Hari ini adalah hari pertama Risha bekerja di kediaman keluarga Pak Bagas. Risha mendapat penjelasan dari Bi Zah mengenai apa saja yang akan dikerjakannya setiap hari.
Risha mendapat bagian tugas mengambil pakaian yang akan dicuci setiap harinya, membersihkan ruang tamu utama dan kedua, memasak makanan untuk makan siang juga malam. Karena Pak Bagas dan Bu Dian sangat cocok dengan masakan Risha.
Risha kini akan mengerjakan tugas pertamanya yaitu mengambil pakaian yang akan di cuci hari ini. Namun ia tak tahu dimana kamar utama, kamar Rayhan juga kamar Revina. Dengan bantuan dari teman sesama pelayan Tari akhirnya dapat menemukan kamar-kamar yang dimaksud.
Risha mengerjakan tugas pertamanya setelah para majikan sudah berkumpul di meja makan, itu akan membuatnya aman mengambil pakaian kotor tuan-tuannya.
Di kamar pertama yaitu kamar utama berada di lantai satu. Ini adalah kamar yang ditempati oleh Pak Bagas juga Bu Dian. Mereka memang sudah berada di meja makan karena Risha melihatnya, jadi Risha langsung mengambil pakaian kotor yang ada di keranjang dan memasukkan ke box yang ia bawa. Aman pikirnya.
Di kamar kedua yaitu sebuah kamar dengan konsep girly, dindingnya berwarna soft pink, ada foto besar milik Revina di atas tempat tidur besarnya, kamar yang cukup rapi dan sangat memperlihatkan kalau pemiliknya adalah perempuan karena keseluruhan hiasan dinding juga pajangan berwarna pink cerah dan maroon. Pernak pernik boy band korea yang kini sedang booming juga ada di bufet putih yang berada di sudut ruangan tersebut. Kamar Revina berada di lantai dua, bersebelahan dengan kamar Rayhan.
Revina sudah bergabung dengan papa juga mamanya di meja makan, jadi Risha bisa langsung mengambil pakaian kotor milik Revina tanpa berpapasan dengan yang empunya kamar. Masih aman.
Kini Risha sudah berada di depan kamar Rayhan. Risha merasa sangat deg-degan saat akan masuk ke kamar Rayhan, ia belum pernah melihat bagaimana rupa dari Rayhan karena kemarin saat Rayhan sedang makan siang di rumah ia sedang beristirahat di kamar Bi Zah. Saat ia keluar Rayhan sudah kembali ke kantor. Pada malam harinya selesai menghidangkan makanan di meja makan Risha langsung ke kamar, beristirahat dan ketiduran.
Dengan segenap keberanian yang Risha miliki ia pun masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia berpikir kalau Rayhan pasti sudah berada di meja makan karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
Saat Risha masuk, kesan pertama yang ia dapat adalah sangat maskulin. Kamar yang sepertinya adalah designnya sendiri, sama halnya dengan milik si adik. Kamar dengan dinding berwarna abu-abu dan pajangan serta hiasan dinding yang berwarna dominan hitam dan putih, sangat jelas kalau si pemilik adalah laki-laki.
Risha yang sudah lebih dulu ke kamar utama juga ke kamar Revina menyimpulkan kalau masing-masing kamar memiliki walk in closet sebagai tempat keperluan fashion mereka. Risha sangat takjub, merasa tak percaya memiliki majikan yang tajir melintir seperti mereka.
Risha yang masih mengagumi kamar Rayhan, tanpa sadar sedang room tour di kamar Rayhan. Ia melihat-lihat apa-apa saja yang menempel di setiap sudut dinding. Banyak sekali foto Rayhan bersama teman-temannya yang di tempel di dinding di atas tempat tidurnya mengelilingi satu foto besarnya.
"Ganteng juga" lirih Risha saat melihat foto besar milik Tuan Mudanya.
Risha melihat ada satu perempuan yang selalu menempel saat tengah berfoto dengan Rayhan, mereka pun terlihat akrab. Mungkin pacarnya, pikir Risha.
Risha beralih ke meja yang berada di samping tempat tidur, di sana terdapat satu foto mereka sekeluarga dan dua orang tua, yang juga mirip dengan mereka. Risha pikir itu adalah nenek juga kakek Rayhan. Risha memperhatikan foto yang ada di meja, mereka pasti sedang sangat berbahagia saat pengambilan foto tersebut. Dan saat Risha melihat ke meja lagi, deg...kok masih ada ponsel disini, jangan-jangan...
