TMDCP #15

Matahari belum menampakkan keberadaannya apalagi kicauan burung belum terdengar nyanyiannya. Namun enji sudah bangun sejak tadi. pikirannya benar benar kacau. Ia duduk melamun didekat jendela pikirannya berlarian kesana kesini.

"kenapa perasaanku tidak enak ya? Aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi? Tadi malam saja, aku sangat sulit tidur" tutur enji dengan tangan memegang dadanya.

Tak berapa lama pintu kamarnya enji terbuka lebar sontak enji langsung menoleh ke arah pintu kamarnya dan terlihatlah sosok pria tampan yang hanya setinggi bahu enji dengan pakaian tidurnya yang masih melekat ditubuh mungilnya.

"jimmy, kau ini tidak sopan. Kau seharusnya ketuk dulu" ucap enji sedikit kesal pada adiknya.

"itu tidak penting kak" balas jimmy bahunya naik turun.

"tentu saja itu penting. Itu adalah salah satu ta..." ucap enji terpotong

"kakak diluar." potong jimmy

"diluar ada apa? Dari tadi kau selalu saja memotong pembicaraan kakak. Itu tidak baik, kau sama saja tidak menghargai lawan bicaramu" ucap enji kesal pada adiknya.

"kakak diluar ada asisten jiangwu katanya mau jemput kakak" jelas jimmy.

"apa? Kenapa pagi pagi buta sekali dia datang kerumah kita?"tanya enji pada adiknya.

"lebih baik kakak temui dia" ucap jimmy.

Enji pun langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya diikuti oleh jimmy. sesampainya enji diruang tamu ia melihat asisten jiangwu dan ayahnya sedang berbicara.

"selamat pagi tuan. Kenapa tuan pagi pagi sekali datang kerumah? Padahal ini baru jam setengah enam. Matahari juga belum terbit."ucap enji merasa binggung atas kedatangan asisten jiangwu.

"nona harus ikut saya" bangkit dari duduknya.

"tapi ikut kemana? Nanti siang saya ada kelas" balas enji dengan wajah yang sangat bingung.

"maaf nona hari ini sekitar jam 10 pagi nona akan menikah dengan tuan park johan" tutur asisten jiangwu dengan muka datarnya.

"Apa? Menikah? Kenapa mendadak sekali? Bukannya besok ya ? Kenapa? apa alasannya.? " ucap enji sedikit meninggi, napasnya naik turun.

Bukan hanya enji yang sangat terkejut tapi jimmy yang berada dibelakang enji sangat shock. Ayahnya pun hanya diam sebenarnya ia sangat terkejut dengan ucapan asisten jiangwu namun ia berusaha Menyembunyikan keterkejutannya.

"kalau masalah itu saya kurang tau, saya hanya menjalankan tugas saya. Jika nona ingin tau lebih baik nona tanyakan langsung pada tuan johan. Ayo nona kita berangkat" ajak asisten jiangwu.

"tapi saya belum packing baju saya. sebentar ya saya packing dulu" cicit enji pada asisten jiangwu.

"tidak perlu nona" sahut asisten jiangwu datar.

"baiklah" ucapnya pasrah.

Enji langsung menatap wajah ayahnya.

"ayah enji pamit ya" ucapnya pelan pada ayahnya.

ayahnya hanya diam tanpa membalas ucapan enji.

Enji mendekatkan wajahnya dengan telingga jimmy dan membisikkan sesuatu ditelinga jimmy.

"jimmy kakak minta tolong, bawakan ponsel kakak sama dompet kakak jangan lupa foto bunda dimasukkan kedalam dompet." titah enji pada adiknya.

"baik ka" ucap jimmy tersenyum sangat tipis.

Enji melangkahkan kakinya pergi meninggalkan rumah yang selama ini ia tempati dan masuk kedalam mobil sebelum ia masuk pintu mobil sudah dibukakan oleh asisten jiangwu.

