Tangan Khanza begitu cekatan membuat bubur untuk Antonio, agar mengisi perutnya. Setelah bubur itu jadi ia menaruhnya ke dalam wadah dan meletakan di nampan yang dimana sudah ada gelas berisi air, obat juga sudah ia siapkan.
Berjalan dengan pelan membawa nampan ditangannya, menaiki anak tangga satu persatu hingga tiba diatas dan masuk kekamar Antonio. Dimana orang yang berada didalam tengah terbaring lemah.
Khanza menaruh nampan tersebut di meja nakas samping kiri, lalu menyuruh Antonio untuk duduk dengan bantalan dibelakangnya sebagai penahan. Mengambil bubur dan menyuapkan ke Antonio dengan sangat telaten.
‘Sungguh perempuan didepannya ini sangatlah perhatian.’ batin Antonio terpesona dengan perhatian Khanza pada yang menurutnya sangatlah tulus.
Setelah bubur habis didalam mangkuk, Khanza mengambil air putih agar Antonio meminumnya. Setelah meminum Khanza menyodorkan obat untuk dimakan agar panasnya segera turun.
“Om ini obatnya dimakan dulu, biar panasnya cepat turun,” kata Khanza.
Antonio memakan obatnya dengan menelannya, lalu meminum air kembali.”Makasih, udah ngerawat saya," ucapnya.
“Sama-sama om, kalau gitu aku kebawah dulu mau beresin ini sekalian mau istirahat. Udah jam satu lewat.” Khanza melihat jam, dan pamit pergi kebawah mencuci bekas bubur lalu beristirahat dikamarnya.
Setelah kepergian Khanza senyum Antonio tidak pernah lepas sedari tadi, tiba-tiba jantungnya berdetak sangat nyaring. Untunglah Khanza sudah keluar jadi ia tidak mendengar suara jantungnya ini.
“Kenapa dengan jantungnya, berdetak terus. Apa mungkin aku mulai menyukai gadis itu atau bahkan sudah mencintai. Tidak-tidak, dia masih muda sedangkan aku sudah tua. Argghh… tapikan wajahku masih tampan.”
“Arrgghh… tapi aku harus menikahinya, karna aku sudah mengambil harta berharganya. Jadi dia harus mau aku nikahi, lagian sebentar lagi aku dan laura akan bercerai. Tenanglah khanza kamu bukan gadis jahat perusak rumah tangga orang.”
Hubungan rumah tangga Antonio dan Laura sama sekali tidak bisa dipertahankan, apalagi ia sudah mengetahui perbuatan Laura diluar sana yang bukan hanya bekerja sebagai General Manager tetapi selingkuhan seseorang yang masih ia selidiki siapa orangnya.
.
.
Hanya sebentar saja Khanza tidur dan terbagun saar adzan subuh berkumandang, ia pun masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Lalu memakai mukena dan melaksanakan sholat subuh. Tidak lupa setelah selasai sholat, dilanjut dengan mengaji, melantunkan ayat-ayat suci al-qur’an.
Khanza tidak kembali tertidur melainkan keluar dari kamar menuju dapur, dan disana sudah ada Bi Inahya yang sedang mengambil bahan-bahan dikulkas untuk memasaknya.
“Eh eneng, baru selesai sholat neng?"
“Iya bi, sini bi biar khanza aja yang masak dan bibi kerjain yang lain aja ya," kata Khanza menyuruh agar Bi Inahya mengerjakan yang lain saja.
“Loh neng, biar bibi aja.”
“Udah bi sini, biar khanza aja. Khanza mau buatkan om Antonio bubur saja.”
“Jangan neng."
“Jangan kenapa bi?" tanya Khanza bingung.
“Tuan ga suka bubur neng, katanya nasinya jadi lembek gitu jadi gasuka. Bibi taunya dari nyonya besar Erina mamanya tuan.”
Perkataan Bi Inahya membuat Khanza bingung.“Tapi tadi malam aku masakin bubur buat om Antonio, dan itu dimakan sampai habis," ucapnya.
“Memang tuan kenapa tadi malam neng sampai eneng masakan bubur."
“Tadi malam perasaan khanza ga enak takut terjadi apa-apa sama om Antonio, jadi aku tungguin sampai om Antonio pulang. Jam dua belas lewat sedikit om Antonio pulang, nah pas aku buka pintu depan. Wajah om Antonio pucat sekali, aku menyetuhkan telapak tanganku didahinya terasa panas sekali bi. Saat om Antonio melangkah ke atas, tubuhnya hampir limbung. Untung aku dengan sigap menahannya bi, aku memapah om Antonio sampai keatas dan merebahkan diranjang. Om Antonio bilang ia tidak lapar, tapi aku masih memaksa membuatkannya bubur agar perutnya terisi. Setelah om Antonio memakan buburnya, bahkan habis tanpa tersisa sedikitpun," Khanza hanya menceritakan sedikit saja dan tidak sedetail mungkin, apa kata Bi Inahya nantinya.
Bi Inahya malah tersenyum-senyum mendengar ceritaku.”Berarti tuan menyukai eneng kalau gitu,"
“Kok malah suka khanza sih bi, kan tadi kita ngomongin masalah bubur," ujar Khanza.
“Ehh salah neng, maksud bibi tadi. Berarti tuan menyukai bubur buatan eneng," ulang Bi Inahya membenarkan kata-katanya yang salah tadi.
“Tapi aku bingung bi, buatkan bubur lagi atau engga," Khanza memikirkannya membuatkannya atau tidak.
“Kalau menurut bibi sih, dibuatkan saja non.”
“Yaudah kalau gitu bi, aku buatkan bubur saja. Bibi kerjain yang lain aja ya.”
“Oke neng, kalau gitu bibi mau nyapu-nyapu halaman belakang dulu.” pamit Bi Inahya lalu pergi menuju halaman belakang.
Setelah Bi Inahya tidak terlihat lagi, Khanza mulai memasak bubur. Tidak lupa juga ia membuat wedang jahe untuk Antonio, karena dia masih sakit jadi Khanza tidak membuat kopi dulu untuknya.
Semua sudah Khanza hidangkan diatas meja makan, ia pergi kekamar mengganti bajunya dan menyiapkan lamaran kerja. Sebelum berangkat, ia pergi kehalaman belakang untuk pamit ke Bi Inahya.
“Bi…” seru Khanza.
“Iya neng," sahut Bi Inahya.
“Bi, aku pergi dulu. Mau cari kerjaan, doain ya bi," kata Khanza.
“Pasti neng, semoga dapat kerjaan ya neng.”
“Aamiin. Makasih bi. Kalau gitu khanza berangkat dulu, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, hati-hati neng.”
Setelah itu Khanza melangkah menuju gerbang keluar.
***
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Dina Diana
8
2022-05-06
0
Dhea Arvita Sari Hakim
benih benih cinta akan mulai tumbuh
2022-02-07
0
Rhara Tu Marwahjie
epidode45
2022-01-03
0