Rey menatapku dengan seringai seraya menutup pintu kamar. Sumpah demi Alex, jantungku berdebar tak karuan. Apa yang akan dia lakukan? Kenapa aku belum bisa mengerti kode yang dia berikan di pesan tadi? Google, harusnya tadi aku tanya google.
Rey semakin mendekati aku yang sedang duduk di tepi tempat tidur. Dia menyibakkan rambut panjang ini ke belakang. "Rey, a-aku ...."
"Iya aku tau, kamu lagi dapet 'kan? Tenang aja aku gak semaniak yang kamu pikir. Aku kasih tau arti five nine nine tadi! Kayak anak otomotif langsung praktek lebih mudah belajarnya." Dia menyunggingkan bibirnya.
Kenapa napasku terengah-engah ya? Eh tunggu! Dia masih mengira aku lagi menstruasi. Ah biarlah, dia belum tau yang sebenarnya. Mungkin akan aku berikan kejutan nanti untuknya.
Aku menghembuskan napas pelan. "Tahan dulu ya!" ucap lirih pada tamu bulananku.
"Jangan ditahan!" sahut Rey yang ternyata mendengar ucapanku. Mataku membola mendengarnya. "Semburin aja biar kayak pompa sanyo, pipanya rucika!"
Aku membuang muka seraya menutup mulut dengan tangan. Sumpah aku tak sanggup menahan tawa, perutku mengeras rasanya. Astaga punya suami kenapa gila seperti ini.
Kini aku menatap Rey, dia sedang memicingkan mata. "Jangan cengengesan dong! Biar romantis dikit!" pintanya.
"Kamu jangan bercanda terus dong! Aneh banget pakai bawa semburan pompa segala." Aku mendesah kesal. Aku juga ingin malam pertama yang romantis. Tapi kalau musuhnya cowok kayak gini bagaimana bisa romantis?
"Aku tuh gak bercanda ya! Semburanku itu emang kenceng banget. Bahkan saking kencengnya sering kena mata." Matanya melotot tajam ke arahku.
Aku memukul bahunya tiga kali, dia mengaduh seraya mengernyitkan kening. "Terus matamu gimana? Merah, iritasi?"
"Ya hamillah," jawabnya lantang.
"Ha ha," Aku tertawa memegangi perut yang mengeras sedari tadi. Semoga tamuku tidak datang hari ini gara-gara tertawa!
"Udah jangan ketawa terus nanti bocor! Sekarang aja ya!" Dia melingkarkan tangannya ke pinggangku lalu mencium pipi ini.
Aku mengangguk. "Gak sakit 'kan?"
"Ya gak lah, kode kedua ini beda sama kode yang pertama. Pasti kamu suka!" jawabnya yakin.
"Rey, aku deg-degan banget."
"Sama aku juga!"
"Idih," Aku membuang muka. Tangannya menelusup masuk dalam kaos yang kini ku kenakan dan tak henti-hentinya dia menciumi pipi. Aku terlena, dia kenapa sangat ahli? Oh iya lupa, dia mantan buaya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuyarkan semuanya. Rey berdecak. Raut wajah geram nampak jelas di wajahnya. Aku merapikan diri dan berdiri membuka pintu.
"Bentar ya!" pamitku.
"Heem."
Aku berjalan keluar kamar dan Rey ternyata mengikutiku. Bibirnya mengerucut, sumpah menggemaskan rasanya ingin menguncir dengan karet gelang.
"Andika?" sapaku saat membuka pintu.
Andika adalah suami dari Mala tetangga sebelah rumahku. Aku mengerutkan dahi. Mau apa dia kesini?
"Kinan, tolong buatin Mala donat dong! Dia lagi nyidam tuh!" pintanya. Matanya kini menatap Rey. "Itu suamimu?" Aku mengangguk.
"Rey, ini kenalin Andika tetangga sebelah!" Rey memberi senyum dan mengulurkan tangannya. "Kamu 'kan tau aku udah gak buka toko kue!" tegasku. Apa mereka lupa, bukannya aku sudah menceritakan masalahnya pada Mala.