Mata enji masih betah menatap rumah yang selama ini ia tempati. Lama kelamaan rumah itu mulai menjauh dan menghilang dari pandangan enji.

"rumah itu, adalah istanaku bersama ibu dan ayah namun setelah kematian ibu, rumah itu telah berubah menjadi neraka bagiku. Mungkin aku tidak akan pernah menginjakkan kaki ku lagi di rumah itu" ucap batin enji.

Sepanjang perjalanan enji hanya diam tanpa bertanya pada asisten jiangwu. 30 menit kemudian mereka telah sampai di hotel berbintang lima enji langsung dituntun untuk masuk kamar hotel.

Didalam kamar itu sudah ada beberapa MUA, enji langsung disambut dengan baik oleh beberapa MUA dan Enji di persilahkan duduk didepan cermin. tak butuh waktu yang lama MUA itu secepat kilat memoleskan enji make up.

ΔΔΔ

Di kediaman keluarga park, johan sudah memakai pakaian tuxedonya. Ia langsung keluar dari kamarnya dan turun menggunakan lift.

Saat ia sudah sampai di ruang tengah . Ternyata ia sudah ditunggu oleh ibunya, joohee, jenny dan ji hwa.

"kakak mau kemana dengan pakaian tuxedo kakak? Bukannya pernikahan kakak besok ya" tanya ji hwa

"tau kakak johan. Aku masih ngantuk nih, disuruh ngumpul disini ada apa sih kakak? Apa kakak nggak liat jam ini baru jam 6 pagi ? Matahari aja belum bangun kak?" timbal jenny sesekali ia menutup mulut karena menguap dan matanya masih tertutup rapat.

"aku hari ini akan menikah" ucapnya datar.

"what?!" teriak jenny sontak ia langsung bangun dari duduknya yang menyender di sofa. Dengan mata membulat total dan mulut terbuka lebar.

"kenapa mendadak sekali jo?"tanya ibunya dengan alis hampir menyatu.

"itu tidak pentingku jawab, lebih baik kalian siap siap 2 jam lagi kita akan berangkat" titah johan datar.

Merekapun tidak bertanya lagi dan langsung meninggalkan johan yang duduk di sofa menuju kamar mereka masing masing.

dua jam terlah berlalu, mereka telah selesai dengan pakaian mereka masing masing. Lalu mereka langsung berangkat ke hotel bintang lima dimana acara pernikahan johan dan enji dilangsungkan tanpa mengundang teman, keluarga,rekan bisnis , dan awak media. Yang hanya dihadiri oleh dua keluarga. Walaupun johan tidak mengundang siapapun tetap saja acara pernikahannya bisa disebut sangat mewah.

30 menit kemudian mereka telah sampai di hotel berbintang lima. Ji hwa langsung keluar dari mobil dan segera menghampiri asisten jiangwu. Yang sedang berdiri tak jauh dari dirinya.

"kak jiangwu,dimana kakak ipar?" tanyanya sopan.

"didalam kamarnya nona. Dilantai tujuh nomor 337" jelas asisten jiangwu tak kalah sopan dengan ji hwa.

"terimakasih" tersenyum manis.

Ji hwa langsung melangkahkan kakinya menuju kamar enji yang berada dilantai 7 dan tak lama ia telah nemukan kamar nomor 337 dan langsung masuk tanpa mengetuk pintu.

"kakak ipar..."teriak ji hwa dan sedikit berlari menghampiri enji yang duduk didepan cermin.

"kakak ipar, loh kakak ipar kok nangis?" tanya ji hwa saat melihat enji di pantulan cermin sedang menangis.

"iya nona, dari tadi nona ini menangis terus" ucap salah satu MUA.

