POV Disa:
Aku berdiri di sini, di hadapan sebuah pagar setinggi 2 meter dengan rumah yang aku yakini super mewah di dalamnya. Di sampingku ada Damar yang kali ini berbaik hati mengantarku ke tempatku bekerja. Di tangannya ada tas berukuran lumayan besar yang berisi beberapa potong baju.
Aku tidak membawa baju terlalu banyak karena menurut Kak Rina, aku akan diberikan seragam pelayan. Aku masih penasaran dengan seragam yang nanti akan aku kenakan. Semoga saja tidak seperti seragam di cosplay milik Damar dengan rok pendek dan apron yang berrenda di bagian depan.
Melihat pagar yang tinggi ini, semakin mengingatkanku pada derajatku dan derajat tuan rumah yang ada di dalam sana. Mungkin banyak hal yang akan berubah dan aku harus memahami apa keinginan mereka hanya dari cara mereka menatap. Entah mengapa bulu kudukku rasanya merinding membayangkan mereka seperti apa.
“Kalo lo gag betah, lo bisa telpon gue. Nanti gue jemput.” Ujar Damar tanpa mengalihkan pandangannya dari pagar tinggi di hadapan kami. Sepertinya dia bisa membayangkan kengerian seperti apa yang ada di dalam pikiranku yang sering over thinking.
Dengar, dia seolah mencemaskanku, padahal selama tinggal di rumah yang sama, kami jarang berbincang, seperti orang asing yang bertemu hanya karena kebetulan tanpa saling peduli.
Tumben banget dia ngomong manis.
“Gue seneng kalo kakak cemas.” Timpalku yang membuat Damar kali ini menatapku.
“Lo bilang kita udah bukan siapa-siapa lagi, jadi lo bisa berhenti manggil gue kakak.” Damar menatapku dengan laman. Rasanya ada sesuatu yang mau dia sampaikan tapi di tahannya.
Aku hanya tersenyum, sepertinya dia menyimak benar pembicaraanku dengan tante Meri di dapur.
“Sesekali gue akan pulang kak dan gue harap sikap lo bisa berubah saat gue pulang nanti.” Aku berujar dengan penuh kesungguhan.
Damar tidak menolak atau pun mengiyakan permintaanku. Seperti biasa, hanya wajah dingin yang sulit ku tebak yang dia perlihatkan.
****
“Mana identitas lengkapmu?” tanya wanita paruh baya yang memperkenalkan dirinya sebagai Kinar, kepala pelayan di rumah besar ini. Disa menyerahkan kartu tanda pengenalnya pada Kinar. “Paradisa sandhya, seperti apa kami memanggilmu?” tanyanya kemudian.
“Ibu bisa memanggil saya Disa.” Jawab Disa seraya mengangguk sopan.
Kinar memandangi Disa dari atas hingga ke bawah. Sepertinya otaknya sedang men-scan seperti apa gadis yang ada di hadapannya. Disa ikut memperhatikan penampilannya sendiri yang hanya memakai celana jeans belel dengan kemeja kotak-kotak dan rambut yang terkucir. Disa bisa membayangkan seperti apa tuan dan nyonya rumah dari rumah megah ini karena kepala pelayannya pun sangat tegas.
“Simpan barang-barangmu di kamar pelayan dan pakai seragam yang sudah di siapkan. Setelah itu, temui saya di dapur utama.” Ujar Kinar seraya mengembalikan tanda pengenal milik Disa.
“Baik bu.” Disa menyahuti dengan sopan.
Selepas Kinar pergi, Disa masih memperhatikan sekeliling tempatnya berdiri. Ia yakin ini adalah taman belakang dengan beberapa kursi yang sepertinya tempat bersantai. Tidak jauh dari tempatnya ada beberapa kamar yang berderet seperti kamar kost-an. Mungkin salah satunya adalah kamar Disa kelak.
“Hey... Pelayan baru ya?” sapa seorang gadis dengan seragam pelayannya. Sedari tadi ia mengintip Disa dan Kinar dari balik tembok.
Disa sangat yakin ini adalah seragam pelayan. Dan benar saja, seragamnya sangat mirip dengan yang dibayangkan Disa. Hanya saja, ukuran roknya tidak setengah paha melainkan di bawah lutut.
“Iya, saya Disa.” Disa mengulurkan tangannya pada gadis yang ada di hadapannya.
“Aku tina.” Sahut gadis tersebut dengan senyum ramahnya. “Berapa usiamu?”
“20 tahun.”
“Hem.. kamu bisa memanggilku kakak. Aku 24.” Aku Tina. Disa hanya terangguk patuh. Rupanya senioritas juga berlaku di sebuah dapur istana. “Ayo aku antar ke kamarmu.” Tina berjalan di depan Disa memberi petunjuk.
