Selesai sholat subuh Khanza bersiap-siap turun ke bawah untuk ke dapur, ia tidak enak menumpang tanpa tidak ada kerjaan yang harus di kerjakan.
Sampai dibawah masih sepi belum ada pelayan sama sekali didapur, karena jam masih setengah 6. Biasanya pelayan di mansion ini akan ke dapur saat jam 6 pagi, memang sudah peraturannya begitu.
Khanza memulai perkerjaan dengan megupas bawang-bawang, ia akan memasak menu nasi goreng saja untuk sarapan pagi ini. Tangannya sangat lihai dalam memasak, setelah masakannya mateng langsung ditaruh di wadah yang cukup untuk tempat nasi goreng yang ia buat. Lalu melanjutkan dengan mengoreng telur mata sapi sebagai pelengkapnya. Karena jam sudah menunjukkan pukul 06:00 sebelum naik keatas ke kamar dia menyempatkan dulu membuatkan kopi untuk Antonio.
Selesai dengan semua perkerjaannya Khanza naik ke atas, menuju kamar Rhea terlebih dulu. Ketika membuka pintu kamar Rhea, terlihat gadis itu masih tidur Khanza berinisiatif membangunkannya.
“Re bangun,” Khanza menggoyangkan lengan Rhea membangunkannya.
“Enghh," Rhea malah melenguh dan matanya masih terpejam.
“Rhea bangun nanti terlambat…”
“Udah jam berapa?" Rhea bertanya pada Khanza dengan mata yang masih belum terbuka.
Khanza terpikir untuk mengerjai Rhea agar segera terbangun…
“Udah jam 6 lewat mau jam 7. Cepat bangun Re.”
“APAHH!!!”
Dan bener saja Rhea langsung terbangun dengan mata membolak lebar. Khanza yang melihatnya hanya menahan tawa.
Hahaha! suara tawa Khanza akhirnya pecah juga.
“Nza beneran udah mau jam tujuh?" tanya Rhea serius.
“Haha… Ngga re, aku bohong ini baru jam 6 lewat 20 menit," jawab Khanza.
“Khanza ngerjain Rhea ya. Iiih jahat aku masih ngantuk mama," Rhea yang ingin berbaring kembali langsung dicegah oleh Khanza.
“Re cepat mandi, ga baik kalo udah bangun tidur kembali. Ayo! Cepat mandi.”
“Yaudah aku bakal mandi, tapi aku minta kamu buat bangunin daddy. Mau ya," mohon Rhea dengan wajah yang dibuat-buat.
“Emm, gimana ya Re," Khanza ragu dan berpikir.
“Please! Nza bangunin daddy aku ya," mohon Rhea kembali.
“Oke aku bakal bangunin om Antonio. Yaudah sana kamu buruan mandi habis itu turun.” ucap Khanza sebelum keluar dari kamar Rhea dan menuju kamar Antonio.
Khanza berjalan menuju kamar Antonio dengan perasaan campur aduk dan jantungnya sangat tidak tenang, karena ini pertama kalinya ia harus membangunkan seorang lelaki yang bahkan lebih parahnya anaknya sendiri yang menyuruhnya.
Dengan memberanikan diri Khanza memegang handel pintu dan,
‘Ceklek’ pintu terbuka, Khanza melihat kearah ranjang dan terlihat disana seorang lelaki yang masih tertidur dengan sangat lelap. Khanza semakin mendekat kearah ranjang dimana ada Antonio yang tertidur dengan menggunakan pakaian piyama, selimut yang menutupi hanya sebatas pinggang.
Ketika Khanza akan membangunkan, ingin menyetuhkan tangan di bahu Antonio, tangannga malah dipegang oleh Antonio yang sebenarnya sudah terbangun dari mendengar suara pintu kamarnya dibuka.
“Ngapain kamu di kamar saya?" tanya Antonio.
“Emm… anu om anu, tadi sa-saya di-disuruh Rhea untuk bangunin om emm.” jawab Khanza terbata-bata karna gugup.
“Hemm," bales Antonio.
“Saya pamit keluar-…”
“Siapa yang nyuruh kamu keluar,” sela Antonio memotong kalimat Khanza. Khanza yang bingung hanya diam menunggu Antony melanjutkan kalimatnya.
“Tolong siapkan pakaian kerja saya.”
“Tapi om." protes Khanza.
Antonio langsung ke kamar mandi tanpa mau mendengarkan protesan dari Khanza. Antonio menutup kamar mandi dengan bibir sedikit mengulas senyum. Sedangkan diluar masih di kamar Antonio, Khanza terlihat sangat kesal. Dengan sangat terpaksa ia menyiapkan dan memilihkan pakaian kerja untuk Antonio.
Pilihannya jatuh pada kemeja putih dengan jas abu-abu dan dasi berwarna hitam. Khanza membayangkan ketika Antonio memakainya pastilah terlihat sangat tampan.