"kakak jangan nangis lagi ya kasihan para MUA nya. Susah payah memoleskan make up di wajah kakak tapi make up nya harus luntur kena air mata kakak. Aku janji sama kakak, apapun yang terjadi kedepannya aku akan terus berada disamping kakak, melindungi kakak. Terserah mereka mau bilang kakak salah atau benar aku tetap membela kakak mati matian. Jadi kakak jangan nangis lagi ya" ucap ji hwa pelan dan memutar kursi enji perlahan tangannya menghapuskan air mata enji.

"iya" tersenyum tipis.

para MUA pun langsung melanjutkan memoleskan make up. 15 menit kemudian enji telah selesai di make up dan sudah berganti dengan baju pernikahan yang sangat mewah dan glamor.

"OMG, kakak cantik sekali" ucap ji hwa sangat kagum.

"terimakasih" ucap enji tersenyum tipis.

Tak berapa lama joo hee dan kimora datang kekamarnya enji.

"waw,aku seperti melihat tuan putri tidak tidak ini bukan tuan putri ini seperti bidadari yang baru turun dari langit. Benar benar sangat cantik" ucap kimora terkagum kagum.

"iya, kau sangat cantik enji" sahut joo hee.

"terimakasih kakak" tersenyum tipis.

"ayo, kita keluar. Pasti semua orang akan terkejut melihat penampilanmu apalagi johan." tutur joo hee dan menuntun enji untuk keluar dari ruangan.

Joo hee terus menuntun enji menuju depan gelaran karpet putih. Langkah joo hee langsung berhenti.

"kau teruslah berjalan sampai di atas altar disana ada johan" tutur joo hee dan melepaskan tangannya di lengan enji.

"tapi kak," ucap enji sedih.

"lakukan lah" titah joo hee tersenyum manis pada enji.

"baik" balas enji pasrah.

Langkah kaki enji terus menyusuri gelaran karpet berwarna putih itu. Semua mata terus memandangnya tapi tidak dengan johan, johan hanya menatapnya datar.

"dia, sangat mirip denganmu lea. Aku seperti melihatmu hidup kembali" batin ibu johan saat melihat enji menyusuri karpet putih.

"putrimu lea dia sangat cantik, sama seperti dirimu saat kita menikah dulu" ucap ayah enji dalam benaknya.

"kak enji benar benar cantik" ucap jimmy pelan.

Tak berapa enji telah sampai didepan altar ia langsung berhadapan dengan johan. Pendeta langsung menyuruh johan dan enji saling menggenggam tangan satu sama lain.

"apakah kedua mempelai sudah siap?"tanya pendeta menatap kedua mempelai secara bergantian.

"aku sudah siap" sahut johan datar

"a a aku.." jawab enji gugup.

Johan langsung menggenggam tangan enji lebih keras lagi karena enji menjawab pertanyaan pendeta ter sendat sendat. Enji merasakan tangannya digenggam johan lebih keras lagi hanya bisa diam dan menggigit bibir bawahnya untuk mengurang rasa sakitnya.

" aku siap" cicit enji.

Dan perlahan genggaman tangan johan mulai melemah.

"kalau begitu saya akan mulai" jelas pendeta

"park jo" Ucapan pendeta langsung terpotong kala mendengar tepukan tangan yang sangat keras.

Plok plok plok

seseorang pria tua terus melangkahkan kakinya di gelaran karpet dan sampai di depan altar berhadapan dengan johan.

"wah wah wah, ternyata anakku mau menikah tapi kenapa tidak mengundang ayah? Jika saja kau mengundangku dengan senang hati aku akan datang keacara pernikahanmu? Dan juga kenpa acara pernikahanmu sangat tertutup? bukannya kau seorang ceo yang terkenal seharusnya kau mengundang rekan bisnismu , temanmu dan keluargamu. Tamu yang hadir di pernikahanmu hanya bisa dihitung oleh jariku" ucap ayah johan menatap sinis anaknya

"kau sedang apa disini?" teriak johan dan langsung melepaskan genggaman tangannya.