"Iya aku tau, tapi buatin donat aja buat Mala. Dia itu pengennya donat buatanmu! Aku tadi udah berputar-putar ke empat toko kue. Tapi gak dimakan sama dia. Ayolah Kinan! Nanti anakku ileran," rengeknya seperti anak kecil minta jajan.
Aku memegangi dahi. "Duh gimana ya!" Aku memandang Rey. Melihat wajahnya yang terus menahan, rasanya kasihan. Tapi kalau aku tak menuruti Andika tidak enak hati, mereka satu-satunya tetangga yang baik dan ramah padaku.
"Ya udah buatin sana! Nanti anaknya ileran!" seru Rey. Akhirnya itu cowok sabar juga nahannya.
"Ya udah, nanti aku anter deh kalau selesai."
Raut wajah berseri nampak pada Andika."Makasih ya Kinan! Maaf ya Rey udah ganggu!"
"Gak ganggu kok!"
Aku mengernyit ke arah Rey. Pasti itu basa basinya saja. Andika pamit pulang. Untung saja aku tadi belanja banyak bahan. Sekarang waktunya membuat.
"Rey, kamu gak marah 'kan?" Aku mengeluarkan semua bahan dari kantong kresek belanjaan. "Ini cuma bentar. Sambil nunggu mengembang bisa kita tinggal dulu kok!"
"Kalau soal ngembang-ngembangin, aku juga pinter kok!"
"Ngomong apa sih?" Aku menggelengkan kepala.
"Apalagi soal melubangi donat. Aku ahlinya."
"Idih," Aku mengernyit seraya mengaduk-ngaduk adonan. "Rey, kamu 'kan katanya kuat sampai pagi." Dia mengangguk. Aku berjalan mendekatinya yang sedang duduk di meja makan. "Kamu banting-banting adonan ini sampai kalis elastis ya! Mixer udah ku jual soalnya!"
"Gampang!" sahutnya. Aku tersenyum menatapnya.
Lima menit kemudian.
"Udah gini aja 'kan?" Aku berjalan melihat hasil karyanya. Mengambil sedikit adonan, dan ku rentangkan.
"Sobek, kurang elastis! Lebih lama lagi!"
"Hadoh, capek aku!" gerutunya.
"Masak gitu aja capek? Perutku lagi gak enak banget buat banting-banting adonan. Ayo dong Rey!"
Dia mendengus. "Ya udah sini-sini!" gertaknya. Aku pergi berjalan ke dapur sambil menahan tawa.
Sepuluh menit kemudian. Dia melipat tangannya ke meja dan menenggelamkan wajahnya ke bawah. Aku mendekati dan memijat bahunya.
"Capek?" Aku membisikan di telinganya. Dia mendongak seraya tersenyum padaku.
"Sini!" Rey menepuk-nepuk pahanya, mengisyaratkan untuk duduk di pangkuannya. Aku tersipu malu. Namun dia menarik tanganku, sehingga duduk di pangkuannya.
Dia menyatukan dahinya ke dahiku seraya memejamkan mata. "Rey ...."
"Heem,"
"Aku tidak jadi bocor tadi!"
Matanya langsung terbelalak. "Oh ya? Kenapa gak bilang?"
Aku malu menggigiti bibir bawahku. "Nanti malam aja ya! Habis buat donat pesanannya Andika." Dia mengangguk. Aku memeluknya. Ada perasaan tenang di dalam sana.
Maksudnya tuh kancing baju gak di kaitkan apa coba?
Kan gemes pengen jadi pala ekor.
Gue gagalin juga malam pertama kalian 🤣
Readers bersiap-siap kena semburan pompa sanyo!
Air mengalir sampai jauh pokoknya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Nyagus Gunawan
james jirayu😍😍😍😍
2022-10-04
0
andini
gokil 🤣
2021-12-07
0
fieth92
teken dalem dalem biar ga ke mata....
2021-12-02
0