“Sudah?" anya Antonio saat keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di pinggang dan air menetes dari rambutnya.
Lamunan Khanza buyar dan melihat Antonio tepat berada didepan dengan keadaan shirtless dan hanya handuk yang melingkar di pinggangnya.
“Aaaa-…” teriak Khanza langsung menutup matanya.
“Om kenapa keluar dengan keadaan itu?" tanya Khanza dengan mata yang masih tertutup.
“Kenapa? Ini kan kamar saya jadi terserah saya," jawaban Antonio membuat Khanza kesal.
“Emm, om bajunya ada di atas ranjang udah Khanza siapin. Khanza pamit keluar dulu.” ucap Khanza segera keluar dari pada tambah membuat mnya kesal.
Setelah Khanza keluar Antonio segera memakai baju yang telah disiapkan oleh Khanza.
“Pilihan yang sangat bagus dan cocok untuk ku pakai hari ini, ternyata seleranya cukup bagus.” ucap Antonio memuji pilihan Khanza.
Sedangkan dikamar Khanza juga bersiap dengan pakaiannya sekolahnya. Ia akan kesekolah hari ini dan sehabis pulang dari sekolah ia akan mencari pekerjaan, karena Khanza merasa tidak enak selalu merepotkan Rhea. Khanza tidak ingin disebut hanya memanfaatkan Rhea saja oleh siswa/i disekolahnya.
Selesai bersiap Khanza segera menuruni anak tangga untuk ke bawah dan menuju meja makan. Terlihat di meja makan sudah ada Rhea dan Antonio yang menunggu Khanza.
“Nza ayo duduk.” seru Rhea menyuruh Khanza duduk.
Sebelum Khanza duduk suara Antonio mengitrupsinya…
“Bisa minta tolong ambilkan saya nasi goreng.” pinta Antonio.
Khanza mengangguk, lalu mengambil piring Antonio dan mengisinya dengan nasi goreng sekalian piring Rhea juga.
Mereka makan bersama dalam diam, karena Antonio tidak ingin ada pembicaraan apapun saat makan berlangsung.
Ting! Tong!
Suara bel rumah bebunyi pertanda ada tamu, Khanza ingin bangkit membuka pintu tapi dicegah oleh Rhea.
“Nza lanjutin aja makannya, biar aku aja yang buka pintunya.” sergah Rhea yang sudah selesai makan, lalu bangkit menuju pintu depan dan membukanya.
“Leo."
“Haii," sapa Leo dengan tersenyum.
“Ngapain kamu kesini?" tanya Rhea.
“Aku kesini mau jemput kamu." jawab Leo
Sekarang Leo belajar untuk menggunakan bahasa aku kamu. Karena sepertinya dilihat Rhea dan Khanza selalu menggunakan bahasa aku kamu, jadi mulai sekarang ia akan menggunakannya.
“Jemput? Aku kan ga minta jemput," kata Rhea.
“Iya tapi-…”
“Rhea siapa tamunya," seru Antonio dengan suara beratnya. Antonio langsung mengampiri ke depan pintu.
“Halo om," sapa Leo lalu menyalami Antonio.
“Kamu bukannya keponakan Aditya kan?"
“Iya om, saya keponakan uncle Adit.”
“Ngapain kamu kesini?" tanya Antonio dengan menatap Leo tajam.
Tapi itu tidak membuat Leo gentar, karena ia sudah tau sifat sahabat om nya ini.
“Saya kesini ijin mau berangkat bareng sama anak om. Bolehkan?" tanya Leo gentle dengan meminta ijin.
Antonio melihat wajah anaknya seperti tidak ingin berangkat bersama Leo.”Tidak boleh, Rhea akan berangkat bersama saya," tegas Antonio.
Leo melihat ada Khanza didalam.”Yaudah kalo begitu om, tapi kalo sama Khanza bolehkan om?” tanyanya kembali meminta ijin.
“Tidak bisa, Khanza dan Rhea akan berangkat bareng saya." tegas Antonio sekali lagi, tanpa melihat raut wajah Khanza yang sepertinya akan menerima ajakan dari Leo.
Pupus sudah harapan Leo untuk berangkat dengan Rhea tidak diijinkan dengan Khanza juga tidak. Akhirnya Leo memilih pamit dan berangkat duluan dengan sendirian.
Khanza dan Rhea segera masuk ke dalam mobil Antonio. Hari ini Antonio tidak menggunakan sopir karena Satya ia suruh untuk meyiapkan berkas-berkas meeting hari ini. Setelah mengantar Rhea dan Khanza ia akan langsung menuju kantornya.
****
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Wiwik Wardoyo
Leooooo sm dirikuh sj🤣🤣🤣🤣
2022-07-25
0
Linda Milyani
yang sabar ya Leo,om ganteng galak banget si
2022-07-11
0
Wulan Zahira
pupus sudah harapanku berangkat skull sama cewek🤣🤣🤣
2022-05-30
0