Dikantin Rhea sudah sangat lama menunggu kedatangan Khanza yang belum keliatan juga batang hidungnya.
“Khanza kok lama banget ya, apa ia diganggu sama Bella dkk.”
“Rhea,” seru Khanza dari kejauhan melihat Rhea yang duduk dengan wajah kesalnya.
“Re maafin aku ya, kamu pasti lama banget nunggu akunya.”
Rhea melihat Khanza tidak sendiri melainkan ada seorang cowok bersamanya.
“Nza, siapa dia?” tanya Rhea.
Khanza melihat kesampingnya.”Leo, kenapa ngikutin,”
“Hehe. Sorry lagi, gue ngikutin lo. Soalnya gua baru disini jadi gatau deh harus kemana.” ucap Leo menyengir.
“Siapa dia Nza?" ucap Rhea.
“Kenalin gue Leo, gue kenal Khanza karena tadi ga sengaja nabrak dia," Leo mengulurkan tangannya.
“Rhea…” singkatnya tanpa membalas uluran tangan Leo. Membuat Leo merasa tertarik dengan sikap Rhea yang terlihat tidak menyukainya.
“Boleh gak gue gabung sama kalian?"
“Ga boleh," “Boleh," ucap Rhea dan Khanza bersamaan.
“Jadi... Gue boleh gabung ga nih?" tanyanya lagi memastikan.
“Boleh Leo, ga pa-pa. duduk aja," ucap Khanza lalu melirik ke Rhea. Rhea hanya mengangguk pasrah.
Akhirnya mereka makan bersama, dengan Leo yang mencuri-curi pandang ke Rhea.
‘Cantik." batinnya.
Rhea menyadari kalau sedari tadi Leo menatapnya tapi ia tidak memperdulikannya sama sekali, dan melanjutkan menyuap makanannya.
***
Triiinggg!
Bel pulang berbunyi Khanza dan Rhea bersiap-siap untuk pulang, Khanza melihat ke bawah laci mejanya memastikan buku-buku yang dia bawa tidak ada yang ketinggalan.
“Nza ayo ke depan sama-sama,” lajak Rhea lalu menggandeng tangan Khanza.
“Khanza Rhea, tungguin gue,” teriak Leo.
Rhea tidak memperdulikannya sama sekali ia tetap berjalan cepat dengan menggandeng tangan Khanza.
“Re..."
“Biarin nza tinggalin aja,” ujar Rhea sebel karena Leo terus saja ngintilin mereka, apalagi mereka juga sekelas tambah membuatnya geram.
Sampai didepan parkiran, Khanza pamit menuju ke sepedanya, sedang Rhea masih menunggu supir yang akan menjemputnya.
“Re maaf ya ga bisa nungguiin sampe jemputan mu datang, aku mau cepat-cepat ke café mau kerja.”
“Tenang nza aku ga pa-pa kok, kamu pergi aja. Nanti kamu bisa terlambat kerjanya. Semangat mama Khanza.” ucap Rhea menyemangati.
Khanza tersenyum tulus.
Sebenarnya dalam hati Khanza tidak tega meninggalkan Rhea yang belum di jemput, padahal setiap pulang sekolah jemputan Rhea sudah berada didepan dan ini pertama kalinya Rhea menunggu, mana hari mendung akan turun hujan. Tapi mau bagaimana lagi Khanza tidak mau sampai dipecat karena terlambat.
Khanza pun duluan, dengan mengayuh sepedanya agar cepat sampai di tempat ia bekerja. Karena hari ini adalah hari ia menerima gajihnya selama sebulan bekerja. Ia berharap bisa mendapatkan bonus dari hasilnya. Karena jika ia mendapat bonus ia akan membuat sedikit makanan untuk dibagikan ke panti asuhan kasih bunda dimana ia dibesarkan.
Sudah sangat lama Rhea menunggu tapi pak udin belum juga datang menjemputnya. Mana mendung sekali, mau menelpon baterai ponselnya habis jadi terpaksa ia menunggu saja tanpa tau akan dijemput atau tidak. Tiba-tiba motor sport berthenti tepat didepannya.
“Ekhem,” dehem Leo membuka helm full face nya. Rhea pura-pura tidak melihatnya.
“Gue anterin pulang gimana mau ngga?" tanya Leo menawarkan tumpangan.
“Ngga,” sahut Rhea dengan tangan bersedekap di dada.
“Bentar lagi hujan, bener gamau. Ga takut apa nanti diculik,” ucap Leo menakut-nakuti.
“Ngga bakal,” kekeh Rhea mendelik.
“Yaudah deh kalo gamau, gue duluan. Hati-hati aja,” sebelum Leo mengegas motor sportnya, Rhea bersuara kembali.
“Leo tunggu! Oke aku terima tumpangan dari kamu,” Rhea akhirnya menerima tumpangan yang di tawarkan Leo. Melihat kondisi sekolah yang sudah sangat sepi membuatnya menjadi merinding sendiri.
“Yaudah naik!"
“Ini gimana naiknya, gabisa Leo," sebel Rhea karena ini pertama kalinya naik motor. Dan untuk pertama kalinya juga dibonceng cowok.
“Bisa Re, pegang tangan gue," ucap Leo. Rhea memegang tangan Leo dan akhirnya bisa naik juga. Tapi tidak dengan Leo yang hanya diam saja belum menjalankan motornya sama sekali.
“Buruan, kenapa ga jalan-jalan nih motornya!"
“Pegangan dulu.”
“Ogah, buruan Leo.” Rhea tetap kekeh tidak mau berpegangan. Leo mendengus dengan sifat angkuh Rhea. Leo langsung mengegas motornya.
Duukk!
Pipi Rhea menempel di bahu belangkang dan tangannya juga memeluk erat pinggang Leo. Membuat Leo tersenyum.
“Kamu sengaja kan," ucap Rhea, tapi Leo tidak mendengarnya karena ia memakai helm full face jadi minim pendengaran kecuali Rhea berteriak.
“Apaan? Gue ga dengar Re.”
“Kamu sengajakan," teriak Rhea yang kesal. Akhirnya Leo melambatkan laju motornya.
“Kan gue tadi bilang, pegangan. Lo nya aja gamau nurut.” ucapan Leo membuat Rhea ingin mencubit pinggangnya.
Rhea diam tidak menjawabnya mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Rhea. Dari sekolah ke mansion ‘Horison’ membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Tapi tepat di tengah perjalanan mereka kehujanan Leo tidak menghentikan motornya malah ia melaju karena tanggung sebentar lagi akan sampai.
Saat sampai didepan gerbang, satpam membukakannya. Lalu motor sport Leo masuk hingga pas didepan pintu mansion.
“Makasih ya, udah nganterin aku. Gamau mampir dulu?” tanya Rhea. Biarpun ia sebel dengan Leo tapi karena sudah diantarkan sampai rumah dengan selamat, walaupun basah-basahan.
“Iya sama-sama, sorry ga bisa mampir. Gue buru-buru lain kali gue pasti mampir.” ucap Leo tersenyum. Leo menyalakan motornya kembali lalu menjalankannya, hujan sudah berhenti hanya meninggalkan rintik-rintik saja.
***
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Daliffa
EMG hampir sama am cerita om bule tp ini lebih menarik&asyik ceritay,💪💪💪
2023-01-28
0
Wiwik Wardoyo
syukur deh babang Antonio gk ada saingan
2022-07-25
0
Lia Frastika
penasaran mana khanza
2022-04-24
0