Marry The Heir

Marry The Heir

Winnie the pooh

POV: Disa

“Siiuuttt… dhuarr…. Siuuttt… dhuaarr…”

Suara petasan dan kembang api saling bersahutan memeriahkan malam pergantian tahun baru. Langit malam yang gelap berubah terang seketika saat semburat percikan kembang api menerangi hitamnya langit yang hanya di temani beberapa gemintang.

Bibirku selalu latah ikut merekah saat melihat orang-orang tersenyum dan tertawa melewati malam pergantian tahun yang tidak pernah sepi dari keriangan dan dentuman live musik yang dimeriahkan oleh para penyanyi terkenal ataupun sekedar tawa yang menggelegar meluapkan kebahagiaan.

Semua berpesta pora seolah semua yang mereka lewati di tahun lalu hanya jadi cerita dan menyambut hari baru dengan harapan baru.

Aku masih di sini, di dalam kostum badut karakter winnie the pooh yang sedari siang tadi aku kenakan. Rasa panas dan gerah sudah menjadi kawan dan tidak lagi berarti apa-apa saat aku melihat kebahagiaan mereka. Anak-anak kecil berlarian mengelilingiku dan tertawa dengan ceria. Sesekali mereka mengajakku berfoto, sesekali mereka menciumku dan sesekali pula mereka jahil mendorongku. Semuanya sudah terlalu biasa untukku mendapat perlakuan seperti ini.

Bukan tanpa alasan aku ikut merasa senang pada hari ini. Jika dilihat dalam kalender masehi, hari ini tepat usiaku 20 tahun. Kata mendiang ayah dulu, aku terlahir saat detikan jam dari puncak tertingi bergeser sepuluh detakan ke kanan mereka menyambut kelahiranku dengan tangis haru dan ucapan syukur.

Aku selalu merasa, orang-orang ikut merayakan kelahiranku. Dalam imajinasiku, aku adalah seorang tuan putri dengan gaun indah yang tengah mengadakan pesta. Bukan sebagai cinderela tapi aku adik pangeran Henry. Lucu bukan, aku bahkan menciptakan karakter imajinasiku sendiri untuk menyenangkan hatiku.

Sayangnya, rasa bahagia itu begitu mudah hilang. Imajinasi itu begitu mudah terhapus. Seperti halnya percikan kembang api yang menyala indah di langit gelap, kebahagiaan itu pun begitu mudah hilang tanpa bekas seiring padamnya percikan indah itu.

Bagiku semuanya semu dan bagiku semuanya hanya sesaat. Mereka menghilang bersamaan dengan tawa yang mulai meredup dan kembali meninggalkanku sendirian. Seperti halnya nyala Chrysanthemum yang mulai padam. Ibu pun pergi di detakan ke 60 setelah kelahiranku. Tanpa sempat memelukku tanpaa sempat mengecupku atau sekedar berkata, "Hay bayiku,.."

“Tuhan, engkau mengambil semua milikku. Tapi lihat, aku masih bisa berdiri dan tersenyum. Tidakkah engkau merasa kesal karena aku terlalu kuat?”

Kalimat itu yang aku ucapkan setiap malam kelahiranku. Ya, tuhan telah mengambil semuanya tapi aku tidak akan meratap. Bahkan, aku tidak pernah meminta apapun di hari ulang tahunku. Bisa berdiri tegak melewati setiap masalah yang memberi warna dalam hidupku, sudah karunia terbesar yang tuhan berikan. Lantas, apa lagi yang harus aku minta?

******

“Wah pendapatanku  cukup banyak…” seru Disa dalam hati. Begitu biasa gadis manis itu di panggil.

Ia mulai menghitung lembaran rupiah yang ia keluarkan dari saku depan kostumnya. Rambutnya masih sangat berantakan selepas ia melepas kepala Winnie the pooh yang menutupi kepalanya seharian. Hembusan angin malam ikut menerbangkan bau asam keringat dari helaian rambutnya yang tebal.

“Enam, tujuh, delapan, tambah ini receh tujuh ribu lima ratus. Yes! Enam ratus delapan puluh tujuh ribu lima ratus rupiah!” seru Disa seraya mengepalkan tangannya ke udara dengan senyum terkembang.

