Rumah lama rasa baru

Olahraga adalah mata pelajaran yang paling tidak disukai Shafira. Di tambah hari ini ia lupa membawa seragam olahraga, sepertinya lengkap sudah hukuman yang akan ia terima. Ia sudah menghubungi orang rumah namun hingga sekarang belum ada yang tiba di sekolah dan mengantarkan bajunya.

“Fir, di tunggu pak harun di lapangan.” ujar sebuah suara yang sangat familiar bagi Shafira.

Shafira menoleh ketua kelas sekaligus laki-laki yang ia sukai, Malvin. Malvin sudah terlihat siap untuk mengikuti pelajaran yang paling di benci Shafira.

“Em baju olahraga gue ketinggalan. Lagi di anterin ke sini.” terang Shafira dengan sesungguhnya.

“Oh ya udah, kalo udah ada nyusul aja ke lapangan.”

Shafira mengangguk sebagai respon. Ia pun memandangi punggung Malvin yang tegak dan sandar-able. Itu istilah yang digunakan Shafira saat melihat bahu Malvin yang sepertinya sangat nyaman untuk ia sandari.

Tak lama, ia melihat teman satu gengnya melewati kelas mereka. Sepertinya teman-temannya sudah selesai berganti baju.

“Girls!” panggil Shafira seraya menghampiri teman-temannya. 3 gadis itu menoleh Shafira dan memandanginya dengan bingung.

“Lo belum ganti baju?” tanya Fia dengan sinis.

“Baju gue belum nyampe. Kalian mau gag nemenin gue bentar? Gue gag mau di hukum sendirian. Ya...” Shafira meraih tangan Fia dan menggenggamnya dengan erat.

“Fir, sorry ya. Kita-kita gag mau ikutan di hukum. Itu kan salah lo sendiri gag bawa baju.” sahut Ira seraya menyilangkan tangannya di depan dada.

“Lagian lo nyari penyakit segala sih, pake lupa bawa baju olahraga segala.” sengit Nara ikut menghakimi.

Entah kemana perginya para sahabat sehidup semati sesuai ikrar mereka dulu.

“Iya, mau gimana lagi, gue lupa. Tapi kan waktu lo pada di hukum juga, gue ikutan. Kan kata lo kita sahabat... Ya fia, temenin gue yaa.. Please... Gue takut sendirian di kelas.” rajuk Shafira dengan memohon.

“Sorry fir, gue gag mau nyokap gue di panggil lagi gara-gara gue kena hukuman.” Fia mengibaskan tangan Shafira.

“Iya, kita juga gag mau, iya kan nara?” timpal Ira.

Nara mengangguk dengan semangat.

“Duluan ya fir.” Fia berlalu pergi begitu saja meninggalkan Shafira yang mematung di depan pintu kelasnya.

“Girls!!!” teriak Shafira pada teman-temannya.

Namun mereka malah berlari, enggan mendengar rengekan Shafira berikutnya.

Shafira hanya bisa menghela nafasnya dalam. Ia menoleh ke dalam kelasnya yang kosong dan sepi. Tentu ia enggan kalau harus sendirian di dalam. Dan bukan kali ini saja ia ditinggalkan oleh teman satu genknya dan harus mengahadapi semuanya sendiri.

Padahal dulu, Shafira adalah ratu di genk-nya dan semuanya menuruti kehendak Shafira. Tapi kali ini semuanya berbeda. Mereka bahkan jarang berbincang yang berkualitas. Shafira lebih sering tidak dilibatkan dalam perbincangan atau hanya menjadi pendengar yang baik.

Sepi, hanya itu yang dirasakan Shafira seorang diri.

Dari kejauhan terlihat seseorang yang berlari menghampiri Shafira. Dari pakaian yang dikenakannya, Shafira yakin itu adalah salah satu pelayannya.

“Non fira,...” Nina tiba di hadapan Shafira dengan nafas terengah. Ia menyodorkan sebuah tote bag yang berisi seragam olahraga Shafira.

“Lo kemana aja sih, lamban banget! Bisa gag sih kalo di suruh tuh cepet?! Dasar babu!” sinis Shafira seperti biasanya.

Nina hanya terpaku di tempatnya. Rasa sesaknya bahkan belum hilang karena berlari dari gerbang sekolah. Di tambah kalimat Shafira yang cukup menyebalkan. Dan entah kenapa ia selalu sering mendapat makian dari nona mudanya.

