu memberi pemecahan untuk suaminya.

"Arrrh...pusing kepalamu Ma!!"

geram Bimo.

"Kepalamu, Pa. Bukan kepalaku!!"

koreksi Istrinya.

"Hahhh. Iya kepalaku maksudnya!!"

Bimo mengacak-acak rambutnya sendiri. Pikirannya sangat kacau dan ngelangut.

"Maksudnya siapa??"

kejar Bu Bimo.

"Adooh, Mamaaa..!!!"

teriak Bimo frustasi.

"Sabar Pa...hipertensi Papa bisa naik lagi jika memikirkannya terus-menerus. Tenangkan diri dulu. Pelan-pelan kita cari solusi."

Bu Bimo ikut termenung sampai seperti linglung. Ngomongnya pun jadi tak fokus. Tak hanya keselamatan Firsa, kini kesehatan suaminya juga ikut dipertaruhkan akibat ancaman itu. Sekali saja tensi darah Bimo melonjak drastis, bisa wassalam yuk dadaa bye bye.

"Coba panggil Firsa Ma!!. Kita perlu membicarakan hal ini bersama dia."

Ucap Bimo lugas.

Sekian menit berlalu...

"Firsa sudah tahu!"

ucap Firsa lirih saat Bimo mengutarakan perihal ancaman terhadapnya.

"Kok kamu baru cerita sih sayang??!"

sergah Bu Bimo.

"Awalnya aku pikir ini hanya teror saja Ma. Makanya aku masih menahan dan tidak cerita."

Jawab Firsa.

"Ga bisa begitu Fir. Apapun yang menyulitkanmu harus kamu cerita!!"

Bimo nampak emosi mendengar Firsa yang terkesan menyepelekan.

"Apa Papa yang akan lakukan jika aku cerita?. Ga ada Pa!! Aku cerita atau tidakpun keadaannya sama!!!"

Firsa berteriak lantang. Ia tak mau dipojokkan begitu saja.

"Papa lebih tahu cara mengatasinya daripada kamu!!"

bentak Bimo marah.

"Apa??, coba Firsa ingin dengar cara Papa mengatasinya!!"

Firsa menatap tajam Papa-nya. Ia berusaha menyembunyikan ancaman pemerkosaan, berharap orangtuanya tidak resah. Tapi kenyataannya malah ia dipersalahkan.

"Cukup!!, kamu ga berhak menantang Papa seperti itu!"

Bimo semakin marah, hampir saja ia menampar Firsa jika Bu Bimo tak menahan lengannya.

"Fir..sudah nak. Tolong hormati Papa-mu. Turunkan emosimu sayang!"

"Papa juga gitu, jaga tekanan darah Papa!!"

Bu Bimo tampil lebih lembut. Ia tak ingin bapak-anak itu malah ribut sendiri, sedangkan permasalahan masih belum terpecahkan.

"Bahkan aku menyewa jasa pengawalpun juga inisiatif sendiri. Papa ga peduli sama aku..."

Firsa kelepasan membahas jasa pengawal. Perlahan menangis, ia merasa dihakimi begitu rupa.

"Pengawal??"

Bimo kaget. Ia hampir tak pernah terpikir untuk menyewa hal seperti itu untuk melindungi anaknya.

"Ada ya jasa seperti itu di sini??"

lanjut Bimo sangsi.

"Ada Pa. Dia hiks.. hiks teman Firsa. Kerjanya bagus. Kemampuan beladirinya juga keren!!"

jawab Firsa membanggakan diri di sela sesenggukan tangis. Setidaknya ia mampu mengambil langkah sendiri disaat orangtuanya belum tahu bagaimana harus bersikap.

"Berapa orang??"

tanya Bimo lagi.

"Sendirian."

Jawab Firsa sambil menyeka airmata di pipinya.

"Hmm...mana sanggup dia sendirian!!"

"Sih coba tolong ajak dia kesini. Papa ingin ngomong sama dia!"

pinta Bimo. Pikirannya sudah sangat buntu. Mungkin teman Firsa inilah harapan satu-satunya bagi Bimo. Tapi dia ragu jika urusan sepelik ini hanya akan ditangani oleh satu orang saja.

"Coba nanti aku hubungi dia Pa!!"

balas Firsa cepat.

"Siapa namanya?"

"Lucky Sikat."

Kali ini malah Bu Bimo yang nampak terkejut.

"Lucky??!"

tanya Bu Bimo memastikan. Raut wajah Bu Bimo berubah.

"Iya Lucky. Kenapa Ma??"

tanya Firsa sedikit curiga.

"Oh gapapa. Lupakan saja!"

meski Bu Bimo menjawab demikian, tapi wajah resahnya tak bisa dikelabuhi. Ada seonggok duka yang menyembul disana.

 ----

《POV FIRSA》

Ishh...ini orang kemana ya?. Di WA centang dua tapi belum dibuka. Di telepon tidak diangkat. Kesel sendiri aku jadinya. Dasar pengawal sok penting!!. Pagi begini apa dia ga kerja sih??!. Ahh membosankan. Aku hampir putus asa rasanya menunggu respon dari Lucky Sikut.