Hal paling menyenangkan saat bekerja seperti ini adalah bisa mendapatkan banyak uang tips. Dikepalanya sudah mulai tersusun rencana apa saja yang akan ia lakukan dengan uang tersebut. Disa melipat uangnya dan mencengkramnya kuat-kuat. Sesekali ia menciuminya dengan gemas.

“A pooh, terima kasih sudah menemaniku. Aku akan mencucimu dan menghilangkan semua noda eskrim di wajahmu. Lihat, kamu semakin menggemaskan!” Disa mencubit dan menciumi pipi Winnie the pooh yang ia peluk di depan perutnya.

Ia tersenyum sendiri dengan rasa syukur dalam hatinya saat mengingat hari yang cukup menyenangkan ia lewati bersama Winnie the pooh yang di pakainya. Ia selalu tersenyum, seperti halnya Disa dengan lengkungan bibir tipisnya yang tidak pernah pudar. Sesulit apapun hari yang ia hadapi, nyatanya terasa lebih ringan saat ia masih bisa tersenyum dan menyemangati dirinya sendiri.

“Dengan uang ini aku akan mengirimi nenek dan sebagian buat tante meri. Lalu sebagian lagi aku tabung buat bayar kuliah. Ya, bayar kuliah.” Gumam Disa seraya menengadahkan wajahnya memandangi langit malam.

Selesai dengan rencananya, Disa segera beranjak pergi menemui teman-temannya sesama badut. Suasana arena permainan yang mulai sepi, membuat Disa merasakan perubahan drastis dari banyaknya tawa menjadi sangat hening. Fairy horse pun sudah berhenti berputar dan lampunya sudah seluruhnya padam.

“Astaga!!” langkah Disa terhenti dan terperanjat di tempatnya saat mendapati sosok laki-laki yang sedang berdiri menghadang jalannya.

“Mana bagian gue?” tanya laki-laki yang saat ini menengadahkan tangannya pada Disa.

Disa segera menyembunyikan uang dalam genggamannya di belakang tubuhnya.

“Jangan sekarang ya kak, aku cuma dapet dikit.” sahut Disa dengan gugup.

Sepertinya wajah memelas Disa tidak menyurutkan langkah laki-laki yang kini justru malah mendekat. Ia berdiri tepat 2 langkah di depan Disa dan menatapnya dengan tajam.

“Lo tau kan, selain gue bisa minta baik-baik gue juga bisa ngambil secara paksa?” Damar berbisik di telinga Disa, membuat nyali gadis itu menciut. Terang saja, ia sudah bisa mengira apa yang bisa dilakukan Damar kalau ia menolaknya.

Disa hanya bisa mengerjapkan matanya dan menelan salivanya kasar. Dengan tangan gemetar ia menunjukkan uang yang ada di tangannya.

“Sret!” Damar mengambil lembaran uang utuh dari tangan Disa.

“Wuihhh, banyak juga!” seru Damar dengan seringai tipis dan tatapan tajamnya. Ia menghitung jumlah rupiah di tangannya sedang senang hati. “Buat lo, segitu cukup kan buat beli telor sama kerupuk?” imbuh Damar dengan puas.

Disa menatap uang receh di tangannya. Ya lumayan cukup untuk 3 butir telur dan sebungkus kerupuk, makanan favoritnya. Bukan, menu putus asanya.

“Tapi kak, aku harus..”

“Sssttt!!!!” Damar menempatkan telunjuknya di bibir. “Inget, adik yang baik akan selalu nurutin perintah kakaknya.” Lagi, tatapan Damar begitu mengintimidasi.

Disa yang semula menengadahkan wajahnya menatap wajah Damar yang berada di atasnya, hanya bisa terangguk kemudian menunduk. Matanya mulai memerah dengan jemari saling memilin. Damar hanya berdecak sebal melihat ekspresi adik sepupu tirinya. Ia memalingkan wajahnya karena enggan melihat wajah sendu itu lagi.

Dalam beberapa saat Damar beranjak pergi meninggalkan Disa tanpa rasa bersalah. Bukankah ini memang bukan pertama kalinya Damar melakukan hal ini? Tentu saja ia sudah sangat terbiasa.

Kembali terlintas di pikiran Disa bayangan wajah sang nenek yang sudah lebih dari sebulan tidak ia kirimi uang. Disa segera menyadarkan dirinya dan menghampiri Damar.

“Kak, jangan di ambil semua, aku butuh buat nenek.” Disa meraih tangan Damar namun Damar mengibaskannya dengan kasar. “Kak, aku mohon....” kali ini Disa terisak.