Siapa sangka, saat Shafira berbalik, ada Malvin yang berdiri di belakangnya. Entah apa arti dari tatapan yang Malvin tujukan pada Shafira saat ini.

“Vin, gue baru mau ganti baju.” Shafira menunjukkan baju yang ia pegang di tangannya.

Malvin tidak menimpali. Ia lebih memilih pergi setelah mengangguk sopan pada Nina. Sepertinya ia tidak tertarik dengan yang dikatakan Shafira.

Shafira menoleh ke arah berlalu Malvin. Langkahnya terlihat tegas dan panjang. Tangannya pun mengepal. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini.

“Kenapa, lo suka sama malvin?” tanya Shafira saat melihat Nina yang tersenyum melihat ke arah berlalunya Malvin.

“Oh maaf, tidak nona. Saya tidak bermaksud seperti itu.” Dengan cepat Nina mengubah air mukanya.

“Ya udah, nunggu apa lagi? Balik lo sana.”

“Baik nona.”

Nina pun kembali terangguk dengan sopan sebagai tanda pamit pada nona mudanya.

“Dasar babu sialan!” dengus Shafira seraya berlalu menuju toilet untuk berganti pakaian.

******

POV Kean :

Malam ini, Gue pulang lebih awal. Tidak selarut biasanya. Entah karena apa yang jelas hari ini pekerjaan begitu mudah dikerjakan. Gue berhasil membuat laporan yang rapi dan sesuai keinginan papah, gue juga makan siang tepat waktu dan pertemuan dengan salah satu investor pun berjalan lancar.

Sepertinya hari ini tuhan sedang mengurangi kesialan gue atau mungkin ada malaikat yang berjalan di samping gue dan membantu semua pekerjaan gue.

Pintu ruang tamu mulai terbuka, yang pertama gue lihat adalah ruangan yang tertata rapi dan ada satu vas bunga di salah satu sudut. Gue berjalan mengusap permukaan sofa dan ajaib, debu-debu itu hilang.

Beralih ke ruang keluarga, mejanya mulai memiliki taplak meja berwarna gold dengan ukiran di atasnya. Tidak hanya itu, ada vas bunga keramik kecil di atasnya yang terisi bunga Marigold berwarna kuning.

Gue mengambilnya untuk mencoba mencium bunganya. Tidak terlalu wangi, namun sangat indah di pandang mata. Sangat okelah untuk hiasan di atas meja. Pandangan gue beralih ke kaca jendela. Sepertinya belum terlalu bersih hanya saja gorden tipisnya sudah di ganti dan ada gorden tebal yang masih terikat talinya.

Mungkin yang mengurus rumah gue tidak tahu kalau kaca ini tidak terlihat dari luar. Tapi ya sudah lah, gue merasa ini lebih private sekarang.

Beralih ke ruang makan yang hanya memiliki sedikit sekat untuk di pisahkan dari dapur. Ada makanan di atasnya yang tertutup dengan tudung saji berrenda. Gue buka tudung saji itu dan ada 3 menu makan di sana. Nasi goreng yang tidak sempat gue nikmati sudah tidak ada, mungkin berpindah ke tempat sampah atau lainnya.

Dan tunggu, gue sudah makan malam. Sepertinya perut gue sudah tidak tertarik dengan makanan berat.

“Sorry,,” gue bergumam sendiri seraya menutup tudung saji.

Gue hanya perlu air dingin yang semoga masih ada di kulkas.

Tunggu, ini tulisan apa?

Ada sebuah kertas kecil berwarna kuning yang menempel di pintu kulkas. Tulisannya sangat rapi, sesuatu yang jarang gue temui.

“Selamat malam tuan muda. Perkenalkan saya disa. Saya sudah menyiapkan makan malam. Saya harap tuan muda makan terlebih dahulu sebelum tidur, agar penyakit mag tuan muda tidak kambuh.”

Gila, dia bahkan tahu kalau gue punya sakit mag. O tunggu, mungkin dia tahu dari Kinar, bukan sesuatu yang spesial tapi cukup membuat gue tersenyum. Gue ambil kertas itu dan gue masukkan ke dalam saku.

Catatan, gue sudah tidak menunda makan lagi karena kapok kalau harus masuk lagi ke rumah sakit.

Saat ini gue hanya perlu mengambil air dingin dari kulkas.