...Ilustrasi Firsa...

......................

Yaa...aku lebih suka menyebutnya, Lucky Sikut. Gayanya yang sok cool, sok iyes, berasa pengen aku sikut aja tuh cowok. Belagunya amit-amit. Udah cuek, dingin, galak, ahh ga sopan banget deh pokoknya.

Emang sih, aku akui dia ganteng. Badannya juga bagus. Sempat juga aku merasa ge-er kalau dihadapan dia. Rasanya tenang banget kalau ada dia disampingku. Tapi sekarung gayanya itu, me-nye-bal-kaaaan, pakai banget.

Dan sekarang, dicariin ga bisa. Siapa yang ga kesel coba?. Kemana sih tuh anak pagi-pagi gini??!!. Aku yakin, dia pasti masih ngorok. Ngoook.

B--Sori, baru bangun--

Tiba-tiba Lucky membalas pesanku.

A--Ishh...ada yang penting ini. Malah tidur!!--

B--Aku semalam begadang. Cari cara buat selametin kamu. Tauu?!!

A--Masaa..--

B--Kamu dimana?. Knp sih--

A--Dirumah. Aku mau ngomong. kesini ya--

B--Tar ajalah. Mager.

A--Yeee...ga bisa ditunda ini masss. Aduhh--

B--Belum mandi, belum sarapan. Siang aja--

A--Ga bisa. Harus sekarang. Ga bisa ditunda--

B--Yaudah kamu aja yang kesini. Kan kamu yang butuh--

A--Ishh nyebelin. Iya iya aku kesana. Kasih alamat, ama share lokasi!!--

B--Kosan Bamboo. Kamar nomer 5. Arahnya tar aku share--

A--Ok..--

B--Eh eh...tar dulu!--

A--Apa lagiiii???!!--

B--Laper nih. Bawain nasi bungkus--

A--Huhhh. Yaudah lah, tunggu. Bye!--

Ini cowok asli superrr nyebelin. Kalau ga inget dia sudah berhasil hajar Prima, mungkin sudah aku batalkan kesepakatan ini. Siapa juga yang betah berurusan sama cowok belagu kayak gitu.

Diantar supir Papa, aku meluncur ke lokasi yang sudah di share si Lucky Sikut. Tidak terlalu jauh, hanya perlu waktu setengah jam-an untuk bisa mencapai alamat tersebut. Sampai disana, segera aku suruh sopir langsung balik membawa mobil. Biar saja nanti Lucky yang akan memikirkan gimana aku baliknya.

Tookk tok...

"Kamu. Masuk."

Lucky membuka pintu. Kalimat pertamanya saja sudah bau arogan banget. Huhh

"Kok belum mandi??"

tanyaku heran. Harusnya sambil nunggu aku datang kan dia bisa mandi dulu kek, bebenah kek, sikat gigi kek. Bikin tambah lama aja.

"Kan mau makan dulu. Sini nasinya!!

Lucky merebut kantong kresek dari tanganku. Aku diam saja tak peduli.

"Jorok. Sikat gigi dulu nape!!"

cibirku menggurui.

"Ga usah sotoy. Aku sudah sikat gigi dari subuh. Pantang buat Lucky makan pagi aroma bau jigong."

Dia membela diri dong. Bomat dah.

"Mau berdiri terus di situ?. Duduk tuh depan meja!!"

aku hanya melotot. Segera aku duduk tanpa menjawab ucapannya.

"Mau ngomong apa sih?!"

tanya Lucky. Mulutnya penuh dengan makanan. Ga sopan kan??

"Abisin dulu makannya. Ga sopan ngomong tapi mulut penuh makanan kek gitu!!"

ucapku jengkel. Dia hanya mengangguk.

Selang sekian menit, Lucky berdiri. Nasi bungkus sudah ludes ia sikat. Nah ini baru sikat yang bener.

"Wkwkwkwk...Lucky Sikat artinya Lucky doyan makan berarti hahaha," batinku.

"Kenapa kamu??, senyum-senyum sendiri,"

sergah Lucky. Spontan kukembungkan pipi sambil membuang pandangan ke sudut kamar lainnya. Malu bokk.

"Aku mandi dulu aja deh!"

Lucky melangkah ke kamar mandi disamping pintu masuk. Keren juga, kosan cowok pake kamar mandinya di dalam.

Sambil menunggu Lucky mandi, aku melangkah melihat sekeliling kamar kos-nya. Cukup bersih dan rapi untuk ukuran kamar seorang cowok bujang. Bagus sekali didikan orangtuanya. Jarang-jarang ada cowok yang bisa rapi seperti itu.

"Sori lama."

Yaa ampuun. Dia muncul dari kamar mandi hanya dibalut handuk saja bagian bawahnya. Beberapa kali aku reflek menelan ludah melihat tubuh semi-nya. Dadanya bidang, perutnya kotak-kotak kayak tahu Sumedang. Bahunya bergelombang dan terlihat sangat kekar berotot.