“Pergi sebelum gue ngelakuin hal gila!” gertak Damar tanpa menoleh Disa sedikitpun.

“Aku gag akan pergi, aku butuh,”

“PERGI!!!!!” teriak Damar membuat Disa terpaku di tempatnya. Bibirnya mengatup kuat dan sedikit bergetar menahan tangis.

Rasanya kakinya mulai lemas mendengar teriakan Damar padanya. Jantungnya berloncatan dan berdebar sangat kencang. Teriakan Damar tidak hanya mengagetkannya, lebih dari itu telah menyakiti hatinya.

Disa tidak lagi bergeming, ia membiarkan saja Damar pergi membawa semua uangnya.

“ARGH SHIT!!!” hanya suara dengusan itu yang Disa dengar sebelum Damar berlalu dari hadapannya.

Dalam beberapa saat pikiran Disa kosong. Ia melangkahkan kakinya tidak tentu arah. Malam semakin kelam dengan buliran air mata yang menutupi korneanya dan bisa menetes kapan saja.

Dari kejauhan ia melihat bangku kosong. Tujuannya saat ini ia hanya ingin sampai di sana agar ia tidak terjatuh karena tubuhnya yang terasa lemas. Ia butuh sandaran.

Disa mendudukkan tubuhnya di bangku berwarna coklat. Ia mulai terisak dengan bahu yang bergerak naik turun. Walau Damar tidak pernah benar-benar melakukan kontak fisik tapi dari gertakannya Disa bisa membayangkan apa yang akan dilakukan kakak sepupu tirinya yang kerap mabuk-mabukan. Mungkin Damar akan benar-benar menghajarnya.

Disa hanya bisa menangis, usahanya seharian tidak berarti apa-apa.

“Aaaaahahhahaha... Kak damar, kamu jahat kak....” tangis Disa kali ini benar-benar pecah, ia menangis sejadinya mengupati sang kakak. Kedua tangannya menutup wajahnya yang tengah menangis.

“Kamu tau aku udah cape-cape, gag makan seharian, dehidrasi dan tubuhku bau matahari. Tapi gampang banget kamu ngambil uang dari aku. aku salah apa hah, aku salah apa?!” teriak Disa memaki laki-laki yang ada di pikirannya.

“WOY!!! BERISIK!!!” seru sebuah suara di belakangnya. Disa terdiam seketika dengan mulut yang mengatup rapat. Segukan tangisnya pun ia coba tahan.

Ini kali kedua ia mendapat bentakan dan lebih keras dari yang dilakukan Damar. Bayangkan saja, rasanya jantungnya akan jatuh melorot ke dasar perutnya yang mulai terasa mual. Entah mengapa orang-orang begitu suka membentaknya.

Rupanya, tanpa ia sadari, bangku di belakangnya di tempati oleh seseorang yang tengah berbaring dan harus terbangun karena mendengar tangisan dan umpatan Disa. Disa tidak berani menoleh sedikitpun tapi dari suaranya yang berat dan dalam, ia yakin itu adalah suara seorang laki-laki.

Dalam pikirannya, laki-laki itu bertubuh tegap dan berotot tebal. Mungkin alisnyapun menukik seperti angry bird. Tidak terbayang betapa tajam tatapan mata yang mungkin tertuju padanya dan kesepuluh jarinya memiliki cakar yang bisa mencabik-cabik tubuhnya menjadi tidak berbentuk.

Disa bergidik sendiri, ia segera mengusap air matanya dengan kasar. Ia tidak bisa terlarut dalam imajinasinya yang terkadang menyiksa dirinya sendiri.

“Maaf om kalau saya mengganggu.” Lirih Disa dengan suara bergetar.

“Om kamu bilang?! Sejak kapan saya menikah dengan tante kamu?!” gertak laki-laki tersebut yang mulai beranjak dari tempat tidurnya.

Nyali Disa semakin menciut. Ia semakin tidak berani untuk menoleh ke belakang. Mungkin saja laki-laki itu sedang mengangkat pedang atau mengarahkan pistol ke kepalanya dan bersiap menembak Disa kapan saja kalau dia kembali salah bicara.

Disa segera memakai kepala Winnie the pooh yang ada di pelukannya. Nafasnya memburu dan tubuhnya gemetaran, ia ingin bersembunyi dan menyelamatkan dirinya.

