Perjalanan yang sangat melelahkan untuk kedua gadis yang bersahabat itu. Di pagi hari jam 07.00 wib mereka telah tiba di terminal Pasar Minggu Jakarta Selatan. Akhirnya degan menempuh perjalan yang sangat melelahkan kedua gadia itu sampai juga.
Disinilah mereka akan memulai hidup mereka yang baru. Dengan teman - teman yang baru dan suasana baru. Kiara dan Mira setelah turun dari Bus, mereka berdua langsung menuju kerumah Tante Dewi. Mereka menaiki Taxi. Dengan alamat yang Tante Dewi berikan.
Kiara sangat takjub dengan pemandangan kota Jakarta, banyak gedung - gedung tinggi. Dan mereka juga banyak melewati mal - mal besar.
"Wah...Mir, ternyata kota Jakarta sangat padat ya? Dan banyak gedung gedung tinggi. Ya, walupun di Kota Medan banyak juga gedung tinggi, tapi di Jakarta lebih banyak lagi." ucap Laras takjub melihatnya.
Mira yang yang kedua kalinya ke kota Jakarta ini hanya menanggapi perkataan sahabatnya ini dengan senyuman.
Taxi yang membawa mereka ke kediaman rumah Tante Dewi telah sampai. Kia menatap rumah yang cukup besar. Di perumahan elit.
Rumah Tante Dewi memang cukup besar. Disinilah Kiara dan Mira akan tinggal. Memulai kehidupan mereka di Kota Jakarta yang besar ini.
**********
Disebuah rumah sakit ternama di Jakarta. Seorang pria berseragam putih, pakaian kebesarannya. Ia baru keluar dari ruangan tempat pemeriksaannya. Dengan wajah yang kelelahan, begitu banyak pasien yang mengantri untuk berkonsultasi dan berobat kepadanya. Dokter Ryan Putra Wijaya baru saja menyelesaikan prakteknya. Hari ini banyak sekali pasiennya, mulai dari remaja sampai orang tua.
"Tolong kamu simpan data - data pasien ini, saya akan megeceknya lagi nanti." titahnya kepada seorang perawat yang mendampinginya di ruang prakteknya.
"Baik dokter. Apa ada yang lain dok" jawab perawat itu.
"Tidak itu saja."
Ryan meninggalkan ruangan prakteknya, ia menuju ruangan pribadinya. Tubuhnya sangat lelah. Sejak kemarin pasiennya selalu ramai. Sebenarnya banyak pasien yang hanya ingin melihat wajah tampannya saja, itu banyak dilakukan oleh pasiennya yang wanita masih remaja. Mereka berpura - pura sakit hanya untuk melihat dokter tampan mereka. Ryan hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman manisnya.
Meskipun begitu Ryan menikmati pekerjaannya ini.
Drrtt....drttt....drrttt...
Terdengar dering telpon. Ryan melihat di layar ponselnya ternyata istrinya Astrid yang menelponnya. Ia menghela nafas sebelum bicara dengan istrinya yang tengah bersikap manis. Sepertinya Astrid telah berbelanja lalu Credit Card nya sudah over limit. Ryan bisa menebak kalau Astrid istrinya meminta kepadanya untuk membayar semua perburuannya di tempat perbelanjaan.
"Sayang...tolong bayarin belanjaanku ya?. Cuma empat ratus juta aja kok gak banyak. Kartu aku udah over sayang hehehe..." ucap Astrid dengan gampangnya.
Ryan tertawa jijik mendegar suara Astrid yang terkesan dibuat - buat.
"Sayang kok malah ketawa sih?." tanya Astrid.
"Jadi kamu telpon suami karena ada maunya. Kalau nggak ada maunya kamu gak telpon suami kamu. Atau kamu lupa kalau punya suami di rumah." sindir Ryan.
"Sayang kok gitu sih. Sayang aku lagi gak pengen debat ya. Buruan kamu tranfer uang ke Atm aku. Aku tungguin nih sekarang juga. Kalau bisa di lebihin ya sayang...emmuach." Astrid memutus sambungan telponnya. Ia tidak ingin mendengar ocehan suaminya.
Selalu seperti ini, Ryan bosan terus - terusan diperlakukan seperti sapi perah oleh istrinya yang mata duitan itu.
Semenjak menjadi istri Ryan, Astrid selalu menghambur - hamburkan uang hanya untuk membeli barang - barang Branded yang entah apa kegunaannya. Dan istrinya juga selalu berkumpul dengan teman - teman sosialitanya. Entah apa yang merasuki Ryan menikahi Astrid. Sebegitu nurutnya ia dengan Astrid. Walupun selalu dibuat kecewa Ryan selalu nurut.
Meski jago menghabiskan uang, ternyata Astrid tak jago melayaninya diranjang. Ryan kerap kali bermain solo ketika ia meminta jatah kepada istrinya. Setelah klimaks, Astrid tertidur lelap, membiarkan Ryan menderita dengan gairahnya yang tinggi. Sebuah pesan masuk ke handphonenya dari istrinya. Dengan malas Ryan menstranferkan sejumlah uang ke tempat istrinya.
Terimakasih Sayang. Love you...emmuach.
Ryan segera menghapus pesan dari istrinya. Ia berdiri menatap gedung - gedung tinggi dari kaca jendelanya. Ia bosan dengan kehidupannya yang monoton seperti ini. Ia ingin menjalankan kehidupan berumah tangga yang baik. Ingin meiliki istri yang selalu perhatian. Menyambutnya ketika ia pulang dari kerjanya, menyiapkan makan siang atau malam untuknya. Dan ingin memeliki istri yang selalu ada untuknya. Ia juga merindukan tangisan seorang bayi.
Selama menikah dengan Astrid dia belum dikarunia seorang anak. Astrid tak ingin hamil, karena tak ingin mengubah betuk tubuhnya. Astrid ingin sekali menjadi seorang model yang sexi. Ryan sudah bosan selalu bertengkar dengan istrinya mengenai seorang anak. Ryan hanya bisa berdoa agar hati istrinya dilembutkan dan mau segera untuk mengandung.
Bersambung....
Jangan lupa dukung ya? cerita aku yang kedua ini. Dan kalian juga harus baca novel pertama aku 'Cinta Seorang Single Dady'. Terimakasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 317 Episodes
Comments
Yani
Dr Ryan aja yang bodoh punya istri kaya gitu di piara
2022-06-03
0
Astria
emang mau bli kebon ya
2022-05-31
0
🅵🅰🅳🅸🅻🅰 3 𝓹𝓾𝓽𝓻𝓪
menarik cerita nya 👍🏻👍🏻👍🏻 semoga trs menarik sampe END😍🥰
2022-05-04
0