"Kamu ngapain dikamar saya?" bentak seorang pria dari arah belakang Risha.
Risha yang merasa pertanyaan tersebut adalah untuknya langsung menoleh dan ternyata pagi-pagi matanya harus ternodai dengan kelakuan Rayhan.
"Aaaaaaa" teriak Risha terkejut melihat pemandangan di depan matanya dan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia hanya mengintip dari jari-jarinya yang sedikit ia renggangkan.
"Kamu gila ya?" bentak pria itu lagi dengan wajah datarnya.
"Tuan Muda eh Mas, aku mau ambil baju kotor" ucap Risha terbata-bata masih menutupi wajahnya dan mengintip dari celah jarinya.
"Baju kotor di sana, bukan di tempat kamu duduk santai sekarang" bentaknya lagi sambil menunjuk ke arah tempat keranjang pakaian kotor berada.
"I..iya Mas, ma..maaf" ucap Risha lagi terbata-bata, kemudian ia berjalan cepat ke arah yang ditunjuk oleh Rayhan tadi.
Risha berjalan dengan masih menutupi wajahnya, dan saat sudah berada di dekat keranjang pakaian ia tak menghentikan langkahnya dan malah menendang keranjang tersebut.
DARRR...
Keranjang yang tak sengaja Risha tendang membentur ke pintu walk in closet milik Rayhan membuatnya terkejut begitu juga Rayhan, dan baju-baju yang berada di dalamnya malah tercecer kemana-mana.
"Kalau jalan pakai mata, masa keranjang sebesar itu ga kelihatan!" sindir Rayhan dengan suara yang sedikit meninggi.
"Gimana mau lihat orang mata saya tutupin pakai tangan, emang mas ga lihat!" ucap Tari lantang dan langsung menutup mulutnya dengan satu tangannya, keceplosan.
"Berani kamu ya sama saya!" bentak Rayhan lagi.
"Eh maaf Mas" Risha tersenyum kikuk dan langsung mengumpulkan baju-baju kotor Rayhan yang berserakan di lantai, kemudian berdiri sambil membawa pakaian tersebut dengan kedua tangannya untuk ditaruhnya ke box yang ia letakkan di luar kamar.
Ia langsung berjalan untuk keluar dari kamar tersebut, namun dewi fortuna sedang tidak memihak kepadanya, ia malah tersandung oleh karpet yang ada dikamar Rayhan.
DUUGGG....
Risha terjatuh terjerembab ke lantai, lututnya membentur lantai yang keras sehingga membuatnya meringis kesakitan, dan jangan tanyakan lagi baju-baju kotor milik Rayhan, mereka sudah beterbangan berhamburan kemana-mana.
"Sakiiitt" lirih Risha memegang lututnya yang memerah.
Rayhan yang melihat hal tersebut hanya tersenyum sinis menikmati pemandangan di depan matanya. Ia masih saja betah berdiri di tempatnya sedari tadi seperti menonton secara live.
"Mas bantuin saya dong, ga tahu apa orang kesakitan" ucapnya kesal menahan sakit sampai air matanya sudah menggenang di sudut matanya.
"Ngapain saya bantuin kamu. Kamu yang ga hati-hati" Rayhan berkata sambil tersenyum mengejek dengan suara yang lebih rendah dibanding sebelumnya.
Risha yang kesal dengan jawaban Rayhan akhirnya memilih bangkit walau sakit sangat dirasakan olehnya, kemudian ia mengambil satu per satu baju yang berceceran di lantai. Setelah semua sudah diambilnya Risha langsung berjalan menuju pintu, memutar knop pintu kemudian membukanya lalu menutupnya lagi. Baru sebentar ia menutupnya kemudian pintu terbuka lagi.
"Mas buruan pakai baju, sarapan, emang ga tau sekarang jam berapa?" ucap Risha dengan senyum meledek saat pintu terbuka dan menunjuk jam dinding di kamar Rayhan. Ya, sedari tadi Rayhan hanya menggunakan handuk yang melilit di setengah bagian tubuhnya. Tubuh atletisnya yang seperti binaragawan terpampang nyata di depan mata Risha. Perutnya berbentuk six pack layaknya roti sobek.
Rayhan yang tengah diejek oleh Risha menatap tajam padanya dan melemparkan baju yang berada dekat dengannya, namun Risha dengan cepat menutup pintu tersebut hingga ia tak terkena lemparan dari Rayhan.