“Maaf, saya tidak akan menganggu lagi.” Ucapnya seraya beranjak pergi dengan langkah cepatnya.

“Woyy!! Saya belum selesai bicara!!! Kamu menganggu tidur saya dan malah kabur. Woooyy tanggung jawab lo!!!!” teriak laki-laki itu.

Disa semakin mempercepat langkahnya walau kepayahan karena kostum yang di pakainya, ia memilih terus berjalan menjauh dengan tergesa-gesa. Beberapa kali ini hampir terjatuh tapi rasa takutnya membuat Disa berusaha bertahan.

Ia membayangkan mungkin laki-laki itu tengah mabuk dan bisa menyerangnya kapan saja. Astaga, imajinasinya kali ini benar-benar menyiksanya.

*****

 

 

Terpopuler

Comments

Anfit Annisa Fitri Tangka

Anfit Annisa Fitri Tangka

Minyakk pdg 1

2023-09-16

0

Ikha Ranni

Ikha Ranni

hai Thor,..ini novel ketiga dr rumus cap cip cup. baru baca aja ku suka cara penulisannya..👍💝

2023-09-01

1

Khaanza

Khaanza

👍👍👍👍👍

2023-04-21

2

lihat semua
Episodes
1 Winnie the pooh
2 Cicitan burung
3 Kampus
4 Payung
5 Mobil mewah
6 Astaga Disa!!!
7 Cewek galak dan Liar
8 Pagar tinggi
9 Jenar
10 kak damar
11 Tugas baru
12 Pasar
13 Galeri
14 Rumah tuan muda
15 Rumah lama rasa baru
16 Sendok emas
17 Tanpa apresiasi
18 Pesan tuan muda
19 Sarapan bubur
20 Ayam tepung
21 Malam Minggu
22 Kenapa harus dia?
23 Kantor polisi
24 Pertengkaran keluarga
25 Anak kambing baru lahir
26 Mini dress warna peach
27 Biksu
28 Appetizer, main course sama dessert
29 I've been married
30 Who are they?
31 Permisi
32 Meet up
33 CCTV Hidup
34 Princes
35 Best friend forever and ever
36 Tekanan mental
37 jam 6
38 Menginap
39 YA SAYA!!!
40 Ira dan Tantri
41 Kesepian
42 Sarapan bersama
43 Kejadian tidak terduga
44 Trauma di masa lalu
45 Libur tlah Tiba
46 Berkunjung ke galery seni
47 Kak reza
48 Kunjungan tidak diharapkan
49 Lomba Desain untuk pemula
50 3 Pesan
51 Hari yang baik
52 Tuan Marcel
53 Memikirkan wanita yang sama
54 Cita-cita kita
55 Tempat tujuan kita sama
56 Pantai Part 1
57 Pantai Part 2
58 Menambahkan daftar teman
59 Ikut Ke Pasar
60 Rumah sakit
61 Mengurus dan menjaga tuan muda
62 Ganti perban saya
63 Apa yang dia rasakan?
64 Tamu di pagi hari
65 Prioritas
66 Tersisih
67 Tidak karuan
68 Masuk ke dalam lorong yang gelap
69 Makan siang rasa tak biasa
70 Andai saja bisa jujur sekarang
71 Selamat bersenang-senang.
72 Saat terbangun di suatu pagi
73 Nyusul
74 Hadiah atau pengganti?
75 Berbau
76 Makan siang bersama sang model
77 Kesedihan Kean
78 Mural untuk tuan muda
79 Batas keberanian
80 Berpose
81 Anak bunda yang baik
82 Tamu tidak di undang
83 Cue ball
84 Dasar Damong!
85 Relationshit!
86 Alunan emosi
87 Yang di nanti
88 My Lady
89 Saling menguatkan
90 Negosiasi
91 Cerita di masa lalu
92 Saat dia menghampiriku
93 Semut-semut merah
94 Putri selir
95 Tangis dan tawa
96 Bullying
97 Doktrin paradisa
98 Menarik batas
99 We know you are strong!!!
100 Bunda,
101 Nama panggilan
102 Transaksi kewajiban
103 Nyaris tenggelam dalam arus
104 Olah raga bersama
105 Tidak ada kehilangan yang lebih baik
106 Permohonan seorang anak
107 Bahagia yang menular
108 Kondangan
109 Sang pewaris
110 Manipulasi pikiran
111 Mannequin koran
112 Kompromi
113 Mengukur tubuh
114 Harus memilih
115 Berdansa
116 Berusaha terlihat layak
117 Apa yang dia pikirkan?
118 Jangan terlalu baik
119 Peringatan
120 Aku hanya tau, aku harus pulang
121 "Aku menyesal."
122 Sim salabim
123 Maaf
124 Strawberrynya sampai ke hati
125 Tatapan maut
126 Terpeluk
127 Terjebak dalam labirin
