Di tengah padang rumput berdiri cukup jauh di hadapan Ethan sosok Alona, dengan wajah sendunya melambaikan tangan pada Ethan seakan memanggilnya. Ethan tersenyum lalu tanpa ragu melangkah menghampirinya, tangan Ethan terulur ke wajah Alona menyentuh pipinya dan membelai lembut seakan dari sentuhan itu Ethan berusaha menyampaikan segala rasa pada Alona tanpa kata-kata. Alona merespon sentuhan Ethan.. ia memejamkan matanya menyandarkan kepalanya lembut ke telapak tangan Ethan seraya menggenggam tangan Ethan di pipinya begitu nyaman dan terbuai.
"Mate.." panggil Ethan lembut, Alona tersenyum masih dengan posisi yang sama dengan mata terpejamnya. Seolah enggan bergerak dari posisi ini dan Ethan hanya tertawa bahagia melihat mate nya bersikap manja padanya, lengannya yang lain cepat menarik pinggang Alona mencoba menghapuskan jarak diantara mereka mendekap erat gadisnya dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh dari matenya yang menjadi candu baginya.
"Ethan.." panggil Alona dan Ethan hanya bergumam menganggapinya.
"Maafkan aku." Dahi Ethan berkerut, Kenapa meminta maaf?
Belum sempat Ethan bertanya apapun mendadak dada Ethan terasa sesak. Seolah jantungnya diremas seseorang dengan kuat. Degup jantung Ethan memburu nafasnya tersenggal mencoba menyaring udara sebanyak banyaknya. Tubuhnya terasa lemas mendadak seolah nyawanya hendak ditarik paksa oleh maut. Pelukan Ethan terlepas dari Alona, ia mundur tertatih kemudian jatuh berlutut di hadapan Alona kakinya tak kuat menopang bobot tubuhnya saat ini, Ethan menekan dadanya berulang kali berharap rasa sakit itu menghilang.
"Maafkan aku." Sekali lagi kata itu terdengar. Ethan menengadahkan wajahnya dan terkaget mendapati Alona bukanlah Alona yang dia kenal. Nanar mata abu-abu yang selalu berhasil membuat Ethan jatuh cinta padanya itu lenyap digantikan dengan nanar mata merah pekat semerah darah. Kulit Alona begitu pucat, dan taring menghiasi senyumannya. Ia Nampak terlihat seperti kaum itu sepenuhnya. Vampire.
"M.. Ma..Mate..?" panggil Ethan tapi Alona hanya tersenyum licik, berbalik meninggalkan Ethan dengan langkah angkuh. Dada Ethan bergemuruh karena sakit dan amarah, Aro mencoba sekuat tenaga untuk mengambil alih tubuh Ethan melolong keras mencoba meluapkan amarahnya dan tanda peringatan pada matenya tapi Alona tetap tak bergeming gadis itu tetap pergi meninggalkan Ethan jauh dibelakang.
...________...
"Akkkhhhh!" lagi… teriakan lagi-lagi keluar dari mulut penyihir itu, Lucas menusuk perutnya dengan besi panas yang merah menyala akibat terlalu lama di benamkan dalam bara api. Nafasnya memburu, penyihir itu mungkin akan kehilangan nyawanya malam ini. Namun ia tak perduli ia berhasil menunjukan halusinasi pada Ethan mengenai gambaran akan pengkhianatan matenya, berharap akan tercipta perpecahan dan keretakan dalam hubungan mereka berdua. Bibirnya menyunggingkan senyuman sinis tanda puas meski bibirnya bergetar lemah.
"Alpha!? Ethan sadarlah!" panggil Lucas. Ethan merespon panggilan Beta nya, ia mengerjapkan matanya mencoba mengumpulkan kesadarannya. Sialan, dia mencoba mempengaruhi Ethan dengan menunjukan halusinasi itu. Ethan kini sepenuhnya dikuasai amarah nanar matanya sepenuhnya bewarna emas membara. Aro.
Kuku-kuku tangan Ethan memanjang taring mencuat dari bibir Ethan menandakan dia dalam mode half transformed, dengan gelap mata Aro menancapkan kuku-kukunya di dada penyihir wanita itu tempat dimana jantungnya bercokol membenamkan tangannya paksa ke dalam dada penyihir itu, terdengar suara patah dan retakan tulang rusuk dari penyihir tersebut.
Aro mencoba menarik jantung penyihir itu dengan paksa. Penyihir itu kini menjerit tak karuan, percayalah jika dia saat ini tengah memohon pada para iblis ataupun para dewa manapun yang ada nyatanya untuk meminta kematiannya segera, sungguh rasa sakit luar biasa dirasakannya. Tak selang berapa lama Aro menarik tangannya yang menancap dalam di dada penyihir itu dalam satu tarikan, terlihat sebuah benda seperti sebongkah daging utuh berdenyut lemah dengan berlumuran darah berada dalam genggaman Aro, penyihir itu kini tergantung lemas tak bernyawa. Sedangkan Lucas hanya bisa menelan salivanya susah payah tak percaya adegan yang baru saja terjadi di depan matanya. Meski ini bukan yang pertama kali melihat kebengisan Alpha nya Aro namun Lucas masih tetap tidak terbiasa dengan ekspresi dingin dan aura menekan dari Aro.