FLASHBACK

Didalam mansion song il (ayahnya johan)

Drrrrt

"song il ponselmu bunyi, sepertinya ada panggilan masuk" tutur sahabatnya yang duduk di meja.

"siapa?" tanya song il tanpa menoleh kearah sahabatnya.

Dirinya sedang berdiri didekat jendela menatap matahari yang mulai menampakkan cahayanya.

"namanya pengkhianat" jawab kang bok su saat melihat layar ponsel sahabatnya.

Song il langsung berbalik dan mengambil ponselnya dimeja.

📞"ada apa?" Song il hanya diam mendengarkan ucapan yang menelponnya.

📞"okey, terimakasih infonya nanti aku akan transfer." ucapnya datar.

Tut tut tut

Panggilan itu pun telah berakhir. Song il langsung duduk berhadapan dengan sahabatnya kang bok su.

"siapa yang menelponmu? Kenapa namanya pengkhianat?" tanya sahabatnya sangat antusias.

"ya dia memang pengkhianat." jelas song il dengan wajah datarnya dan menyesap kopi yang sudah dingin.

"lalu dia bilang apa sampai kau mau mentransfernya uang?" tanyanya lagi.

"dia memberitahuku bahwa hari ini sekitar jam 10 pagi anakku park johan akan menikah" jelas song il.

"johan akan menikah. Dengan siapa? Kenapa tidak ada berita di televisi bukannya anakmu itu ceo yang terkenal." tutur kang bok su ia hampir tidak percaya dengan ucapan sahabatnya.

"dia merahasiakan pernikahannya dan aku juga tidak tau siapa calon istrinya sampai ia harus merahasiakan pernikahannya." ucapnya memainkan cangkir yang berisi kopi.

"kau akan datang? Dan akan menghancurkan pernikahannya?" tanyanya lagi.

"tentu saja aku akan datang tapi tidak untuk menghancurkan pernikahannya. Karena pernikahannya sangat rahasia tentu saja penjagaannya pasti ketat terpaksa aku menerobos masuk untuk melihat siapa wanita yang akan ia nikahi. walaupun aku ini seorang ayah yang sangat jahat tapi setiap yang dilakukan oleh anak anakku , aku selalu tau. aku selalu mengawasinya. dan aku minta tolong padamu urusan penjaga itu ku serahkan padamu. Mohon kali ini bantu aku lagi" ucap song il menatap sayu mata sahabatnya.

"kau selalu saja menyusahkanku. Aku akan membantumu tapi..."ucapnya tergantung

"iya. aku tau pasti uangkan, kau sebutkan saja berapa nominalnya" mulai jengah dengan sifat sahabatnya yang mata duitan.

"okey" tersenyum puas.

FLASHBACK ON

"tentu saja aku ingin menyaksikan acara pernikahan anak pertamaku" jelas song il menatap wajah anaknya.

"AKU BUKAN ANAKMU!" teriak johan menggelegar.

"terserah kau mau menganggapku ayahmu atau bukan. Asalkau tau darahku selalu mengalir ditubuhmu tanpa henti" tutur ayahnya dengan wajah santainya.

"LEBIH BAIK KAU PERGI DARI SINI, KAU MENGACAUKAN PERNIKAHANKU!!!" teriak johan dan tangannya menunjuk pintu keluar.

"aku akan pergi dari sini tapi aku harus liat wajah calon istrimu itu. Apakah dia benar benar mencintaimu dengan tulus atau hanya terobsesi dengan dirimu sama seperti dia" tunjuk song il pada ibunya johan.

"kau jangan berani berani menujuk ibuku dengan tanganmu itu" wajahnya sudah memerah karena menahan emosinya.

"lalu apa bedanya diriku dengan dirimu? Kita sama!" tersenyum sinis.

Enji yang melihat pertengkaran itu langsung mendongakkan kepalanya untuk menatap johan.sejak tadi enji hanya menunduk.

