“Disa,....” bisik sebuah suara dari luar pintu kamar Disa. “Boleh gag aku masuk?” lanjutnya.
“Masuk na, gag di kunci.” sahut Disa dari dalam kamarnya
Gagang pintu berputar dan tak lama daun pintu terbuka dan menunjukkan 2 wanita yang tersenyum pada Disa. Mereka segera masuk dan duduk di atas tempat tidur Disa.
Disa menutup buku sketch yang tengah ia corrat-coret. Perhatiannya sudah beralih pada dua temannya yang menatapnya dengan penasaran.
"Kenapa?" Disa bertanya lebih dulu melihat ekspresi tidak biasa yang diperlihatkan Tina dan Nina.
“Tadi kamu belum mau tidur kan?” kali ini Tina yang bersuara.
“Belum, Aku masih ngerasain pegel-pegel.” aku Disa seraya memindahkan bantal di atas pahanya ke belakang punggung.
Ia butuh sandaran untuk menopang tubuhnya yang serasa akan ambruk. Ternyata membersihkan rumah tuan muda dengan segala pernak perniknya lebih dari cukup di banding lari berkeliling lapangan.
“Gimana hari pertama di rumah tuan muda?” Nina dan Tina sama penasarannya. Mata bulat mereka menatap Disa dengan tidak sabar menunggu jawaban.
“Ya,... cukup melelahkan.” aku Disa apa adanya.
“Kamu ketemu sama tuan muda gag?” tanya Tina.
“Em enggak. Bu kinar bilang tuan muda gag boleh melihatku. Dia gag suka ada orang asing di rumahnya.”
“Yah, sayang banget, padahal tuan muda itu ganteng banget tau...” Nina menyayangkan yang terjadi pada Disa.
“Emang kamu udah pernah ketemu tuan muda?” Tina yang lebih antusias.
“Pernah tapi gag berani liat mukanya lama-lama. Cuma liat sekilas dan di foto yang udah di turunin sama tuan besar aja. Tapi aku sering ngeliatin dia dari kejauhan waktu tuan muda masih tinggal di rumah ini.” cerocos Nina yang mulai membayangkan tuan mudanya.
“Cerita dong, tuan muda kayak gimana?” Tina makin penasaran.
“Loh emang kamu juga belum pernah ketemu na?”
“Belum, waktu aku ke sini, tuan muda baru pindah 2 hari sebelumnya.”
“Kasian,...” Nina dan Disa bersuara bersamaan.
“Iihhh...” Tina mengerucutkan bibirnya kesal, namun kedua temannya malah tertawa. “Jangan kenceng-kenceng, nanti bu kinar denger. Kita bisa kena omel.” Tina mencoba mengingatkan.
“Oh iya, lupa.” Nina menepuk jidatnya sendiri. “Jadi mau aku ceritain nih tuan muda kayak gimana?”
Disa dan Tina kompak mengangguk.
“Tuan muda itu ganteng banget. Dari fotonya aja udah ganteng. Badannya tinggi, putih, kakinya panjang, matanya agak sipit dan kalo dari foto matanya tajam dan menggetarkan. Alisnya tebel dan rapi. Ada jambangnya. Hidungnya mancung banget, bibirnya sedikit berisi pokoknya kiss-able.” Nina memelankan suara di ujung kalimatnya.
“Uuhhh dasar omes.” Tina memukul Nina dengan bantal di tangannya.
“Loh emang iya, kayak pangeran dari negri dongeng deh pokoknya. Tapi, dia jutek banget. Angkuh, dingin. Lebih-lebih dari non shafira. Kalo ngeliat dia, bawaannya kayak ada aura yang berbeda. Aura kegelapan, penuh kesedihan dan kesakitan,” Nina menjelaskan dengan ekspresif.
“Ah ngelantur kamu na.” Tina menjeda temannya.
Tapi tidak dengan Disa. Imajinasinya yang tinggi seolah tengah menggambarkan sosok yang dideskripsikan oleh Nina. Sosoknya cukup tergambar namun wajahnya sangat samar karena laki-laki dengan karakter yang di ceritakan Nina cukup umum.
“Hey! Ngelamunin tuan muda ya?!” Tina mengagetkan Disa yang tampak melamun. Sepertinya ia tidak sadar kalau sedari tadi kedua temannya memperhatikannya.
“Enggak kok. Cuma ada yang di pikirin aja.” kilah Disa yang terlihat gelagapan.
“Okey. Sekarang giliran kamu dong yang cerita rumah tuan muda tuh kayak gimana sih?” Nina dengan rasa penasarannya.
Disa pun mulai bercerita, bagaimana indahnya rumah yang ia datangi. Mereka tenggelam dalam cerita Disa hingga akhirnya tertidur di ranjang sempit itu saling berjejalan. Tapi sepertinya mereka sangat nyenyak, hingga mimpi indah datang di tidur mereka masing-masing.