128 Menghadapi Tuan besar
129 Kecanggungan
130 Selamat malam keluarga singa
131 I like monday as much as i like you
132 Deringan telpon di waktu yang tepat
133 Saya tidak mencuri dan kamu tidak menolak
134 Pesan bi Imas
135 Overall kebesaran
136 Panggilan penting
137 Sebagai damong terhadap sandhy
138 Negosiasi baru
139 Meski harus mengambil resiko
140 Penolakan
141 Hadiah berkesan
142 Kejutan pagi
143 Kekayaan, bukan bagian yang harus di pertahankan.
144 Usaha meyakinkan lawan
145 Man to man
146 Introgasi mamah
147 Bisakah semuanya lebih baik-baik saja?
148 Menghadapi rasa takut
149 Mirror
150 Pagi yang gamang
151 Kemalangan yang bersamaan
152 Saat harus melangkah pergi
153 Malam yang berat
154 Ikhlas tersulit
155 Kosong
156 Mengatur strategi permainan
157 Dreamsketch
158 Percaya pada kemampuan
159 Psyche?
160 Semakin merindukanmu
161 Cangkir penyemangat
162 Karya dan sumber inspirasi
163 Jangan membangunkan singa yang sedang tidur
164 Rasa bersalah
165 Kesendirian
166 Tentang masa lalu
167 Andai bisa abai...
168 Pernah menjadi satu-satunya tidak berarti akan menjadi selamanya
169 Kakiku tahu kemana arah yang harus ia tuju
170 Semudah itu datang dan semudah itu pula memilih pergi
171 Rencana tidak terduga
172 Saat wanita harus membuat keputusan
173 Pesan penting tante Mery
174 Kebaikan yang berlebihan
175 Tuan muda VS Pecel
176 Perasaan yang masih sama
177 Sayap sang model
178 Usaha tidak mengkhianati hasil
179 Yang akan menikah siapa?
180 Psyche and Cupid
181 Cemburu tapi gengsi
182 Ajakan tiba-tiba
183 Siluete membawa emosi
184 Dua kesalahan
185 Aa dan teteh
186 Bertemu tuan besar
187 Tidak perlu berharap
188 Cukup pikirkan aku saja, jangan yang lain
189 Jangan membuatku menunggu
190 Sedikit melemah
191 Paginya pengantin baru
192 Sarapan untuk suami
193 Hadiah dari mamah
194 Nasep Familly
195 Rasa sesal
196 Serba baru
197 Yogyakarta
198 Sebuah kisah
199 Danau part 1
200 Danau Part 2
201 Yang tertunda
202 Memulai yang sudah lama harus dimulai
203 Gangguan pagi-pagi
204 Pesan dari tante Liana
205 Bapak Kean
206 Membuat pilihan
207 Kesempatan lain
208 CD
209 Kekecewaan yang lebih
210 Bisakah egois sekali lagi?
211 Akupun bisa merasakan sakit
212 Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?
213 Mengembalikan kepercayaan
214 Benarkah sumpah itu?
215 Semuanya hanya berusaha
216 Mempertahankan hubungan
217 Pukulan serius
218 Tidak hanya senang tapi tenang
219 Seperti inilah seharusnya rasa tenang saat melabuhkan hati pada hati yang tepat.
220 Malam yang indah untuk di lewati bersama
221 Sarapan Roti Crispy
222 Ajakan Clara
223 Kejutan tuan muda
224 Nasi padang kenyal
225 Melukis mimpi bersama clara
226 Sambutan untuk sebuah kepulangan
227 Tidak ingin lagi ditinggalkan
228 Menikmati waktu bersama
229 Kericuhan duo Hardjoyo
230 Dear dady,
231 Time flies
232 Menjelang fashion show
233 Belum siap kehilangan
234 Sendirian
235 Jangan selalu merasa baik-baik saja
236 Jangan selalu merasa baik-baik saja 2
237 Peragaan busana
238 Perkara nama
239 Langkah baru
240 Ketika kita di masa itu,
241 Fit and proper test
242 Bisakah hubungan ini bertahan
243 Permintaan maaf
244 Melewati malam penuh pertanyaan
245 One step closer
246 Kejutan dari sahabat
247 Menyelesaikan kesalahpahaman
248 “With love, Paradisa Sandhya.”
249 Sayonara
250 Otor menyapaaaa
251 Comming up gais!!!
252 Kecemasan seorang anak
253 Menjadi Dia
254 Ranjang Dingin Ibu Tiri
Episodes

