Tiba di galery seninya sudah menunggu Kean dengan makanan yang terhidang di atas meja. Ayam goreng fast food terkenal yang terlihat masih hangat lengkap dengan nasi dan barisan para sauce serta minuman bersoda sebagai pelengkap.
Jika orang-orang menghindari fast food, Kean justru menyukainya. Baginya makanan seperti ini adalah sahabat di kala perut kepepet selain itu, fast food sudah pasti tidak dicicipi saat dimasak.
Entah mengapa ia selalu merasa jijik sendiri saat membayangkan makanan yang dinikmatinya di cicip terlebih dahulu oleh yang memasak.
“Lo gag bilang kalo udah nyampe?” seru Reza dari arah pintu. Ia menghampiri Kean lalu menaruh tasnya di atas sofa.
“Ngapain, lo juga di jalan ini. Dan lagi gag di kunci juga.” kilah Kean. Ia mulai mencicipi ayam goreng yang ada di hadapannya.
“Udah cuci tangan lo?” Reza beranjak dari tempatnya untuk mencuci tangan.
“Udah lah! Udah bismillah juga.” timpal Kean sebelum di peringatkan kembali oleh sahabatnya.
Tinggal di Amerika membuat Kean cukup terbawa. Ia lebih terbiasa menikmati makanannya dengan cepat kadang sampai lupa basmalah. Beruntung sahabatnya selalu mengingatkannya.
Reza dan Kean memang bersahabat sejak SMA. Kesamaan karakter fisik yang banyak di gilai kaum hawa, latar belakang keluarga yang hampir sama juga cara berfikirnya yang simple. Hanya saja Reza laki-laki yang lebih peka sementara Kean laki-laki yang cuek.
Entah bagaimana mereka mulai bersahabat. Mungkin sikap Reza yang welcome lah yang membuat Kean merasa cocok untuk mereka berteman.
Reza masih memperhatikan tampilan sahabatnya dari pantulan kaca yang ada di hadapannya. Kean terlihat lebih rapi dan bersih serta wanginya yang khas. Ia tahu benar, sahabatnya tidak suka memakai parfum, tapi saat ia masuk galery dan melewati Kean, tercium wangi yang segar.
“Lo laundry dimana? Udah ada yang lo percaya buat megang barang-barang pribadi lo?” Berjalan menghampiri Kean lalu duduk di hadapannya, hanya terhalang meja.
“Gag laundry, bu kinar ngirim gue pelayan.” masih asyik menikmati makanannya.
“Dan lo udah gag ngerasa risih lagi?” sepertinya Reza penasaran.
Kean mengendikkan bahunya dengan acuh. “Gue percaya kalo bu kinar gag akan salah ngirim orang. Dan sepertinya terbukti.” Menegakkan tubuhnya menunjukkan bajunya yang rapi bekas di setrika walau sudah setengah hari ia pakai.
“Rapi. Sepertinya pilihan bu kinar emang tepat.” memperhatikan tampilan Kean sejenak kemudian memulai sesi makannya.
“Dia juga lumayan pinter masak. Makanan rumahan tapi.” masih menyuap ayam goreng paha kedua.
“Paket lengkap tuh! Cakep juga gag?” Reza menelisik dan memperhatikan Kean.
“Udah tua! 50 tahun.”
“Gilaaa!!! Lo ngeeksploitasi nenek-nenek buat kerja di rumah lo?” Reza sampai terperangah.
Ia masih ingat kalau biasanya pelayan di rumah Kean biasanya berusia di bawah 35 tahun dan cukup terkejut ada wanita berusia matang bekerja untuk keluarga sahabatnya.
“Ya mungkin dia masih butuh kerja dan badannya masih kuat. Tapi yang gue salut, selera fashionnya bagus. Gag tau di belajar dari mana?” mulai menaruh tulang ayam di piringnya dan meneguk soda dengan suara “Aahhh..” di ujungnya.
“Gag coba lo tanya?”