"Terima kasih kak."
Berjalan di pelataran kamar yang berderet membuat Disa tersenyum sendiri. Begitu ia melangkahkan kaki masuk ke rumah super mewah ini, ia harus sangat bersiap dengan banyaknya kejutan yang tidak pernah ia bayangkan.
Seperti dugaan Disa, kamarnya berada di deretan kamar paling ujung. Kamar yang lebih besar dari ukuran kamarnya di rumah Meri.
“Itu seragammu, gantilah bajumu. Dan jangan terlalu lama karena bu kinar tidak suka menunggu lama.” Terang Tina dari mulut pintu.
“Iya, saya akan segera ke dapur utama.” Timpal Disa, menyanggupi.
Bayangan Tina pun menghilang di balik pintu.
Disa menaruh barang-barangnya di atas tempat tidur, merapikannya mungkin nanti saja. Ia mengukurkan baju seragamnya ke tubuhnya, sangat pas untuk membalut tubuh kurusnya.
Segera Disa mengganti bajunya dengan seragam pelayan. Ia pun mengepang rambutnya lalu mencepolnya dengan menggunakan jepit rambut model sarang burung. Tidak ada sehelai rambutpun yang terurai hingga memperlihatkan leher jenjangnya dengan satu tanda lahir di leher kanannya.
Tak menunggu lama ia segera menghampiri Kinar di dapur utama. Seperti yang Tina katakan, ia tidak suka menunggu.
“Rapikan anak rambutmu.” Adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Kinar saat melihat penampilan Disa.
“Oh baik bu, saya akan merapikannya.” Timpal Disa seraya merapikan anak rambut di dahinya.
“Ini buku aturan yang ada di rumah ini, kamu harus mempelajarinya sebelum melakukan pekerjaanmu.” Kinar menyodorkan sebuah buku catatan kecil pada Disa yang di terima dengan sigap.
“Kamu bertugas mengurus masalah kain dan pakaian. Di sana sudah ada jadwal mencuci dan sebagainya. Perhatikan juga cara menggunakan mesin cuci, mengeringkan pakaian dan menyertika. Selain itu, minta tina untuk menemanimu berkeliling rumah.” Terang Kinar dengan gamblang.
“Baik bu.” Sahut Disa.
Jemarinya mulai membuka satu per satu halaman buku aturan yang ada di rumah. Kalau di lihat-lihat, ini lebih seperti sebuah kontrak kerja yang di buat tersamar dan sepertinya setiap pelayan mendapatkan buku saku yang sama.
Hari pertama masuk ke rumah ini, Disa habiskan untuk belajar peraturan dan berkeliling rumah. Tina pun membisikkan nama orang-orang yang mereka temui. Disa baru tahu bahwa rumah mewah ini memiliki 11 pelayan dan genap 12 dengan Kinar. Rasanya seperti tim sepak bola perempuan bukan?
Di rumah besar ini hanya ada 3 tuan rumah, Tuan besar, nyonya besar dan sang tuan putri yang menurut Tina sangat mengesalkan.
Tidak banyak foto yang terpajang di dinding, hanya ada foto keluarga 3 orang tersebut dan beberapa lukisan mahal dari seorang pelukis terkenal.
Jika mau membandingkan rumah ini dengan rumahnya sebelumnya, mungkin rumahnya sebelumnya setara dengan 1 kamar nona mudanya.
Ralat, bukan rumahnya melainkan rumah Meri.
****
Beberapa hari bekerja di rumah mewah ini, Disa mulai menguasai pekerjaannya. Tuan besar menginginkan segala sesuatu yang super cepat, nyonya rumah yang selalu tidak bisa di tolak keinginannya dan nona muda selalu meminta keinginan yang aneh-aneh memang cukup membuat ritme pekerjaan begitu berwarna. Disa mulai menikmati pekerjaannya walau terkadang sangat melelahkan. Banyaknya pelayan tidak cukup menangani masalah rumah tangga salah satu konglomerat kelas kakap di negara ini.
Seperti hari ini, masalah di mulai dengan teriakan nona muda, Shafira, dari meja makan.
“Kamu gag bisa lihat ya, ini tuh permukaannya gag rata, tumpah kan sayurnya?!” gertak gadis berusia belasan tersebut pada salah satu pelayan.
“Maaf nona, saya tidak sengaja. Saya akan segera membersihkan semuanya.” Ujar Nina dengan suara bergetar.
“Bersihin seperti apa maksud kamu?! Lihat, hari ini aku akan pentas paduan suara di sekolah dan kamu mengotori rok pentasku. Dasar bodoh!” Shafira mentoyor kepala Nina dengan keras.
“Maaf nona, maaf...” Nina hanya bisa meminta maaf dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan tangis.