Updated 254 Episodes

1
Winnie the pooh
2
Cicitan burung
3
Kampus
4
Payung
5
Mobil mewah
6
Astaga Disa!!!
7
Cewek galak dan Liar
8
Pagar tinggi
9
Jenar
10
kak damar
11
Tugas baru
12
Pasar
13
Galeri
14
Rumah tuan muda
15
Rumah lama rasa baru
16
Sendok emas
17
Tanpa apresiasi
18
Pesan tuan muda
19
Sarapan bubur
20
Ayam tepung
21
Malam Minggu
22
Kenapa harus dia?
23
Kantor polisi
24
Pertengkaran keluarga
25
Anak kambing baru lahir
26
Mini dress warna peach
27
Biksu
28
Appetizer, main course sama dessert
29
I've been married
30
Who are they?
31
Permisi
32
Meet up
33
CCTV Hidup
34
Princes
35
Best friend forever and ever
36
Tekanan mental
37
jam 6
38
Menginap
39
YA SAYA!!!
40
Ira dan Tantri
41
Kesepian
42
Sarapan bersama
43
Kejadian tidak terduga
44
Trauma di masa lalu
45
Libur tlah Tiba
46
Berkunjung ke galery seni
47
Kak reza
48
Kunjungan tidak diharapkan
49
Lomba Desain untuk pemula
50
3 Pesan
51
Hari yang baik
52
Tuan Marcel
53
Memikirkan wanita yang sama
54
Cita-cita kita
55
Tempat tujuan kita sama
56
Pantai Part 1
57
Pantai Part 2
58
Menambahkan daftar teman
59
Ikut Ke Pasar
60
Rumah sakit
61
Mengurus dan menjaga tuan muda
62
Ganti perban saya
63
Apa yang dia rasakan?
64
Tamu di pagi hari
65
Prioritas
66
Tersisih
67
Tidak karuan
68
Masuk ke dalam lorong yang gelap
69
Makan siang rasa tak biasa
70
Andai saja bisa jujur sekarang
71
Selamat bersenang-senang.
72
Saat terbangun di suatu pagi
73
Nyusul
74
Hadiah atau pengganti?
75
Berbau
76
Makan siang bersama sang model
77
Kesedihan Kean
78
Mural untuk tuan muda
79
Batas keberanian
80
Berpose
81
Anak bunda yang baik
82
Tamu tidak di undang
83
Cue ball
84
Dasar Damong!
85
Relationshit!
86
Alunan emosi
87
Yang di nanti
88
My Lady
89
Saling menguatkan
90
Negosiasi
91
Cerita di masa lalu
92
Saat dia menghampiriku
93
Semut-semut merah
94
Putri selir
95
Tangis dan tawa
96
Bullying
97
Doktrin paradisa
98
Menarik batas
99
We know you are strong!!!
100
Bunda,
101
Nama panggilan
102
Transaksi kewajiban
103
Nyaris tenggelam dalam arus
104
Olah raga bersama
105
Tidak ada kehilangan yang lebih baik
106
Permohonan seorang anak
107
Bahagia yang menular
108
Kondangan
109
Sang pewaris
110
Manipulasi pikiran
111
Mannequin koran
112
Kompromi
113
Mengukur tubuh
114
Harus memilih
115
Berdansa
116
Berusaha terlihat layak
117
Apa yang dia pikirkan?
118
Jangan terlalu baik
119
Peringatan
120
Aku hanya tau, aku harus pulang
121
"Aku menyesal."
122
Sim salabim
123
Maaf
124
Strawberrynya sampai ke hati
125
Tatapan maut
126
Terpeluk
127
Terjebak dalam labirin
128
Menghadapi Tuan besar
129
Kecanggungan
130
Selamat malam keluarga singa
131
I like monday as much as i like you
132
Deringan telpon di waktu yang tepat
133
Saya tidak mencuri dan kamu tidak menolak
134
Pesan bi Imas
135
Overall kebesaran
136
Panggilan penting
137
Sebagai damong terhadap sandhy
138
Negosiasi baru
139
Meski harus mengambil resiko
140
Penolakan
141
Hadiah berkesan
142
Kejutan pagi
143
Kekayaan, bukan bagian yang harus di pertahankan.
144