Voila!!! Kulkas terisi penuh. Ada bahan masakan yang sudah dimasukkan ke dalam food contanaire dan di tata dengan rapi, ada sayur-sayuran segar dan bahkan ada buah. Beberapa botol juga sudah terisi dengan air minum, susu dalam kemasan dan sirup.

Ingat Gue hanya perlu mengambil air putih dan meneguknya untuk menuntaskan dahaga gue.

Gue masih sempat tersenyum saat melihat kembali botol yang ada di tangan gue. Sepertinya Kinar menunjuk orang yang tepat untuk melayani gue.

Melepas jas untuk gue sampirkan di lengan kiri, gue berjalan ke lantai 2, tempat ruang kerja, walk in closet dan tentu saja tempat kamar gue berada.

Masuk ke kamar, suasananya masih sama seperti waktu gue tinggalkan tadi pagi. Cukup berantakan, eh sangat berantakan dan baunya masih bau yang sama, tidak menyenangkan. Semua masih berada di tempatnya dan tidak berubah sedikitpun. Sepertinya pelayan itu tidak menyentuh area private gue.

Gue perlu menyegarkan badan, ya gue perlu mandi. Gue tanggalkan satu per satu baju yang menutupi tubuh gue dan seperti biasa gue lempar ke sembarang arah. Lihat, otot-otot di dada gue sangat menggoda dan perut gue masih cukup rata.

Ya, gue memang hobby berolahraga dan gue sedikit narsis dengan memandangi tubuh dan wajah gue sendiri di depan cermin seraya memuji kalau gue memang layak menjadi idola dan diperebutkan banyak wanita cantik.

Shower sudah dinyalakan dan tetesan air mulai membasahi tubuh gue. Gue kasih tahu, gue tidak suka menutup pintu kamar mandi, buat gue itu terlalu menyesakkan.

Gue sabuni seluruh badan, rambut juga gue cuci, gosok gigi dengan pasta gigi wangi mint dan hasilnya gue sangat segar.

Handuk, handuk hanya gue perlukan untuk mengeringkan badan dan menutup sebagian tubuh gue sebelum menuju walk in closet gue.

“Hah?”

Gue kembali di buat takjub dengan walk ini closet gue yang sangat rapi. Satu per satu lemari gue buka dan baju-baju gue tersusun rapi. Di depan lemari bahkan ada sebuah kertas kecil dengan tulisan tangan yang sama,

“Kalau tuan ada acara khusus, tuan bisa memberitahu saya apabila ingin disiapkan pakaian di luar baju yang telah saya siapkan.” begitu bunyi tulisan lengkap dengan nama hari gue akan menggunakan baju dan acaranya.

Sangat kreatif, gue cukup terhibur.

Aksesoris pun di buat tertata rapi. Sepertinya gue tidak perlu bingung lagi mencari jam tangan dan belt karena semuanya sudah di tata dengan baik bahkan sudah di buat berdampingan seperti sebuah pola yang serasi.

Gue ambil baju untuk tidur dan beberapa saat gue masih menikmati wangi detergen yang menempel di baju yang akan gue pakai. Sangat lembut, sepertinya iklan di tv itu tidak bohong. Saat gue memakainya, seperti ada bunga-bunga yang mekar di dekat gue. Akh, imajinasi gue mulai melantur.

Di dekat pintu walk in closet, ada sebuah keranjang dengan sebuah tulisan di sana.

“Tuan bisa menyimpan pakaian kotor di sini.”

Ya, ini seperti mengingatkan gue kalau stok dalaman gue sudah berkurang karena terserak di mana saja. Gue segera kembali ke kamar dan mengambil pakaian kotor dan menaruhnya di keranjang yang sudah di sediakan.

Tunggu, gue jadi berfikir mungkin akan menyenangkan kalau kamar gue juga rapi. Ya, gue harus mengganti sprei, selimut dan sarung bantal. Sepertinya mimpi gue akan jauh lebih indah. Ya, mari kita coba.

Gue mengambil linen dari walk ini closet dan mulai mengganti sprei, selimut dan tentu saja sarung bantal. Gue memang cukup bisa beres-beres tapi moodnya datang tidak tentu. Dan kondisi rumah yang berubah seperti memancing mood gue untuk membereskan kamar.

Gue harus membereskan kamar gue sendiri karena gue tidak mau ada orang asing yang masuk ke tempat paling pribadi buat gue. Ya, kamar adalah teritorial penting buat gue yang tidak boleh di jamah oleh siapa pun.

