"Axel, Aisyah, duduklah di sini bersama kami!" ajak Amanda. Matahari seakan baru terbit dari wajah cantik nyonya rumah besar itu. Jagoan tampannya sudah memperjuangkan cintanya dan tidak lagi bermain-main dengan wanita. Dia membawa seorang wanita yang baik dan sholeha sesuai keinginan keluarganya. Tidak lagi berkelana seperti pengembara yang belum menemukan tempat yang ajan ditujunya.
"Iya Bun," jawab Axel lalu mengajak Aisyah duduk. Axel duduk di dekat Maxsimus. Sedangkan Aisyah duduk di dekat Elyana. Ini pertama kalinya Aisyah datang ke rumah keluarga Geraldo. Kesan pertama yang dirasakan Aisyah mereka terlihat hangat. Padahal mereka konglomerat tapi tidak sombong. Ramah dan sopan padanya.
"Axel perkenalkan siapa bidadari yang kau bawa ke rumah kita ini!" pinta Victor. Dia dan keluarganya ingin tahu siapa bidadari yang dibawa Axel. Gadis bercadar yang tampak santun dan lembut. Seperti Amanda saat seumurnya. Dulu Amanda juga seperti itu meski memiliki sisi kuat dan sangar saat menghajar preman.
"Iya Dad," jawab Axel. Ini kesempatan untuknya mengenalkan Aisyah pada keluarganya. Dia tidak akan disebut Playboy kelas teri lagi. Axel sudah membawa impian dan harapan keluarganya ke rumah itu.
"Semuanya ini Aisyah Nayyara Zahra. Calon istriku," ujar Axel malu-malu memperkenalkan Aisyah pada keluarganya. Padahal biasanya dia jadi playboy yang tidak tahu malu. Mengobral janji manis pada siapapun dan ngapelin cewek manapun. Asal dia suka dan perempuannya mau.
"Alhamdulillah," sahut semuanya. Akhirnya setelah sekian kemarau berlalu Axel mendapatkan pasangan yang pasti. Tidak bercabang apalagi kebanyakan lintasan. Sudah mendeklarasikan diri memiliki calon istri.
"Aisyah senang bisa bertemu Om, Tante, dan semuanya," ucap Aisyah.
"Kami juga senang bertemu denganmu Aisyah," sahut Victor. Sebagai ayah angkat Axel, Victor tidak pernah membedakan kasih sayangnya untuk Maxsimus ataupun Axel. Dia selalu berharap kedua jagoannya bahagia.
"Iya Aisyah," tambah semuanya. Mereka senang bisa mengenal Aisyah sebagai calon istri Axel. Mereka yakin Aisyah akan menjadi istri yang sholehah untuk pangeran tampan kedua di rumah besar itu. Wanita seperti itu yang dibutuhkan Axel untuk menuntunnya menjadi imam yang baik.
"Alhamdulillah," jawab Aisyah. Senangnya bisa diterima di keluarga calon suaminya. Tanpa drama dan perdebatan yang menyakitkan seperti di sinetron ketika wanita miskin datang ke rumah laki-laki kaya. Keluarganya akan menentang dan tidak menyetujui hubungan mereka.
"Aisyah, ini istriku Amanda Clarissa," ucap Victor memperkenalkan istrinya. Kemudian memperkenalkan satu persatu anggota keluarganya termasuk Elyana sebagai calon istri Maxsimus. Nafisa anak bungsunya dan Jennifer ibu kandungnya Victor. Aisyah sudah mengenal beberapa dari mereka yaitu Maxsimus dan Elyana.
"Senang bisa mengenal Om dan keluarga. Semoga Allah senantiasa mempererat tali persaudaraan kita semua," ucap Aisyah. Kini dia berada di tengah-tengah keluarga yang begitu humble dan supel. Padahal mereka konglomerat yang kaya raya tapi tidak mempersulit urusan jodoh anak dan keturunannya.
"Amin," jawab semuanya.
"Oma, udah kan aku bawa calon istri. Berarti gak jadikan dideportasi ke Nusa Kambangan?" tanya Axel.
"Kau pikir selesai begitu saja. Awas kalau kau macam-macam. Oma langsung kirim ke Pluto. Biar hanya kau spesies yang ada di sana," sahut Jenifer. Meski sudah nenek-nenek dia tetap bersemangat. Tidak ada yang bisa mengalahkan. Semua cucu-cucunya patuh padanya kalau ada di dalam rumah.
"Serem," jawab Axel.