Usaha meyakinkan lawan
145
Man to man
146
Introgasi mamah
147
Bisakah semuanya lebih baik-baik saja?
148
Menghadapi rasa takut
149
Mirror
150
Pagi yang gamang
151
Kemalangan yang bersamaan
152
Saat harus melangkah pergi
153
Malam yang berat
154
Ikhlas tersulit
155
Kosong
156
Mengatur strategi permainan
157
Dreamsketch
158
Percaya pada kemampuan
159
Psyche?
160
Semakin merindukanmu
161
Cangkir penyemangat
162
Karya dan sumber inspirasi
163
Jangan membangunkan singa yang sedang tidur
164
Rasa bersalah
165
Kesendirian
166
Tentang masa lalu
167
Andai bisa abai...
168
Pernah menjadi satu-satunya tidak berarti akan menjadi selamanya
169
Kakiku tahu kemana arah yang harus ia tuju
170
Semudah itu datang dan semudah itu pula memilih pergi
171
Rencana tidak terduga
172
Saat wanita harus membuat keputusan
173
Pesan penting tante Mery
174
Kebaikan yang berlebihan
175
Tuan muda VS Pecel
176
Perasaan yang masih sama
177
Sayap sang model
178
Usaha tidak mengkhianati hasil
179
Yang akan menikah siapa?
180
Psyche and Cupid
181
Cemburu tapi gengsi
182
Ajakan tiba-tiba
183
Siluete membawa emosi
184
Dua kesalahan
185
Aa dan teteh
186
Bertemu tuan besar
187
Tidak perlu berharap
188
Cukup pikirkan aku saja, jangan yang lain
189
Jangan membuatku menunggu
190
Sedikit melemah
191
Paginya pengantin baru
192
Sarapan untuk suami
193
Hadiah dari mamah
194
Nasep Familly
195
Rasa sesal
196
Serba baru
197
Yogyakarta
198
Sebuah kisah
199
Danau part 1
200
Danau Part 2
201
Yang tertunda
202
Memulai yang sudah lama harus dimulai
203
Gangguan pagi-pagi
204
Pesan dari tante Liana
205
Bapak Kean
206
Membuat pilihan
207
Kesempatan lain
208
CD
209
Kekecewaan yang lebih
210
Bisakah egois sekali lagi?
211
Akupun bisa merasakan sakit
212
Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?
213
Mengembalikan kepercayaan
214
Benarkah sumpah itu?
215
Semuanya hanya berusaha
216
Mempertahankan hubungan
217
Pukulan serius
218
Tidak hanya senang tapi tenang
219
Seperti inilah seharusnya rasa tenang saat melabuhkan hati pada hati yang tepat.
220
Malam yang indah untuk di lewati bersama
221
Sarapan Roti Crispy
222
Ajakan Clara
223
Kejutan tuan muda
224
Nasi padang kenyal
225
Melukis mimpi bersama clara
226
Sambutan untuk sebuah kepulangan
227
Tidak ingin lagi ditinggalkan
228
Menikmati waktu bersama
229
Kericuhan duo Hardjoyo
230
Dear dady,
231
Time flies
232
Menjelang fashion show
233
Belum siap kehilangan
234
Sendirian
235
Jangan selalu merasa baik-baik saja
236
Jangan selalu merasa baik-baik saja 2
237
Peragaan busana
238
Perkara nama
239
Langkah baru
240
Ketika kita di masa itu,
241
Fit and proper test
242
Bisakah hubungan ini bertahan
243
Permintaan maaf
244
Melewati malam penuh pertanyaan
245
One step closer
246
Kejutan dari sahabat
247
Menyelesaikan kesalahpahaman
248
“With love, Paradisa Sandhya.”
249
Sayonara
250
Otor menyapaaaa
251
Comming up gais!!!
252
Kecemasan seorang anak
253
Menjadi Dia
254
Ranjang Dingin Ibu Tiri

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!