"Ga kena" terdengar teriakan suara Risha dari balik pintu yang mana membuat Rayhan menjadi tambah geram. Risha kemudian berjalan menuju tempat pencucian baju, meletakkan pakaian kotor yang berhasil diambilnya lalu kembali ke dapur untuk mengambil sarapannya.
"Gila gue belum pakai baju dari tadi" ucap Rayhan sambil menepuk keningnya sendiri.
Rayhan teringat kata-kata Risha barusan dan langsung cepat-cepat mengambil lagi baju yang ia lempar, namun di letakkannya lagi di kasur karena bajunya ternyata sudah kusut. Ia kembali ke dalam walk in closet untuk mengambil baju kerjanya.
Semua dilakukannya cepat-cepat karena jam sudah menunjukkan pukul 7.30, ia terlambat. Rayhan menyalahkan Risha atas semua keterlambatannya, karena pertengkarannya dengan Risha lah yang membuatnya menjadi semakin terlambat.
"Gara-gara cewek gila!" umpat Rayhan saat ia keluar kamar.
Rayhan menuruni tangga dengan cepat untuk sarapan, ia sudah terlambat karena sudah tak melihat adiknya di meja makan, Vina sudah berangkat ke sekolah. Ia juga sudah melihat sekretarisnya berada di meja makan bersama orang tuanya sedang berbincang.
"Kamu ngapain aja di kamar sampai terlambat turun?" tanya Pak Bagas kepada Rayhan yang sedang menyesap kopinya.
"Ada problem sedikit pah" Rayhan menjawab pertanyaan Pak Bagas sambil melirik ke arah Risha yang sedang membereskan piring kotor di meja makan tersebut.
"Masalah apa?" tanya Bu Dian bingung.
"Cuma masalah kecil mah. Aku berangkat ya Mah Pah" ucap Rayhan sambil membawa rotinya untuk meneruskan makannya di dalam mobil, kemudian mencium pipi mamanya bergantian. Sekretarisnya juga ikut berdiri kemudian mengikuti langkah Rayhan menuju pintu utama untuk berangkat bekerja.
Rayhan duduk di bangku penumpang dengan disupiri oleh sekretarisnya tersebut. Sekretaris Rayhan kemudian buka suara terlebih dahulu.
"Ngapain aja bro di kamar?" tanya sekretaris Rayhan, ia adalah sahabat Rayhan sejak kecil dan saat Rayhan mulai menjabat sebagai wakil CEO di perusahaan ayahnya Rayhan meminta kepadanya untuk menjadi sekretaris pribadinya.
"Lo tau, gue habis ketemu cewek gila yang baru aja kerja di rumah gue!" ucap Rayhan dengan kesalnya yang tiba-tiba saja muncul saat ingat kejadian tadi pagi.
"Cewek gila?" mengerutkan keningnya karena tidak paham.
"Lo liat ga tadi ada cewek yang beresin piring?" sekretarisnya menganggukkan kepalanya.
"Nah dia cewek itu!" Rayhan berseru sambil menepuk kursi pengemudi yang diduduki oleh sekretarisnya.
"Ya ampun Ray, cewek cantik kaya gitu lo bilang gila! Udah bosen hidup lo!" sambil menertawakan Rayhan.
"Cantik? Dari mananya Esa?" tanyanya kepada sang sekretaris, Mahesa Razman.
"Loh memang cantik. Lo aja lagi kesal sama dia, makanya lo ga perhatiin wajahnya. Nanti kalau udah pulang lo liat wajah dia baik-baik ga usah pakai emosi, pasti satu kata keluar dari mulut lo!" ucapnya yakin.
"Apa?" tanya Rayhan penasaran.
"Cantik, manis, beautiful, cute" ucap Esa sambil tersenyum mengejek atasannya tersebut.
"Itu bukan satu tapi empat" jawab Rayhan kesal.
"Ya salah satu dari itu Ray" elak Esa dan langsung mendapat jitakan di belakang kepalanya.
"Sakit Ray!" pekik Esa.
"Salah lo!" Rayhan tak mau kalah.
"Terserah Tuan" ucap Esa kemudian fokus kembali dengan kemudinya.
"Gue ngapain aja hari ini?" tanya Rayhan menanyakan jadwal untuk hari ini.
"Ada meeting jam sepuluh sama perusahaan sahabat bokap lo. Nanti bokap lo juga dateng" jawabnya ketus
"Esa kamu yang sopan!" ledek Rayhan kepada sahabatnya karena sekarang ia sedang mengaktifkan mode atasan dan bawahan.