“Nggak! Nggak penting dan gag pernah ketemu juga.” sahutnya dengan diikuti tegukan kedua, ketiga, keempat dan tandas.
Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, merasakan perutnya yang penuh. Entah mengapa akhir-akhir ini selera makannya meningkat. Sejak kapan tepatnya, mungkin setelah menikmati nasi goreng yang ia habiskan saat sarapan beberapa hari lalu.
“Lo masih risih kalo ada orang lain di rumah lo?” Reza sepertinya memahami benar raut wajah sahabatnya yang tampak melamun.
“Gag suka orang lain mencampuri hidup gue, itu tepatnya. Cukup bokap yang nyampurin dan ngatur hidup gue dan belum bisa gue lawan.” mendengus kesal dengan raut wajah yang ikut kelabu.
“Sampe kapan pun, doi tetep bokap lo bro.” Reza mencoba mengingatkan sahabatnya yang selalu meradang saat menyebut kata “Bokap.”
“DOI?” tersenyum sarkas pada Reza. “Lo tau, dia bukan orang istimewa buat gue, seperti halnya gue yang gag istimewa buat dia. Gag penting malah."
"Dia memang bokap gue, tapi gue gag pernah jadi anaknya. Gue cuma salah satu properti yang bisa dia manfaatkan seenaknya. Kalo udah gag kepake, nanti juga di buang.”
Kembali mengambil gelas plastiknya dan meneguknya. Lupa, sudah habis. Ia melempar dengan kesal gelas tersebut ke atas meja.
Reza yang memperhatikan kekesalan sahabatnya, segera menyodorkan gelas miliknya yang kembali ia isi dengan soda dari dalam botol. Membahas tentang keluarganya selalu membuat Kean meradang dan mungkin sebaiknya ia tidak membahasnya lagi.
“Adam sama adeknya mau liburan ke bali. Mungkin nanti mereka mampir ke rumah lo.” menyebutkan nama salah satu sahabat Kean waktu di Amerika.
Laki-laki bebas yang kerap bergonta-ganti pasangan. Mungkin di bali pun ia akan kembali mencari mangsa untuk ia pacari sehari atau dua hari.
“Nanti gue telpon.” meneguk soda yang diberikan Reza.
Reza mulai bisa menghela nafas lega, sepertinya perhatian sahabatnya mulai teralihkan walau hanya untuk beberapa saat.
Kean beranjak untuk mencuci tangan, mengusap mulutnya dan merapikan rambutnya yang sebenarnya masih rapi. “Gue ke kantor dulu. Lo ke rumah ya, gue ada PS baru. Siapa tau kali ini lo menang lawan gue.” mengeringkan tangannya lalu mengambil jas yang tersampir di atas sandaran sofa. Dengan cepat Kean memakainya.
“Ya nanti gue mampir. Tapi jangan minggu ini ya, gue ada acara sama temen-temen kampus.”
“Lo pacaran sama mahasiswi lo?” Kembali duduk karena penasaran.
Reza malah tertawa. “Hahhaha... Bukan, temen-temen dosen gue. Mereka mau ngadain acara di sini. Ya sekedar makan-makan dan perkenalan gitu.”
“Dan salah satu di antara mereka cewek lo?” Kean mencondongkan tubuhnya dengan tatapan penuh tanya pada sahabatnya.
Alih-alih menjawab cepat, ia lebih suka menjilati satu per satu jarinya dengan senyuman tipis yang ia tujukan pada Kean. Ia sangat suka membuat sahabatnya penasaran.
“Jawab monyet!” Kean melempar gelas kosongnya pada Reza. Dia memang bukan orang yang sabar menunggu.
“Hahahhahahaha...” malah membalasnya dengan tawa. “Kepo banget lo! Lo aja dulu yang nyari cewek, sebelum yang di balik celana lo jadi kaku dan gag bisa bangun.” ledeknya kemudian.