*****
Disa kembali mengayuh sepedanya di pagi buta itu. Kali ini ia memilih memakai celana panjang sebelum nanti melepasnya saat tiba di rumah tuan mudanya.
Seperti biasa di mulai dari Wahyu yang membukakan pintu untuknya, memarkir sepeda dan merapikan rumah.
Ia harus kembali menelan pil kekecewaan saat masakannya tidak disentuh sedikit pun oleh tuan mudanya. Dan seperti biasa ia akan menghangatkannya dan memberikannya pada Wahyu untuk sarapan dan makan siang.
“Makasih mba disa!” seruan penuh semangat itu selalu terlontar dari mulut laki-laki berkumis tebal ini. Beberapa hari ia menikmati makanan yang enak tanpa perlu mengeluarkan uang lebih hanya untuk menuntaskan hasrat isi perutnya. Sangat beruntung, pikirnya.
Disa kembali ke dapurnya, membuat sarapan untuk tuan mudanya. Nasi goreng gagal. Oat meal, tidak di sentuh sedikit pun dan roti bakar hanya di makan satu. Mungkin kali ini ia harus mencoba membuat roti isi.
Disa mengeluarkan beberapa bahan dari dalam kulkas. Daging cincang yang beku, keju, dan sayuran. Ia kembali mengingat resep yang di berikan Kinar dan dengan hati-hati meramu makanannya.
Menunggu daging yang sedang di marinasi, Disa memilih untuk menyapu lantai, menata kembali bantal sofa dan membersihkan debu-debu yang menempel. Ia pun memperhatikan kaca jendela yang tinggi-tinggi dan lebar-lebar. Mungkin siang ini tugasnya adalah membersihkan jendela-jendela ini.
Selesai dengan urusan lantai dan kebersihannya, Disa beralih menuju ruang pakaian tuan mudanya. Ada sebuah tulisan yang di tulis dalam note pad berwarna hijau.
“Saya ada rapat penting, siapkan baju yang sesuai. Pastikan itu terlihat berwibawa.” begitu isi pesan tersebut.
Disa membuka pintu lemari di hadapannya. Hari ke empat tuan mudanya mulai ada permintaan. Ia memilih baju yang akan di kenakan tuan mudanya seraya membayangkan sosok yang dideskripsikan Nina. Ternyata cukup membantu.
Sebuah stelan jas sudah di pilih oleh Disa beserta kemeja, sepatu dan belt juga jam tangan. Ia membayangkan tuan mudanya akan sangat gagah saat mengenakan stelan berwarna navy ini. Tidak lupa, ia menyematkan sapu tangan berwarna merah di saku kirinya.
“Perfect!” gumam Disa dengan segaris senyum saat melihat hasil karyanya memadu padankan pakaian tuan mudanya.
Baju sudah siap dan Disa kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Roti isi ia buat, menambahkan selembar selada, irisan tomat dan bawang bombay, juga daging cincang yang ia buat bulat pipih lalu di bakar menghasilkan wangi yang enak dan mengundang saliva untuk menetes.
Tidak lupa ia menambahkan sedikit sauce dan mayonaise lalu membungkusnya dengan kertas roti. Segelas susu pun ia sediakan berdampingan dengan menu sarapan.
15 menit lagi tuan mudanya akan bangun. Disa segera merapikan dapur dan meja sebelum pulang ke rumah utama. Ia akan kembali jam 10 nanti karena tugasnya cukup banyak hari ini.
Pintu dapur pun di tutup dan Disa pergi dengan sepedanya.
*****
Ruang rapat sudah di depan mata. Ruang rapat dari sebuah induk perusahaan tekstile milik Sigit Hardjoyo. Dengan percaya diri Kean masuk ke ruangan itu bersama assistent-nya Roy. Dalam tas kerjanya ia sudah menyiapkan laporan yang akan di sampaikan saat rapat nanti.
Roy membukakan pintu untuk Kean dan mempersilakan direkturnya untuk masuk. Pandangan Kean yang baru melepas kacamata hitamnya dengan keren dan sedikit slow motion membuat banyak pasang mata menoleh ke arahnya.
Wangi parfum maskulin pun menyentuh ujung saraf penciuman orang-orang di ruangan ini tak terkecuali seorang Sigit Hardjoyo.
“Wow, kamu ada keberanian untuk datang?” tanya seorang laki-laki yang menjadi rivalnya dalam perlombaan kesuksesan.
Ia selalu menjadi orang pertama yang berusaha menjatuhkannya dengan cara apa pun.
“Kenapa, apa kali ini paman takut saya yang mendapat pengakuan?” balas Kean dengan seringai sarkasnya.