"Tuh Kak dengerin kata Oma. Jangan nakal! Cukup Kak Sisyah!" ucap Nafisa. Dia menambahkan apa yang disampaikan Jenifer biar Axel ingat terus dan tidak berani menyakiti Aisyah.
"Kalau kau berani menyakiti Aisyah, aku akan memberimu tinjuan maut!" ancam Maxsimus. Tak terima jika adik kesayangannya menyakiti wanita yang pernah ada di hati Maxsimus.
"Kalau Daddy sih udah pasti panggil tukang sunat," tambah Victor.
Amanda tersenyum mendengar ultimatum dari keluarganya pada Axel. Sedangkan Elyana mengepalkan tangannya pada playboy yang dulu obral janji pada gadis cantik di desanya. Kalau sampai Axel berani menyakiti Aisyah, siap-siap dihajar Elyana seperti sebelumnya.
'Aiayah udah baik dan sholeha jangan sampai jadi istri tersakiti. Aku harus melindunginya dari suami banyak cadangan seperti Axel. Kalau macam-macam biar gorila yang mengurusnya kaya Tarzan.'
"Iya Oma, Dad, Bang, Nafisa, dan Elyana. Aku tidak akan berpaling. Semoga, doakan ya?" sahut Axel.
"Iya," jawab semuanya.
"Oma sudah siapkan jamu anti pelakor genit. Ingat rasa pahitnya saat melihat pelakor yang bergentayangan," ucap Jenifer.
"Ampun Oma," sahut Maxsimus dan Axel. Jamu buatan Jenifer pahitnya gak ketulungan. Mereka sudah sering minum jamu itu dari dulu.
"Alhamdulillah Daddy gak akan minum jamu lagi. Secara Daddy udah tua," ucap Victor dengan pedenya tidak mungkin dia minum jamu lagi.
"Siapa bilang? Aku sudah membuatkan tiga gelas. Dua gelas jamu pahit dengan level 8. Dan satu gelas jamu dengan level 10," sahut Jenifer.
"Alhamdulillah Xel kita level 8 sisanya satu gelas level 10 pasti untuk Daddy," ucap Maxsimus senang paling tidak ada yang lebih ngenes dari keduanya. Secara jamu pahit level 10 paling legend. Ketika minum semua masalah terasa ringan.
"Iya Bang, paling enggak pahitnya cuma sampai kerongkongan. Beda sama yang level 10 pahit terus sampai ke lidah. Seharian juga gak ilang-ilang pahitnya," sahut Axel. Untung dia dan Maxsimus selamat dari jamu ekstrak pahit itu. Biarkan saja Victor yang paling menderita.
"Astaga Mi, masa iya aku minum jamu pahit level 10. Hidupku sudah bahagia Mi. Biarkan mereka berdua yang baru menikmati indahnya cinta minum jamu legendnya. Lidahku udah pensiun Mi," jawab Victor.
"Pokoknya kalian minum! Biar Amanda yang mengambil jamunya di dapur," sahut Jenifer.
Amanda tersenyum. Lalu meninggalkan ruang keluarga untuk mengambil jamu.
"Mi, aku panas dingin. Bisakah dimuseumkan dulu jamunya?" tanya Victor. Mencari alasan agar tidak minum jamu. Dia sudah membayangkan betapa getirnya pahit itu ketika masuk mulutnya. Sampai Victor mesti mencuci lidahnya.
"Kau sakit Victor? Berarti levelnya harus ditambahin jadi level 20 puluh," jawab Jenifer. Bukannya selamat dari jamu justru levelnya ditambah.
"Kami sehat Oma," ucap Maxsimus dan Axel mencari aman. Dari pada kaya Victor pengen kabur malah ditambah pahitnya.
"Kirain kalian sakit juga. Baru Oma mau tambah level pahitnya," sahut Jenifer. Siapapun yang sakit mesti minum jamu legend. Turun temurun dari zaman Victor masih kecil.
"Aduh, lidahku mesti di laundry lagi," keluh Victor.
"Sabar ya Dad, semangat minum jamunya!" ucap Nafiza menyemangati Victor agar ayahnya semangat minum jamu legend.
Mau tak mau Victor minum jamu pahit. Padahal seharusnya minum jamu pahit level 10 tapi karena pura-pura sakit mau gak mau minum jamu level 20.
Bruuug ...
Victor teler di atas meja meminum jamu yang begitu pahit dan getir.
"Dad belum sembuh?" tanya Maxsimus.
"Mungkin Daddy-mu masih sakit. Dia membutuhkan satu gelas lagi," jawab Jenifer.
