Terdengar suara mesin mobil dari luar mansion yang sudah sangat Rhea hafal. Tadi daddy nya sudah janji akan makan malam di mansion bersamanya. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore.
“Nza bentar aku keluar dulu," ujar Rhea, di beri anggukan oleh Khanza.
Rhea menuju pintu depan untuk menyambut kedatangan Antonio yang baru pulang dari kantor. Sedang di dapur Khanza menyajikan masakannya yang telah mateng dan menata diatas meja makan.
“Assalamualaikum daddy," seru Rhea mengucapkan salam.
“Ehh. Assalamualaikum,” ucap Antonio balik.
“Waalaikumsalam dad!" Rhea mengambil tas kerja Antonio.
Ketika masuk Antonio mencium bau harum masakan, perutnya menjadi laper.”Siapa yang masak, kenapa baunya sedap sekali, sangat menggugah selera,” batinnya.
“Dad mandi dulu, nanti langsung ke bawah ya,” ujar Rhea. Antonio mengangguk mengiyakan.
Antonio langsung menuju keatas dimana kamarnya berada, sebenarnya Antonio belum bercerai dengan Laura istrinya ibu dari Rhea. Ia masih harus mengumpulkan bukti-bukti agar Laura tidak bisa berkutik lagi. Karena Laura yang jarang berada dirumah jadi ia memutuskan pindah kamar diujung dekat dengan ruang kerjanya. Besar kamar sama dengan kamar sebelumnya.
Antonio melepas semua baju di badannya, memasukkannya di keranjang baju kotor. Lalu masuk kamar mandi dengan tidak memakai apapun di seluruh badannya. Antonio selalu mandi dengan melepas bajunya terlebih dahulu dan masuk ke kamar mandi tidak menggunakan pakaian sehelai agar lebih mudah.
Kamar mandi yang sangat mewah dilengkapi dengan fasilitas utama yang harus ada pada sebuah kamar mandi. Bathtub, shower, toilet, wastafel, dan keran-keran air. Semuanya yang ada dikamar mandi dimension terkesan mewah. Antonio mengguyur badan dengan shower yang mengalir dari atas ia menggosok seluruh badannya hingga bersih.
Selesai mandi Antonio memakai pakaian santai, yang sangat cocok di tubuh berototnya. Bahkan terlihat sexy. Ia sudah bersiap, segera turun kebawah karena perutnya tiba-tiba menjadi sangat laper.
.
.
Ting!
Lift yang membawa Antonio menuju kebawah berhenti. Ia langsung menuju meja makan yang sudah ada putrinya disana. Tapi putrinya tidak sendiri melainkan ada seorang gadis bersamanya yang dia perkirankan umur mereka sepantaran.
“Siapa dia? Apa di pelayan baru mansion ini.” batinnya.
Antonio sampai di depan meja makan, putrinya masih belum menyadari kehadirannya malah sangat asik mengobrol dengan gadis tersebut.
”Ekheh," dehem Antonio agar mereka menyadari kehadirannya.
“Ehh... Daddy, duduk dulu sini,” Rhea mempersilahkan Antonio duduk.
Khanza menunduk ketika mendengar deheman seorang pria yang pastinya adalah daddy sahabatnya. Rhea menyadari sikap Khanza lalu ia memperkenalkannya.
“Dad kenalkan ini Khanza, sahabatnya Rhea.”
“Khanza om,” Khanza mendongak lalu mengulurkan tangannya.
Antonio yang melihat wajah Khanza merasa tidak asing. Dia mengingat-ingat mereka pernah bertemu dimana. Seketika otaknya mengingat kejadian tadi pagi yang hampir saja menabrak seorang gadis, karena menyebrang jalan tidak hati-hati dan sekarang malah berada di mansionnya bersama putrinya. Tapi sepertinya gadis ini tidak mengenalinya.
“Antonio," singkatnya.
Mereka bertiga pun duduk bersama, dengan Khanza disebelah kiri dan Rhea dikanan. Antonio berada ditengah-tengah. Khanza merasa gugup didekat Antonio.
“Nza boleh minta tolong, isikan piring daddy aku makanan,” Khanza yang ingin protes menelan kembali kalimatnya melihat tatapan melas dari Rhea.
“Emm.. o-om mau lauknya a-apa?” tanya Khanza gugup berbicara gelagapan.
“Ayam goreng dan cah kankung saja.” jawab Antonio. Khanza mengambilkannya lalu menyerahkan piring yang sudah berisi lauk pauk ke Antonio.
Menikmati makan dalam diam tanpa ada pembicaraan. Antonio sangat tidak suka ketika makan ada yang mengobrol, menurutnya itu tidak sopan dan malah akan membuat makan kita menjadi tersedak. Makanya ia menerapkan peraturan itu.
Selasai makan Khanza ingin membersihkan meja dan mencuci piring tapi dicegah oleh Antonio.