"tuan"cicit enji

Johan langsung menoleh saat enji memanggilnya. Lalu sekilas ia melirik ayahnya yang mulai mendekati enji.

"kalau sampai pak tua itu melihat gadis ini. dan tau kalau gadis ini adalah anak dari wanita yang ia cintai pasti Rencana ku akan gagal." pikir johan dalam hatinya.

"kau menunduk cepat!" titah johan pada enji.

enji pun langsung menundukakan kepalanya.

"lebih dalam lagi!" teriaknya sekali lagi

"kenapa johan menyuruh calon istrinya menunduk? Dan kenapa gadis itu sekilas sangat mirip dengan sosok lea? Apa mungkin gadis ini adalah gadis yang mengotori sepatuku?" pikir song il dalam hatinya

"kenapa kau menyuruh calon istrimu Menunduk?" tanya song il pada anaknya.

"karena dia akan menjadi istriku. dia harus patuh padaku" ucapnya datar.

"jenny!!" panggil johan

jenny pun mendekati kakaknya yang berada di atas altar tanpa melirik ayahnya. jenny sangat menyayangi johan daripada joo hee. sejak kecil jenny sudah memiliki sifat yang kasar, ia bisa main tangan pada siapapun termasuk joo hee dan ji hwa terkecuali pada johan dan ibunya. ia akan selalu menuruti apapun yang disuruh johan padanya. saat umur jenny 5 tahun ia tak sengaja melihat kakak kesayangannya dipukul oleh ayahnya menggunakan tongkat golf sejak saat itu ia sangat membenci ayahnya.

"apa apa kak?"

"jenny" panggil ayahnya

jenny tanpa menoleh sedikit pun pada ayahnya yang memanggil namanya.

"bawa dia kekamarnya dan jangan biarkan dia keluar selangkahpun!"

"baik, tapi apa aku boleh melakukannya?" tanyanya pada kakaknya tetsrnyim menyeringai.

"terserah kau" ucapnya datar

johan tau apa yang dimaksud oleh adiknya. adiknya ingin sedikit main tangan pada enji.

"ayo" ucap jenny

Lengan enji langsung digenggam oleh jenny sampai lengan enji yang putih menjadi kebiruan. sesekali enji terjatuh karena tidak bisa menyeimbangi langakah jenny yang sangat cepat.

"nona pelan pelan jalannya, kaki saya benar benar sakit" keluh enji tangannya Memegang mata kakinya yang lecet karena memakai heels lalu ia melepaskan heels yang terpasang dikedua kakinya

"ayo cepat jalan!" titah jenny

"nona saya bisa jalan sendiri" jawab enji masih terduduk dilantai keramik.

"ternyata kau mulai melawanku ya" ucap jenny tangannya sudah mencengkeramkan pipi enji sampai mulut enji maju kedepan dan langsung membuang wajah enji sangat kasar.

tak lama kemudian tangannya langsung meraih rambut panjang enji dan menyeretnya tanpa ampun ia tak peduli dengan enji yang meronta ronta ia terus berjalan. enji langsung bangun dari duduknya dan terpaksa melangkahkan kakinya yang lecet mengikuti langkah jenny yang sangat cepat.

"nona tolong, lepaskan tangan nona di rambut saya. ini sakit sekali nona" ucap enji wajahnya sudah memerah karena menahan sakit yang teramat luar biasa di kepalanya dan tangannya memegang rambutnya.

"sakit ya?" tanya jenny tersenyum puas

jenny langsung menarik rambut enji lebih kuat lagi.

"akhh..."pekik enji matanya terpejam

"apakah masih sakit? kenapa diam?" tanya jenny melihat wajah enji yang sangat menderita.

langkahnya jenny terhenti. enji yang merasakan jenny tak lagi menyeretnya langsung membuka matanya.