"Satu gelas lagi?" Victor yang teler setelah minum jamu mau tak mau bangun lagi.
"Mi, sehat. Gak sakit. Lihat, aku sudah bugar lagi," sahut Victor. Satu gelas sudah membuat ko apalagi satu gelas lagi.
Amanda dan yang lainnya hanya tertawa kecil melihat Victor.
"Max, jamumu belum diminum," ucap Elyana.
"Bisakah kau minum otak kecil. Mumpung yang lain sibuk," pinta Maxsimus.
"Gak ah, hidupku sudah sangat pahit semenjak jadi babumu. Jadi kau saja yang minum," jawab Elyana.
"Ayolah otak kecil! Jamunya pahit banget. Seteguk aja lidahku getir," pinta Maxsimus. Meminta tolong Elyana untuk meminum jamu miliknya.
"Oke," jawab Elyana. Dia mengambil gelas Maxsimus dan meminum jamu miliknya.
"Habis," ucap Elyana.
"Bagus, gak salah aku memilihmu jadi istriku. Setidaknya setiap Oma memberiku jamu ada kau yang meminum jamunya," sahut Maxsimus. Senang jamunya sudah dihabiskan Elyana. Namun Axel menuang jamunya ke gelas Maxsimus.
"Bang, habiskan ya?" ucap Axel.
Elyana tertawa kecil bersama Aisyah. Ujung-ujungnya Maxsimus harus minum jamu juga.
"Minum Max!" titah Elyana.
"Baru cuci tangan dari masalahku kenapa ketiban masalah lain," keluh Maxsimus.
"Sabar Bang, aku tahu kau pasti bisa," sahut Axel merangkul Maxsimus.
"Kau tega sekali padaku. Jamu Oma pahit banget," sahut Maxsimus.
"Setidaknya tidak sepahit hidupmu," jawab Axel.
Maxsimus geleng-geleng. Mau tak mau dia juga harus menghabiskan jamu di gelas miliknya.
Setelah itu mereka semua makan bersama. Amanda sudah masak banyak untuk mertua, suami, anak dan calon istrinya.
"Max, kau mau udangnya?" tanya Elyana.
"Kau manis sekali otak kecil," jawab Maxsimus.
"Aku ingin belajar jadi istri yang baik," sahut Elyana.
Maxsimus mengangguk. Kemudian Elyana mengambilkan udang untuk Maxsimus.
"Loh kok kepalanya, badan udangnya malah di piringmu?" tanya Maxsimus melihat badan udang di atas piring. Sedangkan kepala udang di piringnya.
"Biar romantis. Kelapa udang untukmu karena kau pintar. Dan badan udang untukku karena aku kurus," jawab Elyana. Padahal dia takut diomelin mertua kalau kepala udangnya tidak dimakan.
"Oke," jawab Maxsimus.
"Elyana, kau mau telor rebus?" tanya Maxsimus.
"Mau," jawab Elyana.
Maxsimus mengambil telor rebus. Dia meletakkan kulit telur rebus di piring Elyana dan telornya di piringnya.
"Loh kok kulitnya yang diberikan padaku Max?" tanya Elyana melihat kulit telor di piringnya.
"Biar romantis. Kulit udang untukmu karena kau suka yang renyah-renyah. Kulit telor kaya keripik coba aja kau makan pakai cabe setan," jawab Maxsimus.
'Es balok mengajakku bercanda. Dia lupa aku spesies pemakan segalanya. Jangankan kulit telur, nasi kemarinpun ku makan kalau tidak punya apa-apa lagi yang bisa ku makan. Selama perutku gak gila selama itu aku waras.'
Elyana memakan kulit terus menggunakan cabe setan yang biasa disebut cabe kebul. Dia sengaja makan dengan nikmatnya.
Kriiuuk ... kriiiuuk ...
"Enak, tak ku sangka kulit telur seenak ini kalau udah dicabein. Rasanya mengalahkan steak dengan mozarella," ucap Elyana.
Maxsimus jadi penasaran dengan kata-kata promo menjanjikan dari mulut Elyana. Dia mengambil beberapa kulit telur dari piring Elyana tanpa minta izin dulu.
'Es balok kemakan promo ala SPG jualan baskom serebu tiga. Gak tahu aja rasanya kaya pasir. Ternyata mudah membawa buaya masuk longkap.'
"Ra-ra-rasanya kaya pasir pantai," ucap Maxsimus. Tak disangka Elyana nge-prank. Siapa suruh buaya dikadalin. Udah tahu soal konyol-konyolan Elyana jagonya.