“Biarkan pelayan saja yang membersihkan," tukas Antonio. Khanza mengangguk mengerti.
“Ayo Nza temani aku nonton," Rhea menarik tangan Khanza menuju ruang tengah.
“Re, aku pulang aja ya udah malam banget.”
“Aaa... Khanza nanti aja temani Rhea nonton yayaya. Pulangnya habis sholat isya aja ya." ucap Rhea dengan mengeluarkan puppy eyes membuat Khanza tidak bisa menolaknya.
Khanza akhirnya duduk di sofa bersama Rhea yang bebaring di pahanya, meminta untuk dielus-elus rambutnya. Khanza melakukan apa yang diminta oleh Rhea.
“Khanza mau ngga jadi istri daddyku jadi mama ku?” tanya Rhea.
“Re jangan ngadi ngadi deh,” Khanza merasa Rhea bercanda.
“Khanza please jadi mama Rhea ya ya ya.” mohon Rhea.
Tadinya Khanza merasa ucapan Rhea hanya bercanda pun menjadi pusing. Ia sangat tau Rhea kalau sudah mohon artinya kalimat yang tadi diucapkannya tidak bercanda. Dan sekarang Khanza menjadi kebingungan untuk menjawabnya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar,
Terdengar suara adzan di masjid, sungguh membuat seorang Khanza terselamatkan dari pertanyaan Rhea.
“Re udah Adzan kita sholat isya yuk," ajak Khanza.
“Yuk! Kamu duluan aja ke mushola siapin alat sholat. Aku mau keatas dulu manggil daddy.” Rhea naik ke lantai atas memanggil Antonio. Sedang Khanza menuju ruang mushola yang sudah diketahui letaknya dimana. Karena tadi melaksanakan sholat maghrib disana bersama Rhea.
Tok, Tok, Tok,
‘Ceklek’ suara pintu kamar yang dibuka oleh Antonio yang berada didalam, dan melihat Rhea berada didepan pintu kamarnya.
“Kenapa Re?" tanya Antonio.
“Mau ngajakin daddy sholat isya bersama.”
“Yaudah ayo!” ajak Antonio yang sebenarnya sudah siap sedari tadi. Padahal ia berniat sholat di kamarnya nya saja. Tapi karena putrinya mengajaknya untuk sholat dibawah ia menurutinya.
Saat sampai dibawah Antonio melihat Khanza yang sudah mengenakan mukenanya. Ia pikir teman putrinya sudah pulang tapi ternyata masih disini.
Mereka akhirnya sholat bersama-sama dengan Antonio yang menjadi imam untuk kedua gadis dibelangkangnya. Akhirnya mereka telah selesai melaksanakan sholat isya. Khanza dan Rhea melepaskan mukena lalu melipatnya.
“Re aku pulang ya,” pamit Khanza.
“Nza tunggu dulu... Daddy!” seru Rhea melihat Antonio turun kebawah.
“Kenapa Re,” sahut Antonio.
“Daddy bisa nggak anterin Khanza pulang. Please mau ya dad, masa daddy tega biarin Khanza pulang sendirian. Dia kan perempuan, masih perawan lagi.” ucap Rhea dengan menambahkan embel-embel perempuan dan masih perawan.
Khanza mendengus kesal mendengarnya.”Gausah Re, aku bisa pulang sendiri kok, lagian aku bawa sepeda ” tolaknya dengan sopan.
“Biar saya anter pulang.” timpal Antony dengan suara dinginnya.
Khanza tidak bisa memprotes kalimat Antonio yang terdengar sangat dingin dan tegas menurutnya.
Akhirnya Khanza masuk ke dalam mobil Antonio, duduk di kursi penumpang sebelahnya. Di dalam mobil sangat hening membuat Khanza menjadi gugup setengah mati selama perjalanan pulang.
‘Alhamdulillah akhirnya sampai juga." batin Khanza.
Khanza turun dari mobil Antonio dan mengucapkan terimakasih. Antonio hanya mengangguk sebagai jawaban. Lalu menghidupkan mobilnya kembali pulang ke mansion. Khanza menuju kontrakannya yang sangat sepi karena orang-orang tetangganya jarang duduk diluar ketika malam.
Khanza menjadi merinding sendiri dengan cepat membuka pintu kontrakannya lalu menguncinya dan langsung merebahkan tubuhnya.
“Arghh… akhirnya bisa istirahat juga.”
Lalu ia memejamkan matanya dan tertidur. Karena ia tidak ingin kesiangan dan terlambat masuk sekolah besok.
****
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 253 Episodes
Comments
Yuni MamaRizky
lucu juga
2022-05-19
0
Shincia de Shinta
kirain,istrinya sudh (Almarhum)😟🙏
2022-03-23
0
Nuzlie🎭eiLzun
lalu basikalnya g mana huhuhu
2022-03-15
0