Sampai di depan gerbang sekolah, Khanza dan Rhea langsung membuka pintu. Sebelum turun dari Rhea menyalami tangan Antonio daddy nya diikuti dengan Khanza yang juga melakukannya.
Lalu Antonio melanjutkan perjalanannya menuju kantornya.
Sepanjang jalan menyusuri lorong sekolah kedua gadis bersahabat itu saling bergandengan. Membuat semua siswa/i membisikan mereka, lebih tepat bisikan itu tertuju pada Khanza.
Khanza hanya menunduk mendengar bisikan mereka yang sangat tidak mengenakan ditelinganya. Ingin rasanya ia melawan tapi tidak bisa apalah dia diantara mereka yang berada.
‘Ehh liat tu Khanza, enak ya berteman sama Rhea. Kesekolah juga diantar.’ bisik salah satu siswi diantara perkumpulan.
‘Iya yah, emang Rhea ga takut tuh. Cuman dimanfaatkan doang sama Khanza.’ timpal salah satu juga dengan berbisik.
‘hahaha iya. Gue kasian sama Rhea nya.’ sambung salah satunya juga dengan berbisik.
Jangan pernah bilang kalau Rhea tidak mendengarnya, bahkan sekarang emosi gadis dengan rambut terurai itu sudah memucak. Mendengar kata-kata mereka yang menjelekan sahabatnya. Ketika ingin menghampiri perkumpulan mereka tangan Rhea dipegang dengan erat oleh Khanza.
“Nza lepasin, aku ga terima mereka jelekin kamu," kata Rhea.
“Jangan Rhea, gausah biarin aja mereka,” ucap Khanza menahan agar air matanya tidak menetes.
“Ayo kita ke kelas aja." ajak Khanza dengan menarik tangan Rhea.
Sedang Rhea hanya pasrah saja mengikuti Khanza, padahal dihatinya ingin sekali merobek mulut cabe mereka yang membisikan Khanza.
Sampai dikelas XII Ipa 1, mereka disambut dengan Leo yang sudah berada didalam kelas dan duduk di belakang mereka.
“Pagi cantik,” sapa Leon.
“Kamu nyapa siapa?" tanya Rhea jutek.
“Kamu lah cantik," jawab Leo membuat rona merah di wajah Rhea.
“Cie cie Rhea," goda Khanza yang melihat rona merah diwajah sahabatnya dan menoel pipinya dengan telunjuknya.
“Apaansih nza," ucap Rhea langsung duduk di kursi.
“Rhe," panggil Leo.
“Apa?" tanya Rhea singkat.
“Ehem, pipi kamu merah," Leo menoel pipi Rhea yang memerah.
“Apaansih,” Rhea langsung bangkit dan berlari keluar dari kelas.
“Yah! Rhea malah pergi,” ucap Leo.
“Kamu sih leo," setelah mengatakan itu Khanza menyusul Rhea.
“Apa gue keterlaluan ya.” guman Leo, merenungkan perbuatannya tadi.
Sedangkan Rhea pergi ke taman sekolah dan duduk dikursi panjang yang ada disana. Entah kenapa ia malah menangis, padahal Leo hanya menoel pipinya saja. Mungkin karna terbawa perasaan jadinya malah menangis.
Khanza yang tadi menyusul Rhea, akhirnya ia melihat sahabatnya sedang duduk dikursi taman.
“Tidak salah lagi itu pasti Rhea," gumannya.
“Tapi kenapa Rhea menangis," ya, Khanza melihat sahabatnya menangis. Tanpa pikir panjang ia langsung menghampiri Rhea dan duduk disebelahnya.
“Rhe…” panggil Khanza.
Tanpa mengucapkan apa-apa Rhea langsung saja memeluk Khanza dengan eratnya. Menangis dipelukannya, Khanza mengelus kepala Rhea dengan sayang. Menangis hingga baju Khanza menjadi basah, tapi Khanza sama sekali tidak perduli dengan bajunya. Yang diperdulikannya sekarang adalah Rhea bagaimana caranya menenangkannya, Khanza sudah tau sifatnya Rhea kalau sudah menangis susah untuk ditenangkan.
“Rhe udah ya nangisnya, nanti nafasnya sesak loh,” kata Khanza dengan lembutnya.
“Hiks… hik ga bi-bisa ber hiks henti," Rhea berkata dengan masih sesegukan.
“Udah dong nangisnya, leo kan cuman bercanda aja,” Khanza masih menenangkan.
“Hiks… i-iya aku tahu hiks.”
“Berhenti ya nangisnya, Rhea cantik," Khanza mengelus-ngelus rambut Rhea dengan sayangnya.
“Rhea bakal ber hiks henti nangisnya. Ka-kalo Khanza mau janji tinggal di mansion bersama Rhea.. Hiks," Rhea memberikan semacam penawaran untuk sahabatnya. Ini sebenarnya sudah ia pikirkan sedari tadi dan kebetulan medapat kesempatan saat ini.
“Tapi-…”
“Hiks... mau ya hiks." sela Rhea memotong ucapan Khanza.