"nona, kenapa kita berhenti di tangga darurat? bukankah liftnya ada disana?" tanya enji bingung

"kita akan lewat sini" ucap jenny tersenyum puas

"kenapa kita harus lewat tangga darurat? kenapa kita tidak naik lift?"tanya enji keningnya berkerut.

"karena di mansionku itu memiliki banyak tangga. jadi aku akan melatihmu menaiki tangga dan kenapa kita tidak naik lift? karena kalau kau terus terusan naik lift kau akan bermalas malasan dan hanya menggunakan lift di mansionku" tutur jenny

Kaki jenny mulai menaiki tangga satu persatu, tangannya masih setia berada dirambut enji dan terus menyeret enji tanpa mempedulikan ucapan enji yang menahan sakit dirambut panjangnya dan tangisan enji yang sudah jatuh sejak tadi.

sesekali enji terjatuh dan dipaksa jenny untuk bangun.

setibanya mereka di depan kamar enji, jenny langsung mendorong tubuh enji sampai membentur lantai keramik.

jenny yang melihat enji sangat menderita tersenyum puas lalu ia berjongkok dan menekan dagu enji sampai membiru.

"kau, jangan pernah mimpi bisa mendapatkan cinta atau belas kasihan dari kak johan. dan kau jangan pernah mimpi jadi istri tercinta kak johan karena kak johan menikahimu hanya untuk balas dendam. kau hanya BUDAKNYA.!!! camkan itu " ucap jenny dan langsung bangkit.

jenny langsung keluar dari kamar enji dan mengunci pintunya. enji hanya bisa menangis menahan sakit yang teramat sakit di kepalanya dan lengannya tak lama kemudian ia tertidur dengan posisi meringkuk dilantai. gaun yang ia pakai sudah sangat kotor, rambutnya pun sudah tak terkondisikan dan wajahnya sedikit membiru dibagian dagunya. make up sudah luntur sejak ia menangis.

Bersambung....

Maaf jika ada kata yang typo 🙏🙏🙏

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK

LIKE👍

COMENT💬

TIP🌟

VOTE✔

FAVORIT❤

JIKA KALIAN SUKA DENGAN CERITA ATHOR BERI ATHOR DUKUNGAN YA DENGAN CARA DIATAS, BIAR ATHOR TAMBAH SEMANGAT BUAT UP PART SELANJUTNYA

BYE BYE BYE😘😘😘

Terpopuler

Comments

Silma Fitria

Silma Fitria

lanjut kak

2024-05-27

0

lihat semua
Episodes
1 TMDCP #Pengenalan Tokoh
2 TMDCP #1
3 TMDCP #2
4 TMDCP #3
5 TMDCP #4
6 TMDCP #5
7 TMDCP #6
8 TMDCP #7
9 TMDCP #8
10 TMDPC #9
11 TMDCP #10
12 TMDCP #11
13 TMDCP #11
14 TMDCP #12
15 TMDCP #13
16 TMDCP #14
17 TMDCP #15
18 TMDCP #16
19 TMDCP #17
20 TMDCP #18
21 TMDCP #19
22 TMDCP #20
23 TMDCP #VISUAL
24 TMDCP #21
25 TMDCP #22
26 TMDCP #23
27 TMDCP #24
28 TMDCP #25
29 TMDCP #26
30 TMDCP #27
31 TMDCP # 28
32 TMDCP #29
33 TMDCP #30
34 TMDCP #31
35 TMDCP #32
36 TMDCP #33
37 TMDCP #34
38 TMDCP #35
39 TMDCP #36
40 TMDCP #37
41 TMDCP #38
42 TMDCP #39
43 TMDCP #40
44 TMDCP #41
45 TMDCP #42
46 TMDCP #43
47 TMDCP #44
48 TMDCP #45
49 TMDCP #46
50 TMDCP #47
51 TMDCP #48
52 TMDCP #49
53 TMDCP #50
54 TMDCP #51
55 TMDCP #52
56 TMDCP #53
57 TMDCP #54
58 TMDCP #55
59 TMDCP #56
60 TMDCP #57
61 TMDCP #58
62 TMDCP #59
63 TMDCP #60
64 TMDCP #61
65 TMDCP #62
66 TMDCP #63
67 TMDCP #64
68 TMDCP #65
69 TMDCP #66
70 PENGUMUMAN!!!
71 TMDCP #67
72 TMDCP #68
73 TMDCP #69
74 TMDCP #70
75 TMDCP #71
76 TMDCP #72
77 PENGUMUMAN!
78 TMDCP#73
79 TMDCP #74
80 TMDCP #75
81 TMDCP#76
82 TMDCP#77
83 TMDCP #78
84 TMFCP #79
85 TMDCP #80
86 TMDCP #81
87 TMFCP#82
88 TMDCP #83
89 TMDCP#84
90 TMDCP#85
91 TMDCP #86
92 TMDCP #87
93 TMDCP #88
94 TMDCP #89
95 TMDCP #90
96 TMDCP #91
97 TMDCP #92
98 TMDCP #93
99 TMDCP #94
100 TMDCP #95
101 TMDCP #96
102 TMDCP #97
103 TMDCP #98
Episodes