Kean hanya melengos. Sudah cukup bertanya pada sahabatnya yang tidak mungkin di jawab. Sang casanova ini memang sangat sering berganti pacar. Rayuannya dengan dentingan piano menjadi magnet yang ia gunakan untuk mendekati lawan jenisnya.
Dan Kean? Ah sudahlah, ia bahkan belum pernah tau rasanya berdebar saat mengejar seorang wanita.
“Gue balik!” Mengambil kunci mobil yang ada di atas meja lalu beranjak pergi.
“Salam buat pelayan idola lo!” seru Reza dengan diiringi tawa.
Kean hanya mengacungkan jari tengahnya sebelum sosoknya menghilang di balik pintu.
*******
“Kamu udah selesai?” suara Kinar terdengar jelas dari pintu ruangan tempat Disa bekerja.
Disa segera menoleh ke arah datangnya suara dan tersenyum tipis menyambut Kinar. “Sudah bu, tinggal saya masukkan ke keranjang.” berdiri dan mematikan setrika yang ia pakai.
“Segera masukkan, kita bawa ke ruangan nyonya dan tuan sebelum mereka pulang.”
“Baik bu.”
Gerak tangan Disa bergerak cepat memindahkan baju yang bertumpuk di meja setrikaan ke dalam keranjang. Ia menempatkan baju per keranjang berdasarkan pemiliknya. Setiap potong baju sudah sangat rapi dan wangi hingga ia harus berhati-hati.
“Bawa punya nyonya dan tuan dulu.” titah Kinar.
“Oh iya bu.” Disa menurunkan kembali satu keranjang dari atas troli. Menggantung beberapa baju dengan hanger dan mulai mendorong troli yang memuat baju tuan dan nyonya besarnya.
Keluar dari ruangan linen, Disa menghampiri Kinar. “Sudah siap bu.” ujarnya.
Kinar hanya menoleh dan mulai berjalan di depan Disa. Mereka tidak melewati ruangan utama melainkan memilih memutar jalan belakang dan menggunakan jalan khusus untuk membawa troli yang berisi keranjang pakaian.
Tiba di lantai 2, depan walk in closet milik tuan dan nyonya besarnya.
“Masuklah.” suara Kinar kembali terdengar.
“Hah? Oh iya bu.” Disa sedikit tergagap. Biasanya ia tidak di izinkan masuk ke ruangan ini dan hanya terdiam menunggu di luar sambil memandangi beberapa lukisan indah karya pelukis terkenal.
Kinar tidak menyahuti, ia membukakan pintu lebih lebar dan membiarkan Disa mendorong trolinya masuk.
“Sebelah sini lemari nyonya dan sebelah sana lemari tuan. Kamu rapikan.” menunjuk 2 lemari besar di sisi kiri dan kanan mereka.
“Baik bu.”
Disa menurunkan satu keranjang dan menuju lemari di sisi kanan. Saat pintu lemari terbuka, tampak tumpukan baju berwarna warni dengan banyak manik, khas milik nyonya besarnya. Sebanyak ini baju milik nyonya besarnya dari berbagai brand terkenal.
Mulai menyusun pakaian, rupanya nyonya besarnya suka memisahkan baju berdasarkan warna. Dominan memang warna hitam, katanya supaya terlihat langsing, singset. Padahal tanpa warna hitam pun nyonya besarnya sudah terlihat langsing, tidak seperti seorang ibu yang sudah memiliki anak berusia belasan.
Kabarnya lagi, nyonya besarnya dulu adalah seorang model, pantas saja ia sangat menjaga penampilannya.
“Gimana di rumah tuan muda?” suara Kinar membuyarkan obrolan gosip antara Disa dengan dirinya sendiri.
“Oh, anu. Baik-baik saja bu.” jawabnya sekenanya.
Disa melirik Kinar yang duduk di salah satu sudut sofa dan memperhatikan pekerjaannya. Wanita ini selalu terlihat serius dan Disa tidak pernah sekalipun melihat ia tersenyum. Mungkin benar yang dikatakan Tina, bibir Kinar kaku hanya untuk sekedar di lengkungkan selama 3 detik.