"Enakkan, renyak kaya keripik. Kriiiuuk ... kriiuuuk ..." balas Elyana.
"Sial aku temakan tipuan otak kecil. Kulit telornya rasa pasir," bain Maxsimus.
Namun Elyana baik. Dia meletakkan ayam panggang di piring Maxsimus.
"Untukmu calon suamiku," ucap Elyana.
Maxsimus tersenyum tipis. Hatinya sedikit berbunga-bunga. Paling tidak Elyana manis juga. Tak hanya Elyana dan Maxsimus, Axel pun menjalin kedekatan dengan Aisyah. Meski mereka masih malu-malu.
"Ya elah Xel, pinteran dikit. Ngapain jengkol segala kau taruh di piring Aisyah?" celetuk Jenifer. Katanya playboy tapi tumpul seketika saat berdekatan dengan Aisyah. Bukannya dikasih daging sapi kualitas tinggi malah jengkol mentah yang diberikan. Auto syok Aisyah, gak dimakan gak enak di rumah mertua. Dimakan takut bau mulut. Di diemin takut mubadzir.
"Iya nih kakak. Romantis sedikit. Kaya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang menyuapi istrinya Aisyah dengan tangannya," tambah Nafisa.
"Astaga, mesti gitu menyuapi Aisyah jengkol?" batin Axel.
Aisyah hanya geleng-geleng. Takut dikasih jengkol.
"Udah pucet muka Aisyah melihat jengkol. Sini aku aja yang makan. Jengkol favoritku," sahut Elyana.
"Apa?" Maxsimus terkejut. Calon istrinya bar-bar sampai doyan jengkol mentah segala. Padahal itu lalapan favorit neneknya.
"Kau ingin juga calon suamiku?" tanya Elyana.
"Eee ..." Maxsimus syok.
"Mau pasti, suami istri harus kompak supaya menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warohmah," kata Nafisa.
"Betul itu, Abang harus kompak," tambah Axel.
"Sialan Axel, kenapa dia memprovokasi suasana? Mau tak maukan aku makan jengkol mentah," batin Maxsimus. Dia tidak punya pilihan selain bilang iya dan menikmati jengkol segar fresh dari pohon itu.
Maxsimus dan Elyana kompak nyemil jengkol mentah.
"Bang, kau kerasukan setan?" tanya Axel melihat Maxsimus bengong.
"Apa setan di pohon jengkol ya? Oma lupa baca bismillah saat mengambilnya," jawab Jenifer. Pohon jengkol sengaja ditanam di belakang rumah mereka. Jadi Jenifer bisa makan jengkol yang fresh.
"Apa mau dipanggilkan Pak Ustad biar diruqiyah?" tanya Nafisa.
"Itu kesan pertama makan jengkol. Bunda pernah gitu juga," jawab Amanda.
"Alhamdulillah Papi udah move on dari jus jengkol. Jadi gak kesurupan saat nyemil jengkolnya," sahut Victor.
"Ternyata enak. Beban di kepalaku terasa plong," kata Maxsimus.
Semua orang heran kenapa Maxsimus berkata seperti itu.
"Apa dia demam dan mengigau?" tanya Jenifer.
"Mungkin jengkol bikin kakak bersyukur Oma," jawab Nafisa.
"Seberat-beratnya masalah lebih berat makan jengkol mentah," ujar Maxsimus kemudian makan kembali dengan bersemangat.
'Es balok menemukan filisofi dalam jengkol ini. Seberat-beratnya masalah lebih getir rasa jengkol ini. Begitulah filisofinya.'
"Kalau gitu aku makan jengkol juga deh. Biar masalahku hilang," ucap Axel. Dia mengambil satu jengkol dan memakannya.
"Astaga, getir sekali. Pantes masalahku hilang," keluh Axel.
Amanda dan yang lainnya tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan Axel.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 177 Episodes
Comments
lovely
Dianlka laki perempuan ya beraharap jodohnya lara mudah ²an ga mudah di temukan lara
2022-10-08
0
🌷💚SITI.R💚🌷
semga lara bisa melsrikn diri yg jauh dan menghilang dr jangkauan alex..sy kasian masiby lara yg di jadiin budak..smg dianka jg bisa brjuang buat nutupin lara biar si alex ga curiga..lanjuut
2022-06-18
1
Oppo A5s
terima kasih dianka,kmu orang yang baik untuk lara
2022-02-15
0