"Maaf Pak" ucap Esa lagi masih kesal.
"Lanjut" ucapnya memberi perintah lagi.
"Ada meeting jam satu siang dengan klien dari Bali, membicarakan pembangunan resort yang ada di sana" lanjut Esa masih kesal.
"Esa lo yang ikhlas dong kalau kerja" kembali Rayhan menghadiahinya dengan jitakan.
Esa menghembuskan nafasnya kasar, ia tahan kekesalan dihatinya. Ulah sahabatnya ini memang terkadang membuatnya frustasi sendiri. Dilawan salah, ga dilawan makan hati.
"Saya ikhlas Tuan" ucapnya pelan.
"Esa gue lagi ngomong sama lo sebagai sahabat, masa lo ga ngerti sih" ucap Rayhan dengan senyum mengejek di bibirnya.
"Serah lo dah Ray, males sama lo!" ucap Esa pasrah.
Rayhan yang sudah tahu temannya kalah tertawa terbahak-bahak, merasa menang dari perdebatan antara ia dan sahabatnya. Mereka memang seperti itu, selalu bercanda, berdebat tanpa batas saat di luar kantor, saling mengingatkan atas setiap tindakan yang salah satunya perbuat.
"Sudah sampai Ray, gue aktifin mode kacung dulu ya" ucap Esa asal, dan Rayhan hanya tertawa mendengar perkataan sahabatnya itu.
"Ga sekalian tukang gebuk!" ejek Rayhan lagi.
"Bisa stroke muda gue begini terus" ucap Esa lirih.
"Esa saya masih bisa dengar kamu" Rayhan sudah mengaktifkan mode atasannya terlihat dari cara bicara dan bahasa yang ia gunakan.
"Maaf Tuan" ucap Esa lagi, dan saat Rayhan sudah berjalan terlebih dahulu ia mengepalkan tangannya di belakang kepala Rayhan, seperti ingin memberi pukulan kepada atasannya yang sombong itu.
"Esa saya bisa lihat kamu" ada senyum tersungging di bibirnya karena hari ini ia menang berkali-kali dari Esa.
"Maaf lagi Tuan" ucapnya kemudian berjalan mendahului Rayhan.
"Masa bodoh lah mau di pecat, resign duluan nanti gue, gedeg!" ucapnya dalam hati.
Esa terus saja berjalan walaupun Rayhan tengah memanggilnya berkali-kali dengan berteriak. Esa masih saja berjalan sampai saat ia di depan lift ia berhenti karena menunggu lift terbuka.
Rayhan akhirnya bisa mengejar Esa karena ia berhenti di depan lift. Rayhan yang melihat sahabatnya berbeda dari biasanya akhirnya bertanya.
"Kamu kenapa Sa? Lagi ada masalah?" tanya Rayhan khawatir.
"Saya ga kenapa-kenapa Tuan" Esa kemudian berjalan memasuki lift yang sudah terbuka, sedangkan Rayhan yang tadinya ingin menepuk pundak sahabatnya ditinggalkan begitu saja dengan tangan yang masih mengambang.
"Tuan liftnya sudah terbuka" ucap Esa dari dalam lift, membuat Rayhan tersadar kalau ia ditinggal oleh Esa, dan langsung buru-buru masuk ke dalam lift khusus para petinggi perusahaan tersebut.
Karena kesal sepanjang lift naik ke lantai yang dituju Rayhan hanya menekuk wajahnya. Esa yang melihat Rayhan seperti itu hanya tersenyum kecil.
"Pembalasan lebih kejam Tuan" ucapnya dalam hati penuh kemenangan.
"Sudah puas kamu ketawain saya?" tanya Rayhan membuat Esa terkejut.
"Kamu lagi mikir buat balas saya ya?" lanjutnya lagi
"Tidak Tuan" jawab Esa
Ting...
Akhirnya lift sudah sampai di lantai dua puluh empat, ini adalah lantai khusus untuk wakil CEO dan Manager Keuangan. Dan di lantai teratas, lantai dua puluh lima adalah ruangan khusus CEO.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
❤ yüñdâ ❤
kereeeeenn 👍👍👍 ,,
2021-04-28
1
🌷Srie❤💋🍆
pake pura" ngintip segala si risha
2021-03-22
1
.👄.
ada ya pembokat yg baru kerja sehari bisa ngusilin bos begitu? 😁😁😁
2021-03-12
1