“Tentu tidak. Pewaris seperti kamu tidak pernah bisa membuktikan apa pun selain banyaknya kebodohan dan kesalahan yang merugikan perusahaan."
"Bangun Kean, ini bukan amerika tempat kamu bersantai dan bermain-main. Kamu ada di dunia nyata di mana orang hebat akan selalu lebih unggul dari orang bodoh yang diberi sendok emas.” timpal laki-laki tersebut dengan penuh penekanan pada kalimatnya.
Kean hanya bisa mengepalkan tangannya yang rasanya ingin ia hantamkan pada laki-laki di hadapannya.
Dari kejauhan ia melihat Sigit yang tengah memperhatikannya.
“Jangan bodoh Kean, jangan terpancing.” Kean berusaha mengingatkan dirinya sendiri.
Perlahan kepalan tangannya mulai mengendur dan laki-laki di hadapannya ikut tersenyum sinis melihat respon sang keponakan.
“Kita buktikan, siapa yang lebih unggul.” tantang Kean kemudian. Ia lebih memilih berlalu dan duduk dengan sedikit jarak dari laki-laki tersebut. Ia tidak ingin terpancing oleh provokasi yang tidak jelas.
Laki-laki yang di tinggalkan Kean, menoleh Sigit di tempatnya. Ia mengusap dagunya dengan angkuh, seolah menertawakan putra dengan sendok emas yang dimiliki Sigit.
*****
Menyampaikan materi presentasi di depan manajemen, menjadi tugas Kean selanjutnya. Ia menjelaskan bagaimana perkembangan perusahaan yang dipimpinnya selama 2 minggu ke belakang sesuai titah dari direktur perusahaan induk.
"Tren pendapatan perusahaan dalam 2 minggu ke belakang memang tidak terlalu besar, namun apabila ini bergerak secara konsisten, bisa menutup kerugian perusahaan dalam waktu 3 bulan ke depan."
"Apa, 3 bulan?" Marcel Hardjoyo kembali menjeda pemaparan Kean untuk ke sekian kalinya, membuat suasana tenang pun mulai gaduh. "3 bulan terlalu lama, investor bisa keburu menarik investasinya dari perusahaan yang kamu pimpin." imbuhnya yang merendahkan kerja keras Kean.
Kean menghela nafasnya dalam, ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak terpancing oleh sang paman.
"Saya baru menyampaikan perkembangan perusahaan jika pendapatannya konsisten, belum membahas inovasi apa yang kami lakukan untuk menyingkat waktu 3 bulan tersebut." Kean menatap Marcel dengan tajam dan yang di tatap hanya mengangguk-angguk dengan senyum ledekan di bibirnya.
"Okey, lanjutkan." Sigit berusaha menengahi.
"Ehm!" berdehem sebelum melanjutkan presentasinya sambil mengumpulkan fokus yang sudah ia buat. "Kami mendapatkan kerja sama dengan salah satu buyyer asal india, di mana kami akan bekerja sama untuk ekspor kain kualitas premium."
"Pada tahap pertama, kami akan mengekspor 2000 roll kain sesuai perjanjian awal. Di mana apabila kerja sama ini berhasil, kami bisa menyingkat keuntungan untuk perbaikan keuangan perusahaan dalam waktu 2 bulan." lanjut Kean dengan bangga.
Marcel menyandarkan tubuhnya yang semula duduk tegak. Ia sudah akan mengeluarkan kalimat tajam berikutnya namun dengan cepat Sigit mendahului.
"Berapa prosentase keuntungan dari kerja sama tersebut?"
"18% di bulan pertama dan 32% di bulan kedua." jawab Kean dengan lantang.
Sigit terangguk paham. "Kirimkan neraca perhitungan perusahaan siang ini." titahnya kemudian.
Kean mengangguk sebagai respon dan dalam beberapa saat rapatpun di akhiri. Sedikit melegakan karena tidak terjadi perang argumen yang berkepanjangan di ruang rapat. Marcel pun pergi dengan wajah malas dan senyuman sarkas yang biasa ia pertunjukkan pada siapapun.
"Anda luar biasa tuan muda." suara Roy yang menjadi penyemangat pertama kali.
Kean membungkukkan tubuhnya bersandar pada meja. Tangannya masih mengepal kesal mengingat wajah sang paman yang terpaut usia beberapa tahun saja darinya.
Lihat saja, lain kali ia akan membuat mata sipit sang paman terbuka lebar melihat deretan angka fantastis yang ia hasilkan. Begitu tekad Kean.
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
Zee Zee
terlalu bertele-tele..bnyk hal yg gk pntng..smangattt y
2023-09-17
0
Ririn
semangaat kean.. aku padamu pokoknya
2023-01-18
0
re
Belum ketemu
2021-12-24
0