“Finish!!!” gue berseru dalam hati melihat tempat tidur yang sudah rapi. Rasanya mau gue tidurtin juga sangat sayang. Alhasil gue lebih memilih pergi ke balkon yang ada di sela kamar dan ruang baca. Gue mau menikmati malam ini dan mengeringkan keringat yang tiba-tiba bercucuran.

Berdiri di sini membuat gue bisa bernafas dengan lega. Menghirup udara segar untuk menggantikan udara kotor di paru-paru gue. Gue ngerasa ada yang kembali dalam hidup gue dan entah apa. Yang jelas sangat menyenangkan. Untuk beberapa saat, mungkin gue akan berdiri di sini menikmati udara malam.

*****

 

 

Terpopuler

Comments

Novie Achadini

Novie Achadini

cie cie tuan muda

2023-08-28

0

Taurus Mei

Taurus Mei

jelas dan detil penggambaran ruangan rumah tuan muda
kereenn
jadi makin halu kan gw wkkk

2023-01-18

1

@"siti waluya"🏞

@"siti waluya"🏞

pelayan misterius.. ada hasil ga bisa di liat.. kapan2 intip tuan muda..

2022-01-21

1

lihat semua
Episodes
1 Winnie the pooh
2 Cicitan burung
3 Kampus
4 Payung
5 Mobil mewah
6 Astaga Disa!!!
7 Cewek galak dan Liar
8 Pagar tinggi
9 Jenar
10 kak damar
11 Tugas baru
12 Pasar
13 Galeri
14 Rumah tuan muda
15 Rumah lama rasa baru
16 Sendok emas
17 Tanpa apresiasi
18 Pesan tuan muda
19 Sarapan bubur
20 Ayam tepung
21 Malam Minggu
22 Kenapa harus dia?
23 Kantor polisi
24 Pertengkaran keluarga
25 Anak kambing baru lahir
26 Mini dress warna peach
27 Biksu
28 Appetizer, main course sama dessert
29 I've been married
30 Who are they?
31 Permisi
32 Meet up
33 CCTV Hidup
34 Princes
35 Best friend forever and ever
36 Tekanan mental
37 jam 6
38 Menginap
39 YA SAYA!!!
40 Ira dan Tantri
41 Kesepian
42 Sarapan bersama
43 Kejadian tidak terduga
44 Trauma di masa lalu
45 Libur tlah Tiba
46 Berkunjung ke galery seni
47 Kak reza
48 Kunjungan tidak diharapkan
49 Lomba Desain untuk pemula
50 3 Pesan
51 Hari yang baik
52 Tuan Marcel
53 Memikirkan wanita yang sama
54 Cita-cita kita
55 Tempat tujuan kita sama
56 Pantai Part 1
57 Pantai Part 2
58 Menambahkan daftar teman
59 Ikut Ke Pasar
60 Rumah sakit
61 Mengurus dan menjaga tuan muda
62 Ganti perban saya
63 Apa yang dia rasakan?
64 Tamu di pagi hari
65 Prioritas
66 Tersisih
67 Tidak karuan
68 Masuk ke dalam lorong yang gelap
69 Makan siang rasa tak biasa
70 Andai saja bisa jujur sekarang
71 Selamat bersenang-senang.
72 Saat terbangun di suatu pagi
73 Nyusul
74 Hadiah atau pengganti?
75 Berbau
76 Makan siang bersama sang model
77 Kesedihan Kean
78 Mural untuk tuan muda
79 Batas keberanian
80 Berpose
81 Anak bunda yang baik
82 Tamu tidak di undang
83 Cue ball
84 Dasar Damong!
85 Relationshit!
86 Alunan emosi
87 Yang di nanti
88 My Lady
89 Saling menguatkan
90 Negosiasi
91 Cerita di masa lalu
92 Saat dia menghampiriku
93 Semut-semut merah
94 Putri selir
95 Tangis dan tawa
96 Bullying
97 Doktrin paradisa
98 Menarik batas
99 We know you are strong!!!
100 Bunda,
101 Nama panggilan
102 Transaksi kewajiban
103 Nyaris tenggelam dalam arus
104 Olah raga bersama
105 Tidak ada kehilangan yang lebih baik
106 Permohonan seorang anak
107 Bahagia yang menular
108 Kondangan
109 Sang pewaris
110 Manipulasi pikiran
111 Mannequin koran
112 Kompromi
113 Mengukur tubuh
114 Harus memilih
115 Berdansa
116 Berusaha terlihat layak
117 Apa yang dia pikirkan?
118 Jangan terlalu baik
119 Peringatan
120 Aku hanya tau, aku harus pulang
121 "Aku menyesal."
122 Sim salabim
123 Maaf
124 Strawberrynya sampai ke hati
125 Tatapan maut
126 Terpeluk