“Mulai minggu ini kamu tidak perlu belanja bahan makanan kalau tuan muda tidak memakannya. Delivery order saja.” lanjutnya tanpa mengalihkan pandangan dari baju yang di pegang Disa.
Disa menaruh pakaiannya dan berbalik menatap Kinar. Rasanya tidak sopan berbicara sambil memunggungi.
“Lanjutkan saja, sambil berbicara. Kamu harus menyelesaikannya dengan cepat.” ternyata yang dilakukan Disa salah.
“Baik bu.” Kembali mengambil baju dan menatanya dengan cepat di dalam lemari. “Sudah 4 hari tuan muda mau makan masakan saya bu.” aku Disa dengan senyum penuh rasa bangga.
“Oh ya?” Kinar beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Disa. Ia mengambil baju yang tergantung di hanger dan menempatkannya dalam lemari.
“Iya bu. Ternyata tuan muda tidak suka potongan bawang dalam makanannya, jadi harus dihaluskan kalau ingin menjadikannya sebagai bumbu. Beliau juga tidak suka ayam yang di goreng dengan ukuran besar, ia lebih suka di fillet agak tipis dan di beri tepung. Selain itu, tuan muda tidak suka makanan dingin tapi untuk nasi tidak boleh panas agar makannya lahap.” tutur Disa seraya mengingat beberapa kebiasaan tuan mudanya.
Sepertinya Kinar cukup terkejut dengan penuturan Disa. Tanpa keduanya bertemu, Disa mulai mengenali kebiasaan tuan mudanya.
“Apa kamu menjatuhkan sesuatu atau membuang barang yang tidak seharusnya kamu buang?”
Pertanyaan Kinar membuat Disa menoleh dengan wajah tegangnya. “Apa tuan muda kehilangan sesuatu?”
Kinar tidak menjawab. Ia masih memikirkan alasan Kean memintanya untuk mengaktifkan kembali CCTV di rumahnya.
“Oh iya, ada satu pot bunga yang pecah di balkon tuan muda. Saya menggantinya dengan yang plastik tapi warnanya sama. Apa mungkin tuan muda tidak suka?” Disa balik bertanya.
Kinar pun ikut berfikir. “Apa kamu masuk ke kamar tuan muda?” pertanyaan di balas pertanyaan.
“Tidak bu. Saya tidak masuk ke kamar tuan muda ataupun ruang baca. Saya hanya merapikan walk in closet-nya tuan muda dan ruang santai depan balkon. Apa saya melakukan kesalahan?” Disa semakin bingung. Pikirannya mulai tidak menentu.
“Tetap bekerja seperti itu. Jangan melewati batas.” hanya itu jawaban Kinar.
“Baik bu.” Dengan pikiran yang belum menentu Disa mengiyakan saja. “Maaf bu, untuk garasi, apa saya boleh membersihkannya? Karena pintunya terkunci dari dalam.”
“Nanti saya kasih tau kamu lagi.” menutup pintu lemari dan percakapan.
Disa terangguk pasrah. Mereka beralih ke lemari milik tuan besar dan hanya hening yang menemani Disa sementara Kinar mulai sibuk dengan benda pipih di tangannya. Entah pada siapa ia melakukan panggilan telpon.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
Sri Widjiastuti
dasarnya sdh berpendidikan... ibu kinar g repot2 amat mau kasih unjuk buat disa
2023-09-19
0
abdan syakura
Good job, Disa??
stlh selesai krj di rmh Tuan Kean,ke rmh saya yaa...Sy butuh bantuanmu..
🤣🤣🤣🥰🥰🥰
Semangat, Thor!!💪💪😉🥰
2023-02-03
1
Ririn
disa yg kerja
gw yg capek lelah letih bayanginnya
2023-01-18
1