“Suruh pelayan bagian cuci mengambil rok yang lain dan pecat pelayan bodoh ini!” seru Shafira pada Kinar.
“Baik nona. Mohon tunggu sebentar.” Sahut Kinar dengan tatapan sinis pada Nina.
“Sial! Untuk apa menggaji mahal para pelayan itu kalau mereka gag punya otak!” dengus Shafira seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Sudah, kamu ganti dulu rok mu, ini sudah siang.” Sigit berusaha menenangkan putri bungsunya.
“Dady, rok ini bukan rok seragam. Aku gag tau rok satunya masih muat atau nggak!” keluh Shafira masih dengan wajah kesalnya.
“Sayang, nanti sepulang sekolah kamu bisa pergi ke mall untuk membeli banyak baju tapi sekarang pakai yang ada dulu. Jangan marah, nanti cantiknya luntur.” Ujar Liana seraya mengusap bahu Shafira yang masih menegang karena marah.
“Shit! Aku butuhnya sekarang. Pokoknya aku gag mau tau, aku gag mau liat pelayan bodoh itu lagi.” Shafira mengerucutkan bibir mungilnya dengan tangan tersilang angkuh.
“Nona maaf, ini rok anda.” Disa membawa rok yang di minta Shafira di tangannya.
“Ikut ke kamar.” Sahut Shafira seraya beranjak dari tempat duduknya yang diikuti Disa dan Liana.
Dikamar tidurnya yang sangat cantik dengan nuansa pink, Shafira mulai mengganti roknya.
“Tarik resletingnya!” seru Shafira pada Disa.
“Maaf nona, sepertinya ini sudah tidak muat.” Terang Disa dengan penuh sesal.
“Aaarrgghhhh!! Menyebalkan!” Shafira kembali melepas roknya. “Cepat cuci rok yang itu dan harus kering dalam waktu 10 menit.” Ia menunjuk rok yang berada di lantai.
“Nona maaf, sepertinya waktu 10 menit tidak akan cukup..”
“Terus gimana?!!! Momy, aku kesal!!!” seru Shafira seraya terisak di tepian tempat tidurnya.
“Tenang sayang, momy punya rok yang mirip dengan ini, kamu bisa,”
“Momy tuh gemuk! Momy mau aku keliatan kayak pake gamis!” protes Shafira tanpa mau mendengar kalimat Liana lebih lanjut.
“Saya bisa mengecilkannya nona.” Timpal Disa dengan cepat.
“Bener?” tanya Shafira dan Liana bersamaan. Disa hanya bisa mengangguk.
Dengan cepat Liana meminta Disa pergi ke kamarnya dan mengambil rok tersebut. Setelah itu mereka sama-sama turun ke bawah menuju ruang penyimpanan kain dengan mesin jahit kecil di sana.
Disa mulai mengukur pinggang dan panjang rok yang akan di pakai Shafira dan dalam beberapa saat ia mulai menjahitnya. Bisa terlihat Disa yang begitu fokus menjahit dengan titik-titik keringat di dahinya. Demi apa pun ia sangat gugup terlebih Shafira, Liana dan Kinar memperhatikan pekerjaannya. Tidak, teman pelayan lainnya pun mencuri dengar dari balik jendela ruang linen.
“Silakan nona coba.” Disa menyerahkan rok yang telah selesai ia kecilkan.
Dengan segera Shafira mengambil rok tersebut dan mencobanya.
“Ini terlalu kepanjangan, aku mau 5 jari di atas lutut.” Protes Shafira.
“Tapi nona, kalau saya potong lagi, nona tidak akan nyaman di bagian perutnya dan bagian sini akan menggembung. Dan bukankah nona akan tampil di depan dan dilihat banyak orang, panjang rok segini akan terlihat sopan dan manis.” Terang Disa mencoba meyakinkan nona mudanya.
Shafira tampak mempertimbangkan saran Disa dan saat melihat jam di dinding, sepertinya ia sudah tidak punya pilihan lain. “Ya sudah, aku berangkat sekarang.” Cetusnya yang membuat bahu tegang para pelayan melorot lega seketika.
“Baik nona. Hati-hati di jalan, semoga acaranya sukses.” Timpal Disa seraya membungkukkan badannya.
“Hem...” hanya itu sahutan Shafira untuknya. Dalam beberapa saat, para pelayan yang sedang menguping pun segera berhamburan pergi, menghilangkan jejak masing-masing.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 254 Episodes
Comments
Sri Widjiastuti
berasa orang kaya semena2 klo murka
2023-09-19
0
abdan syakura
aiiisshhhh safiraa...
mahasiswi designer di lawan!!
Good job, Disa!!!
2023-01-29
0
Ririn
sumpah ikutan panik dan tegang baca bab ini hfuhh
2023-01-17
1