127 Terjebak dalam labirin
128 Menghadapi Tuan besar
129 Kecanggungan
130 Selamat malam keluarga singa
131 I like monday as much as i like you
132 Deringan telpon di waktu yang tepat
133 Saya tidak mencuri dan kamu tidak menolak
134 Pesan bi Imas
135 Overall kebesaran
136 Panggilan penting
137 Sebagai damong terhadap sandhy
138 Negosiasi baru
139 Meski harus mengambil resiko
140 Penolakan
141 Hadiah berkesan
142 Kejutan pagi
143 Kekayaan, bukan bagian yang harus di pertahankan.
144 Usaha meyakinkan lawan
145 Man to man
146 Introgasi mamah
147 Bisakah semuanya lebih baik-baik saja?
148 Menghadapi rasa takut
149 Mirror
150 Pagi yang gamang
151 Kemalangan yang bersamaan
152 Saat harus melangkah pergi
153 Malam yang berat
154 Ikhlas tersulit
155 Kosong
156 Mengatur strategi permainan
157 Dreamsketch
158 Percaya pada kemampuan
159 Psyche?
160 Semakin merindukanmu
161 Cangkir penyemangat
162 Karya dan sumber inspirasi
163 Jangan membangunkan singa yang sedang tidur
164 Rasa bersalah
165 Kesendirian
166 Tentang masa lalu
167 Andai bisa abai...
168 Pernah menjadi satu-satunya tidak berarti akan menjadi selamanya
169 Kakiku tahu kemana arah yang harus ia tuju
170 Semudah itu datang dan semudah itu pula memilih pergi
171 Rencana tidak terduga
172 Saat wanita harus membuat keputusan
173 Pesan penting tante Mery
174 Kebaikan yang berlebihan
175 Tuan muda VS Pecel
176 Perasaan yang masih sama
177 Sayap sang model
178 Usaha tidak mengkhianati hasil
179 Yang akan menikah siapa?
180 Psyche and Cupid
181 Cemburu tapi gengsi
182 Ajakan tiba-tiba
183 Siluete membawa emosi
184 Dua kesalahan
185 Aa dan teteh
186 Bertemu tuan besar
187 Tidak perlu berharap
188 Cukup pikirkan aku saja, jangan yang lain
189 Jangan membuatku menunggu
190 Sedikit melemah
191 Paginya pengantin baru
192 Sarapan untuk suami
193 Hadiah dari mamah
194 Nasep Familly
195 Rasa sesal
196 Serba baru
197 Yogyakarta
198 Sebuah kisah
199 Danau part 1
200 Danau Part 2
201 Yang tertunda
202 Memulai yang sudah lama harus dimulai
203 Gangguan pagi-pagi
204 Pesan dari tante Liana
205 Bapak Kean
206 Membuat pilihan
207 Kesempatan lain
208 CD
209 Kekecewaan yang lebih
210 Bisakah egois sekali lagi?
211 Akupun bisa merasakan sakit
212 Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?
213 Mengembalikan kepercayaan
214 Benarkah sumpah itu?
215 Semuanya hanya berusaha
216 Mempertahankan hubungan
217 Pukulan serius
218 Tidak hanya senang tapi tenang
219 Seperti inilah seharusnya rasa tenang saat melabuhkan hati pada hati yang tepat.
220 Malam yang indah untuk di lewati bersama
221 Sarapan Roti Crispy
222 Ajakan Clara
223 Kejutan tuan muda
224 Nasi padang kenyal
225 Melukis mimpi bersama clara
226 Sambutan untuk sebuah kepulangan
227 Tidak ingin lagi ditinggalkan
228 Menikmati waktu bersama
229 Kericuhan duo Hardjoyo
230 Dear dady,
231 Time flies
232 Menjelang fashion show
233 Belum siap kehilangan
234 Sendirian
235 Jangan selalu merasa baik-baik saja
236 Jangan selalu merasa baik-baik saja 2
237 Peragaan busana
238 Perkara nama
239 Langkah baru
240 Ketika kita di masa itu,
241 Fit and proper test
242 Bisakah hubungan ini bertahan
243 Permintaan maaf
244 Melewati malam penuh pertanyaan
245 One step closer
246 Kejutan dari sahabat
247 Menyelesaikan kesalahpahaman
248 “With love, Paradisa Sandhya.”
249 Sayonara
250 Otor menyapaaaa
251 Comming up gais!!!
252 Kecemasan seorang anak
253 Menjadi Dia
254 Ranjang Dingin Ibu Tiri
Episodes

Updated 254 Episodes

1
Winnie the pooh
2
Cicitan burung
3
Kampus
4
Payung
5
Mobil mewah
6
Astaga Disa!!!
7
Cewek galak dan Liar
8
Pagar tinggi
9
Jenar
10
kak damar
11
Tugas baru
12
Pasar
13
Galeri
14
Rumah tuan muda
15
Rumah lama rasa baru
16
Sendok emas
17
Tanpa apresiasi
18
Pesan tuan muda
19
Sarapan bubur
20
Ayam tepung
21
Malam Minggu
22
Kenapa harus dia?
23
Kantor polisi
24
Pertengkaran keluarga
25
Anak kambing baru lahir
26
Mini dress warna peach
27
Biksu
28
Appetizer, main course sama dessert
29
I've been married
30
Who are they?
31
Permisi
32
Meet up
33
CCTV Hidup
34
Princes
35
Best friend forever and ever
36
Tekanan mental
37
jam 6
38
Menginap
39
YA SAYA!!!
40
Ira dan Tantri
41
Kesepian
42
Sarapan bersama
43
Kejadian tidak terduga
44
Trauma di masa lalu
45
Libur tlah Tiba
46
Berkunjung ke galery seni
47
Kak reza
48
Kunjungan tidak diharapkan
49
Lomba Desain untuk pemula
50
3 Pesan
51
Hari yang baik
52
Tuan Marcel
53
Memikirkan wanita yang sama
54
Cita-cita kita
55
Tempat tujuan kita sama
56
Pantai Part 1
57
Pantai Part 2
58
Menambahkan daftar teman
59
Ikut Ke Pasar
60
Rumah sakit
61
Mengurus dan menjaga tuan muda
62
Ganti perban saya
63
Apa yang dia rasakan?
64
Tamu di pagi hari
65
Prioritas
66
Tersisih
67
Tidak karuan
68
Masuk ke dalam lorong yang gelap
69
Makan siang rasa tak biasa
70
Andai saja bisa jujur sekarang
71
Selamat bersenang-senang.
72
Saat terbangun di suatu pagi
73
Nyusul
74
Hadiah atau pengganti?
75
Berbau
76
Makan siang bersama sang model
77
Kesedihan Kean
78
Mural untuk tuan muda
79
Batas keberanian
80
Berpose
81
Anak bunda yang baik
82
Tamu tidak di undang
83
Cue ball
84
Dasar Damong!
85
Relationshit!
86
Alunan emosi
87
Yang di nanti
88
My Lady
89
Saling menguatkan
90
Negosiasi
91
Cerita di masa lalu
92
Saat dia menghampiriku
93
Semut-semut merah
94
Putri selir
95
Tangis dan tawa
96
Bullying
97
Doktrin paradisa
98
Menarik batas
99
We know you are strong!!!
100
Bunda,
101
Nama panggilan
102
Transaksi kewajiban
103
Nyaris tenggelam dalam arus
104
Olah raga bersama
105
Tidak ada kehilangan yang lebih baik
106
Permohonan seorang anak
107
Bahagia yang menular
108
Kondangan
109
Sang pewaris
110
Manipulasi pikiran
111
Mannequin koran
112
Kompromi
113
Mengukur tubuh
114
Harus memilih
115
Berdansa
116
Berusaha terlihat layak
117
Apa yang dia pikirkan?
118
Jangan terlalu baik
119
Peringatan
120
Aku hanya tau, aku harus pulang
121
"Aku menyesal."
122
Sim salabim
123
Maaf
124
Strawberrynya sampai ke hati
125
Tatapan maut
126
Terpeluk
127
Terjebak dalam labirin
128
Menghadapi Tuan besar
129
Kecanggungan
130
Selamat malam keluarga singa
131
I like monday as much as i like you
132
Deringan telpon di waktu yang tepat
133
Saya tidak mencuri dan kamu tidak menolak
134
Pesan bi Imas
135
Overall kebesaran
136
Panggilan penting
137
Sebagai damong terhadap sandhy
138
Negosiasi baru
139
Meski harus mengambil resiko
140
Penolakan
141
Hadiah berkesan
142
Kejutan pagi
143
Kekayaan, bukan bagian yang harus di pertahankan.
144