Aro lekas membawa jantung terkutuk itu ke tungku berisikan bara api yang berkobar seolah meminta Aro untuk melemparkan jantung itu padanya, dan dengan senang hati Aro melakukannya. Sekilas percikan api hitam muncul menandakan jantung itu telah hancur menjadi abu tak berbekas. Aro tersenyum puas lalu berbalik hendak meninggalkan ruang penyiksaan bawah tanah itu. Sebelum itu dia berhenti sejenak di samping Lucas yang saat ini terpaku di tempatnya berdiri dengan wajah kerasnya nafasnya terdengar canggung dan gugup.
"Bakar tubuh menjijikan itu." Titah Aro. Lucas dengan susah payah menemukan suaranya segera menjawab dengan lantang.
"Baik Alpha!" Aro berlalu meninggalkan Lucas dengan tugasnya. Berjalan dengan tegap dan tatapan dingin membuat para bawahannya yang berjaga baik para petarung dan Delta menunduk takut. Tentu mereka takut mengingat yang berada di depan mereka adalah Alpha Aro. Salah sedikit mereka bisa kehilangan nyawa.
Sesampainya di kamarnya Aro segera menuju kamar mandinya merobek baju yang terkena percikan darah itu lalu lekas membersihkan dirinya mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Langit begitu gelap di luar sana rembulan tak nampak karena terhalangi awan awan tebal itu namun malam belum terlalu larut. Setelah selesai dengan ritual mandinya Aro menyambar seperangkat pakaian bawahan yang tertata rapi di walkin closet-nya memakainya terburu-buru dengan cepat dan berjalan menuju beranda kamarnya, ya dia bertelanjang dada saja, Aro memang tak begitu suka pakai atasan apapun ketika sedang mengendalikan tubuh Ethan.
Aro lalu melompat mulus ke bawah kemudian berlari dengan cepat membelah hutan, menuju perbatasan Klan Walcott ya siapa lagi yang ingin dia temui di sana selain matenya. Lari Aro lebih cepat dibanding Ethan karena dalam mode half transformed ini, kali ini Ethan membiarkan Aro melakukan apa yang dia inginkan dia menyerahkan kendali sepenuhnya pada wolfnya.
Tak butuh waktu lama Aro sudah tiba di kediaman utama Klan Walcott. Aro melirik kearah kamar Alona pintu berandanya tak terkunci dan lampu di ruangannya masih menyala, dengan mudah Aro melompat ke lantai dua tersebut, tak menyadari bahwa kedatangannya mendadak ini dipergokoi oleh sepasang vampire yang tengah berjaga waspada di sekitar taman dekat beranda kamar Alona.
Ya itu Jack dan Rose, mereka saling berpandangan dan hanya tersenyum penuh persekongkolan, mereka tahu itu Ethan dan tak mau repot-repot memanggil Ethan atau meneriakinya karena datang tanpa izin lagi menyusup diam diam ke dalam ruangan Alona. Jack dan Rose memilih meninggalkan tempat mereka berjaga sedari tadi. Taman belakang mungkin lebih nyaman untuk bersantai lagipula Alona aman selagi ada Ethan. Mereka berjalan bergandengan tangan bertanya-tanya dimana Lucy sedari tadi pergi? ini menjadi tekai-teki bagi mereka berdua.
Di sisi lain perasaan Alona menjadi buruk sejak pagi, apapun yang ia lakukan selalu berakhir berantakan entah itu menjatuhkan piring dan gelas, bahkan lukisan yang ia kerjakan untuk hari ini rusak karena tak sengaja menjatuhkan cat di atasnya. Hatinya berteriak resah bukan karena kesialan yang ia alami sepanjang hari namun ia gelisah karena sejak tadi pagi hingga matahari sudah terbenam Ethan tak kembali mengunjunginya. Ia merasa sifat Ethan sedikit berbeda daripada sikap Jared pada Anne yang bahkan tak melepaskan pandangannya selama 24 jam dari Anne. Alona yang bosan menunggu kedatangan pria itu seperti orang bodoh di ruang keluarga lantai bawah memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan merebahkan dirinya diatas pembaringan yang nyaman.