Updated 103 Episodes

1
TMDCP #Pengenalan Tokoh
2
TMDCP #1
3
TMDCP #2
4
TMDCP #3
5
TMDCP #4
6
TMDCP #5
7
TMDCP #6
8
TMDCP #7
9
TMDCP #8
10
TMDPC #9
11
TMDCP #10
12
TMDCP #11
13
TMDCP #11
14
TMDCP #12
15
TMDCP #13
16
TMDCP #14
17
TMDCP #15
18
TMDCP #16
19
TMDCP #17
20
TMDCP #18
21
TMDCP #19
22
TMDCP #20
23
TMDCP #VISUAL
24
TMDCP #21
25
TMDCP #22
26
TMDCP #23
27
TMDCP #24
28
TMDCP #25
29
TMDCP #26
30
TMDCP #27
31
TMDCP # 28
32
TMDCP #29
33
TMDCP #30
34
TMDCP #31
35
TMDCP #32
36
TMDCP #33
37
TMDCP #34
38
TMDCP #35
39
TMDCP #36
40
TMDCP #37
41
TMDCP #38
42
TMDCP #39
43
TMDCP #40
44
TMDCP #41
45
TMDCP #42
46
TMDCP #43
47
TMDCP #44
48
TMDCP #45
49
TMDCP #46
50
TMDCP #47
51
TMDCP #48
52
TMDCP #49
53
TMDCP #50
54
TMDCP #51
55
TMDCP #52
56
TMDCP #53
57
TMDCP #54
58
TMDCP #55
59
TMDCP #56
60
TMDCP #57
61
TMDCP #58
62
TMDCP #59
63
TMDCP #60
64
TMDCP #61
65
TMDCP #62
66
TMDCP #63
67
TMDCP #64
68
TMDCP #65
69
TMDCP #66
70
PENGUMUMAN!!!
71
TMDCP #67
72
TMDCP #68
73
TMDCP #69
74
TMDCP #70
75
TMDCP #71
76
TMDCP #72
77
PENGUMUMAN!
78
TMDCP#73
79
TMDCP #74
80
TMDCP #75
81
TMDCP#76
82
TMDCP#77
83
TMDCP #78
84
TMFCP #79
85
TMDCP #80
86
TMDCP #81
87
TMFCP#82
88
TMDCP #83
89
TMDCP#84
90
TMDCP#85
91
TMDCP #86
92
TMDCP #87
93
TMDCP #88
94
TMDCP #89
95
TMDCP #90
96
TMDCP #91
97
TMDCP #92
98
TMDCP #93
99
TMDCP #94
100
TMDCP #95
101
TMDCP #96
102
TMDCP #97
103
TMDCP #98

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!