‘Ini gimana jadinya Rhea malah minta itu, kalo aku terima akukan gamau ngerepotin Rhea. Kalo aku ga terima nanti Rhea bisa kejer nangis dan itu bisa menyebabkan dia sesak nafas. Ga mungkin aku biarin.’ batin Khanza bertentangan.
Rhea semakin menangis menjadi-jadi karna Khanza yang masih diam dan belum menjawabnya.
“Iya, iya aku mau," jawab Khanza, menerima permintaan Rhea.
‘Yes,’ batin Rhea bersorak senang, masih dalam pelukan Khanza.
“Ma-makasih nza," ucap Rhea.
“Udah yah berhenti nangisnya.”
Setelah Rhea berhenti menangis Khanza mengajaknya menuju toilet terlebih dahulu untuk membasuh wajah sembabnya. Sebelum masuk ke dalam kelas. Habis itu mereka ke kelas karna sebentar lagi guru yang mengajar akan masuk.
Guru yang mengajar pun masuk dan memulai pelajaran, selama didalam kelas Rhea hanya diam saja sedang Leo yang berada dibelakangnya bingung untuk memanggil takut Rhea marah dan menangis lagi jadi ia diam dulu. Tapi nanti istirahat ia akan meminta maaf pada Rhea.
‘Tring' bel istirahat berbunyi semua siswa berhamburan keluar kelas menuju kantin. Khanza dan Rhea juga menuju kantin dengan Leo yang mengikuti dari belakang mereka.
“Nza kamu pesan apa biar sekalian aku pesanin," Rhea bertanya kepada Khanza.
“Biar aku aja yang pesenin kalian." timpal Leo, sedari tadi di diamkan.
Rhea yang mendengar ucapan Leon, menjadi duduk kembali ditempatnya.
“Es teh sama mie ayam,” sebelum Leo bertanya pesanannya, Rhea sudah lebih dulu menyebutkannya.
“Kamu nza?" tanya Leo beralih pada Khanza yang belum menyebutkan pesannya.
“Aku samain aja kayak Rhea," jawab Khanza.
“Yaudah kalian tunggu dulu ya," Leo segera pergi ke penjual mie ayam.
“Rhe, aku kasian deh sama leo. Aku ga bisa diam-diaman kayak gini re," kata Khanza.
Memang Khanza tipikal orang yang tidak suka mendiamkan orang lain, walaupun itu cuman sehari. Tetap hatinya menjadi resah tidak enakan. Ia terpaksa menuruti keinginan Rhea karna takut nanti malah nangis lagi.
“Ga pa-pa nza, tunggu sampe dia minta maaf dulu deh," sahut Rhea.
“Iya deh."
“Nih pesanan kalian," Leo menaruh mie ayam diatas meja, lalu kembali lagi mengambil minuman yang sudah ia pesan tadi.
Setelah selesai Leo duduk dengan tenang, tapi hatinya masih tidak tenang karna Rhea yang mendiamkannya dan sepertinya Khanza juga ikut-ikutan juga membuatnya tambah frustasi. Leo menjadi tidak berselera makan, bahkan makanannya hanya diaduk-aduk.
Khanza yang melihatnya menjadi prihatin, karna tidak tahan akhirnya ia bersuara.”Leo makanannya kenapa ga dimakan, malah diaduk-aduk aja.” Ucapnya.
Leo tesenyum sumringah ketika mendengar Khanza bersuara walaupun bukan yang ia harapkan tidak sesuai, karna tadinya dia berharap yang bersuara adalah Rhea.
“Ga pa-pa nza lagi ga selera aja mau makan," ucap Leo.
“Pasti karna Rhea yang diamkan kamu kan.”
“Uhukk Uhukk!" mendengar ucapan Khanza membuat Rhea tersedak hingga terbatuk-batuk.
“Ini minum dulu," Leo memberikan minuman ke Rhea dan langsung ditegaknya.
“Maka-...” kalimat Rhea terhenti saat menoleh kearah orang yang memberikannya minum.
“Re, aku minta maaf ya tentang tadi. Suer aku gatau kamu bisa semarah itu. Maafin aku ya," Leo meminta maaf dengan menyatukan kedua tangannya.
“Emmm,” Rhea bepikir.
“Rhe, udah maafin dong leo nya. Kan dia udah memberanikan dirinya untuk meminta maaf sama kamu,” tukas Khanza.
“Iya, iya aku maafin kamu. Lagian juga aku ga marah cuman kesel aja,” ujar Rhea.
Kembali Leo tersenyum dengan sangat lebarnya.’Yes! akhirnya gue dimaafin, Rhea ga marah lagi.’ ucapnya dalam hati.
Mereka bertiga melanjutkan makan dengan Leo yang sudah kembali berselera makan. Hingga tidak terasa waktunya istirahat telah habis dan mereka pun kembali ke kelas belajar lagi sampai jam pulangan tiba.
****
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Anyta Djami Lay
wah leon bisa dijadikan bodyguardnya rhea n khanza nich
2022-05-27
0
Yuni MamaRizky
suka duka anak sekolahhhg
2022-05-20
0
PimCherry
up
2022-04-22
0