Alona memikirkan apa benar Ethan adalah pasangannya dan kenapa selama beberapa hari ini Ethan tak menemuinya kembali bukankah seorang werewolf tak tahan untuk berjauhan dari pasangannya untuk waktu yang lama? Di tengah rasa gundah-gulana nya Alona beranjak kaget saat instingnya merasakan sesuatu yang mengintimidasinya, bulu kuduknya meremang ia menjaga jarak dari pembaringannya menatap waspada kea ah beranda kamarnya. Apakah ada musuh yang menyusup masuk? Bukankah Jared dan Anne berjaga di luar sana batinnya.
Kewaspadaan Alona menurun saat di sadarinya dari arah beranda kamarnya muncul sosok pria yang ia kenal betul siapa itu, Alona menahan nafasnya kaget sejenak saat menyadari sosok pria itu datang tanpa mengenakan atasan apapun namun raut wajahnya begitu datar nanar matanya juga berkilat emas sejenak. Dia bukan Ethan. Batin Alona.
Jantung gadis itu semakin berpacu seiring langkah kaki Ethan menghapus jarak diantara keduanya, tak pernah sebelumnya Alona merasakan perasaan menekan begitu kuat seperti ini tanpa Alona sadari kakinya bergetar pelan karena takut namun kakinya terpaku di tempat di mana ia berdiri saat ini. Suara geraman rendah terdengar memenuhi ruangan. ‘Beginikah jika berhadapan dengan seorang Alpha?’ batin Alona ia merasa takut.
"Bernafaslah mate. Aku tak akan menyakitimu." Suara yang dalam dan lebih berat dari Ethan hembusan nafas nya kasar terdengar jelas dari jarak sedekat ini. Alona menyadari sesuatu sosok dihadapannya kini adalah jiwa Wolfnya Ethan. Aro.
"Aro?” panggil Alona.
“hm.. ini aku.” Jawabnya, Alona memberanikan diri menatap wajah itu dan dilihatnya Aro hanya menatap Alona dengan tersenyum tipis. Gadis itu tak bisa menebak apa yang sosok pria itu fikirkan saat ini dari ekspresi wajahnya terlihat seperti ia akan menangis. Aro merentangkan kedua tangannya seakan meminta Alona untuk masuk dalam dekapannya.
Sedikit malu malu Alona menghampiri Aro perlahan namun pasti masuk dalam dekapannya, Alona mendekatkan telinganya ke dada pria itu mencoba mendengarkan irama jantung yang berdetak dalam dada bidang itu.
Aro mengeratkan pelukannya pada Alona berulang kali menarik nafas dalam seakan aroma tubuh Alona saat ini akan sangat membantu meredakan amarah dan rasa gelisah nya yang menumpuk. Perlahan-lahan detak jantungnya melambat menandakan ia mulai merasa rileks. Alona kembali memberanikan diri menatap wajah tegas itu nanar matanya masih bewarna sama.
"Aro? Kau baik-baik saja?" Alona khawatir dengan ekspresi wajah itu yang seakan memendam kesedihan seorang diri. Alona refleks menyentuh wajah pasangannya membelainya lembut seakan mencoba menyampaikan segala rasa pada pria itu.
"Berjanjilah kau takkan mengkhianatiku Alona. Jangan pernah mencoba untuk tinggalkan ku." Pintanya Alona tidak memahami kenapa tiba tiba Aro berkata seperti itu namun ia mengangguk yakin dan berjanji pada Aro. Bagaimana bisa Alona mengkhianati pria ini? Kekasihnya? Itu tidak akan pernah terjadi meski Alona harus mati sekalipun.
"Aro aku akan selalu bersamamu. Dan takkan pernah berkhianat padamu atau pada Ethan, percayalah jika itu terjadi maka itu sama dengan aku merenggut nyawaku sendiri dengan kedua tanganku." Janji Alona, Aro tersenyum saat mendengar ucapan mate nya yang begitu percaya diri. Ia sontak memajukan wajahnya seakan hendak mencium Alona. Hal itu membuat jantung gadis itu semakin menggila seiring dengan hapus nya jarak diantara wajah mereka, Alona refleks menutup matanya perlahan hingga sedetik kemudian ia rasakan benda kenyal dan basah itu menyentuh bibirnya, ******* bibir Alona secara pelan berbeda seperti saat Aro menciumnya di cabinya. Alona terbuai, dan mengalungkan lenganya ke leher pria itu menarik wajah Aro lebih dekat seakan meminta Aro memperdalam ciumannya.
"Aku mencintaimu mate sungguh kau yang terakhir dalam hidupku." Ucap Aro di sela-sela ciuman mereka hati Alona tersentuh saat mendengar pernyataan cinta itu hingga tanpa ia sadri air mata meluncur pelan di pipinya.
“I love you more Aro, more than you know.” Jawab Alona semakin erat merengkuh tubuh pria itu seakan enggan melepaskannya. Alona menyadari sesuatu malam itu ia ingin pria ini untuk selalu berada di sisinya selamanya karena Alona sudah terlanjur jatuh cinta cukup dalam padanya tanpa ia sadari.
...TBC...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments