Hari baru untuk Disa di mulai. Memakai seragam, celemek berrenda di bagian perut, mengepang rambut lalu menyanggulnya rapi dan mengenakan sepatu. Ia berdiri di depan cermin seraya memandangi wajahnya sendiri.
Setelah sholat subuh, ia langsung bersiap. Seperti yang diingatkan Kinar, ia tidak boleh terlambat.
Berdiri di depan cermin, Ia melatih bibirnya tersenyum seperti yang diajarkan Kinar beberapa hari lalu. Memastikan tidak ada anak rambut yang menutupi dahinya, ia pun mengenakan lip tint tanpa warna pada bibir merah muda alaminya. Ya, ia harus tampil serapi mungkin.
“Semangat disa!” Disa mengepalkan tangannya menyemangati dirinya sendiri.
Ponsel kecil dan dompet kecil ia masukkan ke dalam saku jaket yang akan di kenakan.
Membuka pintu kamarnya perlahan agar deritannya tidak mengganggu teman-temannya. Ini baru jam setengah 5 pagi namun ia harus bergegas menuju rumah tuan mudanya.
Dari luar kamarnya, Disa bisa mendengar suara orang sedang mandi, mungkin Tina atau Nina yang ada di dalam sana. Sepertinya ia tidak bisa pamit pada teman-temannya.
Disa segera menuju halaman belakang di mana ia memarkir sepedanya. Ia mengenakan jaket yang cukup tebal walau kakinya tetap terekspos dan membuatnya merinding kedinginan.
Mengayuh sepeda menuju jalanan setelah petugas keamanan membukakan pintu untuknya. Kendaraan yang berlalu lalang sudah cukup ramai dan Disa menggunakan cahaya lampu mereka untuk menerangi jalan di sisi kiri.
Hanya 1 kilo jalan raya yang dilewati Disa, sisanya ia memilih melipir memasuki gang-gang sempit agar perjalanannya tidak terlalu jauh.
Beruntung ia membawa sepedanya dari kemarin sehingga ia bisa mencari jalan alternatif untuk menyingkat perjalanannya.
Disa berhenti sejenak di sebuah toko kelontongan. Ia membeli bahan masakan untuk sarapan tuan mudanya. Uang yang diberikan Kinar masih bersisa saat Disa membelanjakan uang tersebut. Setelah yakin dengan apa yang akan di masaknya, Disa pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah tuan mudanya.
Udara memang masih cukup dingin. Beberapa kali Disa bergidik saat angin pagi yang segar itu menyapu permukaan kulitnya yang terbuka. Roda terus berputar dengan kecepatan sedang dan Disa begitu menikmati perjalanannya.
Satu dari banyak hal yang ia syukuri adalah, bisa menghirup udara segar dan mengganti stok udara di rongga paru-parunya. Sesekali ia merentangkan tangannya dan menghirup udara sepuasnya.
Setengah jam kemudian, Disa sampai di sebuah rumah bernuansa putih dengan dominasi kaca. Ia kembali mencari foto di tote bag-nya dan melihat apakah ini rumah tuan muda yang di maksud Kinar.
Binggo, ia berada di rumah yang tepat. Ia turun sejenak untuk menyapa petugas keamanan yang tampak tertidur di dalam posnya.
“Permisi pak.” Disa mengetuk kaca jendela di sisi kanan pos keamanan tersebut.
Seorang laki-laki ber-name tag Wahyu tampak terkejut mendengar suara Disa dan segera menegakkan posisi tubuhnya.
“Mau ketemu siapa non?” tanya Wahyu yang masih mengumpulkan kesadarannya.
“Saya disa pak, pelayan dari rumah utama. Di suruh ke sini sama bu kinar.” terang Disa dengan senyum manisnya.
Laki-laki itu tampak mengernyitkan dahinya, sepertinya ia tidak menyangka kalau gadis di hadapannya adalah yang akan mengurus tuan mudanya.
“Oh, mba disa. Bentar saya buka dulu pintunya.” ujar Wahyu yang mulai sadarkan diri sepenuhnya.
“Iya pak.”
Disa menuntun sepedanya mengikuti langkah kaki wahyu. Mereka menuju pintu belakang dan memarkir sepedanya di halaman belakang. Wahyu membukakan pintu untuk Disa dengan kunci yang ada di tangannya.
“Jangan sampe tuan muda kebangun yaa..” pesannya sebelum meninggalkan Disa.
“Iya pak, makasih.” sahut Disa.
Disa melepas sepatunya lalu menggantinya dengan sandal rumah. Ia pun menaruh tote bag nya di lemari dekat pintu belakang, lantas berbalik melihat seisi rumah yang luar biasa.
“WAAWWWW!!!” kata pertama yang meluncur dari mulut Disa.
Ia berjalan perlahan menikmati pemandangan cantik di dalam rumah. Dapur yang bersih dan rapi, bersebrangan dengan ruang santai yang memajang sofa besar dengan televisi besar menempel di dinding.
Sebuah kulkas yang besar dengan tinggi setara tubuhnya berada di samping satu set meja makan yang aesthetic dengan lampu cantik yang menggantung di tengahnya. Di bagian depan tentu saja ada ruang tamu yang sangat besar. di lengkapi dengan kamar tamu dan sebuah kamar mandi kecil di sampingnya.
Partisi ukiran jepara ini adalah pemisah antara ruang tamu dan ruang keluarga.
Dari dalam rumah, ia bisa melihat sekeliling halaman tanpa penghalang yang berarti. Hanya tirai tipis yang melapisi kaca-kaca besar di hadapannya. Namun jika di lihat dari luar, kacanya gelap bahkan tidak terlihat cahaya lampu yang menyala di dalam rumah.
“Astaga rumahnya bagus banget...”
Disa masih dengan perasaan takjubnya. Ia mengusap permukaan sofanya yang yang lembut namun memang sangat berdebu. Mungkin di siang hari akan lebih terlihat seperti apa kotornya rumah tidak terawat ini.
Disa kembali mengingat bahwa kamar tuan mudanya ada di lantai 2. Ia menaiki satu per satu anak tangga dengan langkah perlahan. ia hanya ingin ke ruang pakaian, di mana ia harus menyiapkan pakaian yang akan dikenakan tuan mudanya.
Berantakan! Adalah kesan pertama yang dilihat Disa saat membuka pintu ruangan tersebut. Sangat luas namun baju terserak dimana-mana. Entah mana yang kotor dan bersih.
Disa memunguti satu per satu bajunya dan menciumi baunya. Tidak ada yang wanginya detergen semuanya wangi parfum khas laki-laki yang sudah bercampur dengan keringat. 2 keranjang penuh sudah terisi baju kotor milik tuan mudanya dan cukup membuat Disa berkeringat.
Ia membuka lemari besar di hadapannya dan hanya ada 2 kemeja yang tergantung. Jasnya hanya satu yang berwarna hitam, sepertinya tuan mudanya tidak pernah mencuci bajunya.
“Duh kalo nyuci sekarang gag keburu deh kayaknya.” gumam Disa melihat cucian yang bertumpuk di salah satu sudut.
Disa mengambil satu kemeja berwarna biru muda, beserta jas dan celana hitamnya. Ia pun mengambil dasi dengan warna senada. Ia memperhatikan baju yang ada di hadapannya lalu mengambil salah satu sapu tangan yang ia lipat dan ia selipkan di jas hitam tersebut.
“Nah, tinggal setrika, nanti balik lagi ke sini buat nyuci.” gumam Disa.
Ia mengambil setrika dari kolong lalu mulai menyetrika baju tersebut. Ia pun menyiapkan kaos kaki baru dan sepatu tuan mudanya telah selesai ia semir. Selepas itu, ia menaruhnya di tempat yang terlihat agar tuan mudanya lebih mudah mencari.
Selesai dengan urusan baju, Disa kembali mengendap-endap turun membawa 2 keranjang cucian.
“Aduuhh berat banget sih..” keluh Disa seraya memiringkan pinggangnya ke kiri dan kanan. Entah berapa lama waktu yang harus ia habiskan untuk mencuci baju tuan mudanya nanti.
Tugasnya beralih pada memasak nasi. Tidak banyak beras yang tersedia, itu pun sudah banyak mengandung kutu. Disa memilih dan mengeluarkan kutu-kutu itu dari berasnya, kali ini saja ia memasak dengan menggunakan beras ini. Setelah ini ia harus mencatat apa saja yang harus ia beli untuk mengisi rumah ini.
Mengambil sapu dan kemoceng adalah hal selanjutnya yang Disa lakukan. Ia mulai menyapu, membuka jendela dan melap permukaan meja yang berdebu. Sepertinya tidak pernah ada orang yang duduk di kursi ini selama berbulan-bulan.
Hari ini memang ujian dan rasanya tulang tubuh Disa akan rontok karena kelelahan. Pada titik ini Disa menyimpulkan, memiliki rumah yang luas dan indah, tidak sepenuhnya menyenangkan. Ada banyak tenaga yang harus ia keluarkan hanya untuk mempertahankan rumah ini selalu bersih dan rapi.
Ia terduduk di kursi ruang makan, minum 2 gelas air karena tenaganya hampir habis. Ia terengah, bersih-bersih kali ini benar-benar menguras tenaga dan emosinya.
“Astaga! Setengah tujuh!” seru Disa saat melihat jam yang tertempel di dinding.
Layaknya cinderela, Disa pun harus mempercepat pekerjaannya. Yang berbeda hanya patokan jam yang tidak boleh ia lewati.
Menu putus asa, nasi goreng adalah menu yang ia buat untuk sarapan tuan mudanya. Dengan dua buah telur mata sapi yang bertengger di atasnya. Semoga saja ia suka karena ini usaha terakhirnya yang ia selesaikan sebelum tuan mudanya bangun dan ia harus menghilang secepat mungkin.
*****
Suara langkah kaki terdengar yakin dan mantap dari laki-laki tampan yang berjalan melewati reseptionist sebuah perusahaan kain terkenal. Berbeda dari biasanya, laki-laki tampan itu tampak rapi dengan stelan jas yang dikenakannya.
Adalah Kean malik Hardjoyo yang semakin menarik perhatian para kaum hawa yang ia lewati. Penampilannya benar-benar berbeda dari biasanya yang terlihat. Lipatan jas dan kemeja serta celana yang rapi juga sepatu yang mengkilap saat terkena cahaya matahari. Benar-benar berbeda dari biasanya.
“Wah, tuan muda kok beda banget ya...” bisik seorang karyawan yang memperhatikan kedatangan Kean sejak ia turun dari mobil.
Kean mendengarnya, namun ia tidak mempedulikannya. Bukankah sudah biasa para wanita tertawan oleh ketampanan dan kegagahannya?
Ia berjalan menuju ruang kerjanya yang berada di lantai 2 gedung bertingkat 8 ini. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang tekstile ini adalah tanggung jawab Kean sepenuhnya. Ini merupakan salah satu anak perusahaan yang paling besar di antara 3 anak perusahaan lainnya.
4 Pabrik kain mereka miliki. Tepatnya milik group yang di pimpin oleh Sigit Hardjoyo, ayahnya. Perusahaan bergengsi sekaligus neraka bagi seorang Kean yang sangat tidak suka dengan pekerjaan yang dilakukannya. Jujur, ini bukan passion-nya.
“Selamat pagi tuan muda.” sapa Marwan, yang sudah berada di ruang kerja Kean saat Kean membukakan pintu ruangannya.
“Pagi.” melepas kacamatanya dan menaruhnya di laci meja kerjanya. “Laporan apa lagi yang diminta papah? Oh maksud saya bahan bulian apa lagi yang di perlukan papah?” pertanyaan Kean terdengar sinis seperti biasanya.
Ia duduk di kursi direktur dan merapikan berkas yang ia buat kemarin.
Marwan tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan tuan mudanya. Ia sudah terlalu terbiasa dengan sikap sinisnya. 'Like father like son.' mungkin kalimat ini cocok di sandangkan untuk ayah dan anak pemilik nama belakang Hardjoyo ini.
“Saya hanya diminta menyampaikan undangan untuk pertemuan perusahaan di kantor pusat.” Marwan menyodorkan surat undangan di tangannya pada Kean . “Acaranya 4 hari lagi tuan muda, sehingga anda masih bisa mempersiapkan semuanya.” terang Marwan kemudian. Ia yakin tuan mudanya tidak akan membuka surat undangan tersebut.
“Hem.” hanya itu sahutan Kean. Lagi pula ia tidak terlalu tertarik dengan pertemuan yang akan menjadi ajang menjatuhkannya.
“Kalau begitu, saya permisi.” Marwan beranjak dari tempat duduknya dan Kean tetap dengan sikap dinginnya. “Oh iya, anda terlihat berbeda hari ini.” imbuhnya sebelum berlalu dan menghilang di balik pintu.
Kean yang anteng menatap berkas di hadapannya sepeninggal Marwan beranjak dari tempatnya. Ia masuk ke kamar mandi yang ada di ruang pribadinya dan berdiri di depan kaca besar yang menampilkan seluruh sosok tubuhnya.
Ia kembali teringat saat ia masuk ke walk in closet-nya dan mendapati ruangannya yang rapi tanpa baju yang berserakan dengan wangi yang tidak jelas. Ada parfum yang menyegarkan ruangan yang terlihat lebih luas itu. Bajunya pun sudah tergantung dengan rapi lengkap dengan sepatu dan kaos kakinya.
Bahkan lihat, ada sapu tangan yang terselip di saku jasnya dan mempergagah penampilannya. Sepertinya orang kiriman Kinar cukup bisa bekerja dengan baik.
“Gue kan emang keren.” gumamnya seraya mengusap dagunya yang di tumbuhi rambut tipis.
Dengan penampilan rapi ini, rasanya ia mulai semangat untuk berfikir. Dalam pikirannya berputar ingatan bahwa ia tidak boleh lagi di rendahkan oleh orang-orang di sekitarnya terutama ayahnya. Ia sudah tampil sekeren ini, maka ia harus menunjukkan kualitas dirinya yang terpendam.
“Kalian lihat, kalian tidak hanya akan terpesona dengan penampilanku tapi juga oleh kemampuanku.” kembali Kean bergumam, takjub pada dirinya sendiri.
Dan sepertinya ini hari yang baik untuk memulai semuanya.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
Ririn
wahhh seru.. nunggu saat Kean penasaran siapa yg beberes dirumahnya
2023-01-18
1
Kristina Situmeang
knapa baru nyadar dia,apa dia gk ingat buang baju kotor dmana?
2021-11-07
2
Hesti Ariani
tampilan sudah bagus, tinggal membuktikan kalau kerja bisa bagus💪👍
2021-08-03
1