Usaha meyakinkan lawan
145
Man to man
146
Introgasi mamah
147
Bisakah semuanya lebih baik-baik saja?
148
Menghadapi rasa takut
149
Mirror
150
Pagi yang gamang
151
Kemalangan yang bersamaan
152
Saat harus melangkah pergi
153
Malam yang berat
154
Ikhlas tersulit
155
Kosong
156
Mengatur strategi permainan
157
Dreamsketch
158
Percaya pada kemampuan
159
Psyche?
160
Semakin merindukanmu
161
Cangkir penyemangat
162
Karya dan sumber inspirasi
163
Jangan membangunkan singa yang sedang tidur
164
Rasa bersalah
165
Kesendirian
166
Tentang masa lalu
167
Andai bisa abai...
168
Pernah menjadi satu-satunya tidak berarti akan menjadi selamanya
169
Kakiku tahu kemana arah yang harus ia tuju
170
Semudah itu datang dan semudah itu pula memilih pergi
171
Rencana tidak terduga
172
Saat wanita harus membuat keputusan
173
Pesan penting tante Mery
174
Kebaikan yang berlebihan
175
Tuan muda VS Pecel
176
Perasaan yang masih sama
177
Sayap sang model
178
Usaha tidak mengkhianati hasil
179
Yang akan menikah siapa?
180
Psyche and Cupid
181
Cemburu tapi gengsi
182
Ajakan tiba-tiba
183
Siluete membawa emosi
184
Dua kesalahan
185
Aa dan teteh
186
Bertemu tuan besar
187
Tidak perlu berharap
188
Cukup pikirkan aku saja, jangan yang lain
189
Jangan membuatku menunggu
190
Sedikit melemah
191
Paginya pengantin baru
192
Sarapan untuk suami
193
Hadiah dari mamah
194
Nasep Familly
195
Rasa sesal
196
Serba baru
197
Yogyakarta
198
Sebuah kisah
199
Danau part 1
200
Danau Part 2
201
Yang tertunda
202
Memulai yang sudah lama harus dimulai
203
Gangguan pagi-pagi
204
Pesan dari tante Liana
205
Bapak Kean
206
Membuat pilihan
207
Kesempatan lain
208
CD
209
Kekecewaan yang lebih
210
Bisakah egois sekali lagi?
211
Akupun bisa merasakan sakit
212
Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?
213
Mengembalikan kepercayaan
214
Benarkah sumpah itu?
215
Semuanya hanya berusaha
216
Mempertahankan hubungan
217
Pukulan serius
218
Tidak hanya senang tapi tenang
219
Seperti inilah seharusnya rasa tenang saat melabuhkan hati pada hati yang tepat.
220
Malam yang indah untuk di lewati bersama
221
Sarapan Roti Crispy
222
Ajakan Clara
223
Kejutan tuan muda
224
Nasi padang kenyal
225
Melukis mimpi bersama clara
226
Sambutan untuk sebuah kepulangan
227
Tidak ingin lagi ditinggalkan
228
Menikmati waktu bersama
229
Kericuhan duo Hardjoyo
230
Dear dady,
231
Time flies
232
Menjelang fashion show
233
Belum siap kehilangan
234
Sendirian
235
Jangan selalu merasa baik-baik saja
236
Jangan selalu merasa baik-baik saja 2
237
Peragaan busana
238
Perkara nama
239
Langkah baru
240
Ketika kita di masa itu,
241
Fit and proper test
242
Bisakah hubungan ini bertahan
243
Permintaan maaf
244
Melewati malam penuh pertanyaan
245
One step closer
246
Kejutan dari sahabat
247
Menyelesaikan kesalahpahaman
248
“With love, Paradisa Sandhya.”
249
Sayonara
250
Otor menyapaaaa
251
Comming up gais!!!
252
Kecemasan seorang anak
253
Menjadi Dia
254
Ranjang Dingin Ibu Tiri

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!