"Pakai baju di kamar mandi harusnya!!"

ucapku berusaha mengacuhkan ke-seksi-an nya.

"Iyaa..ini juga mau ambil baju dulu di lemari."

jawab Lucky yang kemudian sedikit berlari menuju lemari.

Tapi entah kenapa, saat berjalan kembali ke arah kamar mandi tiba-tiba handuknya meluncur begitu saja kebawah. Aku yang duduk tepat menghadap jalur antara lemari dan kamar mandi spontan tersentak, terpana, terbata.

"Aauww!!"

aku reflek menutup mataku dengan kedua telapak tangan. Lucky diam tak bergerak. Sepertinya ia juga kaget dengan kejadian itu.

Diam beberapa detik dan aku masih terpejam. Tak kudengar langkah kakinya. Hingga ketika aku merasakan dingin di daguku. Perlahan kubuka mata, kuturunkan kedua tangan.

Ternyata rasa dingin tadi adalah tangan Lucky yang memegang daguku. Aku terdiam. Lucky sudah berdiri didepanku.

Cupp..

Tak kusangka Lucky membungkuk dan kemudian mengecup bibirku. Serentak bulu kudu ku merinding. Badanku terasa kaku tanpa mampu kugerakkan. Aku tak marah dan sebaliknya merasa melambung mendapatkan ciuman tersebut.

Merasa aku tak memberi perlawanan, Lucky mengulangi lagi kecupannya. Ini sudah gila, aku bahkan menikmati ciuman itu. Tanpa kusadari perlahan kubuka bibirku seolah meminta lebih.

Kedua tangan kekar Lucky tahu-tahu sudah mencengkeram kedua lenganku. Ia menarik tubuhku untuk berdiri. Dan lagi-lagi aku mengikuti kemauannya. Aku seperti terhipnotis.

Akal sehatku sudah tumpul. Atau mungkin memang inilah yang aku harapkan dari seorang Lucky. Sebuah kehangatan.

Tak menunggu lama, terjadilah apa yang akan terjadi. Aksi teatrikal percintaan, begitulah.

Aku lemas. Seluruh tulang dan persendianku merapuh. Saraf-saraf lumpuh lunglai. Tubuhku terkapar tanpa daya. Mataku terpejam menikmati sekilas sketsa antara mimpi dan kenyataan, menikmati timangan maghligai angkasa yang membawaku diatas biduk permata, terombang-ambing diatas lautan madu dan putih susu. Angin yang berhembuspun terasa sangat manis.

Dialah pria yang diam-diam selalu kubayangkan. Pria yang kelak kugadang-gadang melengkapi buku nikah yang tertera namaku disana.

Mwuuuah..

Lucky mengecupku lembut.

"Plis jangan tinggalin aku. Akuu..Aa..ku sayang kamu mas!!"

ucapku tulus.

Lucky tersenyum. Kembali ia mengecup bibirku.

"Aku juga sayang kamu Fir!!"

ucapan Lucky kali ini membuatku tersenyum lega.

 ----

《POV LUCKY》

Badan kami sudah wangi dan bersih setelah mandi di kamar mandi kosanku.

Aku tak menyangka akan melakukan sejauh ini bersama Firsa. Akupun tak menyangka Firsa mau menerima perlakuanku.

"Mas...kita perlu segera ketemu Papaku. Ada ancaman lain terkait ancaman pemerkosaanku!!"

ucap Firsa lembut. Ia duduk diatas pangkuanku.

"Ok..kita kesana."

Kalimatku yang kaku terlontar kembali.

"Iish..udah napa, ga usah pakai gaya-gaya sok cool kayak gitu. Hmmm orang udah abis sayang-sayangan kok gitu lagi!!

Firsa mencubit pinggangku. Aku tertawa lebar melihat sandiwaraku berhasil membuat ia sewot.

"Iyaa..iyaa.. maaf sayang. Setelah ini kita langsung ketemu Papa kamu yah!!"

ku koreksi kata-kata, Firsa langsung senang.

"Iya yuk berangkat!!"

ajak Firsa mencoba berdiri dari pangkuanku, namun kutahan.

"Bentar!!"

ucapku.

"Apa lagii!!"

Firsa kembali duduk.

Mwuuuhh...kukecup lagi bibir Firsa. Ia pun meladeninya. Kembali kami saling memagut bibir dengan mesra.

"Mass..kita pacaran ya ini??"

ucap Firsa setelah ciuman kami berhenti.

"Belumm..baru saling sayang. Aku belum nembak kamu kok ihh!!"

aku menggodanya, dijawab pipinya yang mengembung.

"Bukannya tadi udah nembak ?"

Senyum Firsa malu-malu.

"Haistt..itu sih menikam, bukan menembak,"

godaku lagi.

"Yaudah, buruan nah sekarang!!"

pinta Firsa tak sabar.

"Tar aja!!"

"Isshh nyebelin."

"Trus mas pikir sekarang ini kita ngapain??"

"Pacaran dong